DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 10


__ADS_3

"Namaku Andre Ginawan."


Ia menatap Andre dengan sorot mata aneh. Andre mengira karena ia telanjang bulat. Gadis itu berusaha menekan rasa ingin tahunya,tetapi matanya terus berkelebat ke dada Andre, perutnya, dan ritsleting celana jinsnya yang belum tertutup. Biasanya itu justru menaikkan rasa percaya diri Andre meyakinkannya bahwa dengan mudah gadis itu bisa ditaklukkannya. Ia menganggap reaksi seperti itu sebagai pemberitahuan si gadis tertarik padanya dan bisa diajak kencan. Tetapi sorot mata gadis tersebut yang demikian polos justru


menjengkelkan hatinya.


Dengan tatapan matanya yang selalu


tertuju ke ritsleting celana‐nya, Andre resah menyadari hasrat yang tak diinginkannya makin menggebu saat itu.


Untuk menunjukkan sikap santunnya, ia maju selangkah hendak menyalaminya. Sesaat gadis itu terkejut, tetapi kemudian ia pun


menyambut tangan Andre dengan malu‐malu.


"Larasati Putri Anwar" jawabnya dengan suara gemetar, sambil menatap mata Andre.


Mereka berpandangan, waktu bergulir, serangga berderik di atas kepala mereka,


pesawat menderu di langit tinggi, air mengalir membasahi batu‐batuan di tepi sungai yang berlumut. Sesudah beberapa lama baru


lah keduanya bergerak dan melepaskan tangan masing‐masing.


"Anwar?' Andre mengulang nama keluarga si gadis dan heran mendengar suaranya sendiri jadi sama seperti sepuluh tahun yang lalu, sebelum terjadi "perubahan". "Putri Saepul Anwar?"


Gadis itu menunduk dan Andre melihat bahunya terkulai. Bodoh! Mengapa ia mengajukan pertanyaan dengan nada tidak percaya seperti itu? Setiap orang kenal siapa Saepul Anwar. Sepanjang hari kerjanya main kartu, minta uang pada orang yang kebetulan

__ADS_1


bertemu atau berbicara dengannya, sampai ia mendapat uang cukup untuk membeli minuman yang bisa dinikmatinya sampai


keesokan hari.


"Ya," jawab gadis itu lembut. Kemudian, meski agak gemetar, ia mengangkat kepala dengan sikap percaya diri yang membuat Andre lega


kembali, dan berkata, "Aku harus segera pergi, kalau tidak nanti aku terlambat kerja."


"Aku senang berkenalan denganmu."


"Aku juga."


"Hati‐hati berjalan di hutan." Gadis itu tertawa. "Apa yang lucu?"


"Kau memperingatkanku agar berhati‐hati, sementara kau sendiri berenang di sungai." Gadis itu menunjuk sungai. "Mungkin saja di


Andre mengangkat bahu. "Aku merasa kepanasan."


Ia kepanasan. Tuhan, ia merasa sangat kepanasan. Ketika tertawa, gadis itu menengadahkan kepalanya ke belakang,


menampakkan lehernya yang putih, mulus, dan begitu mengundang. Rambutnya mengilap menutupi leher dan bahu. Bau sabun cuci dan tepung kanji mulai tercium lebih wangi di hidung Andre daripada parfum mahal mana pun. Bau itu begitu membaur dengan aroma kulitnya yang segar. Tawanya yang renyah dan tulus menyentuh hati Andre. Tawa itu mengelus bagian hatinya yang sakit luar biasa.


Ya, Andre kepanasan. Terbakar karena cuaca yang panas. "Jam berapa kau pulang kerja?" Andre sama terkejutnya seperti Laras ketika


mendengar pertanyaan yang mendadak meluncur keluar dari mulutnya tersebut.

__ADS_1


"Jam sembilan." Dengan hati‐hati Laras mulai melangkah mundur.


"Malam hari? Kau pulang sendirian malam hari?'


"Ya. Tetapi aku tidak lewat hutan. Aku hanya lewat di sini pada siang hari."


Sejenak Andre membayangkannya. Gadis ini berbeda dengan gadis‐gadis yang pernah dikenalnya di kota.


"Aku akan terlambat kerja," ujar Laras dan makin menjauhkan diri, namun Andre merasakan keengganan dalam diri gadis itu.


"Ya, tentu. Jangan sampai terlambat. Sampai nanti, Laras."


"Sampai jumpa, Andre." Banyak yang tak terucapkan dengan kata‐kata pada waktu


mereka berpisah. Andre ingin mereka bertemu lagi. Laras tak pernah membayangkan mereka bisa berjumpa lagi. Andre masuk ke mobilnya.


Ia langsung melaju pulang ke rumahnya, dengan kecepatan tinggi dan masuk ke kamarnya, naik dua anak tangga sekali langkah, dan....


Kini, sebagaimana sebelumnya, bayangan Laras memenuhi benaknya. andre ingat memasuki kamar yang sama di suatu sore dua


belas tahun yang lalu. Dilemparkannya pakaiannya ke lantai tetapi ternyata pakaian itu jatuh ke kursi yang sama. Ia duduk santai di


kursi yang sama saat ini, dengan bayangan perempuan yang sama memenuhi benaknya. Laras masih menyimpan misteri, masih


sulit dipabami, menghantui dan menguasainya.

__ADS_1


Dan kini, seperti waktu itu, ia sadar, upaya apa pun yang ia lakukan tak mungkin bisa mengobati luka hatinya, tak bisa meredam


gejolak hasratnya yang membara.


__ADS_2