Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Apa Yang Kau Inginkan?


__ADS_3

Nick memicingkan matanya dengan berbahaya ketika dia mendengar hal tersebut dan segera menjauh dari Carlos.


 


“Aku setuju berpihak padamu karena aku tidak menyukai Juan, tapi kalau kau memperlakukan aku seperti ini, maka kau tidak ada bedanya dengan dia.” Nick mendorong Carlos menjauh dan menatapnya dengan tajam.


 


“Tentu saja aku berbeda dari Juan. Aku tidak meniduri Cassandra bukan? Dan jangan lupa, dalam hal ini, aku mengerti posisimu,” ucap Carlos dengan kata- kata penuh arti dan Nick tidak perlu penjelasan panjang lebar untuk mengerti apa yang Carlos maksud dengan itu.


 


“Jangan sentuh Cassandra,” geramnya.


 


Carlos kemudian tertawa ketika dia mendengar nada mengancam dari Nick. Dia mengangkat tangannya dengan sebuah senyum manis yang tampaknya tidak berbahaya. “Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak akan menyentuh Cassandra kalau kau tidak mengkhianatiku seperti kau mengkhianati Juan.”


 


Dalam dunia seperti ini, tidak ada orang yang bisa kau percaya seratus persen, karena saat kau bergantung pada orang tersebut dan menunjukkan kelemahanmu, maka pada saat itu juga kau akan dimanfaatkan tanpa ampun.


 


Dunia seperti inilah yang Juan, Carlos dan Nick tinggali dan jalani sepanjang harinya dan dunia seperti inilah juga yang harus Ayana pelajari untuk dapat bertahan hidup.


 


“Aku hanya perlu satu hal darimu. Cari tahu mengenai latar belakang gadis itu,” Carlos berkata sambil mengangguk ke arah mobil. “Dan beritahukan padaku terlebih dahulu, baru kau beritahukan hal ini pada Juan. Aku ingin segala informasi yang kau dapatkan untuk Juan, pastikan aku mendengarnya lebih dulu.”


 


Nick mendengus dengan sebal. Mereka berdua memang sama saja. Saat Juan mengancam dirinya dengan nyawanya sendiri, Carlos justru mengancamnya dengan wanita yang dia cintai.


 


“Aku akan memberitahumu lebih dulu segala informasi yang ku ketahui, tapi kalau sampai aku tidak menemukan apapun di kota R, aku ingin kau menyiapkan jalur pelarian diriku dan Cassandra. Aku akan menghilang dari dunia sialan ini,” rutuk Nick. Dia sudah muak diperintah oleh orang- orang ini, tapi untuk keluar dari organisasi tanpa bantuan siapapun, tentu saja itu hanya harapan kosong kalau tidak sebuah death wish.


 


“Tentu saja,” Carlos meyakinkan Nick sekali lagi. “Kau tidak perlu khawatir mengenai hal itu. Yang harus kau lakukan sekarang adalah pergi ke kota R dan cari tahu mengenai gadis yang terjebak dalam kebakaran sepuluh tahun lalu.”


 


“Kau tahu sebanyak itu?” Nick mengerutkan keningnya, kemudian dia menyadari sesuatu. “Kenapa kau tidak tanyakan saja langsung padanya, darimana dia berasal dan apa yang terjadi, kenapa kau harus repot- repot membuatku mencari jawaban yang sudah ada di depan mata.”


 

__ADS_1


Nick merasa sangat bodoh karena baru menyadari hal ini.


 


“Tentu saja aku sudah melakukan itu, sayangnya, ingatan gadis itu tidak begitu baik semenjak kebakaran yang menimpa keluarga asuhnya, dan kurasa detail itu yang ingin Juan ingin dengar kalau kau bisa membuktikannya,” jawab Carlos.


 


Untuk saat ini, Nick masih tidak memahami sepenuhnya apa yang Carlos inginkan, tapi tentu saja dia tidak punya pilihan lain dan petunjuk dari Carlos hanya satu- satunya hal yang dia miliki saat ini.


 


“Pastikan kau menghubungiku lebih dulu kalau kau menemukan sesuatu,” ucap Carlos sambil menepuk pundak Nick dan berjalan menjauh.


