Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Tamu Tidak Terduga


__ADS_3

Juan telah menunggu di dalam apartemen selama sepuluh menit, Dalia lah yang membuka pintu, tetapi karena dia mengatakan kepadanya bahwa Ayana ada di dalam kamar bersama Carlos, maka dia memutuskan untuk menunggu di sana.


 


Juan menoleh dari layar laptopnya ketika dia mendengar namanya dipanggil, dan itu ternyata adalah Ayana. “Aku berasumsi kau tidak mencoba membunuhnya kali ini?” dia berkata dengan nada mencela.


 


Ayana benar- benar sedang tidak ingin berdebat dengan pria ini, apalagi diingatkan akan kejadian pada pagi hari itu.


 


Maka, dengan anggukan sopan, Ayana pergi menuju dapur dengan nampan di tangannya dan ingin segera masuk ke dalam kamar, bersembunyi di sana sampai Juan pergi.


 


Tapi, yang tidak diketahuinya adalah, pria itu justru mengikutinya ke dapur dan duduk di counter, tempat dimana Carlos biasa duduk, sambil menangkupkan tangannya di atas dagu, memandangi Ayana.


 


Ayana berusaha untuk mengabaikan sorot mata tajam yang menatapnya, tapi tidak bisa, karena dia merasa sorot mata itu seolah- olah membuat lubang di belakang kepalanya, membuat dirinya merasa tidak nyaman.


 


Akhirnya, ketika Ayana telah selesai mencuci piring dan gelas bekas makan Carlos, dengan tergesa- gesa, Ayana berniat untuk bergegas pergi dari sana, tapi Juan menghalangi jalannya dengan sengaja merentangkan kakinya dan membuat Ayana hampir jatuh tersungkur.


 


“Argh!” Ayana memekik kencang ketika wajahnya hampir tersungkur ke lantai, tapi dengan sigap, sebuah tangan menahannya, mencegah agar dia tidak terjatuh.


 


Dengan lembut, tangan tersebut menariknya dan membantunya agar dapat berdiri kembali, sambil masih memegang pinggangnya.


 


“Kau tidak apa- apa?” tanya Juan dengan nada tanpa dosa, memasang ekspresi wajah seolah dia khawatir, padahal karena dirinya lah Ayana hampir terjatuh.


 


“Menjauh dariku,” desis Ayana sambil mendorong tubuh Juan menjauh darinya.


 


Tapi, tanpa diduga, Juan sungguh melepaskan pegangannya pada pinggang Ayana dengan tiba- tiba, membuat gadis itu kembali kehilangan keseimbangannya dan benar- benar terjatuh dengan posisi terduduk di lantai.


 


Daripada rasa sakit, rasa malu lebih membuat Ayana geram atas tindakan yang dilakukan Juan. Apa maksudnya pria itu melakukan ini?!


 


Masih terduduk di lantai, Ayana memandang Juan dengan sengit sambil menengadahkan kepalanya dan yang dia dapati adalah Juan, yang tengah tersenyum dengan menghina sambil melipat kedua tangannya  di depan dada.

__ADS_1


 


“Kenapa?” tanya Juan sambil menelengkan kepalanya. “Bukankah kau yang memintaku untuk melepaskanmu?” tanya Juan lagi. “Sekarang kau ingin protes?”


 


Orang di luar sana, tidak akan percaya ketika melihat sisi kepribadian Juan ini, dia tidak biasanya tampil begitu santai dengan senyum malas terukir di wajahnya.


 


Ayana mengatupkan rahangnya dan segera bergerak mundur ketika Juan berlutut di hadapannya dan mencengkeram rahang Ayana dalam genggaman tangannya yang besar.


 


Gadis itu berusaha menepis tangan tersebut, tapi wajahnya justru terasa sakit karena Juan mengeratkan cengkeramannya tersebut.


 


“Katakan padaku, apa kau pernah tinggal di kota R?” tanya Juan, kali ini ekspresi santai yang dia tunjukkan beberapa detik yang lalu telah menghilang, tergantikan dengan wajah serius dan kaku yang dapat membuat jantung Ayana berdebar dengan ketakutan.


 


Dan satu hal lagi yang membuat Ayana tidak nyaman adalah; posisi mereka yang begitu dekat. Mereka begitu dekat hingga Ayana dapat mencium aroma maskulin dari parfume yang Juan kenakan.


