DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 24


__ADS_3

"Selamat pagi. Kau kelihatan senang sekali." "Andre sarapan banyak," jawab Bi Ani dengan wajah berseri‐seri.


Laras tersenyum. Cara Bi Ani menyebut nama Andre sepertimenyebut nama anak laki‐laki berusia empat tahun. "Ia sudah bangun dan pergi?"


"Ya." Bi Ani mengiakan sambil mengarahkan pandangan ke pintu belakang. Laras melangkah ke pintu belakang sambil menghirup kopi. Tampak Andre berdiri di samping salah satu kuda terbaik milik keluarga Gunawan, berbicara dengan Beni. Laras melihat Andre melompat naik ke atas pelana, kakinya yang panjang terentang di badan kuda, dan ia membetulkan letak kakinya yang memakai sepatu boot di sanggurdi. Kuda jantan itu berjingkrak‐jingkrak sebelum Andre menarik tali kendali kuat‐kuat.


Kuda tersebut memberi respons seketika. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Beni, Andre dan kudanya berpacu menuju tanah lapang yangmengarah ke jalan raya.


Laras memandanginya sejauh matanya mampu memandang.


Rambut Andre yang hitam berkilat di bawah sinar matahari pagi. Otot paha dan punggungnya tampak menonjol ketika tanpa kesulitan ia melompati pagar dan mengarahkan kudanya ke pepohonan.


Waktu Laras membalikkan badan, Bi Ani memandanginya dengan sorot mata penuh ingin tahu. Laras yang gugup memegang tenggorokannya. "Aku harus menelepon beberapaorang, aku akan ke perpustakaan," gumam Laras sebelum meninggalkan dapur dengan tergesa‐gesa. Ia memang tidak mampu


menahan diri untuk tidak hanyut bersama Andre, tetapi ia harus sangat berhati‐hati jangan sampai ada yang menyadari sikapnya itu.


Perawat rumah sakit yang bertugas jaga tidak banyak memberikan informasi baru ketika Laras meneleponnya. "Ia belum bangun. Ia tidur nyenyak hampir semalaman. Ia bangun sekali, tapi segera kami beri obat penenang."


"Terima kasih," katanya sebelum memutus hubungan telepon dan memutar nomor telepon Danu. "Apakah ada hal yang harus kulakukan tetapi belum kuselesaikan?" tanyanya pada pengacaraitu. "Bukannya aku mau lancang, ikut campur soal kesepakatan kerja maupun urusan pribadi Indra, aku hanya ingin membantu sebatas yang aku mampu."


"Aku tidak pernah menganggapmu lancang," kata Danu lembut. "Lagi pula itu hakmu untuk memerhatikannya."


"Aku bukan memikirkan diriku. Aku hanya ingin kepastian segala yang menyangkut Diana sudah diatur dengan baik. Juga Andre, tentu saja.


Pengacara itu terdiam. Laras tahu ia tengah mengingatkan dirinya akan kerahasiaan dalam profesinya. "Aku tidak tahu semua keinginan Indra, Laras. Sumpah, aku tidak tahu. Ia membuat surat wasiat baru beberapa tahun lalu, tetapi ia meminta aku mengurusnya. Aku yakin akan ada beberapa pasal yang ia buat


untukmu. Aku rasa tidak akan ada kejutan."


Laras juga sangat berharap demikian, tetapi ia tidak mengungkapkan kecemasannya kalau‐kalau ada kejutan. Setelah selesai bertukar pikiran tentang beberapa masalah bisnis, mereka saling mengucapkan selamat tinggal.


Begitu diletakkan, telepon itu langsung berdering. "Halo?"


"Nyonya Gunawa?" Suara hiruk‐pikuk yang terdengar di telepon jelas menunjukkan


telepon itu datang dari pabrik pemintalan kapas. "Ya."


"Saya Aldo. Ingat mesin pintal yang pernah saya ceritakanbeberapa hari lalu? Pagi ini suara mesinnya berisik sekali, karena itu kami matikan." Laras mengusap dahinya. Kerusakan semacam ini tidak boleh terjadi, sebab sekarang sedang musim panen kapas. Mesin itu digunakan untuk memisahkan kapas dari bijinya. Meski hanya satu mesin yang rusak pada masa panen, mereka bisa kehilangan


berjam‐jam masa produksi.

__ADS_1


"Aku segera ke sana," jawab Laras cepat.


Buru‐buru Laras menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin, lalu lari naik ke lantai dua. Setengah jam kemudian, ia sudah mandi dan berpakaian rapi, mengenakan rok span dan


blus dari bahan rajut berkerah. Ia memakai sepatu berhak rendah.


Rambutnya diekor kuda, dililit pita warna cerah.


Laras tidak pernah memakai baju mewah ke pabrik pemintalan kapas.


Alasannya, tidak praktis. Alasan lainnya, ia ingin para pekerjanya menganggap dirinya bagian dari mereka, bukan sekadar istri si bos.


Ia pamit pada pengurus rumah, menjelaskan ke mana ia akan pergi.


