
Carlos terlihat tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika dia mendengarnya, seolah komentar Juan tidak berarti apapun baginya, tapi genggaman tangannya pada Ayana mengerat.
“Dia memang gadis yang menarik,” Carlos berkata dengan santai sambil mengangkat bahunya dan lalu duduk di bangku, di sebelah Juan.
Juan menatap Carlos dengan seksama, lalu mengalihkan pandangannya pada Ayana. Menatapnya jauh lebih lama, hingga Ayana mengkerut di samping Carlos, merasa tidak nyaman dengan intensitas tatapan Juan.
Ruangan ini dipenuhi dengan berbagai bau yang sangat menyengat hidung Ayana. Dia bahkan tidak mengerti bagaimana orang- orang ini bisa menghabiskan banyak uang di tempat yang sama sekali tidak menyenangkan seperti ini.
Bukankah seharusnya kalau kau memiliki uang yang cukup banyak, kau bisa melakukan apapun yang kau suka? Dan berada dimanapun yang kau mau? Tapi, Ayana tidak bisa melihat sisi menarik dari tempat yang ramai dan bising ini. Atau mungkin, hanya dirinya saja yang merasa tidak nyaman berada disini.
Karena sebagian besar orang- orang di dalam ruangan, terutama para pria, mereka begitu menikmati yang tersaji di depan mata, seolah ini merupakan pemandangan yang wajar dan layak mereka dapatkan setelah mengeluarkan uang yang begitu besar.
Ayana mengangkat kepalanya ketika dia mendengar suara seorang wanita
“Kau butuh teman tambahan?” wanita itu bertanya sambil mengerlingkan matanya dengan genit pada Carlos. Dia lalu berjalan melewati Ayana lalu duduk di pangkuan Carlos tanpa menunggu jawaban darinya.
Karena posisi duduknya dan cara wanita itu menyilangkan kakinya dengan pongah, serta gaunnya yang teramat minim, sebagian besar dari pahanya yang mulus tersingkap. Menampilkan kulitnya yang seputih susu.
Wajah wanita ini sebenarnya biasa saja dan tidak terlalu cantik, hanya saja, dengan polesan make up yang tepat dan bagaimana dia membawa dirinya dengan sangat percaya diri, aura yang terpancar sungguh membuat siapa saja terpesona dan akan menatap padanya lagi dan lagi.
Sungguh rasa percaya diri yang kuat. Hal yang Ayana rasa tidak akan bisa dia dapatkan.
Wanita itu mulai bergerak mengikuti gerakan musik sambil menggesekkan tubuhnya pada Carlos, sementara pria itu tidak memberikan respon yang dia inginkan.
“Namanya Anna,” ucap salah satu pria di dalam ruangan, dia berkata sambil tertawa. “Dia akan sangat menyenangkan di atas ranjang. Kau harus mencobanya.” Pria itu kembali tertawa terbahak- bahak, hingga perutnya yang gendut terguncang. Tapi, tampaknya wanita- wanita di kiri kanannya sama sekali tidak terganggu dan justru tertawa bersamanya.
Ayana mengalihkan pandangannya ketika Anna ikut terkikik dan menurutkan kepalanya hingga dia dapat mencium bibir Carlos.
__ADS_1
Namun, di detik berikutnya, dapat terdengar suara menjerit kesakitan dari Anna dan wanita itu segera melompat turun dari pangkuan Carlos sambil memegangi bibirnya.
Ayana yang terkejut, segera menatap Anna dengan bingung dan baru setelahnya menyadari kalau Carlos telah menggigit bibir Anna dengan cukup keras hingga membuat bibir wanita itu sedikit berdarah.
“Wow! Carlos, kau tidak perlu menggigitnya,” ucap pria gemuk tadi sambil tertawa, dia sama sekali tidak merasa kasihan pada Anna dan hanya mengibaskan tangannya agar wanita itu pergi. “Kau sungguh kasar.”
“Benar, dia sangat kasar,” timpal seorang pria dengan perawakan yang lebih kurus. Tapi, kemudian tatapannya teralih ke arah Ayana. “Bagaimana kau bisa mengimbanginya yang kasar? Kau terlihat sangat lembut untuk mengimbangi Carlos.”
