
Matahari bersinar cerah saat ia meninggalkan rumah. Hari itu, bahkan lebih dari hari‐hari sebelumnya, ia sangat ingin berjumpa dengan Laras. Ia dan ayahnya bertengkar pagi itu. Indra
mengubah peraturan untuk pembelian kapas.
Apa yang dilakukanIndra bukan sesuatu yang melanggar hukum ataupun etika. Ketika Andre menyinggung masalah itu, Indra marah sekali. Berani‐beraninya anak yang masih ingusan, putranya yang tak punya pengalaman bekerja, memberi nasihat bagaimana ia harus menjalankan bisnis dan mengatur hidupnya? Ia belum membuat Gunawan Ink. pabrik pemintalan kapasnya, mencapai sukses.
Adre muak melihat apa yang terjadi, tetapi ia tidak punya kekuataan untuk menentangnya. Ia merasa harus berbicara dengan Laras.
Laras akan mendengarkannya. Larae sudah menunggunya di sana, duduk di bawah pohon
sambil melipat kaki. Wajahnya terangkat ketika melihat Andre bergegas mendekatinya. Tanpa sepatah kata pun Andre berlutut di hadapan Laras, memegang kedua pipinya lalu mencium bibirnya.
Ciumannya sangat menuntut, ia menemukan
mata air manis yang sangat berbeda dari kepahitan yang baru dialaminya bersama ayahnya.
Ciuman Laras selalu melayang jauh
dari kemuraman yang menyelimuti rumahnya yang cantik. Ketika pada akhirnya ia melepaskan bibir laras, ia bergumam,
"Oh, Tuhan, betapa senangnya bisa bertemu denganmu." Kemudian kembali ia mendaratkan bibirnya di bibir Laras. Perlahan‐lahan, tanpa basa‐basi, ia merebahkan Laras ke tanah, di atas rumpunan lembut tanaman pakis dan lumut.
Tanpa melawan, Laras berbaring dan Andre ikut di sampingnya, menyilangkan salah satu pahanya ke tubuh Laras.
Andre mengangkat kepala dan memandangi Laras. Mata. Laras yang keabu‐abuan memancarkan keteduhan di balik bulu matanya. Bibirnya basah dan memesona karena ciuman‐nya.
Rambutnya dibiarkan tergerai di belakang kepalanya seperti untaian benang sutra yang terhampar di padang hijau. Angin yang bertiup
menerpa pipinya dengan lembut.
"Kau cantik sekali," bisik Andre. Ia membungkuk dan mencium kelopak mata Laras.
"Kau juga tampan." Andre menggeleng, menyangkal. "Aku pria egois. Kaupikir aku
ini siapa, datang menemuimu seperti ini, menciumimu, merasa yakin kau bersedia dicium, bahkan tanpa berbasa‐basi lebih dulu?
Mengapa kaubiarkan aku melakukan semua ini padamu?"
__ADS_1
Tangan Laras yang mulus terangkat dan menepis rambut yang jatuh di dekat alis. "Karena kau butuh aku seperti ini hari ini," jawab
Laras.
Andre meletakkan kepalanya di lekukan bahu Laras. Laras meletakkan tangannya pada leher Andre. "Kau benar. Ayah dan aku bertengkar hebat pagi tadi."
"Aku sedih mendengarnya."
"Begitu pun aku, Laras." Suara Andre terdengar parau, nada suara orang yang sangat putus asa. "Mengapa ia dan aku tidak bisa saling menyayangi? Atau saling menyukai?"
"Kau tidak bisa?" Andee diam, mencari jawaban yang pas. Ia paham, betapa pentingnya bersikap begitu. "Tidak. Kami tidak bisa. Sedikit pun. Aku sangat membenci situasi ini, tetapi demikianlah adanya."
"Coba ceritakan keadaannya padaku."
"Ia menikah dengan ibuku untuk mendapatkan nama baik dan uang ibuku. Ia tidak mencintai ibuku dan Ibu tahu hal itu. Ayahku orang yang harus disalahkan atas ketidak bahagiaan ibuku selama hidupnya dan menyebabkan ia mati muda. Maksudku, Ibu meninggal karena sakit hati. Dan ayahku tidak menyukai aku karena
aku tahu perbuatannya dan ia tidak tahan melihat sikapku. Banyak orang yang berhasil dibodohinya, tetapi ia tidak bisa menipu putranya sendiri dan itulah yang menyulut kemarahannya."
Jari‐jari Laras yang menenangkan itu terus mengelus rambut Andre. "Mungkin kau terlalu menghakiminya. Bagaimanapun ia manusia biasa, Andre, bukan dewa. Ia juga bisa berbuat kekeliruan. Apa orang tua harus tanpa cela?"
Laras mengelus leher Andre dan menekan ringan rahangnya sampai Andre mengangkat kepala dan menatapnya. "Kurasa kau itu egois. Maafkan aku mengatakan hal ini. Kau menuntut kesempurnaan dan tidak bisa menerima kegagalan dalam dirimu sendiri. Kau mengharapkan hal yang sama dari orang lain dan itu tidak adil, Ndre.. Tidak adil memaksakan keinginanmu pada orang lain. Kita semua kan hanya manusia biasa."
"Bersabarlah, Ndre. Jangan suka tidak sabar. Bertahun‐tahun sudah ayahmu hidup dengan cara begitu. Tidak mudah menerima perubahan." Mata Laras berkaca‐kaca. "Terapi aku kagum kau berani mempertahankan prinsipmu, kendati sikapmu menyulut kemarahan ayahmu."
