
Laras menggumamkan suara seperti tercekik sambil berdiri. Andre menangkap tangannya dan memintanya tetap duduk di sofa.
"Maafkan aku. Duduklah." Ketika Laras meronta berusaha melepaskan tangannya, dengan gerakan cepat Andre menariknya dan
mendudukkannya kembali di sofa. "Aku sudah minta maaf. Aku tak sengaja, itu kebiasaan yang sulit ku hilangkan. Bila kau ingin
mendengar cerita tentang perkawinanku yang menyakitkan itu, aku bersedia menceritakannya padamu. Kau sudah tahu tentang kebreng sekan diriku yang lainnya, kau juga harus tahu soal itu."
"Sudah kubilang, aku tidak ingin ikut campur urusanmu."
"Dan aku percaya," potong Andre. "Oke?" Setelah Laras mengangguk, Andre melepaskan genggamannya di tangan Laras. "Ery tidak lagi mencintaiku, seperti yang kuharapkan. Indra benar tentang hal itu. Ia mengakui ia harus mengatakan aku ayah anaknya hanya agar tidak dibuang keluarganya. Akhirnya kami
meninggalkan kota ini, yang tak bisa ditolaknya, kami pindah ke luar negeri. Di sana aku harus bekerja karena tidak ingin minta satu sen
pun dari ayahku. Perkawinan kami memburuk, tetapi aku sangat menyayangi Alyssa. Begitu bayi itu dilahirkan, ayah kandungnya muncul lalu ia dan Ery membawanya pergi."
"Kau tidak keberatan?"
"Tidak. Aku juga ingin cepat‐cepat terbebas darinya. Tetapi aku mencemaskan bayi itu. Ery bukanlah ibu yang baik. Ketika ia mengajukan gugatan cerai dengan alasan mendapatkan penyiksaan mental, aku tidak menyangkal, tetapi ia masih belum puas. Ia menuntut uang jaminan. Di satu sisi, aku ingin membiarkan ia dan kekasihnya yang breng sek itu. Pendek cerita, aku harus kerja siang malam bertahun‐tahun hanya agar terbebas darinya. Aku sedih harus kehilangan Alyssa, tetapi Ery menuntut anak itu di bawah asuhannya."
"Apa Alyssa tahu kau bukan ayah kandungnya?" Laras tidak dapat menahan rasa ingin tahunya tentang gadis yang terpaksa hidup terpisah dengan ayah kandung yang tak pernah dilihatnya.
"Oh ya," jawab Andre kesal. "Usia Alyssa hamppir tiga tahun ketika surat cerainya keluar. Ia menangis, memelukku erat‐erat ketika
Ery menariknya dari dekapanku. Mereka kembali ke Valley, aku tetap tinggal di sana. Alyssa memanggilku Ayah, menangis ingin bersama ayahnya. Namun, Ery mengatakan padanya bila ia ingin bersama ayahnya, ia harus ikut ibunya tinggal di Valley karena aku bukanlah ayahnya."
"Ya ampun, Ndre," gumam Laras, gemetar membayangkan peristiwa yang mengerikan itu.
"Sekarang usianya sebelas tahun. Kudengar ia agak binal, momok bagi siswa SMP di Valley." Andee menggeleng sedih.
"Memalukan sekali, karena Alyssa itu gadis kecil baik‐baik. Seperti yang kauketahui, ia punya sederet 'ayah tiri'. Aku tidak yakin ia ingat
padaku."
__ADS_1
Setelah diam beberapa saat, Laras berkata, "Apakah perusahaan penerbangan Air Stars berjalan baik sekarang ini?"
"Belum sepenuhnya. Aku raendapat izin terbang ketika kuliah semester pertama. Waktu tinggal di sana, dapat banyak jam terbang, aku dapat izin jadi pilot penerbangan carter. Aku terus mengumpulkan jam terbang, meningkatkan kualifikasiku agar mendapat izin menerbangkan pesawat yang lebih besar. Aku bertemu rekan kerjaku dan kami merencanakan punya pesawat carter sendiri. Kalau ada perusahaan penerbangan yang bangkrut,
pesawat‐pesawatnya dijual dengan harga murah, dan kami berhasil mengumpulkan uang untuk membelinya. Bisnis kami maju sekali
sehingga kami berhasil melunasi utang jauh sebelum waktu yang ditetapkan, banyak permintaan yang tak dapat kami penuhi. Kami
membeli pesawat yang lebih besar, makin lama makin banyak."
