
Ayana terbangun ketika sinar matahari pagi jatuh ke wajahnya dan membuatnya menyadari kalau hari sudah begitu terik.
Namun, bukan hanya terik matahari saja yang membuatnya terbangun, tapi pelukan erat dari seseorang di belakangnya lah yang membuat Ayana merasa tidak leluasa untuk bergerak.
Ketika Ayana telah sadar sepenuhnya, dia membalik badannya dan mendapati wajah Carlos yang masih tertidur, tepat di sampingnya.
Hembusan nafasnya yang hangat membelai tengkuk Ayana dan membuatnya sedikit merasakan sesuatu yang lain.
Semalam, mereka tidak melakukan apapun. Carlos membawanya ke kamarnya, tapi dirinya berjanji untuk tidak melakukan hal lebih, kecuali tidur. Dan pria ini menepati janjinya.
Ayana mengusap wajahnya dan menggerakkan tubuhnya agar dia dapat memandang wajah Carlos dengan lebih jelas.
Dengan berani, Ayana mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Carlos, merasakan rahangnya yang keras di bawah jari jemarinya dan juga merasakan rambutnya yang ikal dan sedikit kasar.
Jari Ayana kemudian menelusuri alis matanya dan hidungnya yang tinggi, serta bibirnya.
Ayana merasa momen seperti ini merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Entah kenapa, dirinya merasa nyaman dan tidak tertekan atas apa yang terjadi akhir- akhir ini.
Mungkin karena pembicaraan mereka semalam? Atau mungkin karena cara Carlos yang memperlakukannya dengan berbeda?
Entahlah… Ayana sangat yakin kalau dirinya tidak jatuh cinta pada Carlos. Dia bersikap seperti ini, hanya untuk bertahan hidup, agar kehidupannya tidak terlalu menyedihkan, tapi…
Ayana menyukai momen seperti ini, terutama ketika Carlos menjadi sedikit terbuka padanya dan memintanya untuk memahami kepribadiannya yang rumit.
Walaupun tidak semua hal Carlos katakan pada Ayana, ataupun alasan mengapa Carlos sampai harus bersitegang dengan Juan karena dirinya, tapi apa yang telah Ayana capai, dengan mendapatkan sedikit dari rasa percaya Carlos pada dirinya, sudah cukup membuatnya merasa senang.
Mungkin sebenarnya mereka memiliki jiwa yang sama.
Seseorang yang membutuhkan orang lain sebagai tempat bergantung setelah betapa keras dunia ini memperlakukan mereka.
Mungkin Carlos hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat setelah segala hal yang telah dia lakukan, begitu pula Ayana. Bagaimana dia membutuhkan tempat untuk bernaung setelah kepahitan yang dirinya rasakan.
'Aku sangat rumit Ayana,' Ayana ingat, itu adalah kata yang Carlos ucapkan setelah dia melepaskan ciumannya yang lembut.
Sebelum ini, Carlos tidak pernah mencium Ayana seperti itu. Pria ini menciumnya dengan sangat hati- hati semalam. Membuat Ayana meragukan dirinya. Apakah dia benar- benar Carlos yang sama?
Sekali lagi, Carlos menunjukkan sisi dirinya yang berbeda.
__ADS_1
'Tapi, aku ingin kau mengerti,' ucap Carlos lagi setelah mengatakan kata- kata yang pertama. Dia menangkupkan tangannya di ke dua sisi wajah Ayana dan menatapnya dengan dalam.
'Bisakah?'
Pertanyaan itu terngiang kembali di benak Ayana. Carlos meminta persetujuannya? Bahkan sebelum ini, bermimpipun Ayana tidak berani untuk membayangkan hal tersebut.
Dan sekali lagi, apa yang Dalia katakan adalah benar.
Carlos membutuhkan seseorang yang dapat meraih dirinya dalam keterpurukan dan keputus asaan.
Terlepas dari sikapnya di luar sana yang terkenal easy- going dan bertolak belakang dengan Juan, tapi di balik topengnya itu, Carlos tampak lebih dingin daripada Juan dan Ayana telah melihat betapa Carlos sangat acuh pada orang- orang di sekitarnya.
Serta kekejaman dan kerumitan pria ini…
Ayana kembali menelusuri bibir Juan yang sedikit terbuka, hingga ke dagunya.
