DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 23


__ADS_3

Ia juga cantik, dan selalu berpakaian indah." Ekspresi Laras melembut. "Ia meninggal karena apa, Ndre?"


Andre mengamati tepi rok Laras, jarinya menelusuri sulaman pada pinggir rok itu. "Patah hati," jawab Andre pelan.


Laras melihat kepedihan di wajah Andre, membuat perasaan Laras tersentuh. Ingin ia merebahkan kepala Andre di dadanya,


menghiburnya, mengelus rambutnya. "Bagaimana bisa orang yang tinggal di rumah seperti rumahmu patah hati?"


Andre tidak menanggapi pertanyaan Laras, ia malah balik bertanya. "Kau suka rumahku?" Mata Laras berbinar. "Itu rumah paling indah di dunia," jawab Laras kagum dan Andre tertawa.


Muka Laras memerah. "Yah, paling tidak, itu rumah paling indah yang pernah kulihat."


Andre kelihatan terkejut. "Kau pernah masuk?"


"Oh, tidak, tidak pernah. Tetapi aku sering melewati rumah itu. Aku suka berdiri memandanginya. Aku bersedia melakukan apa pun untuk bisa tinggal di rumah seperti itu." Mata Laras menerawang jauh. "Kau mungkin berpikir aku tidak waras."


Andre menggeleng. "Aku juga suka rumah itu. Aku juga tidak pernah bosan memandanginya. Suatu hari nanti kuundang kau ke rumah."


Mereka berdua tahu Andre tidak akan melakukannya, dan selama beberapa saat kemudian mereka tidak sanggup berpandangan.


Akhirnya Laras berkata, "Adik perempuanmu cantik sekali. Aku pernah melihatnya dengan ibumu beberapa kali."


"Namanya Diana."


"Aku tak pernah melihatnya di sekolah. Apakah ia pergi ke sekolah khusus?"


Andre mematahkan sebatang rumput dan menggigiti batangnya. Giginya rata dan putih sekali. "Ia bersekolah di Sekolah Luar Biasa. Ia tidak sepenuhnya terbelakang, tetapi perkembangan otaknya lambat. Ia tidak bisa belajar secepat anak yang lain."


Pipi Laras terasa panas. "Aku... aku minta maaf... aku tidak bermaksud...."


"Hai," ujar Andre sambil menarik tangan Laras. "Tidak apa‐apa. Diana gadis yang menakjubkan. Aku sangat mencintainya."


"Beruntung sekali ia punya kakak laki‐laki seperti dirimu." Kembali Andre menopang kepalanya dengan tangan dan melemparkan pandangan nakal pada Laras. Sinar matahari


menimpa lentik bulu matanya yang hitam. "Begitukah?"


"Ya." Keduanya hanya saling pandang ketika tak ada kata‐kata lagi yang perlu diucapkan. Mata Andre tertuju pada tangan Laras yang diletakkan di pahanya. Diambilnya, dibalik dan diamatinya garis‐garis tangan pada telapak tangan itu. Telunjuk Andre menelusuri tangan Laras mulai dari telapak sampai ke lekukan tangan yang paling sensitif. Sentuhan tangan Andre membuat sekujur tubuh Laras menggelenyar. Dadanya bergemuruh tak menentu. Ia heran merasakan dadanya tiba‐tiba menegang.


"Aku harus pergi," katanya dengan napas memburu.


"Aku tidak ingin kau pergi," sahut Andre dengan suara parau. Tatapannya perlahan bertemu pandangan Laras "Aku berharap kita berdua bisa seharian di sini, seperti ini, mengobrol."

__ADS_1


"Aku yakin kau punya banyak teman untuk mengobrol. Mereka bisa ngobrol denganmu, kan?"


"Mereka sangat suka bicara," jawab Andre. "Tak ada yang suka mendengarkan, hanya mendengarkan, seperti yang kaulakukan,


Laras." Sambil memandang Laras dengan bola matanya yang keemasan, perlahan Andre berdiri. Tangannya menepis rambut Laras ke belakang leher yang jenjang. Ditariknya Laras


merapat ke tubuhnya. Laras tidak menolak sedikit pun sampai akhirnya bibir Andre menyentuh bibirnya. Keduanya terhanyut, saling mendesah nikmat.


Bibir Andre sama lembutnya dengan malam kemarin, tetapi karena Laras memberi respons, Andre jadi langsung bergai rah. Ci umannya makin lama makin panas.


Laras terhanyut dalam arus hasrat menggebu Andre. Jiwanya menggelora tidak menentu, terperangkap dalam gai rah, keharuman tubuh, sentuhan tubuh Andre pada tubuhnya. Menit


berikutnya, Laras sudah berbaring di bawah Andre yang tel***ng, sementara Andre membungkuk di atas tubuh Laras. Li dahhnya


menjelajahi mulut Laras dengan penuh gairah sementara jari‐jari Laras mencengkeram rambut Andre.