Perlahan Andre tersenyum, penuh kelembutan. "Kau sungguh istimewa, kau tahu? Bagaimana kau bisa menganggap semua itu baik? Hmmm' Mengapa setiap kali bersamamu aku tak merasakan kegelapan, tidak kehilangan harapan? Mengapa aku selalu merasa punya jalan keluar ketika bersamamu? Dan aku merasa kau juga bisa menegurku, mengembalikan kepercayaan diriku?"
Laras merasa bahagia mendengar apa yang
dikatakan Andre jelas terpancar. Mata Laras meredup karena perasaan malu. "Betulkah aku melakukan semua hal itu untukmu?"
Mata Andre yang keemasan melembut. Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Laras, dan berbaring diatasnya. Andre menegang. "Banyak hal yang kaulakukan untukku," ujar Andre parau, sambil menggerakkan tubuhnya ke tubuh Laras.
Mata Laras membulat, tubuhnya gemetar. Sambil mengumpat dirinya, Andre menjauh. "Brengsek! Apa yang terjadi atas diriku? Aku tidak boleh melakukan hal seperti itu padamu. Maafkan aku."
Sambil meraih Andre, Laras berkata, "Bukan soal itu." Laras mengangkat tangan dan memperlihatkan kulitnya yang meremang.
"Udaranya lebih dingin. Kurasa mau hujan."
__ADS_1
Kata‐kata itu belum lama meluncur keluar dari bibir Laras, titik hujan sudah jatuh menimpa wajahnya. Andre menutupi tubuh Laras dengan punggung dan menatap awan tebal di langit.
Titik hujan jatuh makin cepat dan deras. Keduanya tertawa gembira seperti anak‐anak ketika merebahkan diri di tanah dan membiarkan air hujan membasahi tubuh mereka. Badai yang mengamuk di musim
panas itu perlahan mereda, hujan yang tadinya lebat kini tinggal titik‐titik air gerimis.
Andre menopang tubuh dengan siku dan memandangi Laras. Wajah Laras tetap cantik biarpun tidak memakai kosmetik. Ia malah kelihatan segar dan memikat sekali. Mata Andre tertuju ke leher Laras, dan turun lagi.
Napasnya memburu. Blus putih yang dikenakan Laras basah kuyub dan membentuk dadanya.
Hari ini Laras tidak memakai penutup dada.
Andre menatap Laras dengan pandangan bertanya‐tanya. Suara Laras rendah dan parau karena perasaan malu. "Aku tidak punya sesuatu yang cantik untuk kupakai. Kupikir... bila aku tidak memakai apa‐apa, jadi kelihatan tidak terlalu jelek... aku... oh...." Laras seperti mau menangis dan melipat tangannya di dada. "Aku tidak bermaksud...."
"Ssst," ujar Andre, perlahan menurunkan tangan Laras ke samping. Beberapa saat lamanya, satu‐satunya suara yang terdengar di sekeliling mereka hanyalah suara titik hujan.
Andre menatap Laras dengan pandangan kagum. Blus yang basah itu memperlihatkan segalanya, dadanya yang lembut, puncaknya yang mengkerut.
"Kurasa, kudengar suara geledek," bisik Laras dengan tubuh gemetar.
Andre mengangkat tangan dan memegang kemejanya yang basah. "Bukan. Itu suara debar jantungku." Andre membungkuk dan menyentuh bibir Laras dengan bibirnya.
Ci umannya begitu lembut dan manis, sangat penuh kelembutan. Perlahan lidahnya menji lat ujung‐ujung bibir Laras, dengan lembut menelusuri garis bibirnya. Telinga Andre menangkap suara mendesah yang keluar dari tenggorokan Laras.
"Oh, Laras," desah Andre.
Ci uman pun berubah. Tidak lagi lembut. Andre memiringkan bibir di atas bibir Laras, berusaha membukanya. Lidahnya dijulurkan masuk ke mulut Laars. Tangannya memeluk pinggang Laras, makin rapat, sesenti demi sesenti, pelan, pelan, sampai akhirnya tangannya diletakkan di pinggang Laras, agak mencengkram, kemudian pelan‐pelan naik, sampai akhirnya mencapai buah dada Laras.
Seumur hidup Andre, tidak pernah ia merasakan memegang dadanya perempuan seperti dada Caroline yang belum tumbuh sepenuhnya tetapi sudah penuh itu, terasa demikian nikmat di tangannya. Digenggamnya bagian yang lembut itu, diremas, dan dipijatnya
dengan gerakan memutar. Ia mengeksplorasi dada itu dengan ekstra lembut agar Laras tidak terkejut, namun dengan piawai membangkitkan sensualitas Laras agar ia ikut merespons.
Laras merapatkan tubuhnya ke tubuh Adre, setiap gerakan tanpa disengaja menimbulkan
rangsangan dan semakin membangkitkan hasrat.
Ketika jari‐jari Andre menyentuh puncak dadanya, Laras melengkungkan punggung dan mendesah lembut. Bagian tubuh yang sensitif itu mencuat. Jari‐jari Andre terus mempermainkannya dengan hati‐hati sampai puncak itu mengeras. Sementara jarinya sibuk dengan dada, lidahnya sibuk menjilati langit‐langit mulut Laras.
__ADS_1
Suara yang keluar dari tenggorokannya tanpa disadarinyal dan napasnya yang panas lagi memburu menerpa wajah dan leher Laras.