Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Pengkhianatan


__ADS_3

Ayana benar- benar tidak mengerti dengan cara Carlos memperlakukannya. Terkadang pria ini dapat sangat kasar dan tidak dapat ditebak, tapi kemudian dia akan bersikap sangat normal seolah- olah dia memiliki perasaan lebih pada Ayana.


 


Kecupan di atas luka memarnya berlangsung selama beberapa detik sebelum Carlos menarik diri dan merapikan rambut Ayana yang sedikit kusut.


 


Setelah itu, dia berjalan menjauh menuju pintu. Ayana tidak tahu apa yang dia lakukan atau darimana dia mendapatkan benda tersebut, tapi begitu Carlos kembali, di tangannya terdapat sebuah topi berwarna gelap.


 


Carlos kemudian mengenakan topi tersebut ke kepala Ayana dan merapihkan rambutnya agar luka- luka tersebut dapat tertutupi dengan sempurna.


 


“Okey, sekarang kita bisa pergi,” ucap Carlos yang lalu menggandeng tangan Ayana, keluar dari kamar hotel tersebut.


 


***  


 


“Apa yang kau dapatkan?” tanya Juan pada Nick, yang menghubunginya melalui telepon.


 


Di seberang lain sambungan telepon tersebut, suara Nick yang berat dapat terdengar. “Carlos membawa gadis itu ke rumah sakit untuk memeriksa luka- luka yang dia timbulkan.”


 


Nick memberitahu Juan mengenai pergerakan Carlos setelah dia pergi dari hotel tersebut, tapi bukan itu yang Juan inginkan.


 


Dia menginginkan latar belakang kehidupan Ayana sebelum dirinya jatuh ke tangan mereka dan terjerumus menjadi salah satu ‘mainan’ Carlos, yang tampaknya sangat dia sukai untuk saat ini.


 


Juan melakukan ini bukan karena dia ingin mengetahui segala hal yang berhubungan dengan Carlos ataupun mencampuri kehidupan pribadinya.


 


Namun, instingnya mengatakan kalau Carlos menyembunyikan sesuatu mengenai Ayana.


 


Dimulai dari kebohongannya yang mengatakan kalau dirinya telah menghabisi Ayana, padahal kenyataannya gadis itu tengah di rawat di salah satu ruangan kelas satu di rumah sakit bergengsi di kota ini.


 


Dan lagi, ketertarikan Carlos terhadap Ayana sedikit janggal menurut Juan. Dia terlihat menyukai gadis itu, tapi di sisi lain, dia tidak segan- segan untuk menyakitinya.


 


Itu bukan sifat Carlos, terutama saat dia menyukai sesuatu.


 


Bianca adalah sebuah contoh nyata dimana Carlos bahkan tidak akan menggenggam tangannya terlalu keras atau menaikkan nada suaranya pada wanita itu.

__ADS_1


 


Tapi, hal berbeda justru dialami oleh Ayana.


 


Sifat Carlos terhadap Ayana sangat kontradiktif dan Juan merasa hal ini perlu untuk di ketahui lebih dalam. Ada sesuatu yang Carlos sembunyikan darinya dan itu membuat Juan merasa tertantang.


 


“Maaf bos, beri saya waktu sedikit lagi,” ucap Nick, meminta pengertian pada Juan. “Gadis ini telah berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain terlalu sering, sehingga cukup membuat latar belakang kehidupannya sedikit sulit untuk diselidiki. Belum lagi dengan statusnya sebagai anomic…”


 


“Nick,” panggil Juan dengan suaranya yang dalam.


 


“Ya?” seketika itu juga Nick berhenti berceloteh dan membuat alasan ketika dia mendengar cara Juan memanggilnya. Walaupun Juan tidak menggunakan kata- kata kasar, atau membentak, tapi nada suaranya yang seperti inilah yang harus lebih Nick antisipasi.


 


“Apa kau pikir aku punya waktu untuk mendengar alasanmu?” tanya Juan, sambil memainkan pistol hitam di tangannya. Pistol yang sama yang dia berikan pada Ayana, yang pada akhirnya gadis itu gunakan untuk menodongkannya ke kepala Juan.


 


Menyadari kesalahannya, Nick segera meminta maaf dan berjanji akan memberitahukan kabar terbaru mengenai penyelidikannya kurang dari satu minggu.


