DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 15


__ADS_3

Hati Laras dipenuhi perasaan gembira. Ini‐lah saat bagi kedua laki‐laki keras kepala itu untuk menyelesaikan pertengkaran dantara mereka. Cepat‐cepat Laras berjalan ke pintu, tidak


sempat menangkap sorot mata dingin dan licik yang terpancar dari mata Indra ketika melihat Laras melangkah keluar dari kamarnya.


Diana yang pertama kali masuk ke kamar. Ia lari


menghambur ke ranjang dan melingkarkan tangan di leher ayahnya, memeluknya erat‐erat. "Aku rindu ayah pulang ke rumah," katanya. "Kita punya seekor anak kuda. Cantik sekali."


"Hmmm, baguslah, Doana," jawab Indra, lalu dengan lembut mendorong badan Diana menjauh darinya. Laras mengamati, berharap sekali saat itu Imdra membalas luapan


sayang spontan yang diperlihatkan putrinya kepadanya.


"Memetik bunga mawar, kulihat," Indra menggumam dengan nada marah


sambil melirik pengurus rumah tangganya dengan alis berkerut. Bi Ani kerap jadi sasaran kemarahan Indra selama bertahun‐tahun. Ia tidak akan termakan kata‐kata Indra sekarang. "Ya. Ini hanya sebagian dari mawar yang ada. Yang lainnya di‐letakkan di ruang makan."


Indra mengagumi keberanian Bi Ani. Sudah tiga puluh tahun mereka perang dingin, dan Indra menganggap Indra sebagai lawan yang seimbang baginya. "Persetan dengan bunga‐bunga itu. Kau tidak bawa makanan untukku?"


"Kau tahu, kau tidak boleh menyantap makanan yang bukan berasal dari rumah sakit."


"Apa bedanya?" teriak Indra. "Hah? Coba jawab."


Indra menatap perempuan‐perempuan itu satu demi satu dengan tatapan marah, baru kemudian memalingkankepala ke arah putranya dengan sorot mata berapi‐api. Beberapa


saat kedua pria itu saling menatap.

__ADS_1


Tak ada yang bergerak. Akhirnya dada Indra bergerak perlahan, memperdengarkan suara tawa rendah, dengan nada yang agak parau. "Masih marah padaku, Andre?"


"Aku sudah melupakan kemarahan itu beberapa tahun yang lalu, pak."


"Itukah sebabnya kau pulang kembali?Berdamai dengan orang tua ini sebelum ia meninggal. Atau ingin menghadiri pembacaan


surat wasiatnya?"


"Aku tidak punya kepentingan dengan surat wasiat itu."


Dengan bijaksana Bi Ani maju selangkah. Ia khawatir pertemuan ini berubah menjadi tidak menyenangkan. "Aku akan mengajak


Diana pulang sekarang. Diana cium ayah, ayo kita pulang." Gadis itu dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan Bi Ani.


Indra tidak memedulikan kepergian mereka. Matanya tetap tertuju pada putranya. Laras dibiarkan sendirian bersama dua generasi Gunawan yang hidup terpisah selama bertahun‐tahun itu.


senyum yang muncul di surat kabar, tetapi aku melihatnya."


"Aku punya guru yang hebat." Tawa yang sama, tawa yang penuh kelicikan, kembali menggema di dalam ruangan.


"Kau benar sekali, putraku, kau memang punya guru yang hebat. Satu‐satunya orang yang tahu cara bertahan hidup di dunia ini. Bersikap licik terhadap setiap orang dan tak seorang pun bisa mengalahkanmu."


Indramemberi isyarat dengan sikap tidak sabar, "Kalian berdua,duduk."


"Aku lebih suka berdiri, terima kasih," jawab Andre. Laras duduk di bangku yang tersedia. Tak pernah ia melihat air muka Indra semasam itu. Pantas saja Andre terpaksa meninggalkan rumah. Ia tahu persaingan di antara mereka, tetapi tak terbayangkan situasinya seperti ini.

__ADS_1


"Dari berita‐berita yang kubaca, perusahaan penerbanganmu membuatmu kaya raya."


Rekanku dan aku sejak semula melihat peluang untuk Air Star. Sampai saat ini kami memang sudah melampaui target."


"Kau punya filosofi bagus. Menyangkut penumpang, tarif rendah, pesawat tak pernah berhenti terbang. Kau meraup untung sementara penerbangan lain tak sanggup bertahan di bisnis penerbangan." Andre terkejut


mendengar ternyata ayahnya mengikuti kesuksesan perusahannya, ia tidak memperlihatkannya.


"Seperti yang kukatakan, kami senang dengan kesuksesan ltu. Perawat masuk ruangan dengan membawa baki berisi jarum suntik. "Saya ingin menyuntikkan obat penghilang rasa sakit, Tuan Gunawan"


"Suntikkan saja jarum itu ke bokongmu sendiri, jangan ganggu bokongku," teriak Indra pada si perawat.


"Indra" ujar Laras, terkejut denga kekasarannya.


"Dokter yang menyuruhnya, Tuan Ginawan," jawab perawat itu tegas.


"Aku tak peduli omong kosong dokter. Ini hidupku, hanya ini yang kumiliki, dan aku tidak ingin mendapat suntikan penghilang rasa sakit. Aku ingin merasakan segalanya. Mengerti? Sekarang, cepat keluar dari sini."


Si perawat mengatupkan bibir, menunjukkan sikap tidak setuju, tetapi ia keluar juga dari kamar.


"Indra, ia hanya melakukan...."


"Tak usah mengatur‐atur aku, Laras!" Tak pernah Indra bicara dengan nada seperti itu pada Laras sebelumnya. Laras segera mundur, seperti habis. ditampar. Ia diam, mengatupkan


bibir. "Jika yang kudapat darimu hanyalah perasaan iba yang menyebalkan, kau tak usah datang lagi."

__ADS_1


Sambil menarik napas panjang, Laras menyambar tas lalu meninggalkan kamar dengan sikap penuh wibawa. Begitu pintu kamar tertutup kembali, Andre berbalik ke arah ayahnya.


__ADS_2