DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 3


__ADS_3

Kini dia menjadi penghuni rumah tersebut. Setelah peristiwa pagi tadi, Laras sadar ia hanya menghuni rumah itu untuk sementara


waktu. Laras menghentikan mobil di halaman yang berbatu‐batu, yang dibentuk melingkar di depan rumah.


Sejenak Laras berusaha menenangkan pikiran dan mengumpulkan seluruh kekuatan, yang mungkin dibutuhkannya beberapa jam lagi. Petang ini takkan menjadi petang yang menyenangkan.


Ruang depan menjadi terasa remang‐remang setelah sinar matahari yang membutakan di luar. Rumah ini memang didesain dengan gaya rumah pertanian. Di bagian tengah ada foyer yang membentang dari pintu depan sampai


belakang. Di salah satu sisinya dibangun ruangan perjamuan resmi dan perpustakaan, yang digunakan Indra sebagai ruang kerja.


Di sisi lainnya ada ruang tamu resmi dan tidak resmi, yang dipisahkan dari foyer dengan pintu geser berukuran besar yang menghilang ke


dalam dinding. Seingat Laras, pintu itu tidak pernah dipakai. Tangga besar meliuk naik dengan anggun menuju lantai dua, tempat


empat kamar tidur. Udara di dalam rumah sejuk, tempat berlindung dari udara musim panas yang lembab.


Laras melepas jasmenyangkutkannya pada gantungan mantel, lalu menarik blus sutra

__ADS_1


yang lengket di punggungnya yang basah.


"Jadi? Bagaimana kabarnya?"


Bi Ani Pengurus rumah tangga, yang bekerja di rumah itu sejak mendiang istri Indra, Sarah, menikah dengan Indra Gunawan, berdiri di ambang pintu melengkung yang menuju ruang


makan. Sambil berjalan dari dapur yang letaknya berseberangan dengan ruangan itu, ia mengeringkan tangannya yang terampil, kasar, dan besar, sesuai dengan ukuran bagian tubuhnya yang lain, dengan handuk tipis.


Perlahan Laras menghampirinya lalu memeluknya. Lenganpengurus rumah tangga yang gemuk itu balas mendekap tubuh Laras yang ramping.


"Buruk?" tanyanya lembut sambil mengelus‐


"Yang terburuk. Kanker. Dia takkan pulang ke rumah lagi." Dada Bi Ani yang besar bergetar karena menahan tangis. Kedua perempuan itu saling menghibur. Bi Ani tidak suka pada Indra,


kendati ia sudah bekerja pada pria itu lebih dari tiga puluh tahun.


Kesedihan yang dirasakannya terutama ditujukan pada orang‐orang yang ditinggalkan Indra, termasuk jandanya yang masih muda.

__ADS_1


Semula Bi Ani mencurigai dan menolak kedatangan nyonya baru di rumah ini. Tetapi ketika melihat Laras yang tidak mengubah


tatanan rumah sama sekali, tetap membiarkannya sebagai‐mana ketika


almarhumah Sarah masih hidup, mulailah ia menyukai Laras.


Laras tidak bisa berbuat apa‐apa bahwa ia berasal dari keluarga miskin. Tetapi Bi Ani tidak ingin berprasangka padanya gara‐gara asal‐muasal keluarga‐nya. Apalagi Laras


menunjukkan sikap penuh kasih sayang dan lembut terhadap Diana. Itu sudah cukup bagi Bi Ani untuk menganggap Laras perempuan tang baik.


"Bi Ani? Laras? Ada apa?" Keduanya ber‐balik dan melihat Diana berdiri di anak tangga bawah. Dalam usia dua puluh dua tahun, putri Indra itu kelihatan masih seperti gadis remaja saja.


Rambutnya yang cokelat dibelah tengah dan tergerai lurus ke bawah. Rambut itu membingkai wajahnya yang lembut. Kulitnya


seputih porselen. Matanya besar dan berwarna cokelat, dengan bulu mata yang panjang. Tubuhnya berkembang sejalan perkembangan pikirannya. Daian bak kuntum bunga yang


belum mekar sepenuhnya. Lekuk tubuh perempuannya mulai tampak, tetapi takkan pernah sempurna. Seperti pikirannya yang

__ADS_1


berhenti tumbuh, begitu pun tubuhnya. Diana takkan pernah berubah seiring berlalunya waktu.


__ADS_2