
Danu mengikuti Andre dan berhasil mengejarnya di halaman. "Ndre, maafkan aku." Ia menyambar lengan kemeja Andre dan
berhasil menghentikan langkahnya keluar dari rumah. "Aku tidak suka membacakan isi surat wasiat itu. Aku sudah membujuk Indra agar mempertimbangkannya kembali."
"Kau lebih tahu apa yang terjadi, selamatkan saja dirimu," jawab Andre ketus.
"Aku sudah membujuk ibumu untuk mempertahankan rumah ini dan pemintalan atas namanya. Ibumu menandatangani surat
wasiat jauh sebelum ia meningggal, bahwa ia mewariskan rumah itu kepada Indra, bila ia meninggal dunia. Waktu itu aku sudah berpikir itu bukan gagasan yang baik. Tentu saja, sekarang...."
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada orang yang tidak berdarah Gunawan memiliki rumah ini. Rumah itu sekarang menjadi milik keluarga Anwar." Nada bicaranya pedas lagi tajam ketika menyebut nama Anwar.
"Bila kau mengira Laras memengaruhi keputusan Indra, kau keliru."
"Begitukah?"
"Ya," jawab si pengacara. "Laras sama sekali tidak peduli soal rumah itu, sebagaimana sikapnya ketika mendapatkan beasiswa."
Andre memutar kepala seketika. "Apa yang kautahu tentang hal itu?"
"Aku tahu," jawab Danu sambil merendahkan suara. "Sama seperti aku tahu segala yang dilakukannya terhadap Laras secara
sembunyi‐sembunyi. Aku tidak mengerti sikapnya. Aku mengira ia seperti bandot yang suka daun muda, kecuali... yah, ia melakukan
itu dengan perempuan lain." Ia menatap. Andre dalam‐dalam. "Baru belakangan aku tahu. Baru belakangan. Bertahun‐tahun lamanya ia
memperalat Laras untuk menarikmu pulang, bukan?"
Andre tidak menjawab. Jelas, si pengacara tahu segala yang terjadi, hanya satu potongan penting yang kurang. Ia tidak tahu apa yang pernah terjadi antara Andrs dan Laras bertahun‐tahun sebelumnya.
"Yah, bila itu yang ia inginkan sebelum ia meninggal, sudah terkabul. Karena ia sangat yakin berhasil mendapatkan aku kali ini."
Ia pergi, membiarkan pintu di belakangnya terbanting. Dari kamar tamu, Laras melihatnya pergi. Ia sudah mendapatkan apa yang selalu didambakannya. Tetapi apa imbalannya? Pria yang dicintainya.
"Laras, apa yang bisa kulakukan dengan pemintalan kapa itu?" tanya Diana bingung ketika muncul di belakang ibu tirinya. "Aku hanya pernah ke sana beberapa kali dalam hidupku."
Perasaan iba melihat perempuan muda yang bingung itu mengalihkan kepedihan yang melanda Laras. Ia memeluk Diana. "Kau jangan terlalu mengkhawatirkan pemintalan kapas itu.
Ayahmu hanya mewarisimu keuntungan yang didapat dari pabrik."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku dapat gaji tahunan untuk mengawasi pemintalan itubagimu. Danu akan memberi tahu kita berdua dan mengawasi segalanya. Tak usah cemas. Semuanya akan berjalan sebagaimana dulu."
"Kau akan tinggal di sini, kan? Kau tidak akan pergi?"
"Kau dengar apa yang dibacakan Danu. ayahmu memberikan rumah ini padaku." Ia meletakkan pipinya ke rambut Dianq dan membiarkan rambut itu mengisap air mata yang menitik
jatuh dari matanya. Laras tidak bisa dikelabui. Keputusan Indra bukan atas dasar kebajikan. Indra tahu, dengan memberikan rumah ini kepadanya, ia yakln akan membuat Andre sangat membencinya. Ia kini memang menjadi pemilik rumah ibu Andre.
Andai ada sesuatu yang dicintai Andes, itu adalah rumah ini.
