
"Kau memang manusia brengsek." Mata Adre yang keemasan tampak berapi‐api. Setiap otot di tubuhnya yang atletis menegang karena menahan marah. "Kau tidak berhak bicara padanya seperti itu, aku tak peduli betapa parah sakitmu."
Indra tertawa geli, suara tawanya seperti tawa iblis, sejahat ekspresi yang terpancar di wajahnya. "Aku punya hak. Dia istriku. Ingat?"
Andre mengepalkan tinjunya di paha. Ia tidak tahan untuk tidak mendengus marah sebelum meninggalkan kamar itu.
Mula‐mula Andre tidak melihat Laras. Terapi kemudian ia melihat Laras di ujung lorong. Ia tersandar di dinding, memandang jauh ke luar jendela. Andre mendekatinya dari belakang.
Ia mengangkat tangan hendak menyentuhnya, sejenak berhenti untuk mempertimbangkan tindakannya, tetapi kemudian berpikir.
Persetan, lalu ia pun meletakkan tangannya di pundak Laras. Serta merta Laras bereaksi, diam terpaku. "Kau tidak apa‐apa?"
Oh, Tuhan, batin Laras. Mengapa ia mengajukan pertanyaan itu, dengan suara yang khas tersebut? Nada bertanyanya, pertanyaan yang diajukan Andre persis seperti yang pernah
diajukannya pada suatu waktu dulu. Kata‐kata yang sama, kalimat yang sama, kepedulian yang menyentuh perasaan, dengan getar
suara parau yang sama pula.
Perlahan Caroline menoleh sedikit dan memandang Andre dari balik pundak. Matanya berkaca‐kaca. Bisa jadi air matanya karena
penghinaan yang dilontarkan suaminya. Namun sesungguhnya bukan karena alasan itu. Air mata Laras air mata penuh kenangan.
Laras menatap mata Andre, teringat kenangan
__ADS_1
lama, ke masa dulu, ke malam pertam itu..Sinar lampu mobil menyorot di belakangnya, Laras mempercepat langkah. Ia sebenarnya tidak suka berjalan kaki sendirian ketika pulang. Memang, ia bisa menunggu ayahnya, tetapi
siapa pun tahu ia tak bisa dipastikan kapan pulang. Selain itu, dalam kondisinya sekarang, ayahnya juga tidak bisa menolong andai
seseorang menyerangnya.
Laras serasa hampir mati menanggung malu petang itu ketika Andre Gunawan tahu ia putri laki‐laki yang terkenal sebagai pemabuk
di kota itu. Andre akan tahu mereka tinggal di rumah reyot, ibunya menjadi kuli cuci agar ada yang bisa dihidangkan di meja makan dan
mereka mampu membeli pakaian bekas layak pakai dari langganannya untuk Laras.
Laras langsung tahu siapa Andre sebenarnya,
nyebabkan angin mempermainkan rambutnya yang hitam. Biasanya ada gadis duduk di sebelahnya, tangan kirinya tersampir di bahu
Andre. Suara radionya berdentam nyaring.
Andre membunyikan klakson mobil keras‐keras dan melambaikan tangan pada setiap orang yang dikenalnya, termasuk petugas, yang memaklumi pelanggaran yang jelas‐jelas dilakukan Adre yang melarikan mobil dengan
kecepatan lebih daripada semestinya. Setiap orang kenal Andre Gunawan, bintang sepaknola, kapten regu basket, juara lari, serta ahli waris rumah mewah dan pabrik pemintalan kapas terbesar di Kota Malay.
Sosok Andre memenuhi benak Laras selama jam‐jam kerjanya di toserba. Saat ini Laars tergesa‐gesa berjalan pulang agar segera bisa naik ke tempat tidur untuk melamun tentang Andre dan apa yang dikatakan pria itu padanya hari itu. Tentulah Andre tidak akan ingat padanya....
__ADS_1
"Hai, Laras." Mobil itu melintas dari belakang Laras dan berhenti di sisinya. Dengan takjub Laras memandang wajah Andre yantersenyum padanya sambil memiringkan tubuh ke arah kursipenumpang di sebelahnya dan membukakan pintu mobil. "Ayo naik.
Aku antar kau ke rumah."
Laras melihat ke kiri dan kanan, seperti orang yang baru sajamelakukan kesalahan. "Kurasa sebaiknya jangan."
Andre tertawa. "Mengapa?" Karena pria seperti Andre Gunawantidak akan mengajak gadis seperti Larasati Putia Anwar berkeliling naik mobil sport, itulah sebabnya.
Namun Laras tidak mengatakannya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Debar
jantungnya terasa sampai ke tenggorokannya, membuatnya tak mampu berkata‐kata.
"Ayolah, naik," bujuk Andre dengan senyum yang amat memesona. Laras pun duduk di jok kulit dan menutup pintu mobil. Bangku mobil yang empuk itu menghanyutkannya ke alam
kemewahan, dan ia harus berusaha keras
menahan keinginan hatinya mengelus kelembutan jok mobil tersebut. Alat‐alat
di dasbor mobil seperti memancarkan beribu kelip warna‐warni ke arah Laras.
"Kau suka milk shake cokelat?" Baru sekali Laras mencicipinya selama hidupnya. Ketika ibunya baru gajian dan mereka makan siang di sebuah kedai di kota, ibunya membelikan milk shake cokelat untuk mereka nikmati berdua dalam rangka merayakan hari istimewa itu. "Ya."
"Aku tadi berhenti di Dairy Mart. Kau pilih saja sendiri." Andre memiringkan kepala ke arah gelas kertas yang terselip di antara tempat duduk. Gelas itu tertutup, tetapi sedotannya mencuat dari lubang di
__ADS_1
bagian atasnya.