DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 45


__ADS_3

"Ada apa ribut‐ribut di sini?" tanya Bi Ani dari ambang pintu sambil mengikat tali mantelnya di pinggang. "Kedengarannya seperti orang yang lagi main nonton bola dan...."


"Pemintalan terbakar."


"Oh, Tuhan!"


Laras meninggalkan kamar Andre sambil lari. Andre hampir siap berpakaian, Laras hendak pergi ke pabrik bersamanya. Ia memakai baju yang diambilnya, kemeja tua dan celana selutut dari bahan denim. Kakinya hanya mengenakan sepatu sandal." Bukan pakaian yang cocok untuk melihat tempat yang kebakaran, tetapi ia


sudah mendengar langkah kaki Andre menuruni anak tangga. Cepat‐cepat ia lari mengejarnya.


"Andre, tunggu!"


"Kau di sini saja," teriak Andre sambil lari ke pintu depan.


"Tidak bisa." Larae sudah berada di belakang Andre.


"Ada apa?" Diana yang keliharan seperti boneka berpipi kemerahan, memakai baju tidur, dan membelalak, menuruni anak tangga.


"Pemintalan terbakar, Andre dan Laraw akan pergi ke sana," Bi Ani memberi penjelasan.


'Pemintalan kapas terbakar?" ulang Diana.


Sumpah serapah yang keluar dari mulut Andre membuat telinga siapa pun yang mendengar merah, ketika ia berusaha menghidupkan mesin mobilnya. Bi Ani dan Diana berdiri di


teras, tangan mereka bergandengan, sementara Laras meminta Nadre membukakan pintu mobil.


"Kau tak usah ke sana!" teriak Andre.


"Kalau kau tak membukakan pintu ini, aku akan naik mobilku, sehingga kau takkan tahu aku nanti berada di mana." Kata‐kata kotor keluar dari mulut Andre, tetapi pintu mobil dibukanya juga, lalu Laras naik.


Beni mendengar suara ribut‐ribut itu. Ia berjalan memasuki halaman dengan langkahnya yang terpincang‐pincang. Ia hanya mengenakan T‐shirt. "Ada apa?"


"Kebakaran di pemintalan," jawab Laras.


"Aku akan membantu."

__ADS_1


"Jangan, Beni!" cegah Diana.


"Beni, kau tinggal di rumah bersama Diana dan Bi Ani," kata Laras lewat jendela mobil.


"Benar. Kau di sini saja," ujar Andre pendek. Mobil mulai bergerak, tetapi Beni masih memegangi pintu mobil dan Andre tidak bisa


mempercepat lajunya.


Sambil menatap mata Andre dengan sorot tulus, ia berkata," Kau butuh pertolonganku lebih dari pada mereka. Aku ikut."


"Beni!" teriak Diana, langsung lari mendekati Beni, menyelipkan tangannya di pinggang Beni. "Jangan pergi. Aku mengkhawatirkanmu.


"Hei," jawab Beni, membuat Diana mengangkat kepalanya, "aku berharap kau bisa menenangkan Bi Ani dan menyiapkan


sarapan pagi untuk kami waktu kami kembali. Oke?"


Mata Diana berbinar‐binar memandang Beni. "Baiklah, Ben. Hati‐hati."


"Pasti." Beni cepat‐cepat mencium bibir Diana dengan lembut, lalu mendorongnya sebelum masuk ke mobil, duduk di sebelah Laras.


mobil pemadam kebakaran pun sudah ada di sana ketika Andre tiba.


Tanpa memedulikan apa pun, Laras lari ke ruang kerjanya untuk memeriksa buku‐buku besar yang tersimpan di sana. Andre segera mengejarnya dan menyambar pinggangnya, menariknya ke luar. Laras meronta‐ronta. Setelah agak tenang, Andre memegang


bahu Laras dan mengguncang‐guncangnya.


"Jangan pernah lakukan hal bo doh seperti itu lagi. Kau membuat aku ketakutan setengah mati." Melihat air muka Andre yang menakutkan, Laras tidak berani membantah sepatah kata pun. Banyak hal yang harus dilakukan.


Andre mengawasi para pekerja yang memindahkan bal‐bal kapas yang siap dikirim. Beni, meskipun kakinya pincang, bekerja lebih keras daripada siapa pun. Laras menghalau orang‐orang menjauh. Ia harus merasa yakin tak seorang pun ada di dalam bangunan itu. Dalam waktu dua jam, api bisa dipadamkan.


Laras dan Andre dipanggil kepala pemadam kebakaran dan poliei. "Tempat ini dibakar, Ndre," kata kepala pemadam kebakaran. "Mereka membakarnya secara sengaja, tetapi kabel‐


kabel pemintalan yang sudah tua ikut mempercepat kebakaran."


Andre menjambak rambut. "Ya, aku tahu kondisinya sangat menyedihkan. Parahkah kerusakannya?'

__ADS_1


"Tak seberapa bila kami tidak segera sampai di sini."


"Untung kapas‐kapas itu banyak yang sudah dikemas dan dikirim ke gudang." Setelah tidak sibuk kerja lagi, Laras baru menyadari


keletihan yang menggayuti tubuhnya.


"Anda tahu siapa kira‐kira yang membakar pabrik, Nyonya?" tanya Polisi kepada Laras.


"Saya tahu." Aldo, mandor pabrik yang menjawab. "Salah seorang pembakar pabrik menelepon saya. Saya rasa ia sadar telah melakukan kejahatan dan merasa ketakutan pada menit terakhir. Ia tidak memberitahukan namanya, tetapi saya yakin ia salah seorang


karyawan yang kau pecat beberapa minggu lalu, Ndre."


Atas permintaan Polisi, Andrs menyebutkan nama para karyawan yang ia pecat. Petugas itu menggaruk‐garuk telinga. "Memalukan sekali. Apa yang mereka kerjakan ketika bekerja pada Anda?"


"Mereka tidak bekerja padaku. Mereka bekerja pada ayahku," jawab Andrs. Andre melirik Laras yang keletihan. "Aku rasa cukup untuk saat ini, aku ingin mengantar Laras pulang."


"Silakan. Kami akan menghubungi Anda bila ada yang perlu kami bicarakan."


Beni memilih duduk di bak truk mobil Andrs sewaktu pulang. Ia tidur telentang dan tidak bergerak sampai Andre menghentikan mobil


di pintu belakang rumah. Bi Ani dan Diana tergopoh‐gopoh menemui mereka.


Andre lari ke pintu mobil satu lagi,membukakan pintu bagi Laras. Laras terpeleset dari mobil dan jatuh ke pelukan Andre.


Beni bangun dari tidurnya tepat ketika Diana mendekatinya, langsung memeluknya, tanpa memedulikan jelaga dan debu hitam


yang melekat di tubuh Beni. "Kau tidak apa‐apa, Ben?"


"Tentu, aku baik‐baik saja."


"Hmmm, tidak kelihatan kau tidak apa‐apa," sela Bi Ani. "Ya, ampun, lihat tampang kalian bertiga. Belum pernah aku melihat muka seperti kalian. Sebaiknya kalian bertiga cepat mandi. Aku


sudah menyediakan sarapan untuk kalian."


Mereka masuk rumah. Diana melepaskan pelukannya pada Beni dengan enggan, Beni melangkah menuju tempat tinggalnya.

__ADS_1


__ADS_2