Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Malam Yang Panjang (3)


__ADS_3

Mendengar kata- kata Carlos baru saja membuat nafas Ayana tercekat, dengan tangannya yang gemetar dia mencoba menepis cengkeraman Carlos pada dagunya, tapi pria itu justru tersenyum licik.


"Kenapa? Bukankah kau yang datang padaku?" Carlos menyeringai, seperti seekor serigala kelaparan yang tengah menatap mangsanya.


"Tolong..." Ayana menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia tidak mau melakukan ini. "Jangan..."


Namun, permohonannya ini justru membuat Carlos semakin bersemangat.


Dengan satu gerakan mudah, Carlos mengangkat tubuh Ayana dan menyampirkannya di bahunya.


Carlos memukul bagian belakang tubuh Ayana ketika gadis itu meronta meminta untuk dilepaskan.


"Juan, sepertinya aku tidak bisa datang dalam rapat pagi ini. Kau handle masalah itu dulu sendiri saja, oke?" Carlos tampak ceria, dengan gadis di dalam cengkeramannya tentu saja dia akan menyia- nyiakan malam yang panjang ini.


Juan yang sudah mengetahui kebiasaan Carlos hanya melambaikan tangannya dan meminta pria itu untuk pergi dari hadapannya dengan Ayana yang masih meronta- ronta dan berteriak memaki.


"Bereskan semua ini," Juan melambaikan tangannya pada Nick dan ikut keluar dari ruangan berdarah itu dengan Cassandra membuntutinya dari belakang.


Tentu saja, wanita itu lebih dari senang saat harus melayani Juan malam ini, dia sangat menikmati saat- saat dirinya bersama dengan monster yang di takuti para mafia di pasar gelap.


Hanya saja, Cassandra tidak menyadari tatapan bengis yang Nick lemparkan pada dirinya dan Juan saat mereka berdua tidak melihat.


Juan melewatkan kebencian yang Nick sampaikan melalui matanya, tapi bukan hanya itu saja...


Juan juga melewatkan kesempatannya untuk mengenali gadis yang selama ini telah ia cari dan yang lebih buruknya lagi, dia tidak melakukan apapun ketika hidup gadis itu harus dirusak oleh sahabatnya sendiri.


Sementara dirinya menikmati malam dengan kenikmatan lain yang Cassandra tawarkan.


Begitu pintu kamar Juan tertutup, dia tidak lagi merupakan pria dingin yang tidak banyak bicara, tapi dia adalah sebuah nyala api yang membara dengan gairah yang menggebu- gebu.


Tidak ada kata lembut malam itu untuk Cassandra, segalanya liar dan panas.


"Liam..." Cassandra merintih saat Liam berada di atasnya, bergerak sangat cepat, sama sekali tidak mempedulikan wanita yang harus menerima segala kebrutalannya malam ini.


***


Carlos terbangun ketika sinar matahari menyorot matanya yang terpejam. Dia menggerutu karena telah lupa menutup jendelanya dan membiarkan tirai yang menutupinya terbuka.


Carlos tidak menyukai kalau harus terbangun sepagi ini.

__ADS_1


Sambil menggeliat, dia hendak bangun dan menutup kaca jendela ketika tangannya menyentuh tubuh yang hangat dan lembut, tertidur di sebelahnya.


Dengan dahi berkerut dan mata yang masih mengantuk, Carlos menatap gadis disebelahnya.


Ayana tengah tertidur dengan dahi berkerut dan ekspresi wajah yang seolah dia tengah menahan sakit.


Barulah setelah itu dia mengingat apa yang telah terjadi semalam dan sebuah seringai muncul di sudut bibirnya ketika dia mendapati bercak darah di atas sprei putihnya.


Dia mendapatkan jackpot. Sangat jarang mendapatkan 'barang' bagus seperti ini, terutama ketika semakin langkanya gadis seusia Ayana yang masih belum tersentuh.


Kebanyakan dari mereka sudah pernah melakukannya, terpaksa atau tidak, yang pasti sudah ada pria lain yang menyentuh mereka.


Karena mereka hidup dalam masyarakat yang sama sekali tidak mempedulikan para anomic, maka suara mereka pun tidak akan di dengar apabila mereka melaporkan hal ini pada yang berwenang sekalipun.


