DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 34


__ADS_3

Mereka juga takkan mengerti mengapa Andre bersikap dingin menghadapi kematian ayahnya. Buat dirinya sendiri, mereka akan mengira kematian ini sangat mengejutkannya.


Bi Ani memegang tangan Laras dan berkata, "Kau sangat tabah, Laras. Tetapi waktu menangis akan tiba. Ketika sudah sendirian, hiruk‐pikuk ini sudah berlalu, kau pasti akan menangis."


Bi Ani keliru. Laras tidak akan menitikkan setetes air mata pun untuk pria yang pernah menjadi suaminya itu. Air matanya sudah kering saat ia meninggalkan kamar di rumah sakit karena penghinaannya.


Andre mengikutinya ke luar beberapa saat kemudian, air mukanya juga tegang. Pandangannya dingin menakutkan. Sampai detik itu pun, kesan itu yang tetap tinggal di wajahnya.


Bermalam‐malam, mereka duduk berjaga di kursi besi ruang tunggu rumah sakit. Mereka tidak bicara. Mereka tidak saling pandang. Betapa sering Laras ingin meminta maaf karena menuduh Andre mengkhianati cinta mereka gara‐gara Ery. Betapa ingin ia menyetuh, memeluknya, menangisi hari‐hari yang memisahkan mereka selama bertahun‐tahun. Bahkan sampai saat ini pun mereka masih terpisah.


Garis wajahnya dan tubuhnya mengatakan demikian. Itu sebabnya Laras memutuskan menjaga jarak dan berdiam diri. Indra tak sadarkan diri setelah Andre meninggalkan kamarnya.


Ketika menemui Laras dan berlutut di hadapannya, dokter menggenggam tangannya. "Takkan lama lagi. Anda boleh pulang kalau mau. Toh ia tidak akan tahu Anda ada di kamar atau tidak." Laras menggeleng.


Ia tidak ingin melihat wajah Indra lagi. Ketika dokter memberitahunya Indra meninggal, Laras


meninggalkan rumah sakit bersama Andre, dengan air mata yang mengering dan hati hampa.


Kini ia harus berpura‐pura berduka, seperti kebanyakan istri yang ditinggalkan suami. mobil berhenti. Ia dibantu turun oleh petugas


pemakaman dan diajak ke tenda yang dibangun di dekat liang kubur. Ia duduk di kursi yang disediakan, duduk dengan kaku, Andre


di sebelahnya, Diana di sebelah Andre.


Bi Ani memilih berdiri di


belakang Diana, meletakkan tangannya di bahu perempuan muda itu untuk menenangkannya.


Laras berusaha menutup telinga, tidak mau mendengarkan ceramah. Matanya nanar memandang peti mayat yang penuh bertabur mawar putih. Ketika acara doa kematian berakhir, ia menerima ucapan duka cita dari para pelayat.


"Ia tegar sekali ya?" bisik mereka pada satu sama lain. "Tanpa setitik air mata pun." "Tentu saja, sejak Indra dioperasi, ia sudah tahu semua ini hanya masalah waktu." "Ya. Ia sudah


mempersiapkan diri."


"Kendati demikian, ia harusnya memperlihatkan kesedihan. Kau tahu bagaimana orang yang mendapat musibah. Mereka jadi emosional di depan orang banyak."


"Aku tak tahu bagaimana nasib pabrik pemintalan kapasnya nanti."


"Laras tetap akan menjalankannya, kurasa."


"Bagaimana dengan Andre?" "Ia akan tinggal di sini." "Ia akan kembali ke kota."


"Aku tidak tahu pasti." Laras mendengar desas‐desus yang dipergunjingkan orang itu ketika berjalan ke arah mobil yang menunggunya.


Namun sedikit pun ia tidak merasa terganggu oleh gosip itu. Kelicikan dan tipu muslihat Indra yang amat keji terhadap dirinya masih segar dalam ingatannya. Kalau sampai tidak bisa mengendalikan diri, ia akan kehilangan muka karena akan berteriak‐teriak seperti orang gila.


Oleh sebab itu ia biarkan saja mereka menganggap dirinya sebagai orang yang pandai menahan emsoi. Ia tidak akan berdoa atau menangisi kepergian Indra Gunawan.


