
Beni segera menarik selimut putih menutupi dadanya yang telan jang. Ia berbaring telentang di ranjangnya yang kecil. Ketika Diana masuk, membuka pintu cukup lebar agar bisa menyelinap, Beni berbaring sambil menopang tubuhnya dengan siku. "Tidak, aku tidak tidur, tetapi apa yang kaulakukan di sini? Kalau kakakmu tahu kau ada di sini...."
"Tidak mungkin. Aku baru saja melihatnya pergi dengan mobil barunya. Ia dan Laras.... Oh, Beni. Aku jadi tak mengerti semua ini!" Diana menghambur masuk dan menjatuhkan dirinya ke pelukan Beni. Otomads tangan Beni menyambut Diana.
Diana yang menangis, membenamkan wajahnya di dada Beni. "Ada apa? Apa yang terjadi? Apa yang tidak kaumengerti?"
"Andre. Aku tak mengerti dia sama sekali. Ia berkelahi denganmu gara‐gara kau menci umku. Ia membuat aku merasa seakan kita
melakukan perbuatan memalukan. Tetapi, kalau yang kaulakukan salah, mengapa ia dan Laras melakukan hal yang sama? Kalau hal itu tidak boleh kita lakukan, mengapa mereka lakukan? Mereka kan juga tidak menikah."
"Kau melihat mereka? Berciuman?"
"Ya. Di sana, di dekat ayunan tua. Mereka tidak melihat aku ketika itu."
Beni menyibakkan rambut dengan jari‐jarinya. Beni tidak ingin mengecewakan Diana seperti sebelumnya, maka ia menjawab dengan hati‐hati, "Kurasa, kau melihat sesuatu yang se
harusnya.tidak boleh kau lihat."
Diana mengangkat kepala. "Memang, seharusnya aku tidak diam di situ dan melihat mereka, bukan? Bi Ani bilang kita tidak boleh mencuri dengar percakapan orang, kalau orang itu tidak tahu kau ada di situ."
"Itu tidak sopan, ya."
Diana berusaha mengumpulkan kekuatan ∙ seperti anak kecil yang menyesali perbuatan salahnya. "Aku tahu aku salah.Tetapi aku mendengar suara mereka, lalu ku ikuti suara itu. Ketika aku sampai di sana, kulihat Andre mencium Laras. Mereka bersandar di pohon sambil berpelukan."
Ketika jari‐jari Diana mempermainkan rambut yang tumbuh lebat di dadanya, baru Beni menyadari ia hanya mengenakan ****** ***** di balik selimut. Diana duduk di pinggir ranjang,
pinggul gadis itu menyentuh lekuk pinggangnya. Diana menceritakan bagaimana Laras mengakhiri ci uman mereka. "Laras bilang mereka seharusnya tidak berci uman
karena orang‐orang akan menganggap mereka tidak bermoral. Ketika mendengar kata‐kata Laras, Andre hanya berdiri tak bergerak. Andre kelihatan seperti hendak memukul sesaatu, bukan Laras. Andre kelihatan ingin terus menci umi Laras."
Suara Diana bergetar. "Laras bilang, begitu pembacaan surat wasiat selesai, ia akan meninggalkan rumah." Sambil bersandar di ping gang Beni, Diana meletakkan kepalanya di
dada Benu. "Aku tak ingin ia pergi meninggalkan rumah kami. Aku sayang Laras. Aku sayang Andre. Aku ingin kami tinggal bersama‐sama seperti sekarang selamanya."
Dengan satu tangannya Beni memegang tengkuk Diana menenangkannya. Tangan yang satu lagi mengelus punggung gadis itu. Beni berhasil menyambungkan potongan‐potongan cerita menjadi satu cerita utuh. Ia ingat, ia mendengar Laras mengingatkan Andre tentang perbuatan Indra yang memisahkan mereka. Barangkali pada suatu ketika dulu, mereka saling menyayangi. Tetapi kemudian Andre pergi dari rumah, Laras menikah dengan ayah Andre. Kini, masing‐masing masih saling
mencintai, keduanya terperangkap dalam situasi yang sulit untuk dipisahkan.
"Ya, semuanya benar‐benar kacau balau," gumam Beni di balik rambut Diana.