Namun, senyuman Carlos memudar seraya wajahnya berubah menjadi cemberut ketika dia menyadari kalau dia harus menghabisi Ayana.


Tidak peduli seberapa hebatnya Ayana di ranjang, dan gadis ini sama sekali jauh dari kata hebat, Carlos harus tetap menghabisinya.


Mereka tidak menyimpan para anomic untuk waktu yang lama.


"Sayang sekali," bisik Carlos, mengingat kejadian liar semalam.


Dia menyukai bagaimana Ayana memohon padanya dan kemudian permohonan itu verubah menjadi desahan ketika baik Carlos maupun Ayana, tidak bisa menahan diri lagi.


Dengan malas, Carlos turun dari ranjang dengan tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.


Dia berjalan menuju sebuah meja kecil di dekat jendela dan mengeluarkan sebuah pistol dari dalam lacinya.


Perlahan, Carlos kembali ke sisi ranjang dan duduk di samping tubuh Ayana yang telanjang.


Ada beberapa bagian dari tubuhnya yang memerah dan mulai membiru akibat apa yang Carlos lakukan padanya semalam dan ini justru membuat Carlos bangga pada dirinya sendiri.


Menarik pelatuknya, Carlos menempelkan pistol tersebut ke kepala Ayana, yang sepertinya masih belum terbangun.


Menikmati saat- saat terakhir ini, Carlos menelusuri tubuh Ayana yang terasa sedikit lwbih panas dari suhu normal.


Sepertinya dia demam.


Tapi, apa peduli Carlos? Gadis ini sebentar lagi akan mati, jadi tidak perlu baginya untuk memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


Saat jemari Carlos menyentuh setiap inci tubuh Ayana, punggungnya yang terekspos sangatlah indah dibawah sinar matahari, tapi kemudian matanya menangkap sesuatu dipinggul sebelah kiri Ayana.


Sebuah luka, sebuah luka terbakar.


Carlos sama sekali tidak menyadari ini semalam karena fokusnya berada di sisi lain tubuh Ayana.


***


"Kupikir kau tidak akan datang untuk rapat pagi ini." Juan melirik Carlos yang bergabung dengannya di meja makan untuk sarapan.


"Aku lapar," gumam Carlos dengan tidak bersemangat.


Juan yang mendengar alasan itu tentu saja tahu kalau Carlos hanya mengada- ada.


Carlos bisa saja meminta seseorang untuk membawakan sarapan ke kamarnya.


"Gadis semalam tidak bagus?" Juan menyuap crutong pada saladnya.


Karena hanya itulah satu- satunya alasan yang Juan bisa pikirkan, melihat mood Carlos yang tampaknya sangat tidak baik.


Saat Juan menyebutkan Ayana, Carlos menggerutu sesuatu yang tidak jelas, melambaikan tangannya untuk sebagai tanda agar Juan tidak membahas hal tersebut.


Pikiran Carlos masih saja terfokus pada luka di pinggul kiri Ayana.


"Kau sudah menyingkirkan gadis itu?" Juan mengganti pertanyaannya.


"Hm?" 'menyingkirkan' yang dimaksud Juan hanya memiliki satu arti dalam hal ini, yaitu membunuh gadis itu.


Bagi mereka, gadis seperti Ayana sangatlah mudah untuk digantikan dan mereka tidak perlu menyimpan sesuatu yangbtidak lagi berguna.


Juan kembali melirik ekspresi tidak tenang Carlos, tapi karena dia tidak mau mengatakan apa- apa, Juan pun tidak menanyakan lebih jauh.


Dan dengan itu, meja makan menjadi lebih hening, hanya terdengar suara pelan nafas mereka.


"Juan," Carlos menggigit daging panggangnya sambil melamun.


"Hm."


Carlos tampak ragu untuk bertanya, tapi kemudian dia menanyakannya juga.

__ADS_1


"Apa kau masih mencari gadis itu?" Carlos menelan salivanya. "Gadis dengan luka bakar di pinggul kirinya?"


Tanpa si duga, Juan meletakkan garpu yang dia pegang ke atas meja, cukup keras hingga dentingnya bergema.


__ADS_2