
Diana menjauhkan tubuhnya dan menatap Beni dengan sorot mata menuntut. Bulu mata Diana yang panjang lagi lembut seperti rangkaian rambut halus menghiasi matanya, mengelus lembut perasaan laki‐laki yang keras lagi sinis dan tak berperasaan seperti Beni. Diana menatap Beni dengan penuh harap, menyerahkan putusan ke tangan Beni.
Beni harus menyuarakan perasaannya.
"Aku juga mencintaimu, Diana."
Sambil tersenyum, Diana memeluk Beni. Seperti anak kecil, ia melingkarkan tangannya di leher Beni dan memeluknya.
"Oh, Ben. Aku cinta padamu. Aku cinta padamu." Diciuminya seluruh wajah Beni selembut kepak sayap kupu‐kupu. "Aku cinta
padamu." Diana sampai di bibir Beni, sejenak ragu, teringa kata‐kata Laras yang mengingatkannya untuk berhati‐hati.
Beni menghirup wangi tubuh Diana, merasakan getaran kegembiraan yang terpancar dari tubuh perempuan yang demikian dekat dengan tubuhnya. Ia seperti orang yang hampir mati tenggelam. Persetan! Ia bertanya pada dirinya sendiri. Andre tidak bisa berbuat apa‐apa padanya untuk hal yang tak pernah dilakukannya. Sekali seseorang pernah mengalami ancaman kematian ratusan kali, tiap kali ia harus menghadapinya
Selain itu, ia sangat mencintai perempuan ini.
Bi*** Beni mencium bi*** Diana dengan lembut. Getaran‐getaran kecil yang keluar dari dada Diana mengalir ke tenggorokan Beni, bergetar seirama dengan getar tubuhnya. Tidak pernah ia merasakan perasaan seperti yang dirasakannya ketika bersama Diana. Ia kenal banyak perempuan, tetapi bukan perempuan
seperti Diana, bukan perempuan yang penuh cinta dan bisa dipercaya, polos, tulus, dan tidak mementingkan diri sendiri.
Secara alamiah Diana membuka mulutnya, membiarkan bi*** Beni ******* bi***nya, membuat Beni mendesah. Lidahnya menjelajahi bi*** Diana, menikmatinya. Diana menekankan bi***nya makin kuat ke bi*** Beni, tubuhnya yang dirapatkan ke tubuh beni membuat Beni dapat merasakan dada Diana
dan puncaknya yang menegang menyentuh dadanya.
Beni makin erat memeluk tubuh Diana sementara li***nya bermain‐main di dalam mulut Diana. Kedua orang itu berguling‐guling, hanyut dalam kenikmatan yang baru mereka temukan. Pengalaman baru buat Beni juga buat
Diana. Keduanya berbaring di atas jerami. Beni meletakkan kakinya yang utuh di atas paha Diana, dan kaki gadis itu yang ramping menjepit kaki Beni.
"Diana." Beni menyebut namanya. Dengan berani ia mencoba menekan dorongan se***ualnya yang menggelora, tetapi dada yang ada di bawah tangannya, dada yang kencang.
Akhirnya Beni tak tahan lagi untuk tidak menyentuh dadanya itu dengan jari‐jarinya.
"Beni, Beni" desah Diana. "Oh, Beni, ber cintalah denganku, Ben"
Beni rersentak. Ditatapnya wajah Diana yang berbinar‐binar.
"Tidak bisa," jawab Benu lembut. "Kau sadar apa yang kaukatakan?"
__ADS_1
"Ya." Jari‐jari Dianq menelusuri wajah Beni yang keras dengan penuh cinta. "Aku tahu apa yang dilakukan perempuan dan laki‐laki. Aku ingin kita melakukannya."
"Kita tidak boleh melakukan itu."
Diana membasahi bi**" dan matanya memancarkan keraguan. "Kau tidak mencintai aku?"
"Aku cinta padamu. Karena itulah aku tidak bisa melakukannya denganmu. Aku tidak bisa melakukan itu denganmu, kecuali kau
sudah menjadi istriku."
"Oh." Diana tampak kecewa. Matanya memandang bibir Beni. Jari‐jarinya menyentuh wajahnya. "Apakah kita harus berhenti berci uman?"
Sambil tersenyum, Beni menundukkan wajah dan menci umi bi*** Diana. "Tidak." jawab Beni. "Tidak."
***
"Selamat pagi." Laras memasuki dapur dan langsung melangkah ke mesin pembuat kopi. Dituangkannya secangkir penuh kopi. Ketika ia berjalan menuju meja, matanya berusaha
menghindari pandangan Andre, yang sudah duduk lebih dulu di ruangan itu.
"Aku menelepon dokter pagi ini," kata Bi Ani, sambil membalik‐balik telur di wajan.
"Wajahmu itu tidak keruan, itulah sebabnya," jawab Bi Ani tanpa merasa bersalah. "Aku tahu kau kurang tidur. Lihat lingkaran hitam di bawah matamu. Kau lihat, Ndre? Kau perlu obat tidur atau penenang atau obat sejenis itulah."