Andre mengangkat kepalanya, terengah‐engah, lalu kembali menghujani Laras dengan ci uman hangat. "Laras, jangan pasrah, katakan jangan. Jangan biarkan aku melakukannya." Andre


menarik kerah blus Laras ke bahunya, lalu menyelipkan tangannya ke balik blus itu. Ku lit Laras terasa hangat dan halus tersentuh telapak tangannya. Ia mempermainkan tali penutup da danya Laras.


Ujung jarinya mengelus da da Laras, dan ia mendesah. "Kau masih di bawah umur. Masih anak‐anak. Tuhan, tolong. Kau belum cukup


umur untuk tahu lebih jauh, tetapi aku boleh. Kita bermain api, Sayang. Hentikan aku. Tolonglah." Kembali Andre menciu mi Laras


Keresahan merayapi perasaan Caroline. Kakinya bergerak‐gerak meronta. Dadanya berdebar‐debar, ia ingin menutupinya dengan


tangannya. Dengan tangan Andre, Laras melingkarkan tangannya di leher Andre.


Namun Andre menarik tub uhnya, menarik napas, memejamkan mata rapat‐rapat. "Tidak boleh diteruskan, Laras. Kalau tidak kita hentikan, segalanya akan tak terkendali. Kau mengerti apa yang kumaksud?"


Seperti orang bingung, Laras mengangguk, berharap Andre kembali memeluknya, menciuminya lagi, menyentuh tubuhnya di


bagian yang dirasa‐kannya membengkak dan hangat.


Andre membantu Laras berdiri. Laras bergelayut di badan Andre dan pria itu mendekapnya erat‐erat, membelai punggungnya, membisikkan kata‐kata manis di balik rambutnya. Tanpa malu‐malu, lengan Laras memeluk pinggang Andre. Ketika laki‐laki


tersebut menjauhkan tubuh Laras darinya, senyumnya tampak getir. "Aku takkan pernah memaafkan diriku bila kau dipecat dari


pekerjaanmu," bisik Andre.


"Oh, ya ampun!" ujar Laras, sambil memukul‐mukulkan telapak tangan ke pipinya yang memerah. "Jam berapa sekarang?"

__ADS_1


"Kau masih punya waktu bila pergi sekarang."


"Sampai jumpa," kata Laras sambil memasukkan blusnya kembali ke rok dan menggelengkan kepala untuk merapikan


rambutnya.


Andre menggenggam tangannya. "Aku tidak bisa menjemputmu nanti malam."


"Aku juga tidak berharap begitu, Ndre," jawab Laras polos.


"Aku ingin, tetapi ada yang harus kulakukan nanti malam."


"Tidak apa‐apa. Sungguh." Laras mulai melangkah. "Terima kasih untuk makan siangnya." Sambil berbalik, ia menghilang di


balik pepohonan. Andre mengejarnya.


"Laras!" Andre memanggilnya dengan nada penuh wibawa, membuat Laras menghentikan larinya dan berbalik. "Ya?"


"Aku tunggu kau besok. Di sini. Oke?"


Ekspresi Laras yang berseri bersaing dengan kecerahan sinar matahari ketika ia tersenyum pada Andre.


"Ya," jawabnya sambil tertawa. "Ya... ya... ya...."


Andre menemui Laras keesokan harinya, sehari setelah itu dan hari‐hari selanjutnya, hampir setiap hari dalam beberapa minggu


berturut‐turut. Bila sempat, Andre menjemput Laras dari tempat kerja dan mengantarnya sampai ke dekat rumah.


flasback off


***


Laras memiringkan tubuh dan memandang bulan yang memancarkan sinarnya di antara dahan pepohonan di luar jendela.


Betapa membahagiakannya hari‐hari itu. Ia hidup dalam kegembiraan, hari‐hari penuh ciuman, sekaligus kesedihan karena ia


menginginkan sesuatu yang lebih daripada ciuman. Andre mengutarakan niatnya menempuh masa depan bersama Laras.


Laras juga menceritakan semua rahasia pribadinya. Mereka sama‐sama mengungkapkan rahasia yang tak pernah diketahui orang lain.


Setiap jam yang mereka curi untuk dilewati bersama sangat membahagiakan, sebagian dikarenakan sinar matahari musim panas yang hangat. Karena suatu hari ketika mereka bertemu, turun hujan. Itulah hari yang paling indah daripada hari‐hari yang mereka lewati bersama.

__ADS_1


Laras tersedu‐sedan, dibiarkannya air mata membasahi pipinya. Ia berdoa memohon ampun tetapi tak yakin doanya dikabulkan. Karena ia ingin menangis untuk Indra, suaminya, tetapi air mata yang menitik turun malah untuk Andre, kekasihnya.


Laras bangun lebih lambat daripada yang diinginkannya. Ia memakai mantel dan turun ke dapur untuk mengambil secangkir kopi sebelum mulai bekerja di perpustakaan. Bi Ani bersenandung sambil mencuci piring. Ia tidak suka memakai mesin pencuci piring."


__ADS_2