 


“Apa kau pernah tinggal di kota R?” tanya Juan lagi. “Jawab aku,” tuntutnya.


 


 


Tapi, kenapa harus Ayana? Keadaan akan menjadi pelik kalau memang dialah gadis yang Juan selama ini cari.


 


Dan hanya ada satu cara untuk mencari tahu akan hal tersebut. Mata Juan lalu menatap sisi pinggang Ayana.


 


“Apa yang kau lakukan?!” Ayana memekik keras dan berusah menjauhkan Juan dari dirinya, ketika tangan pria itu berusaha untuk membuka pakaian yang Ayana kenakan. “Lepas!”


 


Ayana hampir menangis ketika Juan menahan kedua tangannya dengan mudah dalam satu genggaman, sementara tangannya yang lain, berusaha untuk mengangkat pakaiannya.


 


Sayangnya, sebelum usaha Juan tersebut berhasil, dia merasa ada sesuatu yang menghampirinya, dan berdasarkan insting, Juan segera memutar tubuhnya untuk menangkis tendangan yang tersasar ke arah kepalanya dari Carlos.


 


“Menjauh darinya!” raung Carlos dengan marah. Dia tampak terengah- engah karena demam yang masih dia derita dan pengaruh obat yang menguasai system tubuhnya dan membuat pria itu menjadi mengantuk.

__ADS_1


 


Carlos terbangun ketika dia mendengar pekikan pertama Ayana dan berusaha mencarinya, tapi begitu dia keluar kamar, dirinya justru mendengar suara keributan kecil dari arah dapur.


 


Sementara Dalia entah berada dimana, Carlos mempercepat langkah kakinya begitu dia mendengar suara Ayana kembali.


 


“Kenapa?” Juan bertanya dengan suara yang tenang, tapi di balik ketenangan itu, Carlos tahu ada bahaya yang mengintai dirinya. “Aku hanya ingin memastikan sesuatu,” ucap Juan.


 


“Kau tidak perlu memastikan apapun,” ucap Carlos dengan muram, dia berjalan ke arah Ayana dan merapihkan pakaiannya yang tadi sempat tersingkap, beruntungnya, bagian yang terbuka bukanlah bagian dimana Juan dapat melihat bagian pinggang Ayana.


 


“Kenapa?” Juan bersandar ke counter di belakangnya sambil menyilangkan tangan di depan dada, menatap ke arah Carlos dengan sorot mata penuh arti. “Aku hanya ingin tahu apakah dia pernah tinggal di kota R, sepuluh tahun lalu?”


 


Rahang Carlos mengeras ketika dia mendengar hal tersebut, tapi sedetik kemudian dia bersikap biasa saja, lalu dengan sigap dia membantu Ayana berdiri dan berkata padanya dengan nada yang rendah dan tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi.


 


“Kembali ke kamarmu,” ucap Carlos.


 


“Tetap di sini dan jawab pertanyaanku,” ucap Juan. Menahan kepergian Ayana. “Apa kau pernah tinggal di kota R, sepuluh tahun lalu?”


 


Carlos mengatupkan rahangnya dengan erat, hingga giginya gemeletuk ketika dia mendengar kata- kata Juan. Dia tidak mengerti darimana Juan mendapatkan informasi tersebut, tapi kalau informasi itu datangnya dari Nick, seharusnya dia memberitahukan Carlos lebih dulu, bukan?


 


Juan seolah dapat mendengar apa yang Carlos pikirkan ketika dia kembali berkata sambil mengarahkan perhatiannya pada Carlos, yang kini membiarkan Ayana berdiri di belakangnya, seolah Juan akan menerkam gadis itu kalau saja dia lengah.


 


Atau… mungkin saja dia melakukannya.


 


“Jangan mempercayai apa yang kau percayai, Carl, kau tahu aturan pertama di organisasi kita. Tidak ada yang selamanya. Dan jangan percaya siapapun,” ucap Juan dengan nada yang dingin. “Sekarang, katakan padaku, siapa dia?” Juang mengangguk ke arah Ayana. “Kenapa kau begitu protektif terhadapnya? Dan apa yang kau cari di kota R?”


 


 ***


Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.

__ADS_1


@jikan_yo_tomare


__ADS_2