__ADS_1
"Kau tetap di sini, tetapi Andre akan pergi," kata Diana sedih.
"Ya, Andrs tidak akan tinggal di sini." Kemudian Laras menyuruh gadis itu menemui Bi Ani, supaya ia bisa menangis sendirian.
"Apa yang kaulakukan?"
"Menunggumu."
"Aku mendapat kehormatan itu?"
"Kurasa kita harus bicara."
"Jangan pura‐pura bodoh, Ndre."
"Bo doh?" ulang Andre, alis matanya yang hitam berkerut. "Kini kau menjadi nyonya rumah, yang sejak dulu kau dambakan."
Cahaya lampu di teras itu remang‐remang. Hari sudah larut malam. Karena ia tidak pulang untuk makan malam, Laras tidak yakin Andre akan pulang. Kecuali demi Dianq. Ia tidak akan
meninggalkan rumah sebelum berpamitan dengan adiknya. Oleh sebab itu ia menunggu sampai mendengar deru mobil Andre
memasuki pekarangan rumah. Cepat‐cepat ia turun untuk menemuinya begitu pria itu masuk lewat pintu depan. Ia berdiri di anak tangga kedua. Andre di anak tangga pertama. Andre menatapnya dengan sorot mata menantang.
"Aku tidak menyalahkanmu bila kau marah."
"Terima kasih. Aku senang mendapat restumu."
"Andre, jangan begitu."
"Jangan salahkan aku gara‐gara surat wasiat Indra! Aku tak tahu‐menahu soal itu. Aku sama bingungnya denganmu. Mengapa kau tidak menentangnya?"
"Membuat Indra dan seluruh penduduk kota puas karena tahu betapa hal itu merisaukan aku? Tidak, terima kasih." Indra sudah mati. Begitu yang ingin diteriakkan Laras.
Kapan perang antara ayah dan anak ini akan berakhir? Dengan berusaha setenang mungkin, Laras berkata, "Tak peduli apa isi lembar surat wasiat itu, rumah ini tetap milikmu, Ndre. Selamanya akan menjadi milikmu. Kau bisa tinggal di sini seumur hidupmu bila mau."
Andre tertawa, tetapi bukan tawa gembira. "Isi surat wasiat itu menetapkan hanya Diana yang bisa menempati rumah ini selama hidupnya, bukan aku. Kemurahan hatimu sungguh terpuji,
Mom," kata Andre sambil membungkukkan badan sampai pinggang.
Laras tersentak mendengar kata‐kata Andre yang menyakitkan, tetapi ia tetap mengangkat dagu. "Aku mengerti, kau ingin menyakitiku. Baiklah. Andai hal itu membuat perasaanmu lebih enak, silakan. Silakan panggil aku dengan sebutan menjijikkan sekalipun."
Secepat kilat tangan Andre terjulur, menangkap ikat pinggang yang melilit pinggang Laras dan menariknya ke tubuhnya. Tindakan itu membuat napas keduanya memburu. Dililitkannya ikat pingang itu di tinjunya, menyebabkan tangannya bersentuhan dengan perut Laras. Rahangnya kaku ketika ia mengertakkan gigi.
Dipejamkannya matanya rapat‐rapat. Dalam waktu sekejap, setarikan napas, Andre meletakkan kepalanya di dada Laras dan merintih. Kemudian ia melepaskan Laras sambil memaki‐maki.
"Maafkan aku, Laras, maafkan," katanya sambil menarik napas. "Ya, aku marah besar. Bukan padamu. Padanya. Sialnya, tak ada cara untuk menghidupkannya kembali. Ia sudah mati. Aku tidak kuasa melawan bajingan itu. Aku tak punya cara untuk melampiaskan kemarahan dalam diriku."
Dipukulkannya tinjunya pada pegangan tangga yang terbuat dari kayu ek. Secara naluriah, Laras mendekat untuk menenangkannya tetapi ia menarik tangannya kembali sebelum menyentuhnya. Andre bisa salah sangka, mengira ungkapan cintanya sebagai sikap iba dan akan sangat membencinya.
