
Andre membiarkan Laras bicara panjang‐lebar sebelum membuka pintu mobil dan menutupnya kembali keras‐keras. Saat itulah Laras baru menyadari Bi Ani dan Diana sudah berdiri menunggu di pintu masuk rumah sakit dan memandangi mereka.
Laras merasakan jari‐jemarinya dingin ketika ia mengepalkannya, tetapi ia mencoba tetap bersikap tenang ketika Andre membukakan
pintu mobil dan membantunya keluar. Ia berusaha menunjukkan sikap tenang saat mereka bersama‐sama memasuki lobi rumah sakit lalu menaiki lift.
Perawat yang bertugas di lantai kamar Indra memberitahu mereka boleh masuk sekaligus asal tidak terlalu lama. "Ia tidak bisa tidur.
Kesakitan," kata perawat itu kepada mereka dengan sedih.
"Mungkin sebaiknya aku masuk lebih dulu dan memberitahu Andre kalian datang menjenguknya," kata Laras. Tak ada yang
keberatan. Andre bersikap dingin dan menjauhkan diri.
Bi Ani, tidak seperti biasanya, berdiam diri. Diana membelalak dan tampak ingin kabur.
Laras mendorong pintu kamar rumah sakit yang berat dan melangkah memasuki kamar. Rumah sakit memberikan kamar yang paling besar dan paling mahal. Karangan bunga berderet‐deret di sepanjang jendela dan di meja tv.
Laras tidak suka mengakuinya, tapi Indra memang tidak disukai orang‐orang yang
pernah berurusan dengannya. Tetapi banyak yang menghormati atau takut padanya, terbukti dari tumpukan kartu ucapan cepat sembuh dan deretan karangan bunga yang dikirim untuknya.
Indra tidak tampak menakutkan sekarang ketika ia membuka mata dan melihat kedatangan Laras. Kulitnya abu‐abu kekuningan, pucat seperti mayat. Lingkaran hitam tampak di
seputar matanya. Bibirnya biru. Tetapi matanya tetap tajam dan berbinar‐binar sebagaimana biasanya.
"Selamat pagi." Laras membungkukkan badan ke arah Indra, menggenggam tangan Indra
__ADS_1
dan mencium keningnya. "Kata perawat kau tidak tenang sepanjang malam. Sama sekali tidak bisa istirahat?"
"Tak usah mengatur‐ngatur aku, Laras." Indra menarik tangannya. "Aku akan segera pergi ke alam keabadian untuk beristirahat." Indra tertawa dengan susah payah. "Atau untuk
dibakar, aku yakin demikian. Kau sudah menyelesaikan semua pembayaran gaji?"
"Ya," jawab Laras, sambil melangkah mundur dan menerima penolakan Indra atas perhatian yang diberikannya dengan penuh pengertian.
Indra sakit parah. Bisa dipahami kalau ada sikapnya yang tidak menyenangkan. "Pagi ini. Aku akan mengantarkan ceknya ke pabrik sore nanti."
"Bagus. Aku tidak ingin mereka mengira aku sudah mati." Indra meletakkan salah satu tangannya di perut dan meringis kesakitan,
sambil menyumpah‐nyumpah.
Ketika rasa sakit Indra mereda, Laras berkata lembut, "Kau bersedia menerima tamu lain?"
"Siapa?"
"Bi Ani! Perempuan munafik. Ia sangat membenciku sejak pertama kali mengenalku. Ia mengira aku menikahi Saraj karena uangnya dan ingin memiliki rumah itu. Ia menyalahkan aku sebagai orang yang menyebabkan Andre kabur dari rumah. Ia menimpakan kesalahan padaku atas setiap kejadian yang tidak beres dalam keluarga ini."
Laras pura‐pura menentang Indra. "Mengapa kau tidak memecatnya beberapa tahun yang lalu?"
Indra tertawa keras‐keras dan baru berhenti ketika rasa sakit kembali menyerangnya. "Karena aku suka bertengkar dengannya. Ia
mempertajam otakku. Sekarang iamenjengukku untuk mengejekku yang terkapar di ranjang ini. Ha!"
Laras pernah menyaksikan sikap Indea yang seperti ini, tetapi ia tidak pernah memedulikan
__ADS_1
nya dan membiarkannya sampai semua berlalu. Laras menyesali Indra yang memilih bersikap seperti itu selama hari‐hari terakhir
mereka bersama.
"Sudahlah, Indra. Tak usah marah‐marah,
Bi Ani memetik bunga mawar dari taman untuk‐mu."
Indra mendengus menyetujui bertemu Bi Ani, pengurus rumah tangganya. "Diana tidak perlu datang ke sini. Tempat ini pasti sangat menakutkan anak bodoh itu. Apakah ia tahu aku tidak akan pulang ke rumah lagi?"
Laras membuang pandang, menghindari tatapan mata Indra yang tajam menembus. "Ya. Aku memberitahu dia kemarin."
"Apa katanya?"
"Ia bilang kau akan pergi ke surga dan bersama‐sama Sarah."
Indra tertawa sampai sakit kembali menyerangnya. "Hmmm, hanya orang tolol yang berpikir demikian." Kata‐kata yang diucapkan Indra sungguh menyinggung perasaan Laras, tetapi ia berusaha tetap tenang. Hampir tak
pernah ia mendebat Indra tentang apa pun, bahkan termasuk cara Indra menyelesaikan masalah. "Boleh ku ajak mereka masuk?"
"Ya, ya," jawab Indra, sambil melambaikan tangan dengan gerakan lemah. "Lebih baik kita. segera menyelesaikannya."
"Ada seorang lagi, Indra." Suara Laras yang tenang membuat mata Indra kembali
menatapnya nanar. Indra memandang Laras dengan tatapan mata tajam,, menyelidik, membuat Laras merasa tidak enak.
"Andre? Andre yang datang?"
__ADS_1
Laras mengangguk. "Begitu Danu meneleponnya."
"Bagus, bagus aku ingin bertemu putraku, untuk menyampaikan beberapa hal padanya sebelum ajalku tiba."