
...57. Ayana yang Berbeda (3)...
Setelah Carlos membersihkan luka- Luka di wajah Ayana, dia menyuruh Dalia untuk membuatkan makanan untuknya, dan walaupun Ayana sudah makan, tapi semangkuk sup tentu saja tidak akan cukup untuknya.
Setelah semuanya telah selesai, Carlos membiarkan Ayana tidur dan tidak lagi mengganggunya.
Besok merupakan hari dimana Carlos akan membawa Ayana untuk pergi meeting di atas kapal pesiar yang telah dia janjikan.
Di titik ini, rencana awal Carlos benar- benar tidak bisa dilakukannya kini.
Segala halnya menjadi rumit dan Carlos tidak menyukai hal ini, dimana rencananya tidak berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Sebuah asap putih tipis berhembus dari bibirnya, menguap di kegelapan malam dari sebatang rokok yang terselip diantara kedua jarinya.
Sekali lagi, Carlos menghembuskan nafas dengan berat.
***
“Apa yang kau coba lakukan Abby?” Sam menatap kekasihnya dengan sorot mata penuh amarah. Ini bukan pertama kalinya Sam menyadari kalau Abby mencoba untuk menjebaknya, tapi ini akan menjadi yang terakhir.
Sam tidak ingin menghadapi semua omong kosong yang Abby lontarkan padanya lagi, dan kejadian tadi merupakan batas dari kesabarannya.
"Aku tidak mencoba melakukan apapun, kenapa kau berpikir aku mau mencoba untuk mencelakaimu?" tanya Abby dengan suara yang terdengar sedikit bergetar. Matanya yang hitam terus menerus mencoba untuk mengalihkan pandangannya dari Sam, untuk menyembunyikan rasa bersalahnya.
Abby tahu konsekuensi dari tindakannya ini, apabila Carlos sampai mengetahui kalau Sam melanggar perintahnya. Hal tersebut akan berakhir fatal bagi Sam.
"Kau tidak mencoba untuk mencelakaiku?" Sam bertanya dengan sinis. Matanya yang gahar menunjukkan kemarahan yang selama ini sudah dirinya pendam.
"Sam, aku tidak mungkin melakukan itu…" Abby mendekati Sam dengan ekspresi wajah yang memelas. Matanya berkaca- kaca saat air mata mengancam untuk jatuh ke pipinya. "Tolonglah mengerti, aku tidak mungkin melakukan hal semacam itu padamu. Kita telah bersama selama bertahun- tahun."
"Ya," jawab Sam dengan nada yang dingin sambil menepis tangan Abby dari dirinya, dia dapat melihat guratan kekecewaan dari wajah wanita yang telah bersamanya selama ini, tapi Sam tidak akan tertipu lagi. Dia sudah cukup mengenal Abby untuk mengetahui kalau semua itu hanyalah kepura- puraan. "Tapi, yang kau inginkan adalah Carlos, bukan aku," desisnya.
__ADS_1
Keterkejutan terlihat jelas di wajah Abby, entah wanita itu terkejut karena Sam telah mengetahui motif tersembunyinya, atau dirinya terkejut karena memang benar- benar dia tidak berpikir seperti apa yang Sam pikirkan.
"Tentu saja aku menginginkanmu!" Abby memekik dengan nada tidak percaya. Dia segera bergerak mendekat dan mencoba untuk memeluk Sam lagi, tapi pria itu justru menghindarinya dan kembali menepis tangannya dengan kasar.
"Aku rasa, sudah cukup aku mentoleransimu selama ini Abby…" ucap Sam sebelum akhirnya dia berjalan keluar dari kamar mereka tanpa menoleh sedikitpun pada wanita itu.
Carlos kembali menghembuskan asap putih tipis dari rokok di antara jarinya, sementara di dalam asbak di dekatnya serta di sekitar kakinya, puntung- puntung rokok bertebaran, tak terhitung jumlahnya.
Ini adalah kebiasaan yang selalu Carlos lakukan setiap kali dirinya merasa tengah frustasi ataupun tengah banyak pikiran dan kali ini, Carlos memiliki kedua masalah tersebut.
Malam begitu kelam dan dengan lampu di balkon dimatikan, semuanya tapak begitu gelap.
Namun, Carlos menikmati kesunyian ini.
