
"Bo doh kau, Ndre" guman Andre pada dirinya di depan cermin setelah keluar dari kamar mandi. Wajahnya jadi kabur, yang tepat
menggambarkan dirinya setelah peristiwa dua belas tahun yang lalu itu. "Apa yang membuatku berpikir sepolos itu, mengira segalanya berjalan sesuai rencanaku?"
Ia menghabiskan minumannya, membiarkan cairan itu menuruni tenggorokannya tanpa menikmati rasanya sedikit pun. Ia hanya menyesali es batu yang mencair itu mengurangi rasa mijumannya. Ia teringat apa yang terjadi malam itu ketika ia menemui ayahnya di ruang kerja, meminta waktu untuk bicara.
Seperti racun yang masih mengendap, kebencian dan kemarahan menyelimuti dirinya setiap kali ia ingat kebo dohan dirinya yang begitu percaya diri. Betapa bodohnya. Betapa naifnya. Dirinya seperti bocah yang berdiri di hadapan singa yang kelaparan.
Oh, ia punya keberanian seperti itu. Hanya saja ia tidak punya senjata. Sementara Indra punya.
Ia melangkah masuk ke ruang kerja dan berkata, "Ayah, aku sudah menemukan gadis yang ingin kunikahi."
"Pasti kau bisa menemukannya," jawab Indra sambil memindahkan cerutunya dari sudut bibir yang satu ke sudut lainnya.
"Jerry Subrata meneleponku tadi malam. Ery hamil. Sudah tiga atau empat bulan. Ia bilang, mata putrinya sampai bengkak karena menangis sebab kau tidak datang lagi menemuinya. Selamat, anakku. Kau sebentar lagi menjadi suami dan ayah."
Sampai detik ini kata‐kata ayahnya itu masih sangat dibencinya sampai ke tulang sumsum. Kata‐kata itu. Kata‐kata seorang ayah yang
penuh kebencian, manipulasi, kelicikan.
Dan Laras, Laras-nya yang dijumpainya di tepi sungai di bawah rintik hujan, kini menjadi istri ayahnya. Kini baji ngan itulah yang harus didengarkan kata‐katanya oleh Laras, bicara
dengannya, memberikan ketenangan dan kehidupan pada Laras.
Dengan Indra, Laras memberikan jiwa dan raganya. Andre menutup mata dengan telapak tangan, sementara ingatan akan kebersamaannya dengan Laras melintas seperti film di benaknya.
Membayangkan semua itu saja Andre merasa hampir tidak sanggup.
Sekujur tubuhnya terasa sakit. Celakanya, tak ada benda apa pun yang bisa menyembuhkan lukanya.
***
"Terima kasih, Bani."
"Terima kasih kembali."
"Andre bilang pemanggang rotinya rusak. Bi Ani harus membeli yang baru. Tetapi kata Bibi, tak perlu beli yang baru kalau yang lama ini bisa diperbaiki. Andre ingin memperbaikinya tetapi ia sibuk bekerja di pabrik. Aku sudah bilang padanya, tak perlu mencemaskan benda itu. Kau mau melakukannya untukku. Kau tidak keberatan, bukan?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Aku senang bisa mempebaikinya." Ia menyibukkan diri dengan merapikan meja kerja di garasi, tempat alat‐alat kecil disimpan.
"Kau marah padaku, Beni?"
Beni berhenti bekerja dan menatap Diana. Diana mengenakan baju berkerah tinggi. Kulitnya kelihatan lembut dan halus seperti bunga mawar yang tengah merekah. Hasrat
menyergap Beni seperti mobil yang menghantamnya. Ia berbalik seketika.
"Mengapa aku harus marah padamu?"
Diana mengembuskan napas dan duduk di anak tangga paling atas. Dengan resah, jari‐jarinya mempermainkan ikat pinggang yang melilit di pinggangnya. Kepalanya ditundukkan
dalam‐dalam sampai dagunya hampir menyentuh dada. "Karena aku menci***mu kemarin," jawab Diana lembut. "Sejak kejadian
itu, kau marah padaku."