 


“Satu minggu,” ucap Juan sambil melamun. “Kalau kau tidak bisa mendapatkan informasi yang berguna, maka aku akan memotong satu jarimu di satu hari keterlambatanmu.”


 


 


Tapi, kata- kata Juan tersebut membuat Nick bergidik dan merasakan nyeri di setiap ujung- ujung jarinya. Karena dia tahu dengan pasti kalau Juan akan benar- benar melakukan apa yang telah dia katakan.


 


“Baik. Satu minggu dan saya akan memberikan kabar baik,” ucap Nick dengan tergesa- gesa dan suara yang sedikit bergetar.


 


“Hm,” gumam Juan. Dia menutup telepon dan meletakkannya di atas meja, lalu memandang rona senja di kejauhan dari jendela kantornya.


 


***  


 


Ayana telah selesai diperiksa dan Dokter mengatakan untuk Carlos agar menghindari berbuhungan terlebih dahulu selama satu bulan ini. Karena apa yang Ayana alami pertama kali meninggalkan luka dan efek yang cukup membahayakan.  


 


Ayana tahu dengan pasti apa efek yang Dokter Nicolas maksud; dirinya yang akan sulit untuk mengandung atas apa yang menimpanya waktu itu.


 


Bukannya Ayana ingin memiliki seorang anak, tetapi situasinya tidak memungkinkan untuk mengurus hal lain, terutama ketika anak itu lahir dari hubungan semacam ini.

__ADS_1


 


Ayana sendiripun menjadi bertanya- tanya. Apa reaksi Carlos kalau dirinya sampai hamil. Mesikipun dia dikatakan akan sulit untuk memiliki keturunan, tapi kemungkinan kecil itu masih ada.


 


Seandainya benar, maka mungkin Carlos akan memintanya untuk menggugurkan janin tersebut.


 


Ayana menyentuh perutnya secara naluri. Merasa ketakutan kalau sampai hal itu terjadi. Mungkin, kondisinya yang menyedihkan itu merupakan salah satu hal yang harus dia syukuri, setidaknya tidak akan ada jiwa tidak berdosa lain yang akan menderita bersamanya.


 


Ayana dan Carlos saat ini tengah berada di dalam mobil. Mereka melaju membelah kemacetan jalan di malam hari, tanpa ada satupun suara yang terdengar di dalam mobil tersebut. Seolah keduanya membisu.


 


Ketika Carlos memusatkan perhatiannya pada jalanan di hadapannya, maka Ayana akan menjelajah di alam bawah sadarnya, memikirkan kemungkinan- kemungkinan yang akan terjadi pada hidupnya ini.


 


Hingga, kebisuan mereka, yang dilatarbelakangi oleh suara- suara mesin dari mobil yang melaju kencang, perlahan memudar ketika Carlos melajukan mobil tersebut keluar dari jalan utama, menuju jalan sepi di sebuah perumahan.


 


“Kita mau kemana?” tanya Ayana bingung, menatap sekelilingnya dengan penasaran. Meskipun ini pertama kalinya Carlos mengajaknya keluar dari apartment, tapi Ayana tahu kalau tempat ini bukanlah jalan menuju apartment yang ditinggali Carlos.


 


Terutama ketika Carlos memutar kendali mobil dan mengambil jalanan yang lebih sepi, menuju taman di perumahan itu yang sepertinya sudah tidak lagi digunakan.


 


“Ini bukan jalan pulang,” ucap Ayana, suaranya sangat pelan, sementara matanya dengan liar menatap keluar jendela, ke malam yang gelap.


 


Jantungnya berdegup cepat ketika Carlos menghentikan mobilnya tepat di bawah lampu jalan yang sepi dan mematikan mobilnya.


 


“Tunggu di sini,” ucap Carlos dengan suara yang rendah, lalu membuka seatbealtnya dan keluar dari mobil.


 


Ayana tidak menjawab, tapi matanya menatap ke sekelilingnya yang gelap. Dia tidak mau ditinggal sendirian.


 


Mau kemana Carlos? Dan mau apa dia ditempat seperti ini?


 


Sambil memicingkan matanya, Ayana mengikuti pergerakan Carlos yang ternyata menghampiri seseorang. Pria itu mengenakan jaket hitam, tapi walaupun dari kejauhan Ayana masih dapat mengenalinya.


 


Itu adalah Nick.


 

__ADS_1


__ADS_2