
Laras menatap Andre, terkejut. "Maksudmu, ia dengan sengaja membuat kesan agar kau percaya bahwa...."
"Ya."
"Oh, sayangku." Laras menyentuh wajah Andre dengan lembut dan menyingkirjan rambut yang jatuh di atas alisnya. "Kukira, kau hanya
mengira‐ngira, tidak kusangka ia benar‐benar ingin kau memercayainya."
Andre tertawa sinis. "Ia kenal benar diriku. Hampir saja ia berhasil memisahkan kita."
"Aku senang kita tidak berpisah." "Oh, Tuhan,"
gumam Andre, "begitu pun aku."
Melihat air muka Andre yang melembut, Laras menangkap kesan Andre menganggap pernikahannya dengan Indra sudah berakhir. "Tidak serupa? Bagaimana bisa?" tanya Laras nakal, sambil menekuk lutut dan menjulurkan kaki ke udara. Dijulurkannya kakinya seperti penari balet.
"Kau lebih lembut, lebih rapuh, lebih dewasa, tetapi sikapmu tetap malu‐malu seperti gadis remaja. Kau seperti yang kukhayalkan selama bertahun‐tahun. Bahkan lebih."
"Kau kecewa?"
Andre menelusuri wajah Laras dengan tatapannya, lalu menyentu wajahnya "Tidak, oh, tidak." Andre melirik Laras. Sorot matanya penuh penyesalan. "Tetapi aku takut kau berubah."
"Tidak akan pernah, Andre Gunawan," Laras menelusuru alis Andre.
"Tidak akan pernah."
"Tetapi kau tidak... kau tahu. Yang ditulis di majalah‐majalah perempuan."
Tangan Laras menyentuh wajah Andre. "Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Aku sudah merasakan dirimu. Aku melihatnya, merasakannya di dalam tubuhku, tahu bagaimana rasanya ketika bersamamu. Aku ingin merasakan kau mencintaiku."
Tangan Andre erat memeluk Laras. "Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu.Mencintaimu. Tingkahku seperti baji ngan beberapa minggu ini, mencemoohmu, menyakitimu. Semakin aku mencintaimu, semakin buruk kelakuanku."
Sambil tertawa kecil, Laras merebahkan kepala di dada Andre dan melingkarkan tangannya di pinggang laki‐laki itu. "Kau memang menyakitiku kadang‐kadang. Tetapi aku tahu apa sebabnya. Dan aku memaafkanmu. Aku mencintaimu."
Andre memegang tangan Laras dan menurunkannya. "Keberatan?"
Laras menyentuh wajah Andre. "Sama sekali tidak. Aku juga suka menyentuhmu. "Ayo tidur sebentar."
"Kau ingin tidur?"
"Tidak juga. Tetapi aku ingin kau di sampingku ketika aku bangun."
Hari menjelang petang ketika mereka berdua turun. Sambil bergandengan, saling tersenyum, mereka tidak melihat Diana dan Benj sampai tiba di teras rumah.
"Beni ingin bicara denganmu, Ndre," Diana memberitahu. Tingkah Diana seperti gadis kecil yang tidak sabar hendak membuka kado ulang tahunnya. Matanya berbinar‐binar. Ia kelihatan resah.
Andrs menatapnya dulu, kemudian Beni, yang dengan gelisah memutar‐mutar topi jeraminya. "Laras dan aku sudah lapar sekali. Bisakah kita membicarakannya setelah makan siang?"
"Ya."
"Tidak." Mereka menjawab serentak.
Laras, menangkap apa yang ada di benak Beni,, menyela dengan diplomatis. "Aku yakin akan lebih baik bila kita bicara setelah makan siang."
Sambil memandang mesra Andre, Laras
melepaskan gandengan tangannya dan menghampiri Diana.
"Apakah Bi Ani sudah menyiapkannya?" Diajaknya gadis itu ke ruang makan. "Apa yang akan disampaikan Beni kepada Andre?" tanya Laras lembut.
__ADS_1
"Kami akan menikah," Diana menjawab.
"Kalau begitu, kusarankan kita menunggunya sampai Andre mengisi perut." laras menggenggam tangan Diana, memberi dukungan.
Selagi makan siang, Bi Ani membawa telepon nirkabel ke ruang makan. "Dari Kepala Polisi."
