DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 4


__ADS_3

"Operasi ayah Indra sudah selesai? Ia akan pulang hari ini?"


"Selamat pagi, Diana." sapa Laras sambil menghampiri anak tirinya, yang lima tahun lebih muda darinya. Digandengnya lengan gadis itu. "Mau menemaniku jalan‐jalan di luar? Udara cerah hari ini."


"Mau. Tetapi kenapa Bi Ani menangis?" Bi Ani tampak tengah menyeka mata dengan kain handuk.


"Ia sedih."


"Kenapa?" Laras menarik tubuh gadis muda itu ke arah pintu depan dan menggandengnya menuju ke teras. "Karena Indra. Sakitnya parah,


Diana."


"Aku tahu. Ia selalu mengeluh sakit perut."


"Kata dokter, perutnya tidak bisa disembuhkan lagi." Mereka berjalan menyusuri rerumputan taman yang terawat rapi.


Dua minggu sekali, setiap musim, didatangkan sekelompok tukang kebun untuk merapikan taman. Diana memetik sekuntum bunga daisy dari rumpunnya yang tumbuh di dekat jalan setapak batu yang penuh lumut.


"Ayah kena kanker?"


Terkadang kecerdasan gadis ini mengejutkan mereka. "Ya, benar," sahut Laras. Ia tidak ingin menutup‐nutupi keadaan ayahnya. Itu tindakan yang keji.


"Aku banyak mendengar soal kanker di televisi," katanya sambil menghentikan langkah dan menatap Laras. Kedua perempuan yang hampir sama tinggi itu saling memandang.


"Ayah bisa meninggal karena kanker."


Laras mengangguk. "Ia memang akan meninggal, Diana. Kata dokter, ia bisa meninggal dalam waktu seminggu atau lebih. "Bola mata yang cokelat itu tetap tak berkaca‐kaca.


Diana mendekatkan bunga daisy ke hidungnya dan menciumnya. Kemudian ia menoleh pada Laras lagi. "Ia akan ke surga, kan?"


"Kurasa begitu... Ya, ya, pasti, ke surga."


"Kalau begitu Ayah akan bersama Mama lagi. Sudah lama Mama berada di sana. Pasti Mama senang berjumpa dia. Dan aku masih tetap punya kau, Bi Ani, dan Beni." Ia melirik ke arah


kandang kuda. "Dan Andre. Andre selalu mengirimiku surat setiap minggu. Katanya ia selalu menyayangi dan merawatku. Apakah Andre akan melakukannya, Laras?"

__ADS_1


"Tentu saja." Laras mengatupkan bibir, menahan tangis. Akankah Andre pernah menepati janji? Bahkan terhadap adik


perempuannya?


"Tetapi mengapa Andre tidak mau tinggal bersama kita?" tanya Diana.


"Mungkin ia akan segera pulang." Laras tidak ingin memberitahu Diana bahwa tidak lama lagi Andre memang akan tiba di rumah sampai ia melihat sendiri Andre muncul.


Diana jadi tenang. "Beni menungguku. Kuda betinanya melahirkan semalam. Ayo kita lihat."


Diraihnya tangan Laras, lalu ditariknya menuju kandang kuda. Laras iri melihat kegembiraan Diana dan berharap ia pun bisa menerima kematian Indra dengan pikiran sesederhana putri Indra itu.


Udara di kandang kuda hangat, berbaur dengan bau kuda, kulit, dan jerami yang tajam. "Beni," panggil Diana riang.


"Di sini," jawab suara bernada rendah.


Beni Setiawan bekerja sebagai manajer kandang kuda keluarga Gunawan. Mengembangbiakkan kuda‐kuda keturunan murni termasuk salah satu kesukaan Indra, tapi ia tidak terlalu memedulikan perawatan kuda. Benu muncul dari lorong salah satu kandang kuda. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi sangat tegap. Wajahnya persegi dan kasar, tetapi terkadang terpancar ekspresi yang melembutkan kekasarannya. Ia membiarkan


rambutnya tumbuh panjang, seperti biasanya sehelai bandana diikatkan di kepalanya, dan topi koboi dari jerami menutupi kepalanya. Celana jinsnya sudah tua dan kumal, sepatu botnya penuh debu, kemejanya penuh bercak keringat. Tetapi ia tersenyum berseri‐seri ketika melihat Diana berlari mendekatinya. Hanya


saja, sorot kepedihan dan keputusasaan tak pernah lenyap dari matanya, kendati bibirnya tersenyum. Wajahnya kelihatan lebih tua


"Beni, kami ingin melihat anak kuda itu," kata Diana terengah‐engah.