Diana mengangkat kepala dan memandang Beni. "Kau tahu apa yang kuharapkan?"
Jari telunjuk Benu menelusuri wajah gadis itu, mengagumi kecantikannya yang alami, kemurnian pikirannya, tak tercemar perasaan dengki. Kualitas kepribadian sepcrti itu sangat berharga buat Benu karena jarang ia menemukan orang dengan kualitas seperti itu.
Sebelum mengenao Diana, Benu menganggap
pikiran manusia penuh kebusukan, termasuk pikirannya sendiri. "Apa yang kauharapkan?" tanya Beni lembut.
"Bahwa mereka berdua saling mencintai seperti kita."
Betapa ingin Beni tertawa, ingin menangis, ingin menci um Diana. Ia memikirkan kedua hal yang pertama, dan melakukan hal yang terakhir. Ditariknya tubuh Diana dengan lembut kedekatnya, dici umnya bi bir perempuan itu dengan lembut pula.
"Beni?" bisik Diana.
"Hmmm?" Beni mencium wajah Diana, terkagum‐kagum merasakan kulit gadis itu yang demikian halus dan membiarkan tubuh mereka berpelukan.
"Kau tidak memakai kaki plastikmu."
Seketika Beni menghentikan ci umannya dan mengikuti arab pandangan Diana sampai ke ujung ranjang, ke tempat ia meletakkan kaki palsunya. "Ya," jawab Beni tegas. "Aku tidak
memakainya."
__ADS_1
"Coba kulihat kakimu. Ayolah." Diana menjulurkan tangan hendak menarik seprai yang menutupi tubuh beni. Beni langsung menyambar kaki palsunya dan memeganginya.
"Jangan." Suara Benu terdengar dingin, keras, tidak seperti biasanya kalau ia bicara dengan Diana.
Sejenak sikap Benu membuat gadis itu
takut, tetapi hanya sesaat. Berikutnya Diana meletakkan tangannya di atas tangan Beni dan jarinya mencoba menarik seprai yang menutupi badan Benu. "Ayolah, Beni. Aku ingin melihatnya."
Dengan marah Beni menepiskan tangan Diana. Ia melepaskan pegangannya pada seprai, dan meletakkan tangan di bawah kepalanya. Diana ingin melihatnya? Baik, lebih baik membiarkannya melihat kakinya. Lebih baik membiarkan Diana jijik melihatnya sekarang sebelum ia jatuh cinta lebih dalam padanya,
seperti yang dialaminya. Lebih baik Diana lari
meninggalkannya sambil berteriak ketakutan dan jijik melihatnya sekarang daripada nanti. Ia sudah lama menyembunyikan cacatnya, akan lebih baik bila Diana tahu lebih cepat, akan lebih baik untuk mereka berdua.
Dengan hati pedih, Beni membiarkan Diana
menyingkapkan selimut dari tubuhnya. Udara sejuk yang bertiup dari AC menerpa tubuhnya. Rahangnya terasa sakit karena ia
mengertakkan rahang. Matanya menatap langit‐langit, berusaha memusatkan pandangan pada pola yang dibentuk cahaya yang di pancarkan televisi. Ia tidak ingin melihat wajah Diana yang ketakutan. Ia berharap dapat menutup telinganya agar tidak mendengar respons yang diperdengarkan Diana.
Beni tidak menyalahkan Diana, tentunya. Ia selalu dijauhkan dari hal‐hal yang buruk. Dunia Diana adalah dunia penuh kelembutan dan keindahan, seperti kepompong yang lembut dan anggun. Sementara dunianya, dunia hutan belantara dengan hukum rimba, dunia asing bagi Diana, dunia dari planet lain.
"Oh, Beni."Reaksi Diana ternyata tidak seperti yang dibayangkan Beni. Suaranya membuat napasnya seperti berhenti sesaat, membuatnya
gemetar; suaranya emosional, penuh kelembutan. Beni menundukkan kepala, memandang tubuhnya tepat ketika tangan Diana terjulur hendak menyentuh pahanya yang separuh.
Meskipun jelas Beni merasakan sentuhan malu‐malu, lembut, walaupun ia melihat tangan Diana menelusuri kulitnya yang kasar dan berbulu, ia tetap tak percaya akan penglihatannya.
