DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 20


__ADS_3

Gadis itu langsung menjauhkan diri, seperti orang habis ditampar.


"Oh Tuhan, Diana, maafkan aku. Maafkan." Diana menjulurkan tangan, mengelus gadis itu untuk menghiburnya, tetapi ia tidak mampu


melakukan hal itu. Diana menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menangis. "Tolong, jangan menangis."


"Aku memang orang yang menakutkan." "Menakutkan? Kau sama sekali tidak menakutkan." Tak pernah Beni merasa


perasaannya ter‐sayat‐sayat seperti saat ini. Apa beda dirinya dengan bajingan, bila ia menyentuh gadis lugu seperti Diana, meskipun ia juga kesal bila tidak menyentuhnya.


Menunjukkan perasaan kasihnya pada Diana sama artinya dengan bunuh diri, Andre akan membunuhnya bila mengetahui hal itu. Tapi bagaimana ia bisa tega melukai hati Diana dengan cara seperti ini, membuat Diana merasa ditolak, tidak dikasihi, tidak diinginkan?


"Kau orang yang sangat baik," ucap Dianw. "Kau orang paling baik yang pernah kukenal"


"Tidak, aku tidak baik." Dianamengangkat wajahnya yang masih berlinang air mata, menatap Beni. "Aku menyayangi Andre sepanjang hidupku. Kupikir, bila ia pulang ke rumah lagi, semuanya akan beres. Kuanggap ia orang paling kuat, laki‐laki paling baik di


dunia. Tetapi ketika sudah di rumah, ternyata ia tidak demikian."


Diana menjilat bibirnya. "Ternyata, kaulah pria itu." Dada Diana yang tidak terlalu besar berguncang di balik baju musim panasnya. Air mata masih terus menitik jatuh di pipinya. "Beni, aku lebih menyayangimu ketimbang Andre!"


Sebelum Beni sempat bereaksi, Diana sudah menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Beni, mencium bi birnya, lalu lari keluar dari kandang kuda Beni merasakan jantungnya berdetak cepat, debarannya terasa sampai ke gendang telinga. Ia merasa bahagia sekaligus sedih.


Tuhan, apa yang harus ia lakukan menghadapi hal seperti ini? Tak ada. Jelas, tidak ada.


Beni mematikan lampu kandang kuda, lalu masuk ke tempat tinggalnya yang terawat rapi tapi sepi, yang terletak di bagian belakang. Ia mengempaskan diri di ranjangnya yang kecil, menutupi wajahnya dengan lengan. Ia tidak pernah merasa seputus asa ini sejak siuman di rumah sakit waktu itu dan mendapati ia akan pulang" dengan... salah satu kaki yang tinggal separo.


***


"Oh, maafkan aku. Aku tidak tahu kau ada di sini."


"Tidak apa‐apa," jawab Andre dalam keremangan. "Ini kan rumahmu."


Laras membiarkan pintu kawat kasa di belakangnya menutup dan duduk di kursi goyang. Ia menarik napas, menghirup dalam‐


dalam udara malam yang sejuk. Ia memejamkan mata‐nya yang letih sambil menyandarkan kepala pada sandaran kursi goyang. "Ini rumahmu, Ndre. Aku hanya tamu selama...."


"Selama ayahku masih hidup."


"Ya."

__ADS_1


Andre tidak menanggapi. Ia terlalu letih untuk berargumentasi. "Kau tidak kembali ke rumah sakit."


"Aku sudah menelepon. Akhirnya mereka menyuntiknya agar ia tidur. Kata dokter, aku tidak perlu datang. Indra tidak mengenali


siapa pun. Menurutku akan lebih baik bila aku tinggal di rumah, banyak urusan pabrik yang harus diselesaikan. Sebentar lagi akan


panen kapas, segalanya harus dipersiapkan."


"Aku tidak suka berada di rumah sakit saat Indra sadar dan menyadari telah kehilangan waktunya sehari." Laras mengelus dahinya seakan kepalanya sudah sakit akibat teriakan marah yang akan dilontarkan Indra. "Aku juga."


"Seringkah ia memperlakukanmu seperti hari ini?”


"Tidak. Tak pernah. Aku pernah melihat ia memarahi orang‐orang. Diam‐diam aku menemui dan menenangkan mereka. Hari ini


pertama kalinya aku menjadi sasaran kemarahannya."


"Kalau begitu kau beruntung," kata Andre. "Ia selalu bersikap begitu pada ibuku, selalu, bahkan hal kecil sekalipun bisa menyulut


kemurkaannya. Keterlaluan" Andre meninju lengan kursi...."ada saat aku ingin sekali menghantam mulutnya yang jahat itu sekuat‐


kuatnya. Bahkan ketika masih kecil pun, aku sangat membencinya karena membuat ibuku tidak bahagia padahal ibuku sudah memberikan segalanya padanya. Segalanya." Andre melirik Laras.


