DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 49


__ADS_3

Pengantin wanita mengenakan gaun putih. Model gaun dari sutra itu sederhana namun serasi dengan potongan tubuhnya yang


ramping. Tubuhnya tidak tenggelam di balik gaunnya, tidak seperti jika ia mengenakan gaun kuno berekor yang bermeter‐meter panjangnya dan berenda‐renda. Kakinya dibalut stoking tipis dan sepatu putih. Rambut di bagian pinggir ditarik sampai tengah, dijepit sepasang bunga camelia putih, bunga kesayangannya. Ia kelihatan cantik sekali. Matanya berbinar‐binar, memancarkan kegembiraan hatinya. Ia tidak kelihatan gugup sama sekali.


Pengantin prianya justru tampak gugup. Ia kelihatan resah dan berkali‐kali menelan ludah, mengubah posisi kaki. Ia menarik‐narik ujung dasinya, setelan pakaian yang tidak akrab dengannya. Ia diberitahu tidak harus mengenakan setelan seperti itu, tetapi ia


memaksa. Ia ingin menjadikan hari ini tak terlupakan bagi pengantin wanita. Ia ingin memperlihatkan kepada setiap orang


perkawinannya adalah sah dan keduanya melakukannya dengan kesadaran penuh dan perasaan bangga.


Laras menyentuh tangan Beni, menenangkannya ketika mereka berdiri menunggu pengantin wanita. Beni tersenyum


penuh rasa terima kasih pada Laras. Tetapi ketika Diana memasuki ruanga acara pernikahan dilaksanakan, mata Beni hanya


tertuju pada Diana. Begitu pun mata Diana. Matanya yang besar dan kecokelatan mencari‐cari Beni begitu memasuki ruang depan dan tertuju padanya ketika ia menuruni tangga yang melingkar, pandangannya tetap tidak beralih dari Beni.


Hanya beberapa orang yang diundang untuk menyaksikan upacara pernikahan tersebut. Andre dan Laras. Penghulu yang memimpin upacara dan para saksi, dan Danu. Dan Bi Ani, yang menangis ketika sepasang pengantin itu


mengucapkan janji setia mereka. Untunglah, upacaranya singkat.


Beni mengecup lembut kening Diana yang sudah sah menjadi istrinya dan segera mencopot dasi.


"Beni." Beni berbalik dan melihat Andre mengulurkan tangan. "Selamat datang di keluarga kami."


Beni tersenyum lebar sambil menyalami kakak iparnya. "Terima kasih, Ndre. Aku bahagia bisa menjadi anggota keluarga ini."


"Selamat, Beni," kata Laras dan mencium pipi Beni. "Diana." Laras memeluk Diana erat‐erat. "Semoga selalu bahagia."


"Pasti akan selalu, selalu," jawab Diana gembira, sambil mengangguk‐anggukkan kepala. "Ayo kita minum sekarang. Kurasa Beni ingin minuman dingin."


Semua orang kelihatan gembira ketika memasuki ruang makan, yang sudah siap dengan berbagai macam masakan sedehana, kue pengantin tiga susun dan makanan‐makanan kecil lain, yang disiapkan Bi Ani Juga tersedia kopi dan jus.


Ketika Andre tertangkap basah menuangkan minuman ke gelas Beni, Danu tertawa. Pesta itu sederhana tapi meriah, dan Laras bahagia untuk Diana. Setelah semua selesai makan, juru photo mengambil photo mereka. Dasi yang tadi dilepas Beni hilang sehingga harus diganti.


Laras merapikan rambut Diana dan menambah lipstiknya. Setelah acara pemotretan selesai, tak seorang pun yang matanya tidak merasa bahagia. Para ramu mohon diri, meninggalkan para penghuni rumah dengan meja makan yang berantakan. Pengantin pria dan wanita istirahat di lantai dua. Menjelang pernikahannya, barang‐barang Beni dipindahkan ke kamar utama.


Pasangan pengantin itu akan menempati kamar utama karena lebih besar daripada kamar Diana. Laras merencanakan mendekorasi ulang agar lebih menarik dan sesuai dengan kepribadian penghuninya.