"Siapa itu?" Carlos mendengar suara bergemerisik dari arah belakangnya dan dengan naluriah segera berbalik, menatap kegelapan di hadapannya dengan sikap waspada.
Dan seseorang yang tidak dirinya dugalah yang justru menghampirinya kini. "Ayana?"
Dengan perlahan dan langkah yang canggung, Ayana mendekati Carlos dan memeluknya.
Carlos tidak mengerti apa yang merasuki Ayana, mengapa dia kini bersikap begitu intim dengannya? Apakah dia telah memukulnya terlalu keras hingga membuat ada salah satu saraf otaknya yang bekerja dengan tidak benar?
Kenapa gadis ini terlihat menjadi begitu berani padanya? Bukannya Carlos memprotes perubahan dalam diri Ayana ini, hanya saja dia telah terlanjur terbiasa dengan penolakannya.
"Kupikir kau tidur?" Dengan ragu- ragu Carlos memeluk tubuh Ayana.
Sementara itu, Ayana dapat mencium bau tembakau yang kuat dari tubuh Carlos. DIa tidak menyukianya, tapi dia tidak mengatakan apa- apa, ataupun melepaskan pelukannya dari tubuh Carlos.
"Kenapa kau sendirian di sini?" tanya Ayana dengan suara pelan. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Carlos dengan penuh perhatian.
Lagi- lagi Carlos terkejut ketika AYana menatapnya seperti itu. Apa yang terjadi dengan gadis ini?
__ADS_1
"Kembalilah ke kamar," ucap Carlos, sambil dengan perlahan dia mendorong lembut bahu AYana.
"Aku ingin di sini bersamamu…" ucap Ayana dengan lembut. Dia kembali membenamkan wajahnya di dada Carlos dan mengeratkan pelukannya pada pria itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Carlos dengan suara yang pelan, dia akhirnya menyerah dan menyandarkan punggungnya ke teralis balkon sambil memeluk Ayana dalam dekapannya. "Kenapa kau sekarang bersikap seperti ini?"
"Aku ingin mengerti dirimu lebih dalam," ucap Ayana tanpa pikir panjang, dan dia dapat mendengar tawa mengejek dari Carlos.
"Kau ingin mencoba untuk mengerti diriku?" tanya Carlos di sela- sela tawanya, tapi Ayana tidak memberikan reaksi yang menunjukkan kalau dirinya serius dengan apa yang dia ucapkan. "Kenapa? Kau tidak cukup kusakiti hingga kau ingin mengertiku lebih dalam lagi?"
Ayana menggelengkan kepalanya dan kembali menatap Carlos. "Aku pikir kau tidak seburuk itu… kau hanya sedikit…" Ayana mencoba mencari kata- kata yang tepat untuk mendeskripsikan Carlos. "… rumit."
Gadis itu pikir, Carlos akan menertawakannya lagi setelah apa yang dia katakan, tapi ternyata tidak. Pria itu mendengarkan dan ini merupakan suatu hal yang mendorong Ayana untuk berbicara lebih.
"Kau pasti memiliki alasanmu sendiri, mengapa kau memperlakukanku seperti itu…" Ayana berkata. "Kalau… kau memang menginginkanku, mungkin kita bisa mulai semuanya dari awal."
Ayana menunggu jawaban dari Carlos dengan mata yang bersinar penuh harap.
Tapi, Carlos tidak menjawabnya, ataupun mengubah ekspresi wajahnya. Dia hanya menatap Ayana dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang datar tanpa emosi.
"kau pernah mencintai Bianca begitu dalam… bisakah kau mencintaiku seperti itu? Dan aku tidak akan melakukan apa yang dia lakukan terhadapmu," Ayana berkata kembali.
Sapuan angin malam yang dingin berhembus, membuat tubuhnya sedikit menggigil dan bau tembakau yang memenuhi udara, tidak lagi mengganggunya. Namun, Carlos yang diam tanpa kata lah yang membuat Ayana menjadi tidak nyaman.
Setelah hening yang menyelimuti mereka berdua, Carlos akhirnya memutuskan untuk bersuara.
"Kau tidak tahu apa yang kau minta Ayana," ucapnya sambil mencium lembut bibir gadis di hadapannya ini.
***
Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.
__ADS_1
@jikan_yo_tomare