Tubuhnya seperti mengerut di balik sikap Diana yang manis, tetapi dadanya seperti mau meledak. "Beni, kau menawan."
Ketika menatap Beni mata Diana
berkaca‐kaca. Beni mencari‐cari, tetapi tak menemukan kesan jijik di mata gadis itu, tak ada rasa iba, yang ada hanya cinta dan
Dengan suara tercekik, Beni menarik tubuh Diana ke dadanya. Tangannya memegang kedua pipi gadis tersebut, meremas rambut Diana ketika Diana menyentuhkan bi birnya ke bi bir Beni.
Beni mencium Diana dengan gairah baru. Dimasukkannya lidahnya jauh ke dalam ke mulut perempuan muda itu. Diputar‐putarnya lidahnya, menikmati seluruh kemanisannya. Belajar dari Beni, Diana menggigit kecil bi bir Beni, mengisap lidahnya yang kembali dimasukkan ke mulutnya, dan membelai rongga di antara kedua bi bir Beni dengan lidahnya.
"Oh, Tuhan, Diana." Beni mendekap kepala gadis itu di bahunya untuk menghentikan ci uman Diana yang penuh gairah, agar ia bisa bernapas kembali dan akal sehatnya bekerja.
Kejan tanannya mengeras dan menyentak‐nyentak di balik cela nanya. Setiap bagian tubuhnya yang tersentuh kulit Diana
seperti panas terbakar. Beni berencana mengendalikan hasratnya dengan membelai dada Dianw. Namun dada yang penuhlagi lembut di telapak tangannya itu ternyata malah membuatnya makin menginginkan Diana, bukan melulu karena desakan gairah tetapi berkat pertolongan yang diberikan gadis itu.
"Aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku," kata Diana. Tangannya mengelus dada dan perut Beni.
Tanpa kegembiraan sedikit pun Benu tertawa. Hasratnya bergejolak. "Aku pun demikian."
"Jantungku berdetak cepat." Diambilnya tangan Beni, lalu ditekankannya ke dada kirinya. Tangan Beni menyentuh bagian lunak itu dengan lembut. Ia mengertakkan gigi. "Begitu pun jantungku."
"Apakah begini rasanya kalau orang berci nta?" bisik Diana, bertanya.
Beni tidak mampu menjawab dengan kata‐kata, tetapi dengan anggukan. "Kita tidak bisa berci nta karena kita belum menikah, bukan?" Beni mengerang dan mendekap Dianw erat‐erat.
"Ya, Sayang, tidak boleh. Kita tidak boleh melakukannya. Tidak adil buat dirimu."
Tidak adil juga buat dirinya. Bila ia mulai melakukannya, Beni yakin ia akan menginginkan hal itu setiap hari sepanjang hidupnya.
Diana yang kini duduk, meletakkan tangannya di pipi Beni. "Kalau begitu, Beni," katanya dengan cara berpikir sederhana,
"sebaiknya kita menikah."
__ADS_1
***
Segerombolan orang berkumpul di pekarangan rumah. Hari itu cuaca mendung. Awan kelabu pekat menutupi seluruh bumi. Hujan belum turun. Andai hujan turun, tentu akan disambut
gembira karena cuaca takkan lembap lagi.
Hari ini hari yang ditunggu‐tunggu sekaligus ditakuti. Dua kali Danu mengatur waktu untuk pembacaan surat wasiat Indra. Sudah dua kali tertunda. Pada kesempatan pertama, Andre
tanpa diduga dipanggil pulang ke rumahnya untuk mengurus masalah perusahaan penerbangan Air Stars. Yang kedua, Danu yang
minta ditunda. Karena ada kliennya yang lain yang lebih membutuhkan pertolongannya.
Diam‐diam Laras gembira dengan penundaan‐penundaaan tersebut. Ia butuh waktu beberapa minggu untuk mencari tempat
tinggal, rumah yang lebih kecil tetapi cantik, rumah yang jauh darikora tetapi tidak terlalu terpencil untuk perempuan yang tinggal
sendirian. Namun, sampai saat ini ia merasa tidak punya semangat untuk memulai
pencariannya. Pekerjaan di pemintalan
dijadikannya alasan.