"Tidak, aku tidak memerlukannya," jawab Laras sambil duduk di seberang Andre. Meskipun Andre dilibatkan dalam percakapan itu, Laras tidak menatapnya dan Andre pun tetap membisu.
"Jangan sok tahu," nasihat Bi Ani. "Tak ada yang orang yang menyediakan hadiah untuk menjadi janda paling berani tahun ini. Tak ada yang akan menyalahkanmu bila kau sedih dan
mengungkapkan semua kedukaanmu. Wajar seseorang berduka bila kehilangan suami."
Mendengar perkataan itu, Laras memberanikan diri melirik Andre. Andre tengah menatapnya dari balik cangkir kopi. Laras membuang pandang lebih dulu. "Aku tidak perlu dokter."
Bi Ani menarik napas, tidak memedulikan kegelisahan Laras. "Hmmm, sarapan yang banyak, paling tidak," kata Bi Ani.
Ditumpuknya telur di piring, lalu disodorkannya ke depan Laras. "Ayo, makanlah. Aku akan ke atas, membangunkan Diana. Kupikir ada baiknya membiarkan ia tidur."
"Ia tidak tidur," jawab Laras, sambil mengaduk krim di dalam kopinya. "Tadi aku ke kamarnya sebelum turun." Laras ingin turun bersama Diana, memakainya sebagai perisai untuk
__ADS_1
menghadapi perasaan Andre, apa pun situasinya pagi itu. "Ia tidak ada di kamar."
Andre meletakkan garpunya di piring. Bi Ani berbalik, tangannya memegang piring berisi roti bakar. "Ke mana dia? Kau tidak melihatnya sepagian ini?" tanya Andre pada Bi Ani.
"Bukankah tadi sudah kubilang, ia masih tidur?"
Andre melemparkan serbet ke meja dan bangkit. Ia melangkah ke pintu belakang dan menendangnya.
"Andre!" Laras berteriak dari kursinya dan mengejarnya. Ketika ia sampai di anak tangga teras, Andre tampak menuju kandang kuda.
"Andre!" panggil Laras sambil terus mengejarnya dan mempercepat langkah.
Sesampainya di pintu kandang kuda, ia berbalik ke arah Laras. "Diam!"
"Kau tidak boleh memperlakukan mereka begitu, Ndre!" cegah Laras, keberatan, tapi dengan suara hampir berbisik.
"Jangan ikut campur."
Laras merasa harus ikut campur karena melihat Andre akan lebih bijaksana bila tidak melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan kesempatan Laras untuk mendapatkan kebahagiaan. "Diana bukan anak kecil lagi."
"Berdasarkan kemampuan berpikirnya, ia masili kecil." Andre membuka pintu. Berkat perawatan cermat yang dilakukan Beni, pintu itu tidak bersuara. Andre memasuki bangunan yang hanya diterangi lampur kecil itu, Laras mengikuti di belakangnya.
Sepatu botnya mengeluarkan suara gemerisik di lantai ketika ia tiba di kandang kuda di tempat Beni dan Diana berbaring.Keduanya mendengar langkah itu, melihat ekspresi marah di wajah Andre, yang membuat mereka saling menjauhkan diri. Si alnya, Andre sempat melihat Beni mencium Diana, adiknya, dengan
mesra. Melihat tubuh diana yang dirapatkan ke tubuh Beni, melihat Beni menyentuh dada Diana.
Teriakan marah Andra membuat darah Laras serasa membeku seketika. Andre langsung menghampiri Benu, mencengkeram kemejanya, dan mengempaskannya ke lantai. Perbuatan Andre, Laras yakin, hampir meretakkan kaki palsu Beni.
Andre mendaratkan tinjunya di perut Beni dan membuat Beni terpental ke sisi kandang. Kemudian, sebelum sempat ia berdiri, tinju Andre kembali menghantam dagunya.
Diana berteriak dan mengentak‐entakkan kaki. Ia menghambur ke arah kedua laki‐laki yang berkelahi itu, tetapi Laras memegangnya dan menariknya ke tepi. Naluri petarung Beni bangkit dan ia berdiri untuk membalas si penyerang. Ketika hantaman tinju bersarang di hidung Andre, membuat hidungnya
mengeluarkan darah, Diana kembali berteriak dan lari meninggalkan tempat itu.
"Hentikan!" teriak Laras. "Hentikan, kalian berdua!"
Tinju dan kaki saling hantam. Mereka bergulat di kandang kuda itu, saling mendaratkan tinju.
__ADS_1
Laras menghambur di antara dua lelaki yang tengah berkelahi itu. "Hentikan. Kalian berdua. Demi Tuhan, apakah kalian sudah kehilangan akal sehat?" Akhirnya Laras berhasil berdiri di antara kedua petarung tersebut, yang megap‐megap dan berlumuran darah.
Ketika Andre akhirnya bisa bernapas normal lagi, ia menatap Beni dengan penuh kebencian. "Aku ingin kau meninggalkan tempat ini sore ini juga."