"Sudah kukatakan, aku tidak marah."
Lalu mengapa kau tidak mau menatap wajaku?"
Beni menatapnya kemudian. Suara Diana yang bernada tinggi, penuh kemarahan, memaksa Beni mengangkat kepala dan memandang Diana tanpa bisa berkata‐kata. Ia tidak pernah
Kecil kemungkinan Diana berani balik menatapnya. Air muka Diana kelihatan seperti ekspresi perempuan yang merasa direndahkan.
Bani menelan ludah dengan susah payah. "Aku memandangmu sekarang."
"Matamu menghindariku. Matamu tak pernah memandangiku lagi. Mengapa, Beni?" tanya Diana, sambil turun dari tangga dan mendekati Beni. "Mengapa? Kau tidak menyukai wajahku
lagi?"
Mata Beni nanar menatap Diana, mulai dari rambutnya yang halus kecokelatan sampai ke kakinya yang ramping mengenakan sandal.
Ketika sekali lagi matanya tertuju pada wajah
gadis itu, Beni berkata dengan suara parau, "Bukan, Diana, aku sangat suka memandangimu."
Doana tersenyum, tetapi sesaat senyumnya memudar.
__ADS_1
"Benarkah gara‐gara aku ingin menci***mu? Apakah aku melakukan kesalahan?""
Beni menggosok‐gosokkan tangannya ke celananya, mengeringkan telapak tangannya yang basah pada celana jins. "Kau tidak
melakukan kesalahan."
Diana mengernyitkan dahi. "Kurasa, aku melakukan kesalahan. Perempuan yang kulihat di televisi menci*** kekasihnya lama‐lama. Mereka saling memiringkan kepala. Aku rasa mereka membuka mulut mereka ketika berci***an."
Sekujur tubuh Beni bergetar. "Diana," katanya parau, "kau tidak boleh bicara seperti itu dengan pria.
"
Kau bukan pria biasa, namamu Beni."
"Benar, kau tidak boleh bicara soal ingin menci***ku."
Diana kelihatan bingung. "Mengapa?"
"Karena ada hal‐hal antara laki‐laki dan perempuan yang... yang... belum menikah yang tidak boleh dibicarakan."
"Boleh melakukannya, tetapi tidak boleh membicarakannya?" tanya Diana, semakin bingung.
Benu tertawa, meskipun tengah mengungkapkan hal serius. Rupanya Diana lebih cerdik darinya. "Seperti itulah."
Diana menggelayut di badan Beni dan meletakkan tangannya di dada Beni. Kepalanya ditengadahkan ketika hendak menatap wajah Beni. "Kalau begitu tak perlu kita membicara
kannya. Kita berci***an saja." Suara Diana sehalus napasnya yang menerpa leher Beni.
Tangan Benu menggenggam tangan Diana. "Kita tidak boleh melakukan hal itu juga."
"Kenapa, Beni?" Kemarahan seperti menjalari sekujur tubuhnya. Ia harus mengeraskan hati untuk melepaskan genggaman tangan Diana
dan dengan hati‐hati menurunkannya ke samping. "Karena tidak boleh." Benu kembali ke meja dan mengambil pelana yang sedang
dibersihkannya ketika Diana masuk mencarinya.
Dengan sedih Diana memandangi Benj yang keluar dari bengkel dan berjalan ke halaman. Ia mengambil pemanggang roti, benda yang dijadikan alasan untuk menemui Beni, dan kembali ke rumah. Ketika melihat mobil Laras memasuki pekarangan, Diana berhenti.
__ADS_1
"Hai, Diana. Apa yang kaulakukan dengan benda itu di halaman?" Laras bertanya, sambil menunjuk pemanggang roti.