
"Ia cantik sekali."
"Kau juga cantik."
Tangan Diana yang mengelus leher anak kuda itu terhenti, matanya yang hitam teduh menatap Beni, yang bicara dengan suara sangat lembut.
"Apa kau sungguh‐sungguh menganggapku
cantik?"
Ekspresi yang diperlihatkan Diana membuat Beni meng***k dirinya sendiri. Gadis itu terlalu rapuh, menelan bulat‐bulat segalanya. Seharusnya ia tidak mengungkapkan apa yang melintas dalam pikirannya. Perasaan Diana sangat halus, dan dapat hancur berkeping‐keping dengan mudah.
Beni bangkit dari hamparan jerami yang menutupi lantai kandang kuda dengan bertumpu pada satu kakinya yang utuh. "Kau
sangat cantik," ulang Beni menegaskan, lalu memalingkan wajah dari Diana dan meninggalkan kandang kuda.
Mereka harus lebih sering menjaga jarak. Diana tidak mengerti betapa berada di dekatnya, wangi tubuhnya, kehangatan kulitnya yang lembut, sangat besar pengaruhnya pada diri Beni.
Andai gadis itu tahu respons yang dibangkitkannya dalam tubuhnya, tentu ia akan merasa takut dekat dengannya. Beni menurunkan pelana kuda dari gantungannya di dinding.
Andre mengatakan padanya kemarin sore ia ingin berkuda pagi‐pagi sekali, dan Beni ingin menyiapkan keperluan berkuda‐nya sebaik
mungkin. Ia paham apa sebabnya Andre menunjukkan sikap tidak suka padanya secara terang‐terangan. Andre bukan orang buta.
Bukan pula orang yang berperasaan tumpul. Andre menangkap kerinduan hatinya pada Diana. Beni sadar, perasaan hatinya pada Diana sangat jelas terlihat, seterang papan iklan dengan lampu‐lampu neon di sekelilingnya.
Beni tidak menyalahkan Andre yang menaruh curiga pada dirinya.
Diana adik kandungnya, adik yang sangat istimewa, yang membutuhkan perhatian khusus seumur hidup. Andai Beni punya saudara perempuan seperti Diana dalam hidupnya, ia pun akan melindunginya sebaik‐baiknya seperti Andre.
Akan tetapi ia tetap tidak bisa berhenti mencintai Diana. Ia tidak mencari cinta. Ia tidak mengira dirinya bisa mencintai seseorang. Namun ternyata sekarang ia mencintai
seseorang dan sangat merindukannya saat gadis itu tidak berada di sisinya. Saat ini Diana berdiri dekat sekali dengannya ketika ia mengoleskan sabun pelana di pelana kudanya.
Setiap kali tangannya menggosok pelana dengan kain lap, ujung sikunya hampir menyentuh dadanya Diana.
__ADS_1
Beni berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya, bergulat mengusir bayangan bagaimana rasa dada itu di telapak tangannya yang kasar atau betapa halus kulit lehernya bila
disentuh bibirnya.
Diana, yang kelihatan agak kecewa karena Beni tidak bicara lebih lanjut perihal kecantikannya, mengelus‐elus anak kuda sebagai ungkapan pamit lalu mengikuti Beni.
"Kakimu sakit?"
Tanpa mengangkat muka, Beni menjawab, "Tidak. Kenapa?"
"Karena kulihat dahimu mengerenyit, seperti yang sering kaulakukan bila kakimu sakit."
"Aku hanya berkonsentrasi pada pekerjaanku, itu saja."
Diana mendekati Beni. "Kalau begitu aku bantu kau, Beni. Biar kubantu."
Beni menjauhkan diri dari Diana, pura‐pura hendak mengambil kain lap yang lain. Darahnya bergejolak. Diana begitu manis, sangat manis, tetapi perasaan yang ditumbuhkan gadis itu dalam hatinya jauh dari manis. Berada di dekat Diana membuat Beni seperti orang liar yang dibelenggu tapi berada di dekat perawan yang akan dikorbankan. "Tidak. Kau tidak perlu
membantuku. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat."
sesuatu."