Mendengar komentar itu, seluruh pria di dalam ruangan segera mengalihkan perhatian mereka pada Ayana dan hal itu membuatnya semakin merasa tidak nyaman.
Kalau saja bisa, Ayana ingin menyembunyikan dirinya dari tatapan para pria hidung belang dengan dompet tebal seperti mereka ini, tapi sayangnya dia tidak bisa.
“Aku jadi penasaran…” Pria ketiga menatap Ayana dengan penuh minat. “Bagaimana rasanya wanita pilihan Carlos.”
Ayana merasakan firasat yang tidak baik mengenai situasinya, terutama ketika Carlos tidak melakukan apapun ataupun berkata sesuatu untuk membelanya, seolah Carlos membiarkan mereka menilai Ayana dan menatapnya dengan penuh nafsu.
Di sisi lain, Juan, yang sedari tadi tidak mengatakan apa- apa mengamati kejadian ini dan reaksi yang diberikan Carlos. Tapi, dia bahkan tidak memahami sahabat karibnya ini.
Carlos terlihat sangat berminat pada Ayana, dan itu bisa dipastikan dari cara Carlos menahannya di sisinya. Dan bahkan setelah berhari- hari, serta peringatan dari Juan agar Carlos membuang gadis ini, dia sama sekali tidak melakukannya dan memilih untuk membiarkannya.
Ini merupakan hal yang jarang terjadi.
Namun, di waktu yang bersamaan, Carlos tidak melakukan apapun saat para kolega bisnis mereka menatap Ayana dengan tatapan buas, seperti predator yang mencari mangsa.
Carlos seolah menganggap Ayana tidak lebih dari gadis- gadis yang pernah dia tiduri.
__ADS_1
Menarik. Batin Juan.
“Jadi, kau ingin tukar dengan wanitaku?” tanya pria dengan tubuh gempal, dari wajahnya yang sembab, Ayana tidak akan terkejut kalau dia sudah memiliki beberapa lusin anak dari beberapa wanita berbeda. Dia bahkan tampak seperti seseorang yang seharusnya sudah memiliki cucu.
Ayana bergidik. Dia menatap Carlos. Memohon dengan matanya agar Carlos tidak melakukan ini padanya.
“Kenapa? Kau ingin bersama dia juga?” tanya Carlos ketika dia menangkap sorot mata Ayana.
“Tidak…” Ayana menggelengkan kepalanya kuat- kuat. Dia hampir menangis ketika Carlos tidak menanggapi permintaannya.
“Suaramu terlalu pelan, mereka tidak bisa mendengarmu,” ucap Carlos dengan nada yang santai.
“Aku tidak mau,” ucap Ayana, dia menggenggam ujung baju Carlos, takut kalau pria ini akan berubah pikiran.
“Kau mendengarnya kan? Dia tidak mau,” Carlos berkata pada ke lima pria yang menatap Ayana dengan penuh minat. “Kalau dia menginginkannya aku akan memberikannya pada kalian.”
Setelah mendengar apa yang Carlos katakan, para pria itu lalu tertawa terbahak- bahak, hingga membuat wanita di samping mereka meringis karena suaranya yang kerasa.
“Bagaimana dia bisa memilih kalau yang dia tahu hanya dirimu?” tanya pria ke empat yang mengenakan kalung emas berbentuk rantai. Dia terlihat seperti seorang wanita yang hobi memamerkan perhiasan.
“Kau bisa membujuknya.” Carlos mengangkat bahunya dengan tidak peduli. “Kalau dia mau ikut denganmu, maka kau bisa membawanya.”
“Carlos…” Ayana terlihat ketakutan. Dia merapatkan dirinya ke arah Carlos berusaha untuk menghindari tangan yang menggapainya. “Aku tidak mau.”
Namun, sebelum tangan pria itu dapat menyentuh Ayana, Carlos telah menangkap pergelangan tangannya dan menyeringai dengan bengis.
__ADS_1
Dia lalu berkata dengan dingin. “Tidakkah kau dengar kalau dia tidak mau?” Carlos menatap pria itu dengan tajam.