DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 25


__ADS_3

flasback off


Laras tersentak, panggilan Andre bukan hanya ada dalam angan‐angannya tetapi betul‐betul terjadi.


"Ada apa?" Ia menatap Andre, kecemasannya tak dapat disembunyikan. Matanya bagai berkabut dan sendu, teringat ci uman yang memabukkan yang pernah mereka lakukan. Dadanya naik‐turun dengan cepat, seperti yang terjadi pada hari itu ketika tangan Andre menggenggam da danya, memijatnya perlahan,


mengusapnya sampai da danya menegang.


Andre menatap Laras penuh keheranan. "Aku bertanya apakah ada tempat parkir khusus


untukmu."


"Oh. Y‐ya. Dekat pintu. Ada tandanya." Andre mengarahkan mobil ke tempat yang bertuliskan nama Larqs di aspal dan mematikan mesin mobil.


Setelah itu Laras kembali melihat Andre


menghunjamkan tatapan heran lagi. "Sudah siap masuk?" Andre seperti tidak yakin Laras siap.


Laras harus segera menjauhkan diri dari mobil, dari kenangan manis itu. Hampir meneriakkan kata ya, ia membuka pintu mobil dan hampir terjatuh karena terburu‐buru menjauh dari


mobil.


Suara hiruk pikuk dan debu yang mengepul di pabrik pemintalan kapas adalah sambutan selamat datang yang sudah akrab. Laras


melangkah masuk bersama Andre menuju kantor ayahnya.


Andre melihat tak banyak yang berubah. Para pekerja yang datang mengerumuni mereka adalah orang‐orang yang sudah dikenalnya.


"Aldo!" serunya. "Masih di sini?"


"Sampai mati." Ia menggenggam tangan Andre. "Senang berjumpa lagi denganmu, Nak."


Yang lain pun menyalami Andre dengan gembira.


Andre menanyakan kabar keluarga mereka, mengingat nama‐nama yang mungkin sudah dilupakan orang lain. Namun orang‐orang ini sudah seperti keluarga Andre. Mereka bagian dari dirinya seperti udqrq yang memberi kehidupan selama hidupnya.


"Apa masalahnya?" tanya Andre pada Aldo, sambil berjalan ke mesin pemintalan yang rusak di deretan mesin.


"Tua, umumnya," jawab mandor itu resah. "sudah terlalu tua, Ndre. Tak tahu apakah masih bisa dipakai. Terutama kalau panen tahun ini sebaik tahun lalu. Harus dihidupkan siang dan malam."


Andre mengambil kapas yang mencuat keluar dari mesin dan memegangnya dengan jari‐jarinya. Ada serpihan daun dan pasir terselip di antara serat‐seratnya. Aldo dan Laras menghindari pandangan mata Andre ketika memerhatikan kapas itu dengan saksama. "Kualitas apa kapas ini?"


"Menengah," jawab Laras, akhirnya, ketika melihat Aldo terdiam.

__ADS_1


"Keluarga Gunawan selalu memproduksi kapas kualitas terbaik. Apa yang terjadi di sini?"


"Mari ke kantor, Ndre" ajak Laras lembut. Ia langsung berbalik dan berjalan lebih dulu, berharap Andre mengikutinya dan tidak berargumentasi dengannya di depan karyawan.


Laras duduk di kursi kulit di belakang meja ketika Andre masuk ke ruangan dan membanting pintu, sampai membuat kacanya


bergetar.


"Dulu ini pemintalan kapas terbaik di negara bagian ini," kata Andre marah tanpa basa‐basi.


"Sekarang pun masih."


"Tidak mungkin bila kualitas kapas yang diproduksi seperti itu, tidak mungkin. Andai aku petani kapas, hasil panenku pasti akan kupintal di pabrik pemintalan lain. Tidak bisakah kita memintal kapas yang lebih baik?"


"Sudah kubilang, yang jadi persoalan adalah peralatannya. Mesin‐mesin itu...."


"Sudah kuno," potong Andre. "Bre ngsek, apakah ayah tidak ingin memperbaiki atau memperbaruinya?"


"Ia merasa tidak perlu," jawab Laras, pelan.


"Tidak perlu!" ulang Andre dengan suara nyaring. "Lihatlah tempat ini. Lebih mirip kandang sapi ketimbang pabrik pemintalan kapas modern. Kita tidak jujur pada diri kita, juga pada para penanam kapas. Aneh mereka tidak membawa kapas mereka ke pabrik pemintalan kapas yang lain..." Mendadak Andre berhenti bicara, matanya disipitkan. "Atau banyak yang sudah pindah?"


"Kita kehilangan beberapa tahun lalu, ya."


"Beberapa penanam kapas yang biasa menjual panennya ke sini memang ada yang membawa kapas mereka ke pemintalan lain. Mereka hanya membayar biaya pemintalan kemudian menjual langsung ke pedagang."