"Ke mana saja kau tadi?" tanya Laras lembut.
Andrs menarik napas dalam‐dalam, membuat dadanya mengembang dan kancing bajunya terbuka, menampakkan bulu dadanya yang ikal lagi lebat. "Bawa mobil. Keliling‐keliling kota."
__ADS_1
Andre menatap Laras. "Ini rumahku, Laras. Lepas dari ketidak sempurnaannya, aku suka kota ini. Aku tidak bisa mengingkari cintaku pada kota ini meski penduduknya punya
kekurangan, sebagaimana aku tidak bisa mengurangi cintaku pada Diana karena ia punya kekurangan. Aku selalu merindukan
pulang lagi ketika aku harus pergi meninggalkannya."
"Jadi, kau mau pergi?"
"Besok pagi."
Seperti tertusuk pisau tepat di jantung, Laras memegangi dadanya. Wajahnya muram. Begitu cepat! Andre akan pergi dan kali ini ia takkan pernah kembali lagi. Sekarang ia bisa meminta Diana menemuinya bila ingin bertemu dengannya.
"Ndre, ia itu monster macam apa sih? Manusia macam apa dia itu, sampai tidak mewariskan apa pun kepada putranya, kepada dirimu?"
Andre melihat air mata dan kepedihan di wajah Laras dan tahu itu ditujukan untuk dirinya, untuk segala yang tak pernah ada. Betapa ingin Andre memeluknya. Ingin ia membenamkan kepalanya di Laras dan mencium aroma tubuhnya. Ingin ia menekankan bibirnya di kulir Laras. Betapa ingin ia dihibur Laras. Ingin ia
sejenak melupakan kenangan bercinta dengan Laras yang pernah dialaminya. Pada saat seperti ini, ia hampir tak mampu menahan
keinginan meminta hal itu dari Laras.
Tetapi ia ingat kata‐kata yang dimaksudkan untuk diingatnya. Kau tak bisa lagi memiliki perempuan itu sekarang, Andre. Aku kenal siapa dirimu. Harga diri sebagai Gunawan takkan merelakan dirimu memiliki Laras. Karena aku sudah terlebih dahulu memilikinya. Kau ingat itu. Laras istri‐ku dan aku yang
memilikinya untuk pertama kali.
"Ia meninggali aku warisan, Laras," kata Andre kasar. "Warisan yang amat banyak." Andre melewati Laras dan naik ke lantai dua.
Perlahan laras mengikutinya dan masuk ke kamar tidurnya. Ia melepas mantelnya, berbaring di ranjang, membayangkan dirinya
takkan pernah tenang. Tetapi ketika terdengar dering telepon beberapa saat kemudian,
ia gembira dan bangun dari tidur untuk menerima telepon dan menempelkannya di telinga.
"Halo." Begitu mendengar suara di telepon, Laras langsung meletakkan telepon dan lari ke pintu kamar, bahkan tanpa memakai mantel luarnya. Kakinya yang telanjang seperti terbang melintasi lorong berlantai kayu yang gelap itu. Ia menerobos masuk ke kamar Andre, langsung mendekati ranjangnya. Tangannya langsung mendarat di punggung Andre yang tanpa baju. "Ndre, Andre, bangun."
Andre berbalik dan memandang Laras dengan mata tak percaya. Mata Laras membelalak, rambutnya acak‐acakan, dadanya turun naik, dadanya hampir tumpah ke luar dari gaun
tidurnya. "Apa....?"
"Pemintalan terbakar!"
Kaki Andre yang telanjang langsung turun ke lantai berbarengan, hampir menubruk Laras. Tangannya menyambar celana jins yang
terlipat di kursi. "Dari mana kau tahu?"
"Aldo barusan yang menelepon."
"Parah?”
"Ia belum tahu."
"Bagaimana pemadam kebakaran?"
__ADS_1
"Sudah dihubungi."