DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 31


__ADS_3

Beni memperbaikinya untuk Bi Ani. Aku baru mau masuk rumah."


Cara bicara Diana menarik perhatian Laras. "Bagaimana keadaan Beni? Aku tidak melihatnya beberapa hari ini."


Diana mengangkat bahu. "Ia baik‐baik saja, kurasa. Sikapnya aneh kadang‐kadang."


"Aneh?"


"Ya. Sepertinya ia tidak ingin menjadi temanku lagi."


"Aku tidak yakin."


"Benar. Sejak aku menci***nya."


Laras menghentikan langkahnyq. "Kau menci***nya?" Laras melihat ke sekelilingnya dengan cemas, berharap tak ada orang yang mendengar pernyataan itu dan lega Andre tak ada di sekitar situ.


"Ya." Diana menatap Laras dengan pandangan polos dan tenang ketika melihat wajah Laras yang tampak kesal. "Aku mencintainya."


"Kau mengatakan itu padanya?"


"Ya. Tidak baikkah?"


"Tidak baik, ya." Laaras tahu ia harus memilih kata‐kata yang haarus diucapkannya dengan hati‐hati. Ini cinta pertama Diana, barangkali ini cinta monyet. Bagaimana cara menjelaskan


dengan hati‐hati tetapi tidak membuatnya takut?


"Mungkin kau terlalu terburu‐buru. Barangkali kau membuat Beni terkejut. Jangan‐jangan Beni yang ingin menci***mu terlebih dahulu."


"Kurasa ia tidak akan melakukan hal itu dan aku sudah tidak sabar."


Laras tersenyum. "Beri waktu untuknya, kurasa nanti ia akan melakukannya."Menurutmu, Andre akan melakukannya?"


"Melakukan apa?"


"Menci***mu. Ia ingin menci***mu."

__ADS_1


Beberapa detik dalam enam puluh detik yang sama, Laras terkejut. "Diana, kau tidak boleh berkata begitu. Andre tidak akan melakukan hal itu."


"Lalu mengapa ia selalu memandangimu?"


Bibir Laras terasa kering. "Oh ya?"


"Setiap kali, di saat kau tidak melihatnya. Dan kata‐katanya begitu tajam padamu waktu di pemintalan kapas."


"Bukan kepadaku. Kepada setiap orang, para pekerja, para penanam kapas, dan juga kepada ayahmu."


"Tetapi kau yang memintanya. Aku rasa, ia awalnya tidak mau, bukan?"


Laras mengingat‐ingat apa yang terjadi malam itu, setelah Andre memperbaiki mesin pintal. Sepanjang sore, Laras memikirkan cara untuk membangun kembali hubungannya dengan


Andre dan mengira telah berhasil melakukannya. Namun sekembalinya ke rumah, sesudah mandi dan duduk untuk makan malam bersama, Andre malah menunjukkan sikap makin bermusuhan dengannya.


Laras tidak tahan menerima kenyataan iru. Kendati kemajuan yang dicapainya sedikit, Laras tidak mau menyerah. Selama makan malam dan sesudahnya, waktu mereka duduk di ruang tamu bersama Bi Ani dan Diana, Laras berusaha bersikap ramah pada Andre, sehingga Andre tak lagi memandang Laras dengan wajah bermusuhan.


Akhirnya ia berhasil mengumpulkan keberanian meminta tolong Andre memeriksa beberapa mesin lainnya, yang dirasanya perlu diperiksa. Dengan sikap enggan, Adre mengiakan permintaan Laras. Selama tiga hari penuh Andre bekerja keras di pabrik, sebagaimana pekerja yang di gaji.


"Aku bersyukur, Andre ada di sini memberi bantuan sementara ayahmu sakit. Ia bekerja keras sekali."


Laras memang merasa cape. Sangat cape. Ia masih harus bersikap sangat hati‐hati terhadap Adre, berharap komunikasi yang berhasil dijalin di antara tnereka tidak mengarah ke hubungan yang


intim.


Dan Indra. Caci makinya makin pedas setiap kali Laras menjenguknya, yang paling sedikit sekali sehari, dua kali bila ia merasa mampu menghadapinya. Ia tidak memberitahu Indra


perihal pekerjaan yang dilakukan Andre di pemintalan karena tahu Indra pasti tidak akan setuju. Tak satu pun hal yang dilakukannya


kini menyenangkan hati Indra.


Semua dikritiknya, mulai dari cara berpakaian sampai cara menerima nasihat yang diberikan dokter, seakan perintah yang tidak boleh dilanggar.


"Aku memang merasa cape." kata Laras pada Diana. "Soal Beni," katanya, mencoba mangalihkan lagi pembicarann, "mungkin

__ADS_1


perasaannya lagi tidak enak saja. Jangan terlalu memaksanya. Biasanya pria tidak suka diperlakukan begitu. Kurasa, kalau kalian


nanti mau berci***an lagi, biarkan ia yang berinisiatif, jangan kau."


"Kurasa begitu," gumam Diana, sambil menunduk.


Laras memahami alasan Beni yang tiba‐tiba dingin. Jelas ia jatuh cinta pada Diana tetapi tidak ingin perasaan cintanya membuat Diana melakukan sesuatu yang bisa membangkitkan


kemarahan Andre. Ia menaruh simpati pada keduanya. "Ayo kita makan," ajak Laras lembut, sambil menggamit tangan perempuan yang lebih muda tersebut.


"Andre ke mana?"


"Entahlah. Ia bilang akan makan bersama ..."Perkataan Laras terputus suara klakson mojil, dan ketika ia dan Diana berbalik, mereka melihat Andre menghentikan mobil


pickupnyq di belakang mobil sedan. Andre melompat keluar dari mobil itu.


Wajahnya yang berseri‐seri mengingatkan Laras pada pemuda tampan yang pernah dikenalnya di pinggir hutan, yang hampir


mendorongnya menyongsong dan merentangkan tangan untuk menyambutnya tanpa memedulikan sekelilingnya.


"Itu mobilmu, Ndre?" tanya Diana sambil berjingkrak dan bertepuk tangan kegirangan. "Aku suka warnanya."


"Biru Laut," jawab Andre, sambil mengangguk pada Laras.


"Aku perlu kendaraan pribadi selama di sini. Kurasa, yang kubutuhkan kendaraan jenis pickup seperti ini. Bagaimana cara membawa mobil ini dan pesawat terbangnya kembali, itu


yang belum aku tahu."


Semua tertawa. Perasaan Laras luluh ketika memandang Andre, melihat rambutnya yang tertiup angin dan sorot matanya yang berseri‐seri.


"Aku lapar sekali. Makan malamnya sudah siap?" Andre melingkarkan satu tangan ke bahu Laras dan tangan lainnya ke pundak Diana. "Mari kutemani ke ruang makan, Nona‐Nona."


Sebelum mereka mencapai teras rumah, Bi Anj muncul di ambang pintu dan berseru, "Laras, Andre! Syukurlah kalian sudah di sini. Dokter rumah sakit menelepon. Kondisi ayahmu


memburuk. Dokter bilang sebaiknya kalian segera ke rumah sakit."

__ADS_1


Hanya satu lampu kecil redup yang menerangi ranjang kamar Indra di rumah sakit. Semacam lampu sorot. Sinar lampu diarahkan ke bawah, sehingga cahayanya tepat mengenai wajah pria yang tengah menderita kesakitan itu. Perawat sedang membungkukkan badan di dekat Indra ketika Andre dan Laras memasuki kamar.


Dengan tangan yang ditusuk selang, Indra mengibaskan tangan, menyuruh perawat itu keluar dari kamarnya.


__ADS_2