Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Kau Sama Sekali Tidak Menarik


__ADS_3

“Aku tidak ingat…” jawab Ayana pelan. “Yang aku tahu, sesuatu terjadi dengan keluarga asuh ketigaku. Rumah mereka terbakar dan yang aku ingat hanyalah tersadar di rumah sakit.”


 


Carlos memicingkan matanya ketika mendengar penjelasan Ayana. Gadis itu tidak tampak berbohong. Tapi, tentu saja Carlos tidak akan percaya begitu saja.


 


“Jadi…” Carlos menelusupkan tangannya ke dalam baju Ayana dan menyentuh luka bakar di pinggul kirinya. “Jadi, karena itu kau mendapatkan luka ini?”


 


Ayana merasa tidak nyaman dengan sentuhan Carlos. Dia tidak akan pernah merasa nyaman dengan sentuhannya. Dia ingin menyingkirkan tangannya dari tubuhnya, tapi tahu kalau hal itu akan membuat marah pria ini, oleh karena itu, Ayana memilih diam tidak bergerak.


 


“Iya,” jawab Ayana. Dia mengangguk untuk menekankan jawabannya.


 


“Hm…” Carlos tampak berpikir. Tangannya masih berada di sekitar pinggul Ayana dan membuat gadis itu tidak bisa bergerak kemana- mana.


 


Carlos tahu kalau Juan mencari gadis seusia Ayana dengan luka bakar di pinggulnya, tapi dia tidak tahu cerita lain selain itu. Atau bagaimana gadis yang Juan cari mendapatkan luka bakar ataupun penjelasan lainnya.


 


Sepertinya Carlos harus mencari tahu lebih lanjut lagi mengenai cerita gadis kecil itu dari Juan.


 


“Baiklah,” Carlos berkata sambil menghembuskan nafasnya dengan berat dan berdiri. Dia tertawa kecil ketika melihat ekspresi lega yang melintasi wajah Ayana karena dia tidak memperpanjang masalah ini. Gadis ini sebetulnya cantik, kalau saja dia lebih berani dan berhenti menyembunyikan wajahnya.


 


Carlos mengulurkan tangannya dan menjepit dagu Ayana di antara kedua jarinya sambil memperhatikan wajahnya yang terlihat kuyu dan tidak terawat. Namun, tetap saja akan membuat pria manapun terpesona olehnya. Kalau saja Carlos tidak memiliki niat tersembunyi ini untuk Ayana, maka dia akan dengan senang hati menjadikannya wanita simpanan dan mendandaninya seperti boneka. Mengajarinya bagaimana memuaskannya.


 


Sayang sekali, Carlos memiliki niat lain padanya.


 


“Terimakasih atas makan siangnya.” Carlos mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir Ayana beberapa detik sebelum dia melepaskannya. “Sangat enak.”


 


Carlos mengerling pada Ayana yang tengah membelalakkan matanya, kali ini pria itu terlalu lelah untuk mengganggunya, dan terlalu kenyang hingga dia merasa ingin segera tidur di kasurnya yang empuk, maka dari itu, dia melepaskan Ayana.


 

__ADS_1


“Lain kali masakan sesuatu untukku lagi,” ucap Carlos sambil berjalan menjauh, menguap sepanjang koridor menuju kamarnya, meninggalkan Ayana yang segera membereskan bekas makan mereka berdua.


 


*** 


 


Carlos berjalan menuju kamarnya dan segera membuka bajunya, rasa lelah benar- benar telah membuat kepalanya sakit dan tidak ada yang paling diinginkannya saat ini kecuali tidur.


 


Tapi, sepertinya Carlos tidak bisa mendapatkan itu segera ketika dia medapati Abby tengah menunggunya di atas ranjang, mengenakan pakaian yang lebih cocok dia perlihatkan pada Sam ketimbang dirinya.


 


Dalam sekali lihat saja, Carlos dapat membaca apa yang wanita ini inginkan, seolah segala rencana di kepalanya tertera dalam sebuah running text di keningnya.


 


“Abby,” ucap Carlos. Dia berhenti membuka kemejanya dan menyandarkan tubuhnya dengan malas ke dinding di belakang tubuhnya. Menatap Abby dengan senyum palsu di bibirnya.


 


“Carlos,” ucap Abby dengan nada yang manja.


