
"Ya, ampun, betapa cantiknya dirimu." Suara gumam Andre tak terdengar lagi ketika ia melihat dada Laras. Seakan tidak percaya pada penglihatannya bahwa ada dada yang sesempurna itu, cepat‐cepat ia meloloskan mantel itu dari tubuh Laras dan membiarkan matanya memandangi tubuh Laras yang kini tanpa sehelai benang pun dengan kagum.
Sorot matanya memancarkan gai rah yang meluap‐luap, dan seperti hendak menelannya bulat‐bulat. Kemudian ujung jarinya, perlahan, sangat perlahan, Laras hampir tidak merasakan sentuhannya, mengarah ke tempat yang sama dengan arah matanya. Menatap dada Laras yang penuh, perut dan ping gulnya yang mulus.
"Oh, Tuhan. Kau cantik sekali. Begitu cantik dan menawan." Laras merasakan ketulusan didalam kata‐kata yang menggetarkan tubuhnya saat pria itu menundukkan wajah ke dekat dadanya.
Dengan penuh kekaguman Andre menggenggam salah satunya dan memijatnya. Laras mengangkat tangan dan meletakkannya di rambut Aandre. Ia mencondongkan tubuh ke dekat Andre, agak terhuyung‐huyung.
Andre menci um Laras. Dengan ibu jarinya, ia menelusuri puncak dadanya. Andre memandanginya, tersenyum, kemudian
mencondongkan badan dan menciuminya berrulang‐ulang kali.
"Ndre." ujar Larae, lirih memanggil namanya. Pria itu tidak memedulikannya. Andre terus beraksi makin panas. Laras menjerit, tersentak
kaget, dan melengkungkan punggungnya sehingga Andre makin leluasa bergerak.
Andre merasakan pipinya panas ketika makin
merapatkan tubuhnya ke tubuh Laras. Andre menciumi dada Laras yang satu lagi, membuat Laras mengerang, mendesah, dan menjambak rambutnya.
"Sayangku." Andre membenamkan wajahnya di antara dada Laras, sudah lama ia ingin sekali melakukannya. Sambil merentangkan tangan di punggung Laras, ia menarik tubuh wanita itu serapat mungkin ke tubuhnya. Didekapnya erat‐erat beberapa saat, kemudian di tegakkannya tubuhnya. Dengan sorot mata penuh cinta ia menatap wajah wanita tersebut. Ia mengangkat salah satu tangan Laras, mendekatkannya ke bibir, menci umnya, dan berkata, "Sentuh aku, kumohon..."
Andrs menuntun tangan Laras ke bagian tubuhnya yang seakan memiliki nyawa sendiri itu. Ketika Andre menarik tangannya sendiri, tangan Laras tinggal di bagian tubuhnya tersebut. Dengan napas tercekat karena takut menyakiti, Laras menggenggamnya.
"Oh, Tuhan." Sambil membisikkan nama Laras dan kata‐kata cinta, Andre menggenggam tangan kekasihnya itu dan menuntunnya
melakukan hal yang memberikan kenikmatan padanya sampai ia tak kuasa lagi menahan perasaan itu lebih lama. Napasnya yang
memburu menerpa telinga Laras ketika ia mengerang, "Laras, Sayang... cukup, hentikan."
Sambil memegang kedua pipi Laras, Andre menci umi wanita itu dengan penuh gairah, lidahnya bermain‐main di dalam mulut Laras. Tanpa menghentikan ciumannya, Andre merebahkan Laras di ranjang, lalu menin dihnya. Laras siap menyambutnya, dan Andre menyusupkan ping gulnya di antara kakinya Laras yang membuka. Perut Andre bergesekan dengan perut wanita itu, dadanya bergesekan dengan dada Laras.
Andrenmendaratkan hujan ciuman pada teng gorokan dan leher Laras dengan penuh gairah. "Kalau harus menunggu lebih lama...."
"Jangan tunggu lagi," sahut Laras, sambil melengkungkan tubuh ke arah Andre.
Karena butuh waktu dua belas tahun untuk mengalami hal seperti ini, Andre tidak mau terburu‐buru mewujudkan keinginannya.
