DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 2


__ADS_3

"Jangan terlalu mencemaskannya," ujar Danu, yangmerasakan keresahan yang menyergap Laras.


"Karena kau tidakkenal Andre, biar aku yang menelepon dan menyampaikan berita ini


padanya."


Laras tidak ingin mengoreksi pendapat Danu yang mengganggapnya tidak mengenal Andre. Bahwa mereka saling mengenal dengan baik merupakan rahasia selama dua belas tahun.


Ia tidak ingin menyingkap rahasia itu saat ini. Ia malah menumpangkan tangannya di tangan Danu yang diletakkan di jendela pintu mobilnya.


"Terima kasih untuk semuanya."


Wajah Danu bersahaja, panjang dan murung. Pipinya menggelayut seperti tas kulit


kosong yang tergantung di kedua sisi rahangnya.


Waktu Laras mengelus pipinya, wajah Danu merah padam seperti remaja. Ia sudah keriput dan bungkuk, gerakannya lamban, bicaranya lembut dan ramah, tetapi penampilan dan perilakunya itu mengelabui banyak orang. Di balik wajahnya yang biasa itu tersembunyi otak


yang cerdik dan jujur.


"Aku senang bila bisa menolongmu. Apa lagi


yang bisa kubantu?" Laras menggeleng. Ia lega Danu bersedia menelepon Andre.


Mana mungkin ia sanggup melakukan hal itu? "Aku harus memberitahu Diana." Bola matanya yang keabu‐abuan berkaca‐kaca. "Menyampaikan berita seperti ini pada Diana bukan hal mudah."

__ADS_1


"Kau yang paling mampu melakukannya." Danu mengelus tangan Laras lalu melangkah mundur.


"Nanti sore kutelepon lagi. Bila perlu, aku bersedia mengantarmu kembali ke rumah sakit." Laras mengangguk, menyalakan mesin mobil, dan memasukkan gigi. Lalu lintas kota padat ketika ia melaju. Indra, suaminya, dijadwalkan dioperasi pagi dini hari tadi. Siang begini dunia sedang sibuk‐sibuknya. Orang‐orang membereskan urusannya.


sebagaimana biasanya, mereka tidak menyadari dunia Larasati Gunawan untuk kesekian kalinya kembali akan terjungkal.


Pria yang disayanginya, yang semula majikannya, kemudian menjadi suaminya, akan meninggal. Masa depannya, yang selama


ini tampaknya aman, kembali akan mengalamai kekacauan. Kematian Indra Gunawan tidak hanya akan membuatnya kehilangan seseorang


yang begitu berarti dalam hidupnya, tetapi juga kehilangan kehidupan barunya.


Laras mengemudikan mobil melewati perkebunan kapas. Mereka akan panen raya kapas tahun ini. Mandor‐mandor pabrik harus


segera diberitahu perihal keadaan Indra. Ia yang harus memberitahukannya, karena selama beberapa bulan ini, sejak kesehatan Indra tak memungkinkannya menjalankan bisnis, ialah yang melakukan semuanya. Para mandorlah nantinya yang akan meneruskan berita tersebut kepada para karyawan. Dalam waktu singkat, seluruh warga kota akan tahu Indra Gunawan sakit berat.


rumah megah, naik mobil mewah dan mengilap, dan selalu berpakaian bagus.


Hebat! Memangnya siapa dia? Seingat mereka,


Laras hanyalah gadis berpakaian lusuh yang bekerja di pabrik kapas sepulang sekolah. Kini setelah menjadi Nyonya Indra Gunawan, istri orang terkaya di kota.


Sebenarnya, Laras menghindari warga kota karena tidak tahan melihat cara mereka memandang dirinya, pandangan yang


dirasanya penuh prasangka, sorot mata penuh tuduhan bahwa ia memakai kekuatan pelet untuk membuat Indra menikahinya setelah bertahun-tahun menduda.

__ADS_1


Tak lama lagi orang‐orang itu pula yang akan menemuinya untuk menyampaikan penghormatan padanya. Laras memejamkan


mata sesaat, tubuhnya gemetar membayangkannya. Hanya


ingatan akan rumah nyalah yang mampu meringankan kepedihannya.


Sampai saat ajal menjemputnya pun, membayangkan rumah itu walau sekilas tetap akan menggetarkan hatinya. Sejak pertama kali


Laras melihatnya, ketika masih kecil mengendap‐endap memandangi rumah besar itu dari celah‐celah pepohonan, rumah itu sudah menawan hatinya.


Pohon‐pohon cemarabyang rindang tumbuh mengelilingi rumah. Cabang‐cabang pohonnya yang kokoh, yang penuh ditumbuhi lumut


keabu‐abuan keriting yang menjuntai, terjulur mengelilinginya seperti tangan‐tangan kuat yang selalu siap memberi perlindungan.


Rumah itu terletak di tengah, seperti perempuan yang penuh pesona, yang memakai rok lebar menggelembung. Dinding batanya


dicat putih bersih. Pilar bergaya kolonial tegak menjulang di bagian depan, tiga pilar di setiap sisi pintu depan. Pilar‐pilar itulah yang menyangga lantai dua rumah dengan teras yang luas di sekelilingnya. Seperangkat meja‐kursi dari rotan yang berwarna


putih menghiasi teras. Besi tempa putih, indah seperti renda pakaian dalam perempuan, memagari balkon. Daun jendela berwarna hijau daun mengapit jendela berukuran besar yang mengilap seperti cermin di bawah sinar matahari.


Pada musim panas, serangga‐serangga beter‐bangan dengan riang mengelilingi bunga‐bunga yang bermekaran, warna mereka


sangat mencolok sehingga menyakitkan mata. Tidak ada tempat di muka bumi ini yang memiliki rerumputan sehijau dan setebal


rumput yang tumbuh di sekeliling rumah itu.

__ADS_1


Keheningan menyelimuti rumah bak kabut sihir yang mengelilingi puri dalam dongeng. Sepanjang pengetahuan Laras, rumah itu


merupakan perwujudan semua yang didamba orang di dunia ini.


__ADS_2