DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 37


__ADS_3

Bahu Andre terkulai. Untuk kesekian kali ia menyibakkan rambut. "Aku tahu. Aku akan meninggalkan tempat ini besok pagi."


Hati Laras hancur berkeping‐keping. Ia tidak bermaksud menyuruh Andre pergi, ia hanya ingin mereka berdua berdamai. "Kau tidak harus meninggalkan tempat ini. Aku yang akan pergi. Ini rumahmu. Ini hanya tempat tinggal sementara bagiku. Aku tahu, setelah Indra meninggal, aku tidak berhak tinggal di sini lagi."


"Bila kau pergi dan aku tinggal, apa kata orang nanti? Mereka akan bilang aku mengusir janda ayahku. Tidak. Aku akan kembali ke luar negeri besok."


"Tetapi pembacaan surat wasiat dan pabrik pemintalan kapas...." Laras mencoba memberi alasan yang masuk akal agar Andre tetap


tinggal di situ. Memang tak ada masa depan untuk mereka berdua, tetapi ia tidak kuasa melihat Andre meninggalkannya untuk kesekian kalinya. Jangan pergi dulu. Nanti saja, jangan sekarang.


"Aku akan datang ke sini lagi pada hari pembacaan surat wasiat. Setelah itu baru kita atur bagaimana yang terbaik. Menurutku lebih


baik kau di sini besama Diana. Soal pemin‐talan kapas...." Andre tersenyum sinis. "Jalankan saja seperti saat kau menjalankannya semasa Indra masih hidup."


Mata Laras yang muram membingungkan Andre Ia maju beberapa langkah agar berada dekat Laras. Ia merangkul Laras, mendekatkannya. Kepala Laras terkulai ke belakang ketika Andre menunduk ke dekat mukanya.


"Jangan pandang aku seperti itu. Kaukira aku ingin meninggalkan tempat ini? Rumahku? Tempat tinggalku? Diana dan Bi Ani?"


Suara Andre tiba‐tiba merendah. "Kau?"


Ia menarik tubuh Laras lebih rapat dan mendesah ketika tubuh wanita itu bersentuhan


dengan tubuhnya. "Si alan kau. Si alan kau, Laras." Bibirnya ditempelkannya di bibir Laras dengan penuh gairah, tetapi sekali ini Laras memang sudah menunggu. Ia membuka


mulut dan membiarkan bibir Andre menciumnya. Lidah Andre meluncur masuk ke mulut Laras yang manis tapi hangat.


Diciuminya Laras berlama‐lama. Pertama ia memiringkan kepala ke satu sisi, kemudian pindah ke sisi lain, seperti ingin menikmati seluruh bibir Laras secara utuh. Tangannya memegangi muka Laras, sementara bibirnya menciumi bibir wanita tersebut.


Mendadak Andre menghentikan ciumannya. Karena berhenti secara mendadak membuat Laras gamang. Suara Andre parau, suara orang yang terluka karena harus menahan kerinduan yang dalam pada Laras.

__ADS_1


"Breng sek kau, mengapa kau harus menjadi miliknya untuk pertama kali?" Degup detak jantung kemudian, Laras sendirian.


***


"Diana?" Benu berlutut di antara jerami dan memegang bahu Diaba. "Apa yang kaulakukan di sini?"


"Hmmm?" Diaba terbangun dari tidur, berguling ke pinggir, lalu telentang lagi. "Beni?" gumam Diaba. "Sudah pagi kah?" tanya gadis itu lembut sambil menggeliat malas, melengkungkan


punggung dan memajukan dadanya ke arah Beni.


"Hampir pagi," jawab Benu sambil memalingkan mata dari dada Diana. "Apa yang kaulakukan disini?”


Diana duduk sambil menepiskan jerami yang ada di rambutnya. Sinar matahari pagi yang lembut menyelinap masuk ke kandang kuda, menerpa bahunya yang telanjang. Udaranya terasa masih agak dingin seperti udara malam, tetapi tumpukan jerami tempat Diana berbaring hangat dan baunya tajam menyengat hidung.