Tangannya meluncur di atas dada wanita itu. Puncaknya menunggu belaian lembut jari‐jarinya. Andre menyingkirkan jari‐jarinya dan menggantinya dengan mulut, menci umi dada Laras sampai wa‐nita itu nyaris lupa diri.
Andre menurunkan tubuhnya. Tangannya membelai perut Laras, terus ke bawah, terkagum‐kagum merasakan kehalusan
kulitnya. Kemudian jari‐jarinya tiba di delta yang putih lembut itu dan menikmatinya. Di letakkannya telapak tangannya di situ dan
dibiarkannya jari‐jarinya bergerak di inti tubuh Laras. Andee menjauh, memberi jarak agar ia bisa mendekati bagian tubuh sensitif Laras.
Mereka saling menatap, mengamati perasaan mendalam yang terpancar di wajah masing‐masing setiap kali bagian intim Andre menyentuh bagian paling inti Laras itu. Tak
kenal malu dan harga diri lagi, Laras mengelus dada Andre dan mencengkeram bulu‐bulu di dada itu.
"Andre, lakukan sekarang...." Dengan sekujur tubuh tegang, Andds mengarahkan dirinya
memasuki pelabuhan hangat di tubuh Laras dan menurunkan tubuhnya sendiri. Ia menekan, terus menekan, sampai akhirnya....
Tubuh Andre kaku dan matanya, mendadak terang, menatap tajam Laras. Napas memburu membuat dadanya bergerak naik turun dengan cepat ketika ia menumpukan badannya pada siku.
"Laras." Laras melihat bibir Andre menyebut namanya. Ia menyebutkannya dengan suara yang hampir tak terdengar saking terpesonanya. "Kau masih perawan__"
"Ya, ya!" pekik Laras gembira. Ia memegangi leher Andre, mencegah pria itu mengangkat tubuhnya. "Aku selalu milikmu, Ndre. Hanya kau. Aku milikmu."
Andre terdiam sejenak, tapi kemudian sambil menggeram senang, kembali ia memeluk Laras dan menindihnya di ranjang. Gerakan tubuhnya kali ini lembut tetapi mantap. Pemanasan panjang tadi membuat Laras siap menerimanya. Ketika tubuhnya menyerah
__ADS_1
pada laki‐laki itu, Laras merasakan kesakitan sesaat. Jeritannya dibungkam bibir Andre.
Keduanya mendesah serentak karena emosi
luar biasa ketika akhirnya Andre menyatu seutuhnya dengannya. Mereka melebur. Tubuh Laras mendekapnya. Lama keduanya tak bergerak. Mereka menikmati perasaan menyatu, keintiman dua anak manusia, meleburnya mereka karena cinta, hasrat, dan penderitaan."Aku tak percaya. Betapa nikmatnya. Oh, Laras, jangan sampai ini hanya sekadar mimpi."
"Ini bukan mimpi, Ndre," bisik Laras. "Aku bisa merasakan tubuhmu menyatu dengan tubuhku."
Sambil mengangkat kepala, Andre tersenyum. Dikecupnya bibir Laras "Betulkah?" bisik Andre, dan memastikan Laras bisa merasakannya.
Laras menengadah sambil menggeram pelan. "Ya, ya."
Andre mulai bergerak. Karena ia memikirkan Laras, gerakannya tak terlalu dalam dan pelan, tetapi kenikmatannya tidak kurang, menarik Laras ke dunia yang menghanyutkan. "Apakah aku menyakitimu?"
"Tidak, Sayang, tidak."
"Laras... Laras..." Andre tak lagi mampu
menahan gairahnya yang terus meninggi. Ketika mencapai puncaknya, Andre merasakan kenikmatan paling dahsyat yang pernah dirasakannya selama hidupnya. Kenikmatan itu terus membuncah bagai takkan berakhir. Dan ketika akhirnya kenikmatan itu berlalu, Andre terkulai di pelukan cinta Laras dalam keadaan lelah, puas, dan bahagia.
***
"Lama sekali Andre dan Laras turun," keluh Diana. Ia khawatir sarapan yang disiapkannya bersama Bi Ani menjadi dingindan tak bisa dinikmati Beni lagi.