"Kepala Polisi menelepon mau memberitahu mereka sudah menangkap orang‐orang yang membakar pabrik. Salah seorang di antaranya adalah yang menelepon Aldo dan memperingatkannya soal kebakaran. Ia mengaku sakit hati dan menghasut yang lain."
"Tak ada gunanya mereka mengaku tidak
bersalah. Aku tahu, kami sudah mendapat pengakuan resmi dari tiga orang lainnya menjelang makan malam."
"Terima kasih, Pak . Tetapi usahakan keluarga mereka tetap aman, terjamin makan, sewa, apa pun kebutuhan mereka selama beberapa bulan. Kirimkan tagihannya pada saya."
Andre meletakkan telepon dan menyampaikan berita itu kepada yang lain. Begitu acara makan selesai, meja langsung dibereskan, Diana dengan gembira meminta semua orang ke ruang baca.
"Ayo, Beni," katanya sambil menyenggol Beni.
Beni menelan ludah. "Ndre, dengan restumu, aku ingin menikahi Diana."
Tanpa menunjukkan perasaannya tentang permintaan itu, Andre duduk di kursi kulit di belakang meja lebar. Ia menyeruput es teh
yang dibawanya dari ruang makan. "Dan bila aku tidak merestui?"
Mata Beni tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Aku akan tetap menikahinya."
Andre menatap Benj lama, suasana tegang. Tak satu pun mengalihkan pandangan. Akhirnya Andre berkata, "Ladies, maafkan, kami ingin bicara empat mata. Dan, Laras, tolong tutup pintu itu."
***
"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
"Naluri." Ia menepis ranting pohon cemara dan berjalan ke arah tempat terbuka. Laras duduk di bawah pohon, sebuah buku tergeletak di pangkuannya. Ia belum selesai membacanya, matanya tertuju ke depan, melihat Andrs muncul di antara pepohonan. Andrs berjalan ke dekat pohon, meletakkan tangannya di batang pohon, menatap Laras yang mendongakkan wajah. "Tidak tahukah kau, berbahaya bagimu berada di hutan sendirian?"
"Tetapi penjahat bisa muncul dan melukaimu."
"Itulah yang kumau."
Sambil tertawa, Andre duduk di sisinya dan memeluknya. Beberapa kali Andre menyentuh wajah Laras, menyiratkan kepemilikannya atas Laras. Laras membiarkan pria itu melakukannya untuk beberapa saat, baru kemudian mendorongnya. "Tunggu. Pertama, aku ingin tahu apa yang kau katakan pada Beni."
"Kukatakan padanya, bila ia sekali saja menyakiti Diana, aku akan membunuhnya."
"Kau tidak boleh begitu!"
Andrs mengangkat bahu dan tersenyum jail. "Yah, aku mengatakannya dengan baik‐baik."
"Tetapi kau setuju mereka menikah?"
"Ya, aku setuju," jawab Andre.
Laras memeluk Andrs erat‐erat. "Andre, aku bahagia sekali."
Andre agak menjauhkan diri, menatap Laras "Oya? Kau rasa itu yang terbaik untuk Diana."
"Ya, aku yakin. Diana sangat mencintainya. Dan kau tidak perlu khawatir Benu menyakitinya. Beni sangat memuja Diana. Beni tak pernah menyinggung soal masa lalunya, tetapi aku
yakin itu masa yang sangat tidak menyenangkan. Waktu kecelakan, ia kehilangan kaki. Aku yakin sosok Diana bak peri baginya. Beni hampir tak tahan untuk tidak menyentuhnya."
"Kelihatannya ia juga orang yang tulus," kata Andre. "Aku mengajukan syarat bahwa Diana harus tetap tinggal di rumah ini. Aku tidak yakin Diana bisa betah tinggal di rumah lain. Benu setuju, tetapi ia minta diberi tanggung jawab lebih. Ia tidak mau dianggap menikahi Diana karena harta warisannya, dan ia hanya karyawan biasa."
__ADS_1
"Itu yang aku harapkan darinya. Ia bekerja lebih keras dibandingkan yang lain, padahal ia cacat.
"Itu sudah karakternya. Ia bilang padaku, atau mungkin memperingatkan aku...itu kata yang lebih baik, bahwa pernikahan mereka tulus."
Alisnya berkerut. "Menurutmu, Diana bisa tidur
dengan laki‐laki?"
Laras tertawa dan membenamkan hidungnya ke leher Andrs. "Aku malah punya kesan Diana mengejar‐ngejar Beni berbulan‐bulan lamanya. Justru Beni yang mencoba menjauh demi kebaikannya."