Kemudian ia mengambil dompet, lalu lari ke pintu depan. Andre baru saja menarik kudanya. Ketika melihat Laras, Adre menyerahkan kudanya pada Benu yang menunggunya, lalu lari menghampiri Laras.


"Mau ke mana, terburu‐buru? Ke rumah sakit?"


Dari ekspresi wajahnya, Laras tahu Andre mengira ketergesa‐gesaannya karena kondisi ayahnya yang memburuk. Kendati keduanya tidak pernah rukun, batin Laras, Andre peduli juga pada ayahnya dan tidak suka melihatnya menanggung penderitaan.


Cepat‐cepat Laras menenangkannya, "Tidak. Aku menelepon ke rumah sakit tadi pagi. Imdra belum bangun, tetapi mereka bilang sepanjang malam ia tenang. Aku mau ke pabrik pemintalan kapas."


"Ada masalah?"


Andre mengangguk. "Parah?"


"Kukira, mungkin. Mandor terpaksa harus mematikannya." Laras melihat Andre berpikir keras dan sebelum mempertimbangkan lebih jauh, ia berkata, "Mau temani aku ke sana, Ndre?"


Pandangan mata Andre beralih ke Laras, membuat Laras harus menelan ludah. "Barangkali, bila kau melihatnya, kau


tahu apa masalahnya. Aku butuh bantuanmu. Kalau minta bantuan orang lain, ia mungkin saja akan menarik keuntungan dalam situasi


seperti ini."


Andre menatap Laras begitu lama dan tajam,


membuat Laras berpikir pria itu akan menolak


ajakannya. Kemudian Andre mengulurkan tangan. "Aku yang mengemudi."

__ADS_1


Laras meletakkan kunci mobil ke telapak tangan Andre, lalu berlari ke mobil, mengambil sisi yang berlawanan. Cara Andre mengemudikan mobil sama seperti ia mengerjakan pekerjaan lainnya, agresif. Terdengar suara ban mobil mencicit nyaring ketika dibelokkan, kerikil beterbangan dan debu mengepul.


"Mesin ini sering mogok?" tanya Andre pada Laras.


"Beberapa kali, ya." 


"Baru‐baru ini?"


"Ya." Laras berharap mereka bisa terus bercakap‐cakap. Dekat dengan Andre mengacaukan perasaannya. Aroma tubuh Andre bak udara pagi yang menyegarkan, seperti angin, seperti bau kuda, wewangian, dan aroma laki‐laki. Gambaran Andre yang duduk di kuda muncul kembali dalam benaknya.


flasback on


Masih segar dalam ingatannya, Andre yang datang ke tempat pertemuan mereka dengan berkuda. Laras merasa tubuhnya menciut melihat kuda yang demikian besar. Andre tertawa melihat ia gugup dan memaksanya naik kuda bersamanya. Dengan enteng


Andre mengangkat tubuh Laras ke punggung kuda.


Untunglah hari itu Laras memakai rok lebar sehingga ia bisa duduk mengangkang. Bahkan sampai saat ini Laras masih ingat bagaimana rasanya bulu‐bulu kuda itu menyentuh pahanya yang telanjang, perut Andre yang menyentuh pinggulnya ketika pria itu duduk dibelakangnya,


gerakan naik‐turun paha Andre yang menyentuh pahanya, kekokohan lengannya yang memegang tali kendali ketika mengajaknya berkeliling.


Tubuh Andre terasa hangat dan agak basah karena keringat. Andre meletakkan dagunya di rambutnya. Bahkan ia masih bisa merasakan napas Andre di pipinya, di kelopak matanya. Ia mencium bau yang sama hari ini seperti dua belas tahun lalu.


Tidak banyak yang ia ingat ketika menunggang kuda di bawah pepohonan pendek yang rindang, yang ia ingat hanyalah dadanya


yang berdebar‐debar ketika Andre meletakkan tangannya di bawah dadanya. Ia ingat, saat itu tak ada yang ia takutkan kecuali khawatir


Andre tidak suka ketika pria itu menyenggol da danya. Ia tidak mampu membeli pakaian dalam cantik berenda seperti yang dipakai gadis‐gadis sebayanya. Branya hanya bra biasa, berwarna


putih, sekadar fungsional dan tak menarik.


Laras ingin merasa cantik, lembut, memikat, dan seksi di tangan Andre. Ia takut ia tidak terasa seperti itu.


Kini ia mengamati tangan Andre yang memegang kemudi. Tangan yang indah. Berwarna gelap dan kokoh, ramping dan terawat. Kukunya dipotong pendek. Bulu‐bulu hitam halus tumbuh pada buku‐buku tangan, punggung tangan, dan pergelangan tangan.


"Ayo kubantu turun," kata Andre, sambil mengulurkan tangan kepada Laras.


Laras menurunkan kakinya dari punggung kuda, tubuhnya agak dimiringkan dan tangannya di pundak Andre. Tangan Andre


memegang lengan bagian bawahnya ketika Laras perlahan turun dari punggung kuda.

__ADS_1


Namun, kendati kaki Laras sudah menyentuh tanah, Andre tidak melepaskangenggamannya,


tangannya menyenggol da da Laras. Saat itu Andre mendesahkan namanya. "Laras, Laras."


__ADS_2