
"Kurasa, kau tinggal dengan penolong misteriusmu, Laras, kata Andre pelan.
Laras menatap Andre sampai rasa ketidak mengertian menghilang, memahami segalanya bila saja ia menyelidikinya. "Soal beasiswa?" Laras bertanya dengan suara parau, sambil menatap Indra.
"Aku harus menjauhkan dirimu dari kota, menjaga kalau‐kalau Andre suatu hari bercerai, kemudian memutuskan kembali padamu."
"Kau yang membiayai semua sekolahku?" Laras mencoba menyimpulkannya. "Sebegitu pentingnyakah, hanya demi menjaga reputasi dan nama keluargamu?"
"Oh, bukan hanya itu," jawab Indra. "Kau harus dipersiapkan untuk menyempurnakan seluruh rencananya."
"Rencana apa?" tanya Laras.
"Bahwa kau harus menjadi Nyonya Gunawan, Nyonya Indra Gunawan."Dengan tetap melipat tangan di perut, Laras agak membungkukkan badan. Perasaan terhina memenuhi dirinya.
"Kau merencanakan semua ini sejak bertahun‐tahun lalu? Kau berhasil mewujudkannya?"
"Coba pikir, bagaimana kau bisa dapat pekerjaan di bank itu begitu lulus dari univesitas? Apa kau pikir hanya kebetulan aku
bertemu denganmu di bank itu? Sudah kusiapkan pekerjaan untukmu di pemintalan bila waktunya tiba. Ingin mendengar cerita
selanjutnya?"
"Tetapi mengapa?" teriak Laras. "Mengapa?"
Indra tidak menjawab, ia hanya melirik Andre, Andre‐lah yang memberi jawaban atas pertanyaan Laras.
"Karena aku menginginkan dirimu. Dan Indra tahu itu. Dan ia akan melakukanapa pun, dengan cara paling licik sekalipun, termasuk bila harus menikahimu, agar aku tidak memilikimu."
"Kau memang anak cerdas," kata Indra sambil melirik.
"Kau juga menyuruh Diana menulis surat padaku bahwa Laras sudah menikah."
"Itu kan pekerjaan yang mudah dilakukan. Diana mau melakukan apa pun yang ia tahu bisa membuat aku senang dan melupakannya dalam waktu beberapa jam. Kau harus banyak
belajar soal pengabdian dan kehormatan dari adik perempuanmu yang bo doh itu, anakku."
"Kehormatan." Andre mengumpat kata itu.
"Bertahun‐tahun lamanya kau memanipulasi kehidupan kami hanya karena dendammu terhadap Andre?" kata Laras, yang masih tidak percaya ada pria yang bisa terobsesi rasa benci seperti itu. "Kau anggap aku tidak pantas bersanding dengan Andre, tetapi kau menikahiku. Kau berikan nama keluargamu
padaku, membawaku tinggal di rumah ini. Aku tak mengerti."
__ADS_1
"Kau mudah dibujuk, Sayangku. Aku tahu itu karena latar belakangmu. Keluarga kami, nama keluarga Gunawan dan rumah mewah akan mewujudkan mimpi yang tak pernah bisa
kau dapat. Rumah dan nama keluarga adalah umpan yang sulit kau tolak, bukan? Meskipun rumah dan nama keluarga itu milik kekasih yang sangat kaurindukan. Sebetulnya, aku harus berterima kasih padamu karena membuat segalanya menjadi mudah. Kau
pandai bicara dan jujur, itu kelebihanmu. Kau beradab. Hanya Tuhan yang tahu mengapa kau punya sifat seperti itu, tetapi yang jelas itu
suatu keuntungan. Wajahmu yang cantik, menarik untuk dipandang, membuat orang yakin orang tua busuk seperti aku ini bisa
terpesona olehmu. Yah, Laras, terima kasih, kau membuat segalanya menjadi mudah."
Laras berbalik karena malu. Ia diperalat dengan cara yang paling memalukan. Tetapi anehnya, ia malah menyalahkan dirinya sendiri ketimbang akal busuk suaminya. Andai ia tidak terlalu polos... Andai ia tidak terlalu cepat menjatuhkan tuduhan pada Andre.
Andai ia tidak terlalu ambisius. Andai, andai, andai... Apa yang dilakukan Indra untuk menyakiti hatinya yang lebih daripada ia
menyakiti dirinya sendiri?
Sorot mata lelaki yang sekarat itu tampak berbinar‐binar, ditujukan kepada mereka berdua. "Bagaimana rasanya tinggal di
bawah satu atap? Tersiksa? Minggu ini minggu paling menyenangkan, melihat kalian berdua menggelorq. Kalian pikir tak ada yang
tahu, bukan? Oh, betapa menyenangkannya melihat kalian berusaha menyembunyikannya, melihat kalian berdua berusaha tidak saling pandang dan menjauhkan diri."