"Tetapi apakah Diana mengerti tanggung jawab yang bertalian dengan percintaan?"
"Ndre." Sambil meletakkan tangan di wajah Andre dan meminta seluruh perhatiannya, Laras berkata, "Diana dilahirkan dengan kekurangan dalam hal belajar. Tetapi emosi dan tubuhnya tetap perempuan. Tak ada yang bisa menghapus kebutuhan untuk di cintai, juga kebutuhan akan makanan atau udara. Diana pasti lebih bahagia daripada hari‐hari sebelumnya. Beni sangat mencintainya. Ia akan mengasihi Diana. Mereka bisa mengatasi
masalah di antara mereka."
Laras melihat ketegangan Andre menyurut, air mukanya tampak lebih santai. Hal itu menyulut rasa ingin tahu Laras, tentang seberapa jauh Andre menghargai pendapatnya.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku?" tanya Laras.
"Bagaimana dengan kebutuhanmu selama bertahun‐tahun belakangan itu, apa yang kau lakukan pada dirimu?"
"Aku hidup dalam kenangan dan mimpi. Kenangan akan dirimu di tempat ini. Mimpi yang kutahu takkan pernah terwujud."
Andre duduk di rumput yang lembut bersama Laras dan memperhatikan wajah wanita itu. "Kau memikirkan aku? Sekali‐sekali?"
"Setiap hari. Setiap jam. Meskipun tak pernah bisa berjumpa denganmu lagi, aku akan mengingatkanmu sampai ajal menjemputku."
Sesaat Andre memejamkan mata, meresapi kata‐kata Laras. Ketika membuka mata, ia menatap Larae dengan sorot berbinar‐binar.
"Aku mendengar suara guntur. Atau itu suara debar jantungku?"
Laras tersenyum. Ia pernah mengatakan hal itu suatu ketika dulu. "Guntur. Sebentar lagi hujan turun."
"Kau takut?"
"Aku lebih suka hujan."
"Sayangku, oh, sayangku," bisik Andre di mulut Laras. "Oh, Tuhan, aku cinta padamu."
Di bawah cahaya malam, deru hujan, tubuhnya berdiri tegak. Apalagi ketika melihat titik hujan jatuh menerpa kulitnya yang kecokelatan. Sambil berlutut di samping Laras, Andrs menariknya duduk disisinya, memeluknya. Penampilan Laras sangat berbeda dengan yang dipakainya beberapa tahun yang lalu. Andre menyentuh Laras yang berbalut bahan sutra.
"Lihat akibat perbuatanmu," kata Laras ketika melepaskannya. "Kau tidak malu pada dirimu sendiri?"
"Ya," jawab Andre dengan menyesal, tetapi wajahnya sama sekali tak menampakkan penyesalan.
Laras memiringkan badan, menopang tubuh dengan siku. Ia memerhatikan apa yang dibuat Andre dengan bahagia.
"Ndre," gumam Laras lembut, dan merebahkan tubuh di rerumputan yang hijau.
Titik‐titik hujan jatuh menimpa tubuh Laras. Sentuhan Andre terasa hangat di kulitnya yang dingin ketika laki‐laki tersebut menyentuhnya "Aku tak pernah lupa bagaimana rasanya dirimu. Tidak pernah."
Mereka memang pasangan yang serasi, napas mereka melayang ke udara. Andrs menyentuh tubuh lars dengan lembut. Laras menggumamkan nama Andre dengan lirih.
"Jangan dulu," ujar Andre dengan suara gemetar. 'Yang ini untukmu."
Larae merasa hampir hancur berkeping‐keping karena menahan dan merasaan kenikmatan yang baru pertama kali dirasakan tubuhnya. Ia merasa tidak mampu menahan lebih lama lagi.
__ADS_1
"Ndre..." Panggilannya tenggelam di antara desah napasnya yang gemetar ketika mencengkeram rambut Andre.
Setelah mereka berhasil mencapai puncak, kembali ke dunia nyata, titik‐titik cahaya pun meredup. Mereka kembali berada di dunia yang remang‐remang dan berkabut. Mereka terselubung kabut warna keperakan yang melingkupi hati dan pikiran mereka beberapa saat yang lalu. Dan tubuh mereka yang masih terpaut itu bermandikan air hujan yang turun membasahi bumi.