"Dan akhirnya sampai di sini."
"Ya." Lingkaran cahaya lampu jatuh menyinari mereka. Rambut Laraw yang hitam tergerai sampai ke bahu, menyatu dengan rok hitam yang dipakainya. Hanya sebagian wajah dan lehernya yang kelihatan putih di bawah sinar lampu yang kekuningan itu. Matanya
berbinar‐binar ketika menatap mata Andre.
"Laras?" panggil Andre lembut.
andai saja Andre berani melangkah lebih berani, ia akan pasrah dan tak ada yang bisa menghalanginya. Ia masih mencintai pria ini, dan tak pernah berhenti mencintainya. Tetapi cintanya terhadap Andre bukan lagi cinta remaja. Cintanya pada Andre adalah cinta
perempuan dewasa terhadap pria dewasa.
Kendati cepat naik darah, tidak bisa menerima kelemahan manusia lain, marah terhadap hubungannya dengan Indra, cinta Laras pada Andre tidak berkurang.
"Ya, Ndre?"
"Apakah kau pernah ingat aku sewaktu tidur dengan ayahku?"
Barangkali pisau yang dihujamkan ke dadanya takkan lebih sakit ketimbang kata‐kata yang dilontarkan Andre padanya saat itu.
Laras menangis pilu dan bangkit dari sofa. "Si alan kau, Ndre! Jangan pernah menyinggung soal itu denganku."
Andre pun bangkit dari duduk dan berhadap‐hadapan dengan Laras. Dagunya agak diangkat dengan sikap angkuh. "Aku ingin
__ADS_1
tahu. Apakah pernah hati kecilmu terusik, bagaimana kau bisa menikah dengan ayahku setelah kita menjadi sepasang kekasih?"
"Aku ingin menjadi kekasihmu, ingat. Kau yang tidak ingin menjadi kekasihku. Kau tidak berani mengambil risiko."
"Benar. Aku tidak berani mengambil risiko yang bisa menyakitimu."
"Aku ingin kau menyakitiku." Laras mengatakan hal itu dengan sangat marah di antara sedu sedannya.
Andre mengertakkan gigi dan suaranya merendah. "Aku ingin menyakitimu dengan cara seperti tadi itu, ya. Aku ingin menjad orang pertama, yang menyakitimu, yang memungkinkan kau menjadi milikku untuk selamanya." Andre maju selangkah, dengan rasa marah yang menggelegak. "Tetapi harga diriku disalah gunakan. Dan lebih to lolnya, perasaanku terhadapku lebih istimewa, tidak bisa dibandingkan dengan gadis‐gadis yang pernah kuajak kencan."
"Pacarmu memang banyak, kan?"
"Ya."
"Sebelum dan sesudahnya."
"Ya."
"Lalu, mengapa kau menyalahkan aku menikah dengan ayahmu?"
"Karena kau bilang kau mencintaikul"
"Apakah kau juga mencintai gadis‐gadis itu, Ndre? Cintakah?"
Seketika Andre memalingkan wajah, tetapi Laras sempat melihat ekspresi bersalah di wajahnya. "Kau tidak ada di sini waktu itu, Ndre.
Kau sudah menikah dengan perempuan lain. Sepanjang yang kutahu, aku hanyalah boneka mainan bagimu selama musim panas itu. Paling tidak, kau kan bisa menulis surat, atau menelepon, atau apalah. Aku tidak yakin kau pernah mengingatku. Andai kau ingat pun, paling aku sebagai gadis sederhana dibandingkan gadis‐gadis yang biasa bersamamu."
"Kau tahu apa sebabnya aku tidak menghubungumu. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam persoalanku dengan Ery. Ketika masalahku beres, kau sudah kuliah dan aku mendapat kabar kau sudah menikah. Aku menghapus harapan untuk bertemu denganmu. Kabar berikutnya yang ku dapat, kau sudah berbagi ranjang dengan ayahku!"
Laras menutup wajahnya dengan kedua tangan. la dapat menangkap gelombang kebencian yang ditujukan kepadanya. Laras menurunkan tangan, dengan berani balik menatap mata Andre yang penuh kemarahan.
"Kita tidak bisa begini terus, Ndre," katanya lembut. "Kita saling menghancurkan."
__ADS_1