Indra tidak hanya menyakitmya, tetapi juga satu‐satunya pria yang pernah ia kasihi. Tak ada kata maaf dalam hatinya buat kejahatan yang dilakukannya.


"Syukur, akhirnya selesai sudah," kata Andre ketika ia duduk di bangku belakang sambil menjabat tangan penceramah untuk terakhir


kalinya. Namun segalanya belum berakhir. Sepanjang petang penuh sesak oleh orang‐orang yang ber‐datangan ke rumah untuk

__ADS_1


menyampaikan penghormatan terakhir pada Indra.


Laras yakin umumnya mereka datang karena didorong perasaan ingin tahu. Mereka ingin melihat peru‐bahan apa yang dilakukan Laras pada rumah yang ditinggalkan Sarah ibunya. Ia mendapat kesan kebanyakan dari mereka kecewa ketika melihat tak ada yang berubah di rumah itu. Apakah mereka berharap dindingnya


ditempeli wallpaper dan lampu remang‐remang?


Rupanya tak pernah rasa ingin tahu mereka tentang Laras terpuaskan. Laras yang duduk dengan penuh wibawa dalam kemuraman diam‐diam memerhatikan para pelayat yang


mengamatinya. Ia penasaran, apa yang diharapkan orang‐orang itu.


Apakah mereka berharap melihat dirinya mengenakan sesuatu selain baju hitam pekat? Apakah mereka mengharapkan dirinya


menangis tersedu‐sedu? Atau mereka berharap melihatnya kini tertawa‐tawa karena suaminya yang sudah tua tapi kaya itu sudah meninggal?


Sebagaimana mereka kecewa melihat tak ada


perubahan dalam rumah itu, begitu pun perasaan mereka ketika melihat dirinya. Putri keluarga Anwar itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk berbicara banyak dengannya.


Akhirnya, para pelayat itu pamit, sampai akhirnya rumah kosong. Bayang‐bayang malam yang panjang mulai menyelinap di antara jendela, membentuk jalur‐jalur di lantai kayu.


Bi Ani sibuk membereskan gelas dan tisu bekas pakai, dan membuang debu rokok dari asbak. "Ada yang mau makan malam?"


"Aku tidak mau, terima kasih, Bi," jawab Laras dengan galau.


"Tidak, terima kasih." Ande menuang minuman ke dalam gelas tinggi. "Tidurlah, Bi. Kau sudah bekerja keras sepanjang hari."


Bi Ani mengangkat baki yang penuh gelas‐gelas. "Setelah selesai mencuci gelas‐gelas ini, aku tidur. Ada hal lain yang


kaubutuhkan, Laras?"


"Hmmm, di kulkas banyak makanan bila ada yang lapar. Selamat malam."


Bi Ani meninggalkan Laras dan Andre berduaan di kamar tamu.


Laras menyandarkan kepak di bantal sofa dan memijat‐mijat pelipis‐nya sambil memejamkan mata. Ia membuka kancing blusnya dan melepas sepatu, menarik napas lega.


Setelah membuka setelan jas hitamnya, Andre menggulung lengan kemeja. Ia berdiri di salah satu sudut jendela yang tinggi. Satu tangan dimasukkan ke saku celana, tangan yang lainnya sesekali mendekatkan gelas minuman ke bibirnya. Ini pertama kalinya mereka berduaan sejak meninggalkan rumah sakit dua malam yang lalu.


Sepertinya mereka tak punya bahan obrolan.


Perlahan mata Laras membuka. Diamatinya Andre dari seberang ruangan. Asyik ia memperhatikan siluet tubuh Andre di saat


malam mulai menjelang itu.


Rambutnya yang hitam tampak kontras sekali dengan kera kemejanya yang putih. Bahunya bidang. Laras memerhatikan garis rompi yang dikenakan Andre sampai ke pinggangnya.


Pan tatnya kecil tapi kelihatan bagus di balik celana yang dijahit rapi itu, pahanya kencang, ramping lagi panjang. Tak ada hal lain yang


diinginkan Caroline saat itu kecuali mendekatinya. Ia bisa merasakan bagaimana tangannya menyelinap di antara kemeja Andre, memeluk erat perutnya yang ia tahu rata tapi keras.