 


Carlos kemudian masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesinnya dan melaju, meninggalkan Nick sendirian diantara keremangan malam dan lampu taman.


 


Ini merupakan permainan yang berbahaya, tapi Carlos telah lama menantikan saat- saat seperti ini. Dan lagi, dia sudah muak menjadi orang kedua Juan.


 


*** 


 


 


“Tidak,” jawab Ayana dengan suara pelan, tapi suara perutnya berkata sebaliknya.


 


Ayana memang merasa sedikit lapar, tapi masih bisa dia tahan, hanya saja saat Carlos menyebutkan hal tersebut, justru rasa lapar itu menjadi terasa.


 


Mendengar suara perut Ayana, Carlos tertawa dan menjulurkan tangannya untuk mengacak- acak rambut Ayana. “Kau sungguh lucu. Mulut dan perutmu tidak berjalan secara sinkron,” komentar Carlos. “Kau mau makan apa?”


 


Mendengar suara Carlos yang begitu lembut dan penuh dengan perhatian, membuat Ayana tidak dapat mempercayai pendengarannya sendiri.


 


Apakah ini sisi lain dari Carlos lagi? Pikir Ayana.

__ADS_1


 


Selama dirinya bersama Carlos, Ayana telah melihat sisi jahat, buruk, keji, kasar dan tidak berperasaan dari Carlos, terutama ketika Carlos mencarinya dalam keadaan mabuk dengan niat untuk menuntaskan hasratnya.


 


Tapi, di sisi lain, saat Carlos dalam keadaan sadar seperti ini, dia tampak lebih manusiawi dan terlihat normal. Terkadang memang Carlos akan berkata sesuatu yang menyakitkan, tapi dirinya yang seperti ini akan tampak penuh perhatian, sabar dan menyenangkan.


 


Ayana tidak mengerti mengapa Carlos memiliki kepribadian yang rumit seperti ini? Sepertinya untuk satu saat dia akan tampak mudah di dekati, humoris dan mengayomi, tapi di detik berikutnya, dia dapat berubah seratus delapan puluh derajat dan menjadi dirinya yang bengis dan tidak berperasaan.


 


“Hei, aku tanya, kau mau makan apa?” tanya Carlos lagi, karena Ayana tidak kunjung menjawabnya dan hanya menatapnya dengan intense.


 


“Aku… apa saja,” jawab Ayana. Kehidupannya selama ini, tidak membiarkan dirinya menjadi orang yang pemilih dalam hal makan. Maka dari itu, apapun yang disajikan untuknya, pasti tidak akan ditolak selama itu masih layak.


 


Carlos mengerutkan dahinya mendengar jawaban Ayana dan merasa kurang senang dengan jawaban yang tidak pasti seperti itu. “Apa ada makanan tertentu yang ingin kau makan?”


 


Carlos melirik arlojinya sambil melihat- lihat restaurant yang mereka lewati. Pantas saja Ayana kelaparan, ini sudah waktunya makan malam, dan Carlos tidak ingat kapan terakhir kali Ayana makan dengan benar seharian ini selain susu dan roti yang dia konsumsi selama mereka di rumah sakit.


 


Ayana menatap Carlos yang tampaknya tidak senang dengan jawaban yang dia berikan, maka dari itu, dia mencoba untuk mengingat- ingat saat dirinya pernah menonton suatu acara di telivisi yang menyiarkan suatu acara memasak, saat itu, Ayana hanya dapat membayangkan makanan tersebut, karena sudah pasti Bertha tidak akan membiarkannya makan makanan itu.


 


“Aku ingin makan kepiting…” jawab Ayana dengan suara yang pelan. Lalu dia buru- buru menambahkan. “Kalau boleh… tapi, aku tidak keberatan makan apapun…”


 


Carlos tertawa saat mendengar Ayana berkata demikian. “Kan sudah kukatakan kalau kau boleh memakan apapun yang kau mau,” ucapnya. “Jadi kepiting?”


 


Ayana lalu mengangguk sambil tersenyum dengan senang. Seandainya saja Carlos selalu memperlakukannya seperti ini…


 


“Baiklah, kita makan kepiting.” Carlos mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Ayana. 

__ADS_1


__ADS_2