Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Carlos Sakit


__ADS_3

Ayana terdiam mendengar permintaan Carlos, dia tidak mengerti kenapa Carlos begitu ingin mendengar mengenai ceritanya di kota R, padahal dirinya telah mengatakan kalau memori masa lalunya sedikit kabur dalam ingatannya. Tapi, kenapa Carlos bertanya lagi?


 


“Aku tidak begitu mengingat kejadian itu, yang aku tahu hanyalah kebakaran yang terjadi di sana dan setelahnya aku tidak ingat lagi,” ucap Ayana dengan jujur, tidak ingin membuat Carlos marah.


 


Suasana seperti ini cukup menyenangkan bagi Ayana dimana Carlos memperlakukannya cukup baik, jadi dia tidak ingin merubah hati pria itu.


 


“Kenapa kebakaran itu bisa terjadi?” tanya Carlos lagi, dia masih tidak puas karena belum mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


 


Ayana memicingkan matanya, menatap kegelapan malam dan berpikir keras mengenai apa yang sebenarnya memicu hal tersebut terjadi. Tapi, selain bayangan samar kobaran api yang melahap ruangan tersebut, Ayana tidak dapat mengingat apapun lagi.


 


“Aku tidak tahu… yang aku ingat hanyalah saat aku sedang tertidur di kamar tidurku dan merasakan udara yang sangat panas,” Ayana berkata lamat- lamat. “Dan ketika aku membuka mata, asap sudah berada dimana- mana dan aku sendirian di sana.”


 


“Lalu bagaimana kau bisa selamat?” tanya Carlos lagi. Ayana bukanlah tokoh terkenal atau berpengaruh, jadi sangat tidak mungkin kalau ada yang tahu mengenai detail kejadian ini kecuali orang- orang yang terlibat.


 


Namun, tampaknya Ayana pun bukan bagian signifikan dari keluarga asuhnya untuk diingat. Menurut informasi yang Carlos terima, Ayana hanya berada di rumah itu selama satu minggu sebelum kejadian kebakaran tersebut dan setelahnya Ayana kembali ke panti asuhan dan kembali menjadi anomic yang siap menerima keluarga asuh baru.


 


System mengenai anomic ini memang seperti ini, maka dari itu sangat sulit untuk mencari rekam jejak orang- orang seperti Ayana ini.


 


“Itu…” Ayana bergumam, dia menelengkan kepalanya, seraya berusaha mengingat- ingat apa yang terjadi pada malam tersebut dan Carlos merasa cara Ayana melakukan itu tampak lucu. “Sepertinya…”


 


“Hm?” Carlos menunggu Ayana untuk mendapatkan beberapa potong ingatannya kembali dengan cukup sabar. Dia menatap wajah gadis itu yang masih menyisakan luka- luka lebam di kulit wajahnya yang pucat.


 


Carlos pun tidak mengerti, sejak kapan dia berubah menjadi sekasar ini pada wanita. Dirinya tidak seperti ini saat bersama dengan Bianca.


 


“Sepertinya ada seseorang yang datang untuk menyelamatkanku…” gumam Ayana dengan nada yang tidak yakin, dia kembali mengerjapkan matanya untuk mengingat kembali memorinya yang terlupakan.


 


“Seseorang?” desak Carlos kembali bertanya.


 


“Tapi, bisa saja itu hanyalah khayalanku saja,” Gumam Ayana lagi, dia kini memainkan ujung- ujung bajunya dan menatap Carlos dengan ragu- ragu. “Boleh aku bertanya sesuatu?” Tanyanya.


 


“Tidak,” jawab Carlos dengan segera. Dia tidak perlu mendengar apa yang Ayana ingin tanyakan, karena wajah Ayana sangat mudah terbaca seperti sebuah buku yang terbuka, maka dari itu, Carlos tidak perlu repot- repot untuk mendengar pertanyaannya.


 


“Oh, baiklah…” ucap Ayana dengan suara pelan, sedikit terkejut dengan penolakan Carlos. Padahal dia hanya ingin bertanya kenapa Carlos ingin mengetahui mengenai masa lalunya dan yang lebih spesifik lagi adalah; kejadian di kota R, pada saat kebakaran itu. Carlos bahkan seringkali menatap dengan tatapan kosong ke arah pinggul kirinya, dimana letak luka bakar Ayana.


