
“Carlos mencarimu,” ucap Ayana dengan nada tertahan karena berusaha mengatur emosinya.
Ayana yang baru saja selesai mencuci piring bekas makannya dan Carlos menoleh dengan ekspresi ngeri terlukis jelas di wajahnya. “Apa? Kenapa?” dia bertanya dengan panik.
“Tidak tahu,” Abby berbohong, dia mengangkat bahunya. “Dia menunggumu di kamarnya.”
Mendengar kalau Carlos tengah menunggu dirinya di kamarnya, tidak membuat Ayana merasa lebih baik. Carlos tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke dalam kamarnya sebelum ini.
Karena setiap kali Carlos menginginkan sesuatu dari Ayana, dia akan datang ke kamarnya dan melakukan segalanya di sana.
Tapi, kenapa kali ini Carlos ingin agar Ayana pergi ke kamarnya?
“Aku tidak mau,” Ayana berkata pelan. Dia menggelengkan kepalanya. Dan dalam keadaannya yang tengah resah, Ayana tidak menyadari betapa anehnya Abby berpakaian di tengah hari bolong seperti ini, terutama ketika dia berkeliaran di ruang tamu dan menemui Carlos dengan pakaian seperti itu.
Abby menggeram dengan kesal ketika melihat reaksi Ayana. “Kalau kau tidak datang dalam lima menit, Carlos akan menghukummu.” Abby melangkah mendekati Ayana dan berkata dengan suara yang dramatis. “Kau tahu kan, apa yang akan terjadi kalau Carlos sangat marah padamu dan bahkan menghukummu karena kau tidak mematuhi perintahnya? Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu.”
Tanpa menunggu penolakan dari Ayana, Abby langsung berjalan menjauh, dia sangat kesal. Kesal karena Carlos membandingkannya dengan Ayana dan menghinanya.
Abby adalah seorang wanita yang dapat menusukmu dari belakang sambil tersenyum. Dan inilah yang Dalia ingin Ayana sadari. Namun, gadis itu terlalu naïf dan mempercayai Abby dengan buta. Dia belum belajar banyak bagaimana menghadapi dunia yang kejam dan penuh dengan intrik.
Ayana masih terlalu muda dan membutuhkan keberanian lebih untuk dirinya dapat mengenali siapa lawan dan siapa lawannya. Membutuhkan sebuah pengalaman untuk dirinya belajar bagaimana memanfaatkan keadaan.
Tapi, sebelum itu semua, Ayana harus melewati semua penderitaan ini terlebih dahulu agar dia mengerti kalau tidak selamanya diam dan menurut akan menjadikan dirinya baik- baik saja.
Ini adalah apa yang Dalia ingin Ayana pelajari.
Wanita paruh baya itu tidak menjelaskan dengan detail kenapa Ayana harus menjauhi Abby. Dia memperingatkannya, tapi Dalia ingin Ayana mempelajarinya sendiri.
Dalia ingin membantu Ayana, tapi pertama… Ayana harus menolong dirinya sendiri terlebih dahulu.
__ADS_1
***
Ayana berdiri di depan pintu kamar Carlos dan tidak bergerak dari sana hingga lima menit lamanya, tapi Ayana tidak mendengar suara apapun dari dalam, ataupun dia mendengar Carlos memanggilnya.
Jadi, apa Abby berbohong padanya? Tapi, tidak mungkin… Abby tidak mungkin berbohong pada Ayana mengenai masalah ini.
Ayana kembali mengetuk pintu kamar Carlos, tapi masih tidak ada jawaban.
“Carlos?” panggil Ayana dengan sangat pelan dan masih tidak ada jawaban.
Di sisi lain, Ayana merasa lega karena dirinya tidak perlu bertemu dengan pria itu, tapi dia juga tidak berani untuk beranjak dari sana.
Bagaimana kalau Carlos tiba- tiba keluar dan mencarinya dan ternyata dia tidak ada di sana? Bagaimana kalau dia nanti marah?
Lelah berdiri, Ayana bersandar di tembok di samping pintu kamar Carlos. Berdiri di sana untuk waktu yang lama hingga matahari terlihat terbenam dari kaca jendela besar di seberang ruangan.
