Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Carlos Sakit (2)


__ADS_3

“Sakit?” ulang Dalia dengan dahi berkerut. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Carlos jatuh sakit. Bahkan seingatnya, Carlos tidak pernah sakit selama dirinya berada di sini.


 


“Iya, tubuhnya panas,” ucap Ayana setengah meringis, mengingat dirinya yang harus di dekap semalaman seperti itu. Ayana merasa kalau dirinya sedang berada di dekat tungku pemanas.


 


“Baiklah, aku akan memeriksanya dulu, mungkin kau bisa buatkan sarapan untuknya,” ucap Dalia yang segera berjalan menuju kamar Carlos.


 


Wanita paruh baya itu tampak begitu khawatir dan panik saat ini, dan Ayana tidak begitu memahami mengapa Dalia memperlakukan Carlos dengan sangat perhatian, mengingat kalau dirinya pun adalah seorang anomic seperti dirinya.


 


Memang Dalia dulu pernah mengatakan kalau Carlos telah menyelamatkannya dari pemiliknya sebelumnya, yang tampaknya tidak memperlakukannya cukup baik.


 


Berdasarkan hal ini, Ayana bisa mengambil kesimpulan kalau sebenarnya Carlos tidak terlalu buruk. Dia memiliki sisi sensitive juga dalam menolong orang lain, kalau tidak, Dalia tidak akan begitu khawatir sekarang dan perasaan itu terlihat begitu tulus.


 


Dengan pikiran kalau Ayana pun bisa mengambil sisi baik Carlos, dia akan membuatkan semangkuk bubur untuknya. Mungkin dengan cara mengambil hati seperti ini, maka pria itu akan tetap memperlakukannya dengan baik.


 


Dan ketika Dalia kembali untuk mengambil sebuah tempat untuk menampung air dan handuk kecil, Ayana sedang membuat bubur.


 


“Aku akan coba mengompres tubuhnya,” ucap Dalia sambil mengambil air dan handuk kecil. “Kalau kau sudah selesai, bawakan bubur itu untuk Carlos dan juga obat di kotak obat yang ada di sana.” Dalia menunjuk kotak obat yang terletak tidak jauh dari Hailee, menempel di dinding dapur. “Kalau nanti panasnya tidak turun, baru nanti kita bawa dia ke dokter.”


 


Memang Carlos tidak pernah sakit sebelum ini, tapi Dalia selalu menyediakan obat- obatan dasar di rumah ini, memastikan kalau sewaktu- waktu diperlukan seperti sekarang, mereka memilikinya.


 


“Iya, baik,” jawab Ayana, lalu kembali fokus pada bubur yang tengah dimasaknya sementara Dalia kembali ke kamar Carlos.


 


Hanya butuh lima dua puluh menit bagi Ayana untuk menyelesaikan pekerjaannya dan membawa satu nampan berisi bubur dan the panas serta segelas air putih ke kamar Carlos.


 


Saat Ayana berada di sana, Carlos telah bangun dan Dalia tengah melap tubuhnya yang berkeringat agar dia bisa mengganti pakaiannya. AC pun telah dimatikan dan semua jendela dibuka agar udara pagi dapat masuk dan kamar ini dapat terasa lebih segar.


 


Carlos terlihat terengah dan sorot matanya yang sayu menatap Ayana.


 


“Biarkan dia yang melakukannya, kau bisa pergi,” ucap Carlos pada Dalia, sesaat setelah Ayana meletakkan nampan berisi bubur di atas nakas. “Bantu aku,” uap Carlos sambil mengambil kaos putih polos yang dipegang oleh Dalia dan menyodorkannya pada Ayana.


 


Ayana melirik Dalia sekilas yang kemudian mengangguk, lalu dengan ragu- ragu Ayana mengambil kaos tersebut sementara Dalia keluar dari kamar.

__ADS_1


 


“Kalau membutuhkan apa- apa, panggil saja,” ucap Dalia sambil menutup pintu kamar tersebut.


 


“Iya,” jawab Ayana dengan suara pelan.


 


Setelah hanya ada mereka berdua saja di kamar, Ayana segera membantu Carlos untuk mengenakan pakaiannya, jangan sampai dia bertambah sakit.


 


Di sisi lain, dengan ekspresi lelah, Carlos membiarkan Ayana untuk memakaikannya pakaian dan membereskan handuk kecil yang tadi digunakan untuk melap tubuhnya.