Kuda‐kuda di dalam kandang meringkik, berteriak minta makan pagi. Titik‐titik debu halus melayang‐layang beterbangan di udara


yang bermandikan sinar matahari pagi. Mata Diana yang masih mengantuk tertuju pada Beni. Ia tersenyum dan mengelus pipi Beni, yang kemerahan dan segar setelah bercukur.


dengar mereka saling berteriak dari kamarku. Bi Ani sudah tidur, karena itu aku tidak ke kamarnya. Membuatku merasa ingin pergi keluar dari rumah. Mengapa Laras dan Andre selalu bertengkar? Aku tidak mengerti, Ben."


Diana menyandarkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di dada Beni tangannya memeluk pinggang Beni.


"Akhirnya, aku datang ke sini. Pintu kamarmu dikunci dan lampunya mati. Aku tahu kau sudah tidur pulas. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku berbaring saja di sini, di kandang kuda yang kosong, dan tertidur pulas. Perasaanku lebih tenang bila berada di dekatmu."


Diaa makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Beni. Perasaan Beni galau. Ia mengumpat Andre dan ancamannya setelah melihat kejadian di halaman rumah itu. Apakah Andre mengira ia tega menyakiti Diana? Tidak bisakah kakak laki‐laki Diana yang keras kepala itu melihat bahwa ia mencintai perempuan ini?


Yang baginya bak mata air kemurnian dan kebaikan di dunia ini, dunia yang selama ini dirasakannya hanya penuh dengan kebencian, pembunuhan, darah, dan permusuhan? Semalam ia baru saja berjanji takkan membiarkan dirinya berduaan saja dengan Diana, takkan pernah menyentuh gadis itu.


Karena kalau ua sampai tertangkap basah melakukan hal itu, berarti ia harus meninggalkan tempat ini untuk selamanya. Itulah yang takkan kuasa dilakukannya.

__ADS_1


Saat ini, ia tahu tak mungkin ia mampu mengindahkan peringatan Andre padanya. Keberadaannya yang demikian dekat dengan tubuh Diana yang lembut menghalau semua


ancaman itu dari benaknya. Tanpa merencanakan atau memikirkan konsekuensi tindakannya, tangan Beni mendekap Diana erat‐


erat.


"Aku yakin, itu karena mereka berduka kehilangan ayahmu. Mereka akan segera menyelesaikan perbedaan di antara mereka.


Wajar buat seseorang yang biasanya mengurus rumah tangga mengalami stres ketika seseorang yang biasanya tinggal bersamanya pergi."


"Aku sangat menyayangi mereka berdua. Aku ingin mereka bisa bersahabat."


Beni membenamkan pipinya di rambut Diana. Tangannya yang besar lagi kasar mengelus punggung gadis itu. Ketika itu Diana mengenakan baju tidur dari bahan katun lembut, dengan hiasan renda di bagian dada.


Baju tidur model tangan setali yang diikatkan di bahunya. Mantel tipis yang tadinya dikenakan Diana menutupi baju tidurnya dilepaskannya ketika duduk. Kulit Diana terasa hangat dan lembut.


"Kalau segalanya sudah beres, mereka bisa bersahabat. Mereka tidak akan bertengkar lagi. Aku yakin."


Diana mengangkat kepalanya dari dada Beni, menengadah, menatap Beni dengan sorot matanya yang kecokelatan memancarkan


keyakinan dan penuh cinta. "Kau begitu baik, Ben. Mengapa tidak semua orang sebaik dirimu?"


"Aku tidak baik," jawab Beni, terkejut, sambil menelusuri pipi Diana dengan jari telunjuknya. "Aku bukan orang baik‐baik, sampai aku berjumpa denganmu. Kebaikan apa pun yang kumiliki, berasal dari dirimu."


"Aku cinta padamu, Ben."


Beni memejamkan mata, menekan perasaan marah. Didekapnya tubuh Diana makin erat, ditekannya kepala Diana dalam‐dalam ke lehernya "Jangan bilang begitu, Diana."


"Aku ingin mengatakannya padamu. Karena aku memang sangat mencintaimu. Kurasa, bila kau mencintai seseorang, kau harus mengungkapkannya, bukan?"

__ADS_1


"Kurasa begitu, ya," jawab Beni. Tanggul pertahanan emosi yang dibangunnya mulai retak. Tekanan yang datang demikian besar. Ia harus menemukan jalan keluar untuk menyalurkannya dan berharap ia berhasil. Oh Tuhan, tolonglah.


__ADS_2