Perlahan, entah kapan tepatnya, Ayana mulai mengantuk. Mungkin karena lelah atau mungkin karena memang dirinya terlalu mengantuk karena dia sudah lama tidak tidur dengan nyaman, Ayana mulai memejamkan matanya dan tertidur dalam posisi itu.
***
Ketika Carlos terbangun, dia mendapati dirinya berada di dalam kamar yang gelap. Dengan sedikit pusing, dia mengambil remote di samping kasurnya dan menyalakan lampu di dalam ruangan itu.
Cahaya terang yang tiba- tiba memaksa Carlos untuk memejamkan matanya dan mengusap wajahnya dengan kasar, sebelum dia bangun dari ranjang dan mengambil ponsel yang berada di meja kecil di seberang kamarnya.
Untuk sesaat, Carlos menatap pakaiannya yang tergeletak begitu saja di lantai dan teringat akan apa yang terjadi sebelum dia tidur.
“Wanita itu benar- benar tidak tahu di untung,” gerutu Carlos.
Carlos sudah menyadari niat Abby sejak lama, tapi tidak menyangka kalau wanita itu akan mengumpulkan keberanian dan melancarkan aksinya. Belum lagi dengan kenyataan bahwa Sam adalah orang kepercayaan Carlos. Bagaimana bisa Abby berpikir kalau Carlos akan jatuh padanya?
__ADS_1
Sam benar- benar harus berhati- hati dengan wanita yang dia sukai ini.
Carlos kemudian meraih ponsel dan menuang segelas air mineral ke dalam gelas untuk membasuh kerongkongannya yang terasa kering.
Dia duduk di atas single sofa dan bersantai untuk beberapa saat dengan membalas pesan- pesan yang masuk. Ada satu pesan dari Juan, mengingatkan dirinya akan perjalanan bisnis yang akan mereka lakukan tiga hari lagi.
“Menyebalkan…” Carlos bersungut- sungut.
Perjalanan bisnis ini tidak akan jauh berbeda dengan perjalanan bisnis sebelum dan sebelumnya. Yang disebut dengan perjalanan bisnis ini biasanya akan di awali dengan pesta, wanita, debat dan diakhiri dengan pembunuhan. Selalu begitu setiap kali mereka mendapatkan saingan bisnis yang mencoba- coba untuk mengusik Juan.
Dan seperti yang sudah- sudah, Juan terbebas dari itu semua dengan mudah. Koneksi yang baik dan uang yang banyak, dapat membuat dirimu kebal terhadap hukum. Terutama di kota T ini. Dimana setiap pejabatnya, berada dalam genggaman tangan Juan dan organisasi hitam miliknya.
Carlos mulai merasa bosan. Dia telah mengikuti Juan selama bertahun- tahun.
Namun, rasa bosan Carlos sepertinya sedikit terusik ketika rasa lapar menguasainya. Ternyata mie goreng yang Ayana buat terlalu sedikit, belum lagi karena dia harus membaginya juga dengan gadis itu.
Dengan niat untuk meminta Ayana membuatkan sesuatu untuknya, Carlos melangkah keluar kamar.
Namun, belum sempat Carlos berjalan menuju kamar Ayana, langkahnya terhenti ketika mendapati gadis itu tengah terduduk di samping pintu kamarnya.
“Hei, kenapa kau tidur di sini?” Carlos lalu berjongkok di samping Ayana, mengguncang tubuhnya, tapi dia tidak terbangun.
Ayana tampaknya terlalu lelah hingga dia tidur terlalu lelap, bahkan setelah Carlos memanggil namanya berkali- kali, Ayana masih belum sadarkan diri. Kepalanya masih terkulai di atas lengannya, dia bernafas dengan dalam dan teratur.
“Kenapa dia ada di sini?” Carlos bergumam pada dirinya sendiri, tapi kemudian dia ingat apa yang terjadi setelah dirinya mengusir Abby keluar dari kamar.
Carloslah yang meminta Abby untuk memanggil Ayana dengan maksud mengusir wanita itu sehingga dia tidak mengganggunya lagi.
Yang tidak Carlos duga, Ayana benar- benar datang dan menunggu di depan pintu kamarnya.
__ADS_1