
Terima kasih," ujar Laras malu‐malu. Diambilnya gelas itu lalu diisapnya isinya melalui sedotan. Rasanya dingin, mantap, dan enak. Laras tersenyum senang. Andre balas tersenyum.
Radionya tidak dibunyikan keras‐keras dan atap mobilnya tidak dibuka. Andre tidak ingin ada yang melihat ia bersama Laras.
Laras mengerti dan tidak keberatan. Andre datang menjemputnya; ia membelikannya milk shake cokelat. Itu saja sudah cukup buat Laras.
"Bagaimana kerjamu tadi?"
"Aku menjual satu set piring makan."
"Oh ya?"
"Perabot jelek. Kurasa aku tidak bisa makan dengan piring seperti itu."
Andre tertawa. "Tapi kau kan tidak ingin menjual piring seumur hidupmu?"
"Ya."
"Apa yang ingin kaulakukan?" Kuliah, jawab Laras dalam hati dengan perasaan putus asa.
"Entahlah. Aku suka matematika. Aku jadi juara dua tahun berturut‐turut." Laras merasa perlu menunjukkan kelebihan dirinya, bercerita
pada Andre tentang sesuatu yang membuatnya takkan lupa peristiwa malam ini, karena ia tahu, ia sendiri tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.
Dia, Larasati Putri, berkeliling dengan mobil Andre Gunawan! Tetapi, apa peduli Andre? Ia bisa memilih gadis mana pun yang ia suka, gadis yang lebih tua dan lebih bergaya daripada dirinya. Gadis yang berpakaian lebih. indah dan
suka berkumpul di klub, gadis‐gadis yang ibunya duduk dalam komite dan naik mobil mewah, gadis‐gadis yang merasa malu bicara
__ADS_1
dengan Laras.
"Matematika, heh? Mungkin aku butuh pertolonganmu untuk mengerjakan tugas akademisku. Aku nyaris tidak lulus kuliah
matematika."
"Apakah kau suka kuliah?"
"Tentu saja. Asyik sekali. Tetapi aku senang sudah keluar."
"Kau sudah lulus?"
"Enam minggu yang lalu."
"Kuliah jurusan apa?"
"Pilihanku antara pertanian atau teknik. Aku merasa cukup banyak tahu tentang pertanian, karena itu aku memilih teknik."
"Kurasa begitu." Tanpa menanyakan arah, Adre keluar dari jalan raya ke jalan kecil yang menuju rumahnya.
"Kau tak perlu mengantarku sampai rumah," kata Latas cepat.
"Di sini gelap gulita seperti dalam terowongan."
"Aku tidak takut, sungguh. Tolong, berhenti di sini saja." Tanpa membantah, Andre mengerem mobil. Laras tidak ingin Andre mengantarnya sampai ke rumah. Karena kalau ya, ia harus
memberi penjelasan tentang semuanya pada ibunya. Hari ini terlalu istimewa. Ia tidak ingin berbagi keistimewaan hari ini dengan orang
__ADS_1
lain. Ia terutama tidak ingin Andre berjumpa ibunya di rumahnya yang reyot.
Setelah mesin mobil dimatikan, segalanya jadi senyap. Andre mematikan lampu mobil dan menurunkan atapnya. Sinar rembulan yang putih keperakan menimpa wajah mereka. Sementara angin yang bertiup semilir mempermainkan rambut mereka. Andre merentangkan tangan ke sandaran tempat duduk Laras.
Lutut Andre menyentuh lutut Laras ketika ia berputar hendak menatap Laras. Andre tidak menggeserkan lututnya.
Laras dapat mencium aroma pasrfum yang dipakai Andre, melihat bayang‐bayang kumis halus yang tumbuh. Andre bukan anak‐anak lagi, ia laki‐laki dewasa.
Laras belum pernah berkencan, belum pernah
berduaan saja dengan pria.
Menyadari Andre tak bicara sepatah kata pun, Laras melanjutkan menyedot minuman. Andre mengamatinya dengan saksama. Laras melihat Andre memerhatikan bibirnya yang menyedot minuman. Terdengar suara keras ketika akhirnya minumannya habis. Ia menatap Andre dengan perasaan malu.
Andre tersenyum. "Enak milk sbake‐nya?"
"Enak sekali. Terima kasih." Laras memberikan gelas kosongnya kepada Andre, yang lalu menyelipkannya ke bawah bangku.
Ketika tegak kembali, Andre agak memiringkan tubuh sehingga wajah mereka berhadapan. Malam itu percakapan mereka berakhir karena rasa ingin tahu yang besar. Laras mengamati Andre dengan teliti, begitu juga pria itu.
Laras melihat tatapan Andre menjelajahi
seluruh wajah, rambut, leher, dan dadanya, dan hal itu membuat Laras merasa tubuhnya panas dan seperti dijalari perasaan nikmat yang aneh, yang membuat tubuhnya bagai melayang.
Namun ada perasaan berat yang menggelayuti bagian bawah tubuhnya. Semacam hawa panas, yang tak pernah dirasakannya namun terasa nikmat; perasaan terlarang tetapi terasa
menyenangkan, perasaan yang kini mulai menjalari pembuluh nadinya.
__ADS_1
Andre meletakkan ibu jarinya di bibir bawah Laras, menelusuri bibir bawah itu dengan jarinya yang berkuku terawat rapi. Laras
merasa seperti akan mati kehabisan napas. Mendadak ia merasa tidak bisa bernapas