 


“Ini, makan dulu, baru setelah itu minum obatnya…” Ayana membawa nampan tadi ke dekat Carlos dan membiarkan pria itu mengambil mangkok buburnya dan melahapnya dengan perlahan.


 


“Duduk,” ucap Carlos dengan nada datar sambil melanjutkan makan.


 


Mendengar kata- kata Carlos, Ayana segera duduk dan menemaninya makan dalam diam. Beberapa kali Carlos tampak seperti akan menyudahi makannya, tapi ternyata tidak, dia menghabiskan satu mangkok bubur tersebut yang membuat Ayana tersenyum manis.


 


“Ini obatnya,” Ayana berkata sambil menyodorkan obat untuk Carlos dan segelas air putih. “Bagaimana kalau kita ke dokter saja?” tawar Ayana lagi, ketika melihat wajah Carlos yang pucat.


 


 


Sementara itu, ponselnya yang dia letakkan di atas meja kembali berbunyi. Sepanjang Carlos makan, ponsel itu memang kerap berdering, hanya saja pria itu tidak mengangkat panggilan dari siapapun yang meneleponnya. Dan tentu saja Ayana tidak akan berani berkomentar masalah ini, walaupun bunyinya sedikit mengganggu.


 


Barulah setelah dia selesai, Carlos mengangguk ke arah ponsel, mengindikasikan agar Ayana mengambilkannya untuknya.


 


Dengan sigap, Ayana mengambil benda kecil yang masih berdering itu dan menyerahkannya pada Carlos, sebelum akhirnya dia menjawab panggilan tersebut.


 


“Juan,” ucap Carlos dengan nada lelah, sambil merebahkan tubuhnya. “Aku sakit,” ucapnya seperti seorang anak kecil yang mengadu pada ibunya.


 


Mendengar itu, alis Ayana terangkat, dia tidak menyangka akan melihat sisi Carlos yang kekanak- kanakkan lagi seperti ini.


 


Karena, sikapnya yang seperti inilah yang pertama kali Ayana lihat saat dirinya bertemu Carlos, ketika akan melarikan diri dari rumah itu.


 


Carlos lah yang secara spesifik meminta Ayana agar menemaninya minum sementara gadis- gadis lain menemani tamu- tamu yang kini telah terbunuh dalam malam berdarah itu.

__ADS_1


 


“Hm,” gumam Carlos sambil memejamkan matanya. “Tidak perlu, kau tidak perlu datang ke sini,” ucapnya. “Oke.”


 


Carlos kemudian berbicara selama beberapa menit dengan Jun ditelepon sebelum akhirnya pembicaraan mereka berakhir.


 


Karena Carlos tidak mengatakan apa- apa, maka Ayana tetap berada di dalam kamar dan setelah dia telah selesai menelepon, barulah gadis itu meminta izin untuk keluar.


 


Sayangnya, Carlos menolak dan meminta Ayana untuk berbaring bersamanya. Lagi?


 


Ayana rasa, di saat sakit seperti ini, Carlos salah mengartikan dirinya dengan guling? Ayana jadi bertanya- tanya, mungkin panas tinggi yang di derita Carlos menyebabkan dirinya tidak bisa berpikir dengan benar?


 


Tapi, tentu saja Ayana tidak bisa menolak.


 


Dengan enggan, Ayana menghampiri Carlos dan tidur di samping pria itu, membiarkannya mendekapnya sampai tertidur.


 


Barulah setelah Ayana merasakan hembusan nafas Carlos yang hangat di tengkuknya menjadi lebih teratur, secara perlahan dia melepaskan dirinya dari pelukannya dan keluar dari kamar.


 


Tapi, sebelum itu, Ayana menutup jendela dan menyelimutinya.


 


Apabila seperti ini, Carlos tampak seperti anak kecil yang haus akan kasih sayang. Membuat perasaannya menjadi tidak keruan.


 


Ayana kesal karena dia dengan mudah dapat memaafkan Carlos hanya dengan sedikit kebaikan seperti ini.


 


Sambil merenung, Ayana keluar dari kamar dan mendapati kalau ada seseorang yang telah duduk di ruang tamu apartment ini.


 


Dia duduk dengan gayanya yang angkuh dan tampak acuh pada dunia.


 


“Juan?” suara Ayana terdengar seperti sebuah bisikkan, ketika menyadari siapa yang berada di sana.


***


Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.


@jikan_yo_tomare

__ADS_1


__ADS_2