Setelah membantu Bi Ani bersih‐bersih, Andre dan Laras pergi menonton di bioskop di kota. Sewaktu pulang ke rumah, suasana sunyi dan gelap. Mereka mengendap‐endap ke lantai dua, tidak ingin mengganggu si pengantin baru.


Mereka naik ke kamar tidur Andre. Setelah mengunci pintu, Andre menyalakan lampu di samping ranjang. "Aku bosan harus mengendap‐endap seperti ini terus," keluh


Andre. "Aku benci salah satu di antara kita harus turun dari ranjang dan menyelinap ke lorong menjelang pagi. Mengapa kau tidak


pindah saja ke sini bersamaku, atau aku pindah ke kamar tidurmu?"


"Karena."


"Alasan yang masuk akal." Andre membuka sepatu bot dan kemejanya dan melepas celana panjangnya. "Mungkin aku harus menuliskannya supaya ingat."


"Sudahlah, jangan menggodaku. Aku belum ingin siapa pun tahu soal ini."


"Mereka sudah tahu," kata Andre yang telah melepaskan yang melekat di tubuhnya. Diempaskannya tubuhnya ke sofa empuk berlapis kulit, tempat yang paling disukainya di rumah.


Laras membuka sweter dan menatap Andre dengan kaget. "Benarkah?"


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Andre mengangguk dan memerhatikan Laras yang melipat kemejanya dengan rapi dan meletakkannya di sandaran kurs.


Menangkap nada suara Laras, Andre berkata, "Beni dan Bi Ani, aku yakin tahu. Mereka tidak buta, Laras. Dua belas tahun aku menyimpan perasaan cintaku padamu. Aku rasa tidak mungkin bisa disembunyikan lagi beberapa hari terakhir ini. Sekarang aku lebih bahagia dibandingkan sebelumnya. Dan itu jelas terpancar, sayangku."


Wajah Laras memerah ketika ia melepas pakaiannya, tampil dengan hanya dengan dalaman yang warnanya senada dengan kulitnya. Andre menelan salivanya melihat penampilan yang terpampang di depannya.


"Aku juga tidak suka sembunyi‐sembunyi, tetapi demi reputasiku, jangan biarkan setiap orang tahu rahasia ini. Nanti aku dianggap perempuan murahan." Laras mengambil sisir dan merapikan rambutnya. Cahaya lampu menerpa helai‐helai rambut yang tergerai.


Laras membelakangi Andre. Le kuk tubuhnya sangat indah. Kain yang melekat di tubuh Laras itu hampir tak dapat menyembunyikan daya tarik dan pesona kecantikannya. Bagian tubuh yang tertutup kain itu yang ingin Andre sentuh. "Bagaimana bisa kau dianggap perempuan murahan?" tanya Andre dengan suara berat.


Laras mengeluarkan botol kecil dari tas, lalu menuangkan beberapa tetes isinya ke telapak tangan. Digosokan dan dibalurkannya ke lengannya. Oh, Tuhan! Perempuan ini sungguh


membuatnya gila!


"Karena secara hukum kau anak tiriku."


"Dan di luar hukum?"


Laras membalikkan badan, menghadap ke arah Andre yang duduk di kursi, melihat tubuhnya yang tegang.


Laras tersenyum malu tapi amat menawan. "Di luar hukum, kau kekasihku."

__ADS_1


"Kemarilah." Buru‐buru Andre melepaskan ketegangan di tubuhnya dan Laras menghampirinya dan berdiri di depan Andre.


Laras memegang wajah Andre ketika pria itu mencondongkan tubuhnya dan memeluk Laras.


Andre meminta Laras duduk di pangkuannya. Tangan Laras melingkari leher Andre.


Andre membenamkan wajahnya di lekuk leher Laras. Tangan Rink mengelus bagian punggung Laras dan memeluknya dengan erat. Sambil membenamkan kepala pria itu di lehernya, Laras membelai dan membisikkan kata‐kata cinta seirama gerakan Andre. Andre bergerak makin cepat, terus makin cepat. Kemudian, ketika tubuh Laras bergetar karena kenikmatan yang melandanya, Andre pun mencapai puncak.