Laras merasakan dadanya sesak karena menekan keinginan merasakan kekokohan punggung Andre yang bersentuhan dengan dadanya.


Ia ingin meletakan pipinya di bahu laki‐laki itu, menikmati bau tubuhnya, menghirup aroma tubuhnya, setiap nuansa dirinya. Selagi Laras asyik mengamatinya, mendadak Andre tampak

__ADS_1


tegang dan mengumpat, "Apa‐apaan mereka itu?" Andre meletakkan gelas minuman di meja antik lalu menghambur ke luar ruangan. Air


mukanya tampak tegang.


Karena terkejut, Laras melompat dari


sofa dan cepat‐cepat lari ke jendela.


Tampak Beni dan Diana di halaman. Mereka berjalan perlahan menuju rumah. Tangan Beni merangkul pundak Diana, tubuh mereka rapat. Diana merebahkan kepala di dada Benu.


Beni menunduk, menempelkan kepalanya ke kepala Diana. Laras melihat bibir Beni bergerak‐gerak, berbicara pada gadis itu dengan lembut. Kemudian dilihatnya bibir Beni mengecup pelipis Diana, memberikan ciuman lembut.


Laras menghambur ke luar dengan kaki yang hanya mengenakan stoking, karena tahu apa yang dilihat Andre. Ia harus mengejar Andre sebelum,...


Laras bisa membayangkan apa yang bakal terjadi, ia mendengar pintu kasa depan dibanting Andre keras‐keras, langkahnya menggema di lantai teras rumah. "Diana!" seru


Andre.


Laras mengejar Andre, tergesa‐gesa menuruni anak tangga. "Andre, jangan."


Diana mengangkat kepala dari dada Beni, tetapi tidak kelihatan ia hendak menjauhkan diri dari Beni. Sebaliknya, ia malah menggandeng Beni ke hadapan Andre yang memanggilnya.


Laras melihat langkah Beni yang bimbang. Beni bukanlah orang lugu seperti Diana. Seketika ia menangkap kegusaran yang terasa di dalam suara Andre.


Namun Benu tidak mengalihkan pandangan


dari Andre ketika mereka mendekati pria itu. "Ya, Ndre?" ujar Diana.


"Dari mana kau?"


"Aku dari tempat tinggal Benu, nonton televisi." Diana tersenyum pada Beni. "Beni ingin menghiburku, melupakan kedukaanku karena ditinggal ayah."


Api kemarahan yang menggelora dalam hati Andre seperti disiram bensin. "Hmmm, kau tahu ini sudah larut malam. Sebaiknya kau


cepat pergi tidur."


"Tadi Beni juga bilang begitu padaku," jawab Diana sambil menarik napas. "Selamat malam, semuanya." Diana tersenyum manis pada Beni sebelum masuk rumah.


Andre membiarkan beberapa detik berlalu, sampai akhirnya terdengar suara pintu depan ditutup Diana.


Kemudian ia cepat‐cepat mendekati Beni. "Jangan pernah sentuh adikku lagi, paham?


Jika aku melihatmu menyentuhnya sekali lagi, kau akan kehilangan pekerjaan dan langsung harus pergi dari sini."


"Aku tidak menyentuh Diana, tuan gunawan," jawab Beni dengan nada datar. "Aku hanya ingin menghiburnya. Ia sedih karena kehilangan ayah dan... beberapa hal lainnya."


"Hmmm, tapi ia tidak perlu 'hiburan' dari‐mu."


"Ndre," sela Laras sambil memegang tangan Andre mengingatkan. Andre menepis tangan Laras.


"Apa maksud..."


"Kau tahu apa yang kumaksud. Kau pura‐pura menghiburnya, padahal kau menginginkannya."

__ADS_1


Beni menggigit bibir bawahnya. Laras tahu hanya karena takut kehilangan pekerjaan, harus meninggalkan Rumah ini dan Diana-lah yang menyebabkan Beni tidak menanggapi kata‐kata Andre.


"Terserah apa yang Anda pikirkan tentang saya, tuan, tetapi begitulah faktanya. Saya tak pernah melakukan sesuatu yang menyakiti Diana, dan takkan pernah."


__ADS_2