Laras duduk resah di kursi kulit yang berderit sementara Andre memandanginya. "Jadi mereka lebih suka repot‐repot mengusung


panen kapas mereka ke tempat lain dan membayar ongkos memintalnya ketimbang menjualnya kepada kita, memintalnya,


mengepaknya, dan menjualnya ke pedagang kapas." Laras mengangguk.


Andre menyuarakan apa yang masih terpendam dalam benak mereka. "Mereka mendapat lebih banyak uang dengan cara itu, daripada memintalnya di tempat kita, karena mereka hanya membayar dengan ongkos lebih murah untuk kapas yang kualitasnya lebih rendah."


"Kurasa begitulah cara berpikir mereka."


Andre bangkit dari kursi dan berjalan ke jendela. Ia membalik tangannya, lalu memasukkannya ke saku jins. Kelihatannya ia


sedang memandang alam sekitar, tetapi Laras tahu bukan pemandangan itu yang tengah dilihatnya. "Kau tahu akar persoalan ini, bukan? Tahu, kan?" ulang Andre, langsung membalikkan badan ketika Laras tidak cepat menjawab pertanyaannya.


"Ya."


"Tetapi kau tidak melakukan apa‐apa." "Apa yang bisa kulakukan, Ndre? Pertama‐tama, tugasku hanya mengurus pembukuan. Aku

__ADS_1


belajar tentang proses pemintalan kapas, pemasarannya, hanya dengan mendengarkan, mengamati, menjengkelkan dengan berada di antara para pekerja. Aku bukan pengambil


keputusan."


"Kau kan istrinya! Tidakkah itu membuatmii punya hak untuk melakukan sesuatu?" Andre mengangkat kedua tangannya. "Kutarik


kembali ucapanku. Mereka yang menjadi istri Indra Gunawan tidak akan mengkritik, melakukan apapun yang dikerjakan Indra, mereka hanya pasrah melakukan perintah... istri‐istri yang tugasnya menyenangkan suami."


Laras mengangkat dagu, mengepalkan tangan, dan berkacak pinggang. "Aku pernah mengatakan padamu aku tidak akan pernah


bicara soal hubunganku dengan Imdra padamu."


"Dan aku pernah mengatakan padamu aku tidak peduli apa yang kaulakukan dengan Indra di ran jang."


Keduanya tahu apa yang mereka katakan sebetulnya tidak benar. Andre merasa agak malu karena menyadari ia berbohong.


Laras dengan bijaksana memilih tidak menantangnya. "Andai menghinaku adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk


memecahkan masalah ini, kurasa kau tidak usah ikut campur."


Andre mengumpat dan menyibakkan rambut dengan jari‐jarinya dengan kesal. Mereka saling pandang sampai akhirnya diam‐diam mengalah. "Aku akan menolong semampuku," gumam Andre.


"Kau bisa memperbaiki mesinnya?" tanya Laras, menekan kesombongannya.


"Aku butuh beberapa peralatan, tetapi kurasa bisa kuperbaiki. Aku pernah membongkar mesin pesawat terbang dan memperbaikinya. Pasti mesin ini tidak lebih rumit daripada mesin


pesawat terbang. Tetapi aku tidak berani menjanjikan apa‐apa Laras. Perbaikan yang kulakukan bukan jawaban atas masalahmu."


"Aku paham." Laras melunak, tubuhnya tidak setegang tadi ketika ia tersenyum malu‐malu, meminta maaf atas perilakunya.


"Apa pun bantuanmu, sangat kuhargai."


Kali ini umpatan Andre makin kasar, tetapi hanya dalam hati.


Umpatan itu ditujukan kepada dirinya sendiri karena perasaan bersalah. Tak ada hal yang lebih diinginkannya saat itu kecuali memeluk Laras, melindunginya, mengecup bibirnya, merapatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya.


Betapa tololnya dirinya dulu. Pikiran itu membawanya membayangkan tubuh Laras


berpelukan dengan ayahnya. Oh, Tuhan! Terkadang ia merasa seperti akan gila bila membayangkan hal itu.


Kendati demikian ia tidak bisa menyalahkan Laras, seperti yang ingin ia lakukan. Tiap kali menatap Laras, ia makin menginginkan wanita itu. Ia harus segera meninggalkan tempat ini.


Segera. Sebelum ia melakukan sesuatu yang bisa mempermalukan dirinya sendiri. Namun itu pun tidak bisa ia lakukan, apa pun alasannya. Diana. Ayahnya. Tetapi terutama karena Laras.

__ADS_1


Berjumpa lagi dengan Laras dua belas tahun kemudian membuat Andre tidak bisa serta merta meninggalkannya.


__ADS_2