Laras terpuruk di sisi tubuh Andre dan selama beberapa menit mereka tidak bergerak. Akhirnya Andre membelai bagian belakang


kepala Laras. Diciumnya pundak wanita itu. Ketika melihat Laras masih saja tidak bergerak, ia bertanya lembut, "Ada yang tidak beres?"


"Di kursi? Jadi apa aku sekarang?"


Sambil tersenyum, Andre mencium telinga Laras. "Perempuan istimewa, perempuan cantik dengan gai rah yang diidamkan laki‐laki." Dipeluknya Laras erat‐erat. "Aku biasa duduk di kursi ini dan mengkhayalkan dirimu. Di sinilah aku membayangkan kau, membayangkan bagaimana bercinta denganmu." Andre mengelus pipi Laras dengan buku‐buku jarinya. "Kha‐yalan yang selalu memenuhi benakku, Laras."


Laras mengangkat kepala. Sinar matanya selembut sinar rembulan yang tenang menghanyutkan. "Begitukah?'


"Ya." Andre menyentuh rambut Laras, bibirnya, dadanya. "Aku masih tidak percaya ini sungguh‐sungguh nyata."


"Aku tidak percaya ini diriku, bertingkah seperti ini. Kau selalu memberi pengaruh buruk padaku."


Binar‐binar cinta di mata Andre berganti dengan sorot mata nakal. "Tidakkah itu membuatmu bahagia?"


"He eh." Mengimbangi gaya Andre, Laras memutar tubuhnya.


Andre mengerang. "Ya ampun, Laras. Kau mau membunuhku? Tidak bisakah kita menunggu sampai di ranjang?"


Setelah itu, bertutupkan selimut tipis, Andre menemukan telinga Laras dalam kegelapan dan berbisik, "Kau tahu, andaiBi Ani juga


punya pacar, kita bisa membentuk kelab."


Laras menarik bulu dada Andre, menyebabkan laki‐laki itu menjerit perlahan. "Maksudku,


Beni dan Diana di satu kamar, dan kita..."


"Aku tahu maksudmu." Laras berhenti tersenyum, dan menguap. "Tak terbayangkan olehku bagaimana perasaan Beni sekarang ini, tetapi aku tidak tahu apa pendapat Diana tentang perkawinan."


Mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui hal itu. Keesokan paginya, pasangan pengantin baru itu sarapan bersama


Kepada mereka, gadis itu mengatakan dengan gembira, "Kurasa semua orang di muka bumi ini harus menikah."


***


Pemintalan mulai dibereskan. Laras bersyukur Andre berada di dekatnya. Ia tidak tahu harus mulai membersihkan dari mana setelah kebakaran itu. Tak lama sesudah pembersihan selesai, Andre menyinggung soal memperbaruinya. Andre mengungkapkan semua rencananya pada Laras, dan Laras menyetujuinya. Rencana itu termasuk mengganti semua mesin tua dan membeli yang baru, mengganti kabel‐kabel, dan membuat pabrik pemintalan kapas menjadi pabrik pemintalan kapas paling modern di negara ini.


"Kita dapat untung besar sekali tahun ini. Bank bersedia memberikan kredit pinjaman jangka panjang untuk biaya renovasi dengan bunga ringan. Kita harus memanfaatkan kemurahan hati mereka."


"Aku setuju."


Mereka bekerja lembur di musim panas yang terik, tetapi keduanya tetap bersemangat. Kerap mereka harus menahan diri untuk tidak saling menyentuh. Banyak mata memerhatikan, dan


mereka tahu hal itu dan tidak ingin memberi kesempatan kepada orang‐orang untuk menggosipkan mereka. Gosip tentang mengapa Andre tidak segera kembali ke liar negeri telah beredar. Itu saja sudah membuat Laras cemas.


"Ndre?" Mereka beristirahat sejenak di ruangan kantor pemintalan.


"Hmmm?" Andre menyentuhkan kaleng minuman dingin ke dahinya.


"Kapan kau akan kembali?" Laras berusaha bicara sewajarnya tetapi tahu ia tidak berhasil ketika Andre menurunkan kaleng minuman dan menatapnya tajam.


Andre menyeruput minumannya. "Ingin menjauhkan diri dariku?" Andre menggoda.