Mereka memintal kapas lebih banyak daripada sebelumnya. Ia dan Andre selalu ke pemintalan dini hari dan pulang ke rumah setelah malam. Panen kapas musim ini hampir sudah dipintal semua, digulung dan siap dibawa ke gudang untuk dijual ke beberapa pedagang. Pesanan David sudah diterbangkan ke Delta Textile
seperti yang dijanjikan Andre.
Mereka berdua sama‐sama merasakan kepuasan yang amat sangat, tetapi juga perasaan kehilangan yang tak terucapkan dengan kata‐kata. Kalau bukan tuntutan pekerjaan di pemintalan, mereka tak punya alasan untuk menghabiskan waktu bersama.
Sejak kejadian malam itu, di ayunan, tak pernah ada kesempatan buat mereka untuk bermesraan, tetapi hasrat mereka tetap hidup, tetap menggelora, tetap memancar di antara mereka.
Danu batuk‐batuk sambil menutup mulut dengan tangan untuk menarik perhatian mereka. "Kurasa, kita sudah siap." Ia duduk di samping meja kecil, tempat ia meletakkan amplop manila.
Diana dan Andre duduk berdekatan. Tangan mereka saling menggenggam penuh kasih.
Laras duduk di kursi sebelah kiri. BI Ani, yang, juga diundang, duduk di sebelah kanan mereka, agak di belakang.
Danu mengambil kacamata berkerangka metal dari saku kemejanya dan meletakkannya di hidungnya yang besar. Dengan hati‐hati ia membuka amplop, mengeluarkan dokumen yang berhalaman‐halaman dan meluruskan dokumen yang kaku itu. Ia mulai
membacakan isinya.
Indra tidak suka menyumbang. Ia mengomel tiap kali melihat istrinya, Sarah, menyumbangkan uangnya untuk kegiatan amal. Bila ia menyumbang, sumbangan yang dilakukannya bukan dilakukan atas dasar kemurahan hati, tetapi lebih untuk
menghindari pajak. Dalam surat wasiatnya, anehnya, Indra mewariskan sejumlah uang kepada yayasan, sebagai anggota yayasan
yang tidak tetap, dan kepada berbagai komunitas sosial lainnya.
Danu berhenti sejenak, menuang air ke gelas dari teko yang disediakan di meja oleh Bi Ani untuknya, meneguknya, lalu melanjutkan. Ia membaca dengan suara tanpa emosi, tetapi dengan sikap berat hati. Setelah seluruh isi surat wasiat dibacakan, jelaslah apa sebabnya ia membacakan surat wasiat tersebut dengan sikap demikian.
Setelah selesai membacakan, ia melipat kertas‐kertas itu lalu memasukkannya kembali ke amplop. Ia melepas kacamatanya dan memasukkannya kembali ke saku kemeja.
Ketiga orang lainnya di dalam ruangan itu diam tak bergerak.
Bahkan Diana, yang tidak memahami isi surat wasiat ayahnya sepenuhnya, mengerti isi surat wasiat yang sangat tidak adil itu
"Ia tidak mewariskan apa pun untuk Andre," kata Diana kepada Danu, tetapi matanya perlahan menyapu ruangan sampai akhirnya tertuju pada saudara laki‐lakinya, yang wajahnya tampakseperti terbuat dari batu... atau es.
"Baji ngan tua breng sek," maki Bi Ani sambil menarik napas ketika meninggalkan ruangan dengan gusar. Ia menolak uang yang di wariskan untuknya sebagai imbalan "bertahun‐tahun mengabdikan diri merawat Diana".
Perlahan Laras bangkit dari duduk dan dengan ragu‐ragu melangkah ke arah orang yang seharusnya menjadi ahli waris. "Ndre, aku m..."
Andre mendongak seketika, matanya nanar menatap Laras, menghentikan kata‐kata Laras sebelum keluar dari mulutnya. Andre bangkit dari kursi dengan gaya anggun seperti macan tutul, tapi juga sekaligus memancarkan kebencian di air mukanya. Ia meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Dengan perasaan sangat menyesal Laras memandanginya. Diana dengan gugup mempermainkan saputangan dengan jemarinya.