
"Aku tidak mau, Bi Ani, Terima kasih," ujar Laras. Lewat ekor matanya, ia melihat Andre memandanginya. "Hari ini aku letih sekali.
Kurasa aku mau istirahat dulu."
"Ada yang kaubutuhkan?" tanya Bi Ani prihatin.
"Tidur nyenyak," Laras. Dicondongkannya badannya ke arah Diana, lalu diciumnya pipinya. "Selamat malam. Besok pagi kita sama-sama
ke rumah sakit dan kau bisa menemui ayahmu."
"Ya, aku mau. Selamat malam. Kau juga gembira Andre pulang, kan Laras?"
"Ya, tentu saja." Laras menegakkan tubuh dan bertemu pandanf dengan Andre. "Bi Ani sudah menyiapkan kamarmu. Selamat malam, Andre."
Sebelum Andre sempat menjawab, Laras sudah keluar pintu, meninggalkan ruang makan
menuju loteng. Ternyata berat buat Laras untuk
berada dalam satu ruangan dengan Andre. Selain itu, Andre, Diana dan Bi Ani, yang
mengasuh mereka sepeninggal Sarah, perlu waktu bersama mereka tanpa dirinya.
Suara langkah kakinya di lorong atas teredam karpet Oriental yang terhampar di sepanjang
lorong. Dua lampu di sisi ranjang menerangi kamar tidurnya. Salah satu lampu itu dimatikannya.
Berada dalam kegelapan terasa lebih nyaman bagi Laras malam itu seakan kegelapan mampu menyembunyikan sesuatu yang tidak
ingin dilihatnya, tak ingin dipikirkannya. Laras berdiri di dekat jendela besar yang menghadap
ke halaman belakang rumah yang luas, dataran
landai ditumbuhi rerumputan yang mengarah
ke sungai. Bulan separo tampak di langit, tetapi ia dapat melihat pantulan di permukaan air dari
kejauhan.
Segalanya terasa begitu damai. Laras hanya butuh ketenteraman. Tiga pukulan berat
menghantamnya hari ini. Ia tahu suaminya akan meninggal. Beni bersikap lebih daripada sekadar teman terhadap Diana, bahkan lebih
daripada mengasihani. Dan Andre, yang kini pulang.
Sambil menarik napas dalam, ia menjauhi jendela dan membuka pakaiannya. setelah
bathtub dipenuhi air hangat, Caroline
berendam di dalam bathtub yang penuh busa wangi sambil memejamkan mata. Saat itulah
dibiarkannya dirinya menangis. Untuk Indra.
Selama ini Indra frustrasi gara‐gara penyakitnya, tetapi laki-laki itu berkeras tidak
mau memeriksakan diri ke dokter.
Buat pria yang penuh vitalitas seperti Indra, kenyataan dirinya diserang penyakit sulit
diterima. Barangkali akan jauh lebih baik bila
maut segera menjemputnya. Memaksa Indra yang selalu penuh semangat dan ambisi
berbaring tak berdaya dan hanya bisa
mengeluh kesakitan di ranjang rumah sakit selama berbulan‐bulan juga sangat tidak
manusiawi.
__ADS_1
Laras berendam di bathtub beberapa lama sampai air matanya mengering dan air mandinya dingin. Ia ingin cepat‐cepat tidur.
Seisi rumah sudah senyap. Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar ketika ia
menarik bedcover ranjang. Laras terlonjak karena terkejut.
Dari pintu kamar yang dibukanya sedikit, Laras melihat sosok seseorang di nawah cahaya
remang‐remang, berdiri di lorong rumah yang
sunyi. "Ada apa?"
"Aku mau bicara denganmu." Andre langsung
menerobos masuk. Karena tidak ingin
menimbulkan keributan, Laras tak punya pilihan lain kecuali membiarkan pria itu masuk dan menutup pintu kamarnya. Andre ber
diri di tengah kamar, pelan‐pelan berbalik, memerhatikan semua perabotan yang ada di
dalam kamar. Ia melangkah ke dekat jendela,
tangannya menyentuh tirai, seperti mengingat- ingat suasana kamar itu di masa lalu.
Diamatinya barang‐barang antik yang ada di meja rias. Ia melirik ke arah cermin yang
memantulkan bayangan dirinya.
Apakah ia mencari sosok laki-laki anak kecilseperti dulu?
