
Andre tidak memedulikan permintaan Laras. Ia malah membenamkan wajahnya di leher Laras. Seperti orang yang tak berdaya, Laras menengadahkan leher. Bibir Andre menciumi lehernya, di bagian depan, di bagian belakang, meninggalkan uap basah yang diembuskan napasnya, yang menggelitik dan menggairahkan Laras.
"Meski tahu kau istri ayahku, tahu alasan kau menikahinya, mengapa aku tetap menginginkan dirimu?" Dengan gerakan makin liar karena dipenuhi perasaan putus asa, Andre menciumi sisi lain leher Laras. Laras mendongakkan kepala, membiarkan Andre menciuminya.
Dengan lemah Laras melawan respons dirinya sendiri, "Tidak, tidak, Andre, jangan."
"Aku sangat merindukanmu sampai sakit rasanya." Andre terus menciumi leher Laras dengan penuh gairah. Bahkan giginya
menggigit‐gigit kecil. "Aku menginginkanmu. Mengapa, mengapa kau orangnya, mengapa?"
Laras mengerang. "Oh, Tuhan, kumohon...." gumamnya sambil menarik napas. Yang paling diinginkan Laars saat itu, lebih daripada apa pun, adalah memasrahkan diri pada Andre. Ia
membutuhkan Andre sebagaimana Andre membutuhkannya, untuk menggantikan tahun‐tahun penuh kepedihan yang harus mereka jalani. Dalam beberapa menit yang sangat berharga itu, mereka ingin melupakan segalanya, kecuali diri mereka berdua.
Namun hal itu tak mungkin dilakukan. Kesadaran akan hal yang tak mungkin itu memberikan kekuatan bagi Laras untuk
menahan letupan emosinya dan kembali bergulat untuk menjauhkan diri dari Andre.
Secepat tangannya memeluk Laras, secepat itu pula Andre melepaskan cengkeraman dan menjatuhkan tangannya di kedua sisi badannya. Ia melangkah mundur, napasnya memburu dan cepat. Buru‐buru Laras berjalan ke pintu depan.
"Laras." Panggilannya menghentikan langkah Laras dan seperti perintah yang menyuruhnya membalikkan badan. "Aku selalu sulit menerima hal‐hal yang tidak kusukai. Aku tidak berhak melukaimu dengan cara itu. Seharusnya aku tidak ikut campur."
Sosok Andre menjadi kabur karena air mata yang merebak di matanya. Laras mengerti, betapa Andre mengorbankan keangkuhan dirinya untuk mengatakan hal itu. Laras melempar senyum lembut, senyum yang penuh makna, yang artinya tak mungkin diungkapkan dengan kata‐kata. "Betulkah begitu, Ndre?"
ujar Laras tenang. Kemudian ia masuk dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Laras, berbaring di ranjang dengan pakaian lengkap karena malas mengganti pakaian, menatap langit‐langit. Merenung. Ia tidak tahu apakah esok ia berharap bertemu Andre lagi atau tidak. Tetapi Andre ada di rumah....
***
__ADS_1
flasback on
"Hai."
"Sedang apa di sini?"
"Memancing." Andre memiringkan kepala ke arah tangkai yang mencuat di permukaan lumpur di tepi sungai. Tali pancing tampak
bergetar di dalam air. Andre memang tidak terlalu serius memancing. "Kau lebih awal daripada kemarin."
Wajah Laras memerah, ia memalingkan wajah dari pria itu dengan senyum yang amat menawan itu. Ketika keluar rumah
setengah jam lebih awal, Laras mengatakan pada dirinya bahwa alasan kepergiannya bukanlah karena kemungkinan Andre ada di
hutan dan ia akan punya waktu untuk bercengkerama bersama pria itu. Laras berusaha tampil sebaik‐baiknya, memakai rok dan blus yang terbaik, menyisir rapi rambutnya setelah ia mencucinya sampai kulit kepalanya terasa sakit, memeriksa kuku‐kuku tangannya.
la harus lari dalam kegelapan hutan menuju rumah setelah turun dari mobil Andre kemarin malam. Andre menciumnya. Setelah itu Andre bersikap lembut padanya, menanyakan apakah ia baik‐baik saja. Namun ia tidak mengira akan berjumpa lagi dengan Andre.
memandanginya beberapa saat, perutnya terasa seperti diaduk‐aduk.
"Aku minta Bi Ani, pengurus rumah kami, membuatkan beberapa potong roti isi. Kau suka daging asap?"
"Entahlah. Aku belum pernah mencobanya."
"Hmm, sekarang kau akan mencobanya," kata Andre sambil tersenyum. Ia menggelar tikar di rumput dan meminta Laras duduk. Kemudian ia membuka keranjang dan menyodorkan sepotong roti isi yang dibungkus plastik pada Laras. Mereka mengobrol sambil makan.
"Apakah kau akan mulai kerja di pemintalan kapas? Omong‐omong, daging asap ini enak juga."
"Aku senang kau menyukainya." Andre bersandar di batang pohon sambil mengunyah. "Kurasa begitulah," jawabnya sambil menerawang. "Bila ayah dan aku bisa sepakat dalam beberapa hal."
__ADS_1
Laras ingin menanyakan hal apa saja, tetapi tidak jadi. Ia tidak mau Andre berpikir ia ikut campur urusan Andre.
Namun Andre meliriknya, dan melihat sikapnya yang mendengarkan dengan saksama, ia melanjutkan, "Kau tahu, ayahku tidak ingin menambahkan modal ke pemintalan agar mendapat untung lebih banyak. Ia sudah puas dengan apa yang didapatnya dari pemintalan sekarang. Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan, memperbarui, menjadikan tempat bekerja yang lebih nyaman buat para karyawan. Aku belum berhasil meyakinkannya bahwa bila ia menambahkan modal lagi ke pabriknya itu sekarang, nantinya ia akan memanen hasilnya dalam jangka waktu panjang."
"Mungkin kau harus mengalah dalam beberapa hal pada awalnya."
"Mungkin juga," jawab Andre, ragu‐ragu. Ia memasukkan tangan ke keranjang, mengeluarkan sekaleng minuman dingin. Ia
mengedipkan mata pada Caroline. "Aku ingin sekali minum bir dingin, tetapi takut tertangkap basah meminumnya bersama gadis di bawah umur seperti dirimu. Aku bisa dipenjara."
Andai tertangkap basah, mereka jelas takkan mencemaskan apa yang sedang mereka minum, keduanya menyadari hal itu. Mereka
selesai makan siang dan dengan rapi Laras membantu Andre memasukkan makanan yang tersisa ke keranjang.
Laras bersandar di batang pohon, menggantikan Andre. Andre berbaring di
sampingnya sambil menopang kepalanya dengan tangan. Ia memandangi Laras.
"Apa yang sedang kaupikirkan?" tanyanya.
Laras bertemu pandang dengannya. "Ibumu."
"Ibu?" Nada terkejut dalam suara Andre tak bisa disembunyikannya.
"Aku ikut sedih mendengarnya sudah meninggal, Ndre. Ia perempuan yang sangat baik."
"Kapan kau bertemu ibuku?"
"Tidak pernah, tetapi ia sesekali ke toserba. Aku selalu menganggap ia perempuan yang... yang paling rapi yang pernah kukenal."
__ADS_1
Andre tertawa. "Ya, memang. Aku tidak pernah melihat ibuku dalam keadaan tidak rapi.