"Di sana." Benu menoleh ke arah kandang kuda yang baru ditinggalkannya. Diana masuk ke kandang kuda. Beni menatap Laras dengan pandangan bertanya. "Kanker," ujar Laras menjawab pertanyaan Beni yang tak terucap. "Tinggal menunggu waktu." Beni menyumpah pelan sambil memandang perempuan muda


yang berlutut di tumpukan jerami, mengelus‐elus anak kuda. "Kau sudah memberitahunya?"


"Ya. Ia bisa menerimanya lebih baik daripada kita semua." Beni menggangguk dan tersenyum sendu pada Laras.


"Ya. Pasti."


"Oh, Beni. Anak kuda betina ini cantik sekali ya?" Beni menepuk bahu Laras dengan penuh kesadaran, kemudian masuk ke dalam kandang. Laras mengikutinya, dan


mengawasinya saat pria itu dengan gerakan kaku berlutut di sebelah Diana. Kecelakan telah membuat Beni kehilangan separo kaki kirinya. Ia tidak kentara memakai kaki palsu, kecuali bila ia harus berlutut, seperti saat itu.

__ADS_1


"Ia cantik sekali, kan? Dan induknya kelihatan sangat bangga pada anaknya." Beni mengelus surai kuda betina itu, tetapi matanya tetap tertuju pada Diana. Laras terus memerhatikannya, ketika Benu menjulurkan tangan untuk menjumput jerami yang menempel di rambut Diana. Jari‐jarinya mengelus pipi Diana yang sangat halus. Diana


menatap Beni dan mereka saling tersenyum.


Sejenak Laras tertegun menyaksikan kemesraan di antara kedua orang itu. Apakah mereka saling menyukai? Laras bingung


mendapati kenyataan ini. Laras bersikap diam, ia berniat meninggalkan tempat itu, tetapi Beni melihatnya. "Nyonya Gunawan, bila ada yang bisa saya lakukan..." Beni tak melanjutkan kata‐


katanya.


"Terima kasih, Ben. Untuk sementara ini lakukan saja apa yang menjadi tugasmu seperti biasa."


"Baik,, Nyonya Gunawan." Beni tahu, Laraslah yang menolongnya bisa menjadi karyawan Indra. Wanita itu masih karyawan Indra ketika Beni setiawan melamar pekerjaan sebagai


manajer kandang kuda, dengan memanfaatkan air muka penuh kegetiran sebagai senjatanya di hadapan Indra. Rambutnya diekor kuda sampai punggung, rompinya yang terbuat dari bahan denim. Dengan air mukanya yang masam dan tampak suka berkelahi, Beni menantang Indra untuk berani memberikan pekerjaan, kesemparan padanya, sementara banyak orang lain yang menolak.


Laras tahu akal muslihat Beni dan bisa menebak bagaimana karakter pria itu yang sebenarnya. Ia orang yang putus asa. Laras


otomatis merasa dekat dengannya. Laras tahu bagaimana sakitnya hidup dengan predikat tertentu, tahu bagaimana rasanya bila orang menilai diri kita dari penampilan dan latar belakang kehidupan yang tidak bisa kita tolak.


Beni mengatakan pernah bekerja di peternakan kuda sebelum kecelakan, Laras membujuk Indra agar memberkan kesempatan dan


Indra tak pernah menyesali keputusannya menerima Beni.


Beni memotong pendek rambutnya dan


mengubah penampilannya, seakan hendak mengatakan tak perlu lagi ia memamerkan simbol‐simbol pemberontakannya. Ia bekerja giat, sepenuh hati, dan membuktikan kemahiranya dalam merawat kuda‐kuda keturunan murni. Pria itu hanya butuh dukungan untuk memantapkan rasa percaya dirinya.


Laras merenungkan semua itu ketika kembali ke rumah. Beni dan Diana saling mencintai. Ia menggeleng, tersenyum, saat memasuki serambi. Telepon berdering, secara otomatis ia


mengangkatnya sebelum Bi Ani. "Halo?"


"Laras, ini Danu."


"Ya?"

__ADS_1


"Aku sudah bicara dengan Andre. Ia akan datang secepatnya, mungkin malam ini.


Banyak hal yang harus diselesaikan petang itu, banyak orang yang harus diberitahu. Indra tidak punya sanak saudara kecuali putra dan putrinya, karena itu masalah kerabat tak perlu dipikirkan. Tetapi penduduk kota, juga warga ingin tahu penyakit Indra. Laras berbagi tugas dengan Danu untuk menghubungi mereka lewat telepon.


__ADS_2