Apakah benar ini adalah pria yang selama ini telah menyiksanya? Tapi, kenapa dia tampak begitu manis dan polos ketika dirinya tertidur seperti ini?
"Apa yang kau perhatikan?"
Ayana yang terkejut, dengan segera menarik tangannya dari wajah Carlos dan bersiap untuk menjauh, tapi Carlos berhasil menangkap tangannya dan memerangkap tubuhnya dalam dekapannya kembali.
"Aku suka kau menyentuhku…" ucap Carlos dengan suara yang masih terdengar mengantuk, seraya dia meletakkan kembali tangan Ayana ke telinganya, tempat dimana terakhir kali Ayana menyentuhnya dan lalu membenamkan wajahnya di tengkuk Ayana.
Ayana terkesiap dan tubuhnya menjadi kaku, dengan tangannya yang berada di telinga Carlos tapi tidak bergerak sama sekali.
"Sudah pagi… aku akan membuatkan sarapan untukmu," ucap Ayana, sambil berusaha membebaskan diri dari Carlos, tapi pria itu justru menariknya semakin mendekat.
"Apa kau lapar?" tanya Carlos.
"Mmh." Ayana berpikir sejenak sebelum dia menjawab. "Sebenarnya tidak terlalu," katanya dengan suara pelan.
"Aku juga tidak," ucap Carlos. "Kalau begitu, tidurlah sebentar lagi…"
Perjalanan mereka menuju tempat pertemuan dimana mereka akan menaiki kapal pesiar, tempat mereka akan melakukan meeting, yang Ayana sama sekali tidak ketahui dan mengerti, akan dilakukan malam ini.
Pagi ini, ketika Ayana terbangun kembali, Carlos telah tidak berada di sisinya, tapi dia meninggalkan surat di meja, di samping tempat tidur Ayana yang mengatakan dirinya untuk bersiap dan nanti sore akan ada seseorang yang akan mengantarkan pakaian yang Ayana akan pakai sebelum mereka berangkat ke tempat pertemuan.
__ADS_1
Melihat surat kecil itu, entah kenapa Ayana tersenyum. Hatinya terasa lebih ringan, hingga Dalia pun menyadari hal tersebut.
"Bagaimana?" tanya Dalia dengan tatapan penuh arti. "Apakah semuanya berjalan dengan baik?"
Ayana tersenyum malu- malu pada wanita paruh baya itu dan meletakkan semangkuk makanan untuk dirinya dan Dalia.
Mereka berdua memasak untuk makan siang dan kali ini, Carlos tidak lagi mengunci Ayana di dalam kamar.
Tentu saja ini merupakan salah satu hal yang membuat suasana hati Ayana menjadi jauh lebih baik lagi.
"Seharusnya aku mendengarkan kata- katamu dari awal," ucap Ayana sambil duduk di atas barstool dan meletakkan gelas minumannya.
"Sudah ku katakan bukan? Menangani Carlos tidak sesulit dan semengerikan yang kau bayangkan," ucap Dalia dengan nada penuh kemenangan karena Ayana mengakui kata- katanya benar. "Dia hanyalah sosok yang kesepian dan sekalinya dia menaruh minat padamu, maka akan sangat mudah bagimu untuk meluluhkan hatinya."
Ayana tersenyum.
Namun, bila Ayana tidak mengalami semua itu, mungkin dirinya tidak akan datang dengan inisiatif seperti ini, dan akan hidup dalam bayang- bayang ketakutan.
Segala hal memang ada konsekuensinya.
"Ah, aku lupa, aku harus menelepon seseorang," ucap Dalia. "Kau makanlah lebih dulu," katanya sambil terburu- buru pergi.
Ayana hanya tersenyum melihat wanita paruh baya itu pergi menjauh.
Namun, sebelum pintu dapur tertutup, sosok lain masuk ke dalam ruangan, dan Ayana segera mengenalinya.
"Abby," sapa Ayana dengan ramah.
"Jadi, hubunganmu dengan Carlos telah membaik, ya?" tanyanya dengan sedikit sinis, dari aroma yang tercium, Ayana dapat memastikan kalau wanita ini tengah mabuk.
Apa yang terjadi padanya hingga memutuskan untuk mabuk di siang hari seperti ini?
***
Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.
@jikan_yo_tomare
__ADS_1