Sorot mata Laras memancarkan binar‐binar cinta. "Tentu saja tidak," sahut Laras tenang. "Aku hanya ingin tahu mengapa kau melakukan semua ini di pemintalan ini. Aku kan mendapat gaji, tetapi tak ada alasan bagimu untuk menghabiskan waktu dan tenagamu di sini."


Andre meletakkan kaleng minumannya di meja, di tumpukan majajah bisnis lama. Sambil berdiri, pria itu menggeliat dan berjalan


ke jendela, tempat ia biasa memerhatikan para pekerja menurunkan bahan bangunan dari truk. "Pabrik ini punya arti besar bagiku, terlepas dari suka atau tidak suka Indra padaku. Aku tidak


mendapat keuntungan finansial darinya, gara‐gara surat wasiatnya, tetapi pemintalan ini tetap sangat menarik minatku. Pemintalan ini


milik keluarga ibuku sebelum Indra mengambil alih dan menjadikannya miliknya. Karena ini bagian dari warisan keluargaku dan membawa namaku, aku harus peduli padanya. Andai alasan‐alasan itu tidak cukup kuat, anggap saja aku melindungi warisan adik perempuanku."


"Aku cinta padamu." Andre berbalik menghadap ke arah Laras seketika.


Ungkapannya tak terduga dan tampaknya tak ada kaitan dengan bahan pembicaraan sebelumnya. "Mengapa? Maksudku, apa yang


membuatmu mengatakan itu sekarang?"

__ADS_1


"Karena, andai situasi ini menimpa laki‐laki lain, ia pasti sudah meninggalkan tempat ini sejak lama, karena perasaan pedih dan marah mengalami situasi di sini."


"Itulah yang diinginkan Indra. Tetapi sekarang, aku tidak mau terperangkap siasatnya."


"Itulah alasan satu‐satunya kau masih di sini, untuk menantang Indra?"


Andre tersenyum dan mendekati Laras. Andre menarik tangan Laras, mendorongnya ke sudut, di antara dinding dan lemari arsip. Ruangan sempit itu cukup untuk membuat mereka terhindar dari pandangan orang yang tiba‐tiba masuk ke ruangan. "Kau tak ada sangkut pautnya dengan keberadaanku di sini," kata Andee, dan mulai menciumi Laras.


Andre terasa asin. Ia mandi keringat. Ia benar‐benar laki‐laki sejati. Laars menyukai sifat kejantannya. Feminitasnya bereaksi terhadap dominasi Andre. Sambil merapat, Laras menekankan tubuhnya ke tubuh pria itu. Andre mendaratkan ciuman di leher Laras, seperti ingin menggigit dan menggelitiknya.


"Kau tak boleh bebas seperti ini," gumam Laras. "Aku atasanmu."


"Bukan atasanku. Secara hukum, aku tidak bekerja untuk perusahaan ini, ingat?"


Laras mengerang pelan ketika jari‐jari Andre menyentuhnya dari balik blus. "Tetapi aku tetap punya hak mengontrol hal tertentu," kata Laras dengan napas tersengal.


"Tidak diriku, kau tidak berhak." Tangan Laras menyelinap ke balik menyentuh Andre dan menekan bagian keras di situ. "Baiklah. Berarti, aku bohong," kata Andre dengan suara parau. "Kau punya hak penuh untuk mengontrol segalanya."


"Aku merasa tempat ini selalu bising," kata Laras sambil memandang ke sekeliling bangunan yang berdinding seng itu.


"Memang begitu. Namun ini tempat barbecue paling enak di kota ini. Mereka punya resep rahasia keluarga yang sudah turun-temurun.. "Kau mau apa, iga atau daging iris?"


"Nanti aku boleh menjilati jariku?"


"Tentu."


"Kalau begitu, aku minta iga saja."


Mereka tersenyum ketika pelayan berlalu setelah menerima pesanan mereka. Mereka harus bicara dengan berteriak karena suara musik yang terdengar dari jukebox di sudut ruangan terlalu nyaring. Beberapa orang melantai di lantai dansa yang penuh debu,


berdansa two‐step atau hanya melangkah mengikuti irama lagu sambil berpelukan rapat, tergantung perasaan romantise yang


melanda mereka.