Laras mengira Andre malu karena kelihatan sangat emosional di hadapannya. "Mau kubuatkan minum?" tanya Rink pendek.


Andre menarik napas dalam kegelapan. "Maafkan, aku lupa. Kau tidak suka minuman keraskan?"


"Meski dibesarkan di rumah Saepul Anwar? Tidak," jawab Laras sambil tertawa kecil. "Aku tidak suka minuman beralkohol."


"Kalau begitu aku juga tidak minum." Andre bersandar di salah satu pegangan kursi yang didudukinya dan meletakkan gelas di lantai.


"Jangan begitu. Aku tidak keberatan kau minum. Aku tahu kau bukan peminum seperti ayahku." Komentar itu terlalu pribadi. Laras menatap Andre kalau‐kalau pria itu menangkap sesuatu dalam kata‐kata yang baru saja


diucapkannya.


Mata Andre yang keemasan beradu pandang denganmata Laras dalam kegelapan yang memisahkan mereka. Laras lebih dulu membuang muka.


"Kata Bi Ani, ayahmu sudah meninggal," ujar Andre akhirnya. Ia sama sekali tidak menyentuh gelas yang diletakkannya di lantai.


"Ya. Suatu pagi mereka menemukannya tewas di parit di tepi jalan tol. Katanya, serangan jantung. Kurasa akhirnya ia berhasil juga

__ADS_1


meracuni dirinya."


"Ibumu?"


"Ia meninggal beberapa tahun yang lalu." Tak terlihat emosi apa pun terpancar di mata Laras, karena ia memandang jauh kedepan. Usia ibu Laras belum lagi lima puluh tahun. Tetapi ia


bungkuk dan keriput ketika akhirnya dengan penuh syukur meninggal karena letih dan putus asa.


Andre bangkit dari kursi, lalu duduk di anak tangga paling atas, yang lebih dekat dengan tempat duduk Laras. Sambil menyilangkan kaki, Andre memiringkan tubuh dan bertumpu pada


siku. Pundaknya menyentuh kerangka kursi goyang, hampir menyentuh betis Laras.


"Coba ceritakan padaku, Laras. Apa yang terjadi setelah peristiwa musim panas itu, setelah aku pergi?"


Betapa ingin Laras menjulurkan tangan dan membelai rambut Andre, menyibakkan ram‐but hitam tebal itu dengan jemarinya.


Tubuh Andre tinggi lagi ramping, sifat maskulinnya tetap terpancar biarpun ia dalam keadaan diam.


"Aku menyelesaikan SMU‐ku, dan dapat beasiswa untuk melanjutkan ke universitas."


"Beasiswa? Bagaimana bisa?" Seketika Andre menoleh ke arah Laras dan kepalanya hampir saja mengenai tulang kering Laras. Segera Andre mundur. "Entahlah."


Andre menegakkan tubuh dan memandang Laras dengan tatapan mata penuh tanda tanya. "Entahlah? Laras menggeleng. Ia tidak dapat memusatkan pikiran.


Pikirannya berserak kacau balau bak daun‐daun yang berguguran ditiup angin musim gugur ketika disentuh Andre. Kini Andre duduk


sambil bertekuk lutut, kedua tangannya memeluk lutut. Jari‐jari tangan kiri Andre yang tergantung seperti hendak terjulur menyentuh


kaki Laras.


Andre menunggu penjelasan Laras, sehingga Laras terpaksa harus memusatkan pikiran dan memberikan jawaban, membuatnya tergagap ketika mulai menjawab. "Suatu hari, Kepala Sekolah memanggilku ke kantor. Itu beberapa hari sebelum pengumuman kelulusan. Kepala Sekolah bilang aku dapat beasiswa dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Orang itu akan menanggung semua biaya kuliahku. Bahkan aku dapat uang tambahan lima juta sebulan. Sampai hari ini aku tidak tahu siapa orang yang memberikan beasiswa itu padaku."


"Ya, ampun," ujar Andre sambil menahan napas. Bi Ani pernah menceritakan padanya di salah satu suratnya yang biasanya berisi gosip, tentang "anak perempuan Anwar" yang akan kuliah ("Kau barangkali tidak ingat padanya. Ia beberapa tahun di bawahmu. Anak Saepul Anwar. Begitulah, gadis itu ke kota dan melanjutkan sekolahnya, semua orang heran bagaimana ia mampu membiayai kuliahnya").


Lama sesudah itu Andre mendapat surat dari Diana. ("Ayah menceritakan padaku hari ini, ada gadis yang bernama Larasati Putri menikah dengan teman kuliahnya. Ayah bilang, dulu gadis itu tinggal di sini, dan katanya kau mungkin mengenalnya").


"Setelah meraih gelar sarjana, aku kembali ke kota ini," lanjut Laras.


"Pernikahanmu pasti tidak bertahan lama."

__ADS_1


Tatapan mata Andre yang penuh selidik membingungkan Laras. "Pernikahan?"


"Dengan teman kuliahmu."


__ADS_2