 


 


“Aku yakin Sam ada di kamar kalian yang biasa.” Carlos menahan kuapnya, merasa bosan dan ingin segera mengakhiri drama ini.


 


“Ya,” jawab Abby sambil berjalan mendekati Carlos, menggoyangkan pinggulnya dengan cara yang telah Carlos lihat jutaan kali. Hingga tidak lagi menarik di matanya.


 


“So?” Carlos mengangkat alisnya ketika Abby menyentuh dadanya yang terbuka dengan kuku- kuku jarinya yang lentik dan berwarna merah.


 


“Sam sedang tidur sekarang…” suara Abby terdengar begitu pelan, seperti sebuah bisikan saat dia menyentuh dada Carlos dengan bibirnya, sementara pria itu tidak memberikan reaksi apapun. “Jadi aku ke sini…”


 


“Aku tidak ingat kalau aku memintamu untuk datang ke sini.” Carlos menyipitkan matanya ketika Abby menggerakkan bibirnya di lehernya ketika dia berbicara.


 


“Tidak, aku datang atas inisiatifku sendiri,” ucap Abby dengan sebuah desahan di telinga Carlos dan pria itu masih tidak bergeming.

__ADS_1


 


“Jadi, apa yang membuatmu berpikir kalau aku ingin kau berada di sini menemaniku?” Carlos bertanya, menangkap tangan Abby yang bergerak menuju celananya dan menatap gadis itu mengerling dengan nakal.


 


“Kupikir kau merasa kesepian…” bisik Abby, mendorong Carlos ke arah tembok dan menggesekkan tubuhnya. Tetap, Carlos tidak memberikan reaksi yang Abby harapkan.


 


“Kesepian?” Carlos menyeringai, tapi sorot matanya menatap tajam ke dalam mata Abby yang hitam, seolah Carlos dapat menelanjangi Abby dengan hanya menatapnya. “Aku bisa mendapatkan gadis mana saja yang aku mau, gadis mana saja yang menurutku menarik.”


 


Abby bergerak mendekat, berusaha mencium Carlos, tapi gerakannya terhenti ketika Carlos melingkarkan jemarinya di sekeliling leher Abby, setengah mencekiknya sambil mencondongkan tubuhnya yang tinggi hingga dia dapat berbisik ke telinga gadis itu.


 


“Tapi, aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita milik pria lain. Wanita yang mendatangi kamar pria lain sementara prianya tengah tertidur, jauh lebih menjijikkan daripada ******* itu sendiri.”


 


 Nada suara Carlos tidak tinggi ataupun dia terdengar bengis, tapi intonasi suaranya yang tenang, seolah dia hanya sedang membicarakan cuaca, justru membuat Abby takut, terutama ketika Carlos menekan tenggorokkannya dengan lebih erat, membuatnya sulit bernafas dan menjadi panik.


 


“Kau seharusnya bersyukur, kau adalah wanita Sam, kalau bukan…” Carlos melepaskan genggamannya pada leher Abby dan mendorongnya begitu keras hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


 


Abby memegang lehernya dan merangkak mundur dengan ketakutan. Dia memang pernah mendengar seperti apa Carlos kalau sedang marah, tapi dia tidak pernah menyaksikannya secara langsung.


 


Di matanya, Carlos adalah pria menyenangkan dan easy- going, Abby pikir, akan mudah baginya untuk merayu Carlos. Tentu saja, wanita seperti Abby pasti menginginkan lebih. Sam saja tidak cukup untuknya.


 


“Pergilah dan panggil Ayana kemari. Dia jauh lebih menarik daripada dirimu yang menawarkan diri.” Carlos berjalan menuju ranjangnya sambil melepaskan kemejanya yang sudah setengah terbuka. “Kalau Ayana sampai tidak ada di sini dalam lima menit, aku sendiri yang akan memberitahu Sam mengenai kelakuanmu ini.”


 


Abby mengertakkkan giginya dengan kesal, dia merasa terhina. Bagaimana mungkin Ayana jauh lebih menarik daripada dirinya?!


 


Dengan langkah kesal, Abby berjalan menuju pintu dan merapikan pakaiannya yang tidak senonoh.


 


Abby tahu kalau Ayana adalah ‘mainan’ baru bagi Carlos, tapi kalau dirinya harus dibandingkan dengan gadis itu… itu merupakan sebuah penghinaan!

__ADS_1


 


__ADS_2