Beni mengangkat kepala seketika dan melemparkan kain lap.
"Bukan begitu, tentu saja aku yakin kau mampu." Beni melihat kekecewaan di wajah Diana, penderitaan di matanya yang kelam dan bagai tak berdasar.
Gadis itu menggeleng, rambutnya halus tergerai menyentuh bahunya.
"Semua orang menganggap aku bo doh dan tidak berguna."
"Diana," ujar Beni dengan suara lirih, lalu meletakkan tangan di bahu Diana. "Tidak pernah aku menganggapmu begitu."
"Lalu, mengapa kau tidak memperbolehkan aku membantumu?"
"Karena ini pekerjaan yang kotor, aku tidak ingin kau terkena kotoran."
__ADS_1
Seperti anak kecil yang minta penegasan, Diana melirik Beni. "Hanya itu alasannya? Sungguh?"
"Sungguh." Seharusnya Benu menarik tangannya dari bahu Diana, tetapi ia membiarkan tangannya tetap di pundak gadis itu. Diana agak menengadah sehingga cahaya lampu kandang yang kekuningan menimpa wajahnya. Wajah Diana jadi kelihatan seperti wajah malaikat, hanya saja matanya lebih
berbinar‐binar.
Andai tidak mengenal Diana dengan baik,
barangkali Beni akan mengira binar‐binar mata gadis itu mengisyaratkan keinginan bermesraan.
"Aku tahu aku bukan perempuan cerdas. Tetapi aku terampil dalam beberapa hal."
"Tentu saja, kau punya kelebihan." Oh, Tuhan! Bibir gadis itu begitu lembut, agak basah, dan tampak kemerah‐merahan ketika
mengeluarkan kata‐kata tersebut. Betapa ingin Beni mengecupnya. Ingin mendekapnya erat‐erat, merapatkan tubuhnya lekat‐lekat, merasakan kelembutan tubuh yang indah itu mendekap tubuhnya yang tinggi besar, penuh parut, dan tidak berbentuk.
Bersentuhan dengan tubuh Diana bak mengoleskan obat penyembuh bagi tubuhnya yang cedera, bagi jiwanya yang terluka.
"Banyak hal yang kuamati. Umpamanya, Andre yang kutahu merasa tidak bahagia. Ia memang tertawa dan berusaha kelihatan bahagia, tetapi sorot matanya memancarkan kesedihan. Ia dan
Laras tidak pernah rukun. Apakah kau merasakan itu?"
"Ya."
"Aku tidak mengerti apa sebabnya mereka begitu." Diana mengernyitkan dahi, berpikir. "Atau barangkali mereka sebenarnya saling menyukai, tetapi berusaha menyembunyikan perasaan itu, supaya orang‐orang tidak menganggap mereka saling menyukai."
Beni tersenyum mendengar dugaan Diana. Itu pula kesimpulan yang diambilnya setelah makan siang bersama mereka hari itu. Keduanya siap bertengkar atau bermesraan.
Beni merasa sikap mereka cenderung pada pilihan yang kedua. Beni mengelus dagu Diana. "Mungkin dugaanmu benar."
Diana tersenyum lalu merapatkan tubuhnya ke Beni. "Menurutmu, aku ini cerdas? Dan cantik?"
Mata Beni yang hitam mengamati wajah Diana. "Kau cantik."
"Kau juga tampan." Dengan jari‐jarinya yang mulus, semulus porselen, Diana mengelus pipi Beni yang kasar, kemudian jari telunjuknya menelusuri pipi Beni sampai ke ujung dagu.
__ADS_1
Beni merasakan sentuhan tangan Diana tidak sekadar pada wajahnya saja. Sentuhan itu seperti arus listrik, mengalir sampaikeperutnya. Beni menarik napas dalam‐dalam, dan agak menjauhkan diri, menurunkan tangannya dari bahu Diana. "Jangan," cegah Beni tanpa bermaksud menyinggung perasaan Diana.