"Kalian sarapan saja dulu," saran Bi Ani.
"Aku tak keberatan menunggu mereka," jawab
Benj.
"Jangan, kau sudah kelaparan. Aku tahu kau sudah lapar." Diana menuangkan sesendok nasi dan lauknya ke piring Beni. "Berapa potong ayam yang kau mau?"
Bi Ani meletakkan teko kopi di meja. "Aku akan naik, menyuruh mereka segera turun. Aku yakin mereka tertidur. Tetapi mereka perlu makan setelah begadang semalaman." Bi Ani naik sambil mengoceh, tetapi Beni dan Diana tidak memedulikannya.
Mereka asyik sendiri. Dari anak tangga paling atas, Bi Ani melirik pintu kamar Andre dengan perasaan ingin tahu. Pintu itu terbuka, tetapi ketika ia melongokkan kepala ke dalam, ia tidak melihat Andre di sana. Begitu pun di kamar mandi, tidak ada. Paling tidak, ia tidak menjawab ketika Bi Anu memanggilnya perlahan.
"Hmmm!" Bi Ani mendengus, sambil memukulkan tangan ke
paha. "Di mana kau berada...?' Bi Ani melirik kamar tidur Laras. Pintunya tertutup rapat.
Bi Anu menyipitkan mata. "Tadi aku menyuruh Andrw naik membawa kopi untuk Laras. Sekarang, baki itu tidak ada, ia pun lenyap. Pintu kamar Laras tertutup, aku yakin mereka berduaan."
Bi Ani berbalik ke arah tangga lagi. "Hmmm, jelas aku tak mau tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana, tetapi aku tidak
mendengar mereka ngobrol." Ketika sampai di anak tangga paling bawah, Bi Ani mendongakkan kepala menatap ke atas,
mengangguk gembira. "Memang lebih pantas ia dengan Andre daripada menikah dengan ayahnya, si bandot tua itu," gumam Bi Ani sambil melangkah balik ke dapur.
"Mereka akan turun?" tanya Diana.
"Tidak. Sebentar lagi barangkali." Bi Ani berbalik, hendak mencuci piring.
"Mengapa tidak sekarang?"
"Mereka lagi tidur, itulah sebabnya."
"Tetapi mereka kan harus mengisi perut dulu. Kau yang bilang begitu. Biar aku yang membangunkan mereka dan menyuruh
mereka...."
"Kau duduk saja," perintah Bi Ani, membalikkan tubuh dari bak cucian dan membersihkan air sabun dari jarinya. "Mereka sangat letih. Sudahlah, kau urus saja urusanmu sendiri, urus pria kelaparan yang duduk bersamamu itu."
__ADS_1
Tersinggung mendengar suara Bi Ani yang tegas, Diana perlahan kembali ke tempat duduknya. Beni menangkap sorot mata Bi Ani tapi tidak memahaminya. Sekilas Beni melempar pandang ke langit‐langit. Bi Ani memerhatikan Beni ketika perlahan‐lahan pria itu memahami situasi yang terjadi.
Mata Beni berbinar jail. "Dina, bagaimana kalau sesudah sarapan kau ikut aku ke kandang kuda? Sudah beberapa hari kau tidak menengok anak kudanya."
Diana memandang Beni, kegembiraannya kembali. "Tetapi kurasa kau butuh tidur pagi lni."
"Tidak," jawab Beni santai. "Aku tidak letih. Bila Bi Ani mengizinkan, aku ingin kau bersamaku sepagian ini, membantuku."
"Oh, Ben," ujar Diana, sambil mengepalkan tangan. "Aku mau."
Bi Ani bertukar pandang dengan Beni, dan Beni mengedipkan mata.
"Mengapa kau tidak berterus terang padaku?" tanya Andre sambil menarik rambut Laras dan mengusapkannya di bibir. Andre berbaring telentang. Laras menelungkup, bersandar di tubuh Andre.
Laras menarik beberapa helai rambut di dada Andre dan mempermainkannya dengan jari‐jarinya. "Karena aku ingin tahu seberapa dalam cintamu padaku. Bila aku memberitahumu ayahmu dan aku tak pernah berhubungan intim, kau akan percaya?"
