
Ayana menatap Abby dengan waspada. Dari bau alkohol yang menguar dari mulutnya, Ayana dapat berasumsi kalau wanita ini telah mengkonsumsi minuman keras tersebut dalam kadar yang cukup banyak.
"Jadi, hubunganmu dengan Carlos telah membaik?" Abby kembali bertanya hal yang sama karena Ayana tidak menanggapi pertanyaan pertamanya. Matanya yang tidak fokus, menatap Ayana dengan nanar.
"Ya, hubungan kami sudah jauh lebih baik," jawab Ayana sambil menyuap makanannya, tanpa menatap Abby sama sekali.
Ayana telah mengetahui pertengkaran antara Abby dan Sam dari Dalia. Dan walaupun Ayana tidak tahu pasti apa yang menyebabkan kedua orang tersebut sampai bertengkar, tapi Ayana cukup yakin kalau hal itu masih ada kaitannya dengan kepulangan Carlos yang tiba- tiba.
Saat Sam memberitahu dirinya dan Dalia kalau Carlos akan segera tiba, pria itu sempat bergumam kalau Carlos seharusnya akan kembali sekitar jam makan malam, tapi kenyataan kalau dia pulang lima jam lebih awal, merupakan sebuah pertanyaan.
Maka dari itu, Ayana menarik kesimpulan bahwa Abby bukanlah orang yang tepat untuk dia dekati. Terlebih lagi dengan pertengkaran antara dirinya dan Sam, hal itu hanya membuat dugaan Ayana bertambah kuat.
Abby tidaklah sebaik seperti kelihatannya dan Ayana sempat merasakan tatapan penuh permusuhan darinya ketika Carlos tengah bersama Ayana. Terutama ketika pria itu menunjukkan minatnya padanya.
Entah apa yang Abby pikirkan, tapi Ayana merasa kalau dirinya harus waspada.
Dia sudah mulai mempelajari polah tingkah orang- orang di sekitarnya, maka dari itu, dirinya harus juga belajar siapa orang- orang yang bisa dipercayainya.
Dan tampaknya Abby tidak akan menjadi salah satu dari orang- orang itu…
Mata Abby menyipit dengan penuh selidik ketika dia mendengar jawaban dari Ayana, dia mencoba untuk mendekati gadis itu, tapi Ayana bergeser dan duduk di kursi yang berbeda, membuat guratan kesal begitu tampak jelas di ekspresi wajah mabuk Abby atas penolakannya yang cukup jelas terlihat.
"Aku hanya ingin memberitahukanmu sesuatu," Abby berkata, suaranya begitu rendah dan nafasnya begitu hangat, menyapu sisi wajah Ayana dengan bau yang cukup menyengat.
wanita ini sepertinya telah benar- benar terpuruk atas masalahnya dengan Sam, hingga berkelakuan seperti ini. Sebelumnya, walaupun senyuman yang Abby berikan pada Ayana adalah palsu, tapi setidaknya dia berusaha untuk berpura- pura bersikap baik padanya.
"Carlos tidak baik untukmu dan kau tidak akan sanggup untuk menanganinya," ucap Abby dengan nada yang terdengar begitu percaya diri. "Carlos merupakan sosok yang tidak akan pernah kau pahami, jadi menjauhlah darinya."
Ayana tidak menanggapi hal itu. Dia tidak ingin menanggapi orang yang mabuk dan orang yang berusaha untuk memprovokasinya. Dan Abby adalah keduanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan itu…" ucap Ayana dengan suara pelan, sambil masih menyuap makan siangnya. Dia melirik ke arah pintu dapur, berharap Dalia akan segera kembali sehingga dia tidak perlu berbicara dengan Abby lebih lama lagi.
Abby yang mendengar penolakan Ayana, memicingkan matanya dengan berbahaya. Pikirannya yang kalut dan telah terkontaminasi dengan minuman keras menganggap kata- kata Ayana adalah sebuah bentuk penghinaan baginya.
"Kau bilang apa?" tanya Abby dengan nada yang sangat sinis, seolah dia akan menerjang gadis di sampingnya ini sewaktu- waktu. "KAU TIDAK AKAN MELEPASKAN JUAN?!"