Asap tebal memenuhi ruangan. Di dindingnya yang dibuat dari panel‐panel murahan dipasang lampu neon warna merah muda dan biru, menerangi berbagai merek minuman. Poster seorang model yang tengah tersenyum lebar, berambut palsu dan berdada montok, menghiasi dinding. Di belakang bar, jam dinding bergetar di bawah air terjun yang mengalir. Hiasan yang digerakkan listrik itu membuat Laras pusing bila memandanginya terlalu lama.


Laras dan Andre menikmati kebersamaan mereka. Mereka punya kebiasaan mencari tempat‐tempat baru untuk dilewatkan bersama selama beberapa jam setiap malam, demi memberi waktu berduaan buat Beni dan Diana di rumah. Benu mengatakan kepada mereka secara sembunyi‐sembunyi ia sudah mengutarakan pada Diaba niatnya berbulan madu, tetapi ia merasa Diana pasti takut kalau bepergian terlalu jauh. Ia.hanya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang indah‐indah saja. Karena itu ia tidak


ingin menyinggung soal bulan madu tersebut.


"Kau sering datang ke sini?" tanya Laras, sambil meletakkan tangan di meja dan agak mencondongkan tubuh ke arah Andre.


"Sering. Ketika aku SMA, waktu belum cukup umur untuk membeli minuman, aku dan teman‐temanku beramai‐ramai datang ke


tempat ini dengan mobil. Mereka tidak takut menjual minuman kepada kami. Kata ayahku...." Mendadak Andre menghentikan kata‐katanya,


Laras ahu itu karena Andre menyebut Indra dengan akrab. "Lanjutkan," desak Laras lembut. "Apa yang Indra katakan padamu?"


"Ia memberitahu aku pada masa larangan menjual minuman keras, ini tempat berkumpul penyelundup minuman keras. Di tempat ini bisa didapat dengan mudah dibanding tempat lain di negara bagian ini." Andre merenung sambil mempermainkan tempat garam seperti orang linglung.


Laras menggenggam tangan Andre, membuat pria itu mengarahkan pandangan kepadanya. "Kalian berdua selalu bertengkar? Apa tidak ada saat manis sedikit pun yang bisa kau ingat, untuk melupakan yang tidak enak?"


Andre tersenyum getir. "Ada beberapa, ya. Seperti ketika aku ingin mengisap cerutu. Usiaku waktu itu dua belas tahun. Ia


memperbolehkan aku mengisapnya. Aku seperti anj ing sakit dan ia gembira melihatnya. Ia selalu mengejek aku soal itu selama


beberapa tahun, tetapi aku tidak keberatan. Kemudian waktu aku tertangkap karena mencoret‐coret bus sekolah sainganku. Indra


membelaku mati‐matian di hadapan pengurus sekolah, malah mengingatkan mereka bahwa anak laki‐laki harus nakal, kalau tidak mereka tidak normal."


Dahi Andre berkerut. "Ada polanya, Laras, yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Bila aku terlibat dalam tindakan kenakalan, Indra selalu membelaku. Ia menyukaiku bila aku


membuat onar. Bila aku melakukan sesuatu yang baik, ia tidak mentolerir tindakanku. Ia ingin aku seperti dirinya, suka membuar


keributan, huru‐hara, selalu melanggar aturan. Aku tidak dididiknya menjadi anak baik, tetapi aku tidak pernah memperdaya siapa pun atau menyakiti seseorang." Andre melihat Laras menatapnya dalam‐dalam. "Aku ingin kau tahu soal ini. Aku menyesali ia dan aku tidak saling menyayangi."


"Aku tahu kau ingin bisa menyayanginya, Ndre."


"Andai nanti aku punya anak laki‐laki atau perempuan, aku ingin menyayangi mereka apa adanya. Aku takkan pernah mencoba mengubah kepribadian mereka. Aku bersumpah untuk itu."


***


hai semua...makasih atas dukungannya, dan makasih juga udh nunggu update-an, daripada double up, nih othor kasih yg eps. panjang aja biar puas bacanya, males revisinya klw g lolos review klw double up tuh. Kemarin bete bingit gara-gara 4 kali harus revisi.


ok daripada panjang x lebar, selamat menikmati up-nya, jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, & vote klw mampir.


Makasih.

__ADS_1


__ADS_2