"Bisa saja. Aku bisa tahu cukup cepat."
Laras menggeleng. "Aku tidak ingin hubungan intim pertama kita hanya sekadar ujian."
Mata Andre menatap wajah Laras dengan penuh kasih sayang. "Aku paham maksudmu. Tetapi bagaimana bila aku memercayaimu
dengan seluruh jiwa ragaku?"
"Kalau begitu tak ada yang merintangimu mendatangiku, Ndre."
Laras menyentuh dada Andre dan melihatnya bereaksi. "Tetapi aku tidak akan pernah tahu seberapa dalam cintamu padaku. Karena
kau yang datang padaku, meskipun yakin aku sudah ternoda tetap kau tetap mencintaiku, aku tahu kau bersedia mengorbankan keangkuhanmu demi cintamu."
Sambil menarik tubuh Laras, Andre menciu minya. Ketika akhirnya menghentikan ciu mannya, ia berkata, "Aku bukannya mau mempermasalahkan hal ini sekarang, tetapi mengapa kau tidak pernah tidur dengan ayahku? Jangan bilang ia begitu baik sehingga
membiarkanmu tetap perawan."
"Tidak, aku tidak ingin meyakinkanmu soal itu. Kurasa, ia ingin melakukannya pada malam pengantin kami." Laras memejamkan mata dan tubuhnya gemetar. "Ia masuk ke kamar ini. Waktu itu aku tidak tahu bagaimana menjalaninya, karena aku masih mencintaimu."
Laras meletakkan tangan Andre ke pipinya, seperti orang linglung ia menggosok‐gosokkan punggung jari‐jari Andre ke pipinya. "Tetapi aku telah membuat kesepakatan dan berniat
menjalaninya."
Laras terdiam. Andre menatap langit‐langit, tidak ingin sedikit pun membayangkan Laras berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama dengan bandit tua itu. "Apa yang
terjadi kemudian, Laras?"
"Ia menciumku beberapa kali. Hanya itu. Kemudian ia meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun. Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Baru beberapa hari kemudian aku tahu, waktu itu ia sedang sakit. Aku melihat hal‐hal yang tak mungkin dapat kulihat sehari hari bila tidak tinggal bersamanya. Ia menelan sejumlah obat sakit perut, obat‐obat seperti itulah. Aku sadar ketika ia tidak datang ke kamarku lagi, ia rupanya tak mampu dan itu akibat penyakit di perutnya. Tentu saja aku tahu
pasti fakta itu sekarang. Kami tidak pernah membicarakannya. Egonya pasti hancur bila ia mencoba dan ternyata gagal. Kami hidup secara platonis."
Setelah diam sejenak, Andre bertanya, "Terpikirkah kau untuk menceritakan semua itu padaku?"
"Maksudmu, supaya kita tidak membencinya? Entahlah, Ndre. Aku sendiri menanyakannya pada diriku setiap hari. Mengapa aku tidak mengatakannya padamu dan mengakhirinya?"
Laras menelusuri hidung Andre dengan jari. "Aku juga punya harga diri. Aku ingin kau mencintaiku lebih daripada apa pun."
"Cinta sekali. Aku sangat menginginkanmu. Tetapi setiap kali aku membayangkan dirimu dan laki‐laki itu, aku...."
"Ssst," ujar Laras, menghentikan kata‐kata Andrw dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu. "Aku tahu. Aku tahu siksaan yang harus kau tanggung."
"Kau tahu apa yang ia katakan padaku setelah kau meninggalkan kamar rumah sakit di hari ia meninggal?" Laras menggeleng. "Aku mengatakan padamu ia meninggalkan warisan. Inilah warisannya. Indra bilang aku takkan pernah bisa memilikimu karena harga diriku takkan membiarkan aku melakukan hal itu."
Mata Andre penuh cinta menatap Laras, dan bibimya bergerak, menyunggingkan senyum. "Ia keliru, bukan? la tidak mengira cintaku sedemikian besar padamu." Andre mengelus wajah Laras. "Kemudian ia mengatakan aku harus selalu ingat kau sudah jadi istrinya, bahwa dialah yang memilikimu pertama kali."
__ADS_1