Ayana cukup terkejut ketika Abby membentaknya, tapi cukup tenang untuk memberikan reaksi atas sikapnya yang penuh dengan permusuhan.
"Tidak akan," jawab Ayana dengan nada yang pasti. Dia lalu berdiri ketika telah menyelesaikan makanannya dan berniat untuk mencuci piringnya yang telah kosong.
Namun, Abby menyentak pergelangan tangan Ayana dan membuat tubuh gadis itu berputar hingga menghadapinya.
Lalu, tanpa Ayana duga, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya dan piring di dalam pegangan tangannya terlepas, menimbulkan suara pecah yang menggema di dalam ruangan tersebut.
Ayana menatap pecahan piring di bawah kakinya dengan wajah yang memerah. Pipi kirinya yang di tampar oleh Abby terasa menyengat dan panas.
"Kenapa?" tanya Abby dengan suara penuh dengan nada mengejek. "Kau ingin menangis? Kau ingin memberitahu Carlos kalau aku baru saja menamparmu?"
"Kenapa?" tantang Abby, merasa di atas angin karena Ayana tidak melawannya. Dia berpikir kalau gadis ini masihlah gadis yang selama ini dia kenal.
Gadis yang lemah dan tidak akan melawan, walau apapun yang dilakukan terhadapnya.
"Kenapa diam saja? tidak suka?" tanya Abby lagi dengan suara yang lebih keras, alkohol telah mengacaukan pikirannya dan membuatnya menjadi tidak dapat mengontrol 'topeng baik' yang selama ini selalu dia kenakan.
Ayana masih terdiam.
"Kenapa? kau ingin menangis?" Abby bertanya lagi, kini dengan nada yang jauh lebih sinis dan suara yang lebih tinggi. "Kau ingin mengadu pada Carlos?"
Abby yang melihat Ayana tidak melawan, semakin membusungkan dadanya dengan percaya diri. Kali ini dia mengangkat tangannya untuk mendorong tubuh Ayana.
__ADS_1
Hanya saja, sebelum jari Abby dapat menyentuh dada Ayana, gadis itu telah menangkapnya dan mendorong tubuh wanita itu menjauh.
"Jangan sentuh aku," ucap Ayana dengan suara yang dingin. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Abby dengan sorot mata yang tajam.
Abby cukup terkejut mendapatkan perlawanan dari Ayana, dia sedikit terhuyung ke belakang sebelum akhirnya menemukan keseimbangannya dengan bertumpu pada meja bar.
"Kau?!" Seru Abby, "Kau berani mendorongku?!" dia menatap galak pada Ayana dan mencoba untuk menerjang gadis di hadapannya.
Namun, pengaruh alkohol membuat gerakannya tidak stabil hingga dengan mudah Ayana menghindarinya dan hal ini membuat Abby bertambah kesal.
Dengan geraman rendah dia mencoba untuk menarik rambut Ayana, matanya yang merah, menatap nyalang padanya dan membuat Ayana sedikit tersentak.
Tapi, untuk kedua kalinya Ayana berhasil menghindari Abby, dan tidak hanya itu, sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi wanita mabuk tersebut.
Kali ini Abby berhenti sesaat dalam usahanya untuk menyerang Ayana dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Bagaimana mungkin gadis yang bahkan tidak berani untuk menatap matanya beberapa hari lalu dan akan selalu tersenyum dengan penuh rasa terimakasih setiap kali Abby bersikap baik padanya, kini berani menamparnya.
"Kau berani sekali menamparku?!" Teriakan Abby menggelegar di dalam ruangan. Tampaknya tamparan dari Ayana menyadarkannya dari kondisi setengah sadarnya.
Di sisi lain, Ayana balas menatap Abby, tidak ada guratan ketakutan yang dapat terlihat di matanya.
Ayana sungguh terlihat berbeda kali ini.
"Jangan mencoba menamparku, atau memukulku lagi," ucap Ayana dengan suara yang tenang dan dingin. "Dan ya, aku tidak akan melepaskan Carlos. Apapun yang kau katakan."
Itu merupakan sebuah ancaman dan juga peringatan bagi Abby untuk berhenti berharap memiliki Carlos.
***
__ADS_1
Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.
@jikan_yo_tomare