Dulu ini kamar tidur ibuku," ucap Andre akhirnya.
Tangan Laras yang berkeringat saling menggenggam di pinggang.
"Ya, aku tahu. Kamar yang cantik. Salah satu yang kusuka di rumah ini."
di belakangnya di cermin. "Sebagaimana
cocok untuk ibuku. Kamar ini sangat perempuan."
Ketika Andre tak juga mengalihkan pandangan dari dirinya, sadarlah Laras akan pakaian yang
membungkus tubuhnya.
Pakaian tidur berikut jubah luarnya itulah yang jelas membuat tatapan mata Andre yang
penuh hasrat tersebut tertuju padanya.
Laras sadar ia belum mengenakan apa‐apa di balik baju tidur, meskipun tubuhnya tertutup
dari dada sampai ujung kaki. Dan yang paling
meresahkannya adalah mengetahui Andre menyadari hal itu juga.
Tatapan matanya yang tajam berhenti di dadanya, di pinggangnya, di bawah pinggangnya. Seperti merespons perintah
tanpa kata‐kata, bagian‐bagian tubuh itu bangkit dan bereaksi. Dada Laras menegang.
Pangkal pahanya bagai merekah. Laras
memaki‐maki tubuhnya, menyumpahi diri, tetapi juga tak berdaya menekan dorongan
hasrat yang menggebu‐gebu, mengaliri setiap
simpul saraf tubuhnya karena sorot mata itu.
Andre menggenggam segelas minumnya, lalu meneguknya dengan penuh kenikmatan. Ia
__ADS_1
betul‐betul menikmati cairan minuman keras
yang membakar tenggorokan itu mengalir turun menuju perutnya.
"Rupanya Daddy tetap menyukai wine mahal," komentar Andrr. "Dan perempuan cantik. Kau
kelihatan sangat cantik di dalam kamar ini,
Laras, apalagi dengan sinar lampu remang- remang yang menimpa rambutmu." Kembali Andre mengamati sekujur tubuh Laras lewat
cermin, kemudian berbalik dan menjauh.
Andre melangkah ke arah kursi malas di pojok kamar dan merebahkan diri di kursi itu.
Tetapi rupanya kursi tersebut dirancang untuk tubuh perempuan, bukan Andre. Ujung sepatu
botnya menggantung. Dengan satu tangan dipeganginya botol minuman keras yang
diletakkannya di perut, sementara tangannya
yang satu lagi diletakkan di bawah kepala, sambil matanya tetap memandangi Laras bak
burung elang yang mengincar mangsa.
Laras berdiri resah di tempat yang sama dengan ketika Andre memasuki kamar.
memasuki kamar.
"Ibu dan ayah tidak pernah tidur bersama di kamar ini," kata Andre pelan, tetapi Laras tidak
tertipu. Tak pernah Andre mengatakan sesuatu
tanpa alasan. "Masih segar dalam ingatanku
peristiwa hari itu, ketika Ayah meminta ibuku tidak mempersoalkan keinginan pindah ke
kamar tidurnya sendiri setelah Diana Lahir.
Berjam‐jam lamanya Ibu menangis. Sejak itu
ayah tidak pernah tidur bersama Ibu lagi." Kembali Andre meneguk minumannya dan
tertawa keras. "Kurasa Ayah tak pernah
memaafkannya gara‐gara Diana."
"Ia mengasihi Diana," protes Laras. "Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik buat Diana."
Kembali tawa Andre meledak, kali ini lebih keras lagi. "Oh ya? Ia memang pandai
melakukan hal‐hal seperti itu. Melakukan hal yang dipikinya baik untuk seseorang."
Laras memaksa dirinya bergerak. Ia melangkah ke arah ranjang lalu duduk di pinggirnya,
mengencangkan tali pinggang baju tidrunya.
"Jadi masalah ini yang hendak kau bicarakan denganku?"
"Tentang suami‐istri yang tidur seranjang?' tanya Andre, sambil menaikan salah satu alis
matanya. "Atau tentang Diana?" Jelas Andre
mencari gara‐gara. Di mana kelembutan laki‐laki ini? Kelembutan yang permah
ditunjukkan pria itu kepadanya ketika
mereka berjumpa sembunyi‐sembunyi atau ketika mereka saling mencurahkan isi hati?
__ADS_1
Andre seperti orang asing baginya, padahal dulu ia begitu akrab dengannya.