Mata Indra tertuju pada Andre. "Kau mulai menginginkannya kembali, bukan, anakku? Kau hampir tak dapat menahan gelora nafsumu, bukan? Pernah kau bayangkan Laras di ranjang bersamaku dan apa yang kami lakukan di sana?"
"Lihatlah dia, anakku. Tubuhnya indah sekali, bukan?"
"Diam!" teriak Andre.
"Perempuan sempurna. Setiap sentimeter sangat mulus, sangat perempuan."
"Jangan bicara seperti itu tentang dirinya, bre ngsek!"
Indra tertawa mengejek. "Aku tidak mengatakan apa yang tidak terpikir olehmu. Pernahkah terpikir olehmu bagaimana rasanya menciumnya? Memeluknya? Melepas pakaiannya? Menidurinya? Kau pernah merindukan istri ayahmu, anakku?"
"Oh, Tuhanl" Dengan perasaan remuk redam, Laras lari keluar dari kamar.
Indra tertawa ketika melihat Laras pergi."Kau baj ingan!" maki Andre kepada ayahnya dengan suara tenang mematikan.
"Aku memang baj ingan." Dengan susah payah Indra berusaha bangkit dan menopang tubuhnya dengan siku. "Aku akan terpanggang di api neraka, tapi aku menikmati setiap detiknya karena hidupmu lebih tersiksa lagi di dunia ini. Sejak kau dilahirkan, kau selalu membuat masalah denganku."
"Karena yang kulihat hanya kebobrokan dalam dirimu. Karena kau membunuh ibuku, layaknya menembakkan peluru ke otaknya."
__ADS_1
"Mungkin. Mungkin. Ia perempuan lemah. Tidak penah melawanku. Tetapi kau selalu menantangku. Kau selalu menantangku. Aku tak tahan melihat sorot matamu yang
menatapku dengan sorot mata kebenaran. Makin tambali usiamu, kau makin menyiksaku. Kau menegur hati nuraniku dan aku tidak
ingin menjadi manusia yang punya hati."
Jari telunjuknya yang kurus lagi gemetar diarahkan kepada Andre.
"Ya, aku mendapatkan kembali anakku, putraku. Memang makan waktu lama untuk mendapatkannya, tetapi aku berhasil. Kau tak
bisa lagi memiliki perempuan itu sekarang, Andre. Aku kenal siapa dirimu. Harga diri sebagai Gunawan takkan merelakan dirimu memiliki Laras" Indra berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "Karena aku sudah teriebih dahulu memilikinya. Kau ingat itu.
Laras istriku dan aku yang memilikinya untuk pertama kali!"
Keempat orang di dalam mobil itu duduk diam saat mobil melaju di bawah pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan menuju pemakaman. Andre dan Laras memandang ke luar jendela. Diana duduk di antara mereka, mempermainkan saputangan di antara jemarinya. Bi Ani, yang duduk di belakang,
mengamati mereka, juga dalam diam. Paling tidak, membisu semampunya.
"Sepertinya banyak sekali yang melayat," komentar Bi Ani sambil memandang ke arah iring‐iringan mobil yang berderet di belakang mobil jenazah dan mobil mereka.
Tak ada yang memberi tanggapan. Akhirnya Laras berkata, "Kebanyakan penduduk kota, kurasa."
"Tak banyak yang kuingat soal pemakaman Mama. Ada yang kauingat, Ndre?" Diana bertanya takut‐takut. Saat sorot mata Andre
tajam seperti itu, membuat Diana menjadi takut.
"Ya," jawab Andre sambil menggigit bibir. "Aku masih ingat." Setelah menyadari ia berbicara dengan adik perempuannya, Andre menoleh dan tersenyum lembut padanya. Diambilnya tangan Diana, lalu diciumnya dan digenggamnya erat‐erat. "Banyak orang yang
menghadiri pemakamannya juga."
"Kukira begitu," jawab Diana, sambil tersenyum, lega karena tidak ada lagi sorot mata dingin dan cemas di wajah Andre.
"Orang pasti akan ramai membicarakannya," ujar Bi Ani, menduga‐duga.
"Biar saja mereka keheranan, aku tidak peduli apa yang orang‐orang katakan," kata Andre ketus.
"Kau tidak tinggal di sini," kata bi Ani. "Kami tinggal di sini."
"Tak ada acara pelepasan," kata Andre, menegaskan. "Kau dengar, Bu?" Sorot matanya yang tajam dan rak mau dibantah, serta suaranya yang berwibawa, membuat Bi Ani tak mengomentari lebih lanjut.
"Ya, tuan." Ia menaikkan duduknya karena gusar. Andre kembali memandang ke luar jendela.
__ADS_1
Laras iba melihat Bi Ani dan Diana. Orang-orang yang berhati polos seperti mereka harus hidup bersama orang seperti Indra.