 

__ADS_1


Tapi, kalau Carlos menolak untuk menjawab pertanyaan Ayana, maka apalagi yang bisa Ayana lakukan kecuali diam? Mungkin itu hanya rasa penasaran Carlos saja.


 


“Kita kembali ke dalam,” kata Carlos yang kemudian segera berdiri.


 


Tapi, yang membuat Ayana cukup terkejut adalah; Carlos mengulurkan tangannya untuk dirinya raih, dengan tujuan membantu Ayana untuk berdiri.


 


Untuk beberapa saat Ayana hanya mengerjapkan matanya sampai Carlos melambaikan tangannya di depan wajahnya.


 


“Apa yang kau lihat?” tegur Carlos, merasa kesal karena Ayana bergerak begitu lama.


 


Mendengar nada suara Carlos yang berubah, Ayana segera buru- buru meraih tangannya.


 


Genggaman Carlos kali ini begitu hangat dan tangannya sangat besar, Ayana beberapa kali memperhatikan tangan mereka yang terjalin. Tapi, kemudian dia kembali mengingatkan dirinya untuk tidak berharap banyak.


 


Kali ini, Carlos memperlakukannya dengan cukup baik, tapi tidak ada yang tahu bagaimana suasana hatinya beberapa waktu ke depan.


 


“Malam ini kau tidur denganku,” ucap Carlos dengan suaranya yang dingin.


 


 


“Tapi, dokter bilang…” Ayana bergerak- gerak gelisah dalam genggaman tangan Carlos dan berusah menjauhkan diri dari pria ini.


 


Tapi, genggamannya begitu kuat dan Ayana tidak bisa melepaskan dirinya.


 


“Hanya tidur,” ucap Carlos dengan singkat.


 


***  


 


Ayana terbangun ketika Carlos menarik tubuhnya lebih dekat dengannya dan dia merasa kepanasan, walaupun AC dikamar tersebut menyala.


 


Dengan tidak nyaman, Ayana berusaha menjauh, tapi Carlos justru mendekapnya semakin erat.


 


Pria itu memegang kata- katanya semalam yang mengatakan kalau mereka hanya akan tidur saja, dan benar, Carlos tidak melakukan apapun padanya.


 


Namun, hawa panas ini membuat Ayana menjadi tidak nyaman.

__ADS_1


 


Sebenarnya apa ini?


 


Ketika Ayana akhirnya membuka mata, dia mengerjap beberapa kali dan mendapati kalau hawa panas tersebut berasal dari Carlos.


 


Sepertinya pria ini demam?


 


Ayana membalik tubuhnya dengan susah payah dan menempelkan tangannya di leher dan dahi Carlos.


 


Ya, pria ini demam.


 


“Carlos, kau demam…” ucap Ayana dengan suara yang pelan.


 


Tapi, pria itu hanya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan justru mengistirahatkan dagunya di atas kepala Ayana.


 


“Aku akan mengambilkanmu obat sebentar,” ucap Ayana lagi, berharap Carlos mau mendengarkan dan melepaskannya. Rasanya sangat tidak nyaman di dekap seperti ini oleh orang yang tengah demam tinggi.


 


“Tidak perlu,” jawab Carlos dengan suara yang seperti gerutuan.


 


“Tapi…” Ayana mau membantah.


 


“Tidurlah,” ucap Carlos memotong kata- kata Ayana dan menarik selimut untuk menutupi mereka berdua.


 


Carlos yang demam merasa sedikit kedinginan, tapi Ayana justru merasa sebaliknya. Hampir sepanjang malam dirinya terjaga dan tidak bisa tidur kembali.


 


Maka dari itu, ketika matahari bersinar dan Carlos telah tertidur pulas dan tidak menyadari kalau Ayana menyelinap turun dari kasur, gadis itu segera membebaskan diri darinya dan keluar dari kamar.


 


Di dapur, dia menemui Dalia yang memberikannya senyum yang sumringah.


 


“Aku rasa kau tidak kembali ke kamarmu semalam, apa Carlos memintamu tidur dengannya?” tanya Dalia dengan nada yang riang. “Dan tampaknya dia memperlakukanmu dengan baik kali ini?”


 


“Dia memperlakukanku dengan baik kali ini,” jawab Ayana segera. “Tapi, sekarang sepertinya dia sakit, haruskah kita menelepon dokter?” kata Ayana, melanjutkan kalimatnya.


***


Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.

__ADS_1


@jikan_yo_tomare


__ADS_2