DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 12


__ADS_3

"Baiklah," sahutnya, sambil menggerutu. "Tetapi suasana tetap lain kalau tanpa Andre. Tidak ada yang sama lagi di rumah ini sejak Andre menikah dengan perempuan itu dan meninggalkan kota ini."


Bi Ani betul dalam hal itu, batin Laras sambil berjalan ke pintu belakang menuju kamar kerja Indra. Dengan perasaan sakit mengenang peristiwa yang terjadi hari itu, hari Andre tidak muncul di tempat pertemuan mereka. Hari itu, di tempat kerjanya, dengan perasaan hancur Laras mendengar kabar tentang Andre yang


akan menikah dengan Ery Suseni, gadis dari keluarga terkemuka di kota Malay.


Dunia Laras pun berubah. Laras memeriksa pembukuan cepat‐cepat tanpa berpikir.


Waktu ia menelepon ke pabrik pemintalan kapas, mandor jaga pagi melaporkan segalanya berjalan lancar. "Tetapi ada satu mesin yang tidak beres. Namun Anda tak perlu


mencemaskannya pada saat seperti sekarang ini."


"Aku yakin kau mampu mengatasinya, seperti biasa, Aldo. Selama Indra masih hidup, tanggung jawab tetap ada pada Indra, aku akan memberikan laporan kepadanya."


"Baik, Bu" jawab mandor itu sebelum menutup telepon.Laras tahu beberapa karyawan laki‐laki di pabrik tidak suka menerima perintah dari perempuan, terutama perintah darinya, putri


Saepul Anwar. Namun, andai pun perkiraannya itu benar, mereka tidak akan pernah berani mengungkapkan pendapat mereka itu. Mereka sangat takut pada Indra. Tetapi apa yang akan


terjadi bila Indra tiada?


"Ada masalah?" Laras seketika mendongak dan melihat Andre di ambang pintu. Laras sadar alis matanya berkerut karena dilanda perasaan


cemas, tapi ia berusaha menenangkan diri. "Masalah kecil. Kau kan paham keadaan di pabrik pemintalan kapas ini."


"Sebetulnya, aku tidak tahu." Andre menjawab sambil melangkah masuk. Jaket sport disampirkan di pundak, ditahan jari telunjuknya.


Tiga kancing pertama kemejanya dibiarkan

__ADS_1


terbuka, memperlihatkan lehernya yang kecokelatan dan bulu dadanya yang hitam lebat. "Aku meninggalkan kota kelahiranku ini sebelum banyak terlibat dengan urusan di pemintalan." Kini Andre berdiri didekat mejanya. Tubuhnya dicondongkan ke depan, sampai


wajahnya sejajar dengan wajah Laras.


"Bagaimana kalau kau beritahu aku,Bos." Tersulut perasaan marah, Laras langsung


bangkit, menyebabkan kursi berodanya meluncur ke belakang. Mereka berhadapan seperti dua petinju yang siap bertanding di arena, menantikan bunyi bel untuk memulai pertandingan.


"Andrr, Bi Ani memintaku datang ke sini untuk memberitahumu. Ia menyiapkan sarapan untukmu dan ia ingin kau memakannya."


Dengan riang Diana memasuki ruangan dan memeluk Andre, kakak laki‐lakinya. "Selamat pagi, Laras. Aku juga diminta membawakan sarapan untukmu. Bi Ani berpesan kau tidak boleh menolaknya."


Mereka tidak jadi berdebat lagi, tetapi Adre tidak membiarkan Laras lolos begitu saja. Ia menjulurkan tangan ke hadapan Laras.


"Laras." Laras ridak punya pilihan lain, kecuali


genggaman tangannya meski mereka sudah berada di ruang makan. Kalau Andre menggenggam tangan Diana, itu tidak jadi


masalah. Tetapi bila telapak tangan Andre bersentuhan dengan telapak tangannya, jari‐jarinya mencengkeram kuat jemarinya


seakan ia miliknya, bulu kuduk Laras jadi bergidik.


Kendati makanan yang dihidangkan Bi Ani sangat istimewa, Laras tidak dapat menikmatinya. Andre kelihatan tidak terlalu


senang melihat Benu duduk di samping Diana.


Beni berkali‐kali melemparkan pandang resah ke sekeliling ruangan, seperti mengisyaratkan ingin segera diizinkan meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Sikap permusuhan antara Andre dan Laras begitu terasa, meskipun mereka tetap bersikap sopan. Bi Ani tidak habis mengerti, ia malah tersinggung karena ketegangan di antara kedua


orang itu menghancurkan segala upayanya untuk menjadikan saat itu sebagai hari istimewa menyambut kepulangan kembali Andre kerumah.


"Mengapa semua marah‐marah?" tanya Diana tiba‐tiba. Semua mata tertuju padanya, terkejut. Hanya Diana yang kelihatan gembira, menikmati kehadiran orang yang dikasihinya.


Tetapi komentarnya memang benar, dan ia bisa menangkap ketegangan yang terjadi di meja makan.


Laras‐lah akhirnya yang membuka suara, "Kami semua mengkhawatirkan kondisi Indra," katanya lembut, sambil mengulurkan tangan, mengelus tangan Diana.


"Tetapi Andre sudah di sini. Juga Beni." Diana menatap Benu dengan mesra. "Kita harus bergembira."


Diana membuat yang lain merasa malu pada diri mereka sendiri. Andre tidak lagi menatap Benu dengan pandangan curiga atau kelihatan tegang setiap kali mendapati Benu menatap Diana.


Ia dan Laras berhenti saling menatap penuh permusuhan, keduanya bahkan mengobrol tentang orang‐orang yang dikenal Andre


beberapa tahun yang lalu. Laras memberitahu Andre siapa saja yang menikah, siapa yang bercerai, siapa yang makin kaya, dan siapa yang menjadi miskin.


Begitu selesai makan, Beni berdiri, mengucapkan terima kasih pada Bi Ani, kemudian langsung berjalan ke arah dapur. "Tunggu sebentar, Beni" panggil Diana. "Aku ikut, aku ingin menengok anak kuda itu."


"Kita akan pergi ke rumah sakir, Diana" kata Andre singkat.


"Tetapi aku ingin melihat anak kuda itu. Aku sudah janji pada Beni akan menengoknya di kandang pagi ini."


Beni langsung menangkap maksud Andre. "Diana, ayahmu akan kecewa bila kau tidak menjenguknya. Anak kuda itu tidak akan


pergi kemana‐mana," canda Beni. "Kau bisa menjenguknya kapan saja aku mau."

__ADS_1


__ADS_2