Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Manipulasi (3)


__ADS_3

Setelah kejadian semalam, hubungan Ayana dan Carlos membaik. Ternyata memang dibutuhkan reaksi ekstrim untuk menghadapi situasi seperti semalam.


Pagi ini, Ayana terbangun karena merasakan tangan Carlos yang membelai punggungnya dan mengecup keningnya dan walaupun matahari telah bersinar begitu terang dari jendela kamar, Ayana masih begitu enggan meninggalkan ranjangnya.


Kejadian semalam dan apa yang harus dirinya hadapi benar- benar telah menguras emosinya secara fisik dan mental. Ayana bahkan merasa dia bisa tidur sepanjang hari ini hinggu keesokan paginya.


"Bangun…" ucap Carlos dengan lembut, sambil membelai rambut Hailee yang hitam dan terlihat berkilau di bawah cahaya matahari siang. "Kau melewatkan sarapanmu."


Ayana meregangkan tubuhnya, tapi menolak membuka mata, dia justru mengulurkan tangannya dan memeluk tubuh Carlos, membuat pria itu terkejut, tapi juga merasa senang dengan gestur yang Ayana berikan padanya.


Secara naluri, Carlos balas memeluk Ayana dan kembali mengecup keningnya.


"Apa kau tidak lapar pagi ini tidak makan apa- apa?" Carlos baru ingat kalau Ayana pun tidak makan terlalu banyak saat makan malam tadi.


"Tidak lapar…" ucap Ayana setengah mengantuk. "Apa kapalnya sudah jalan?" tanyanya yang mendapat sambutan tawa hangat dari Carlos.


"Tentu saja sudah. Kita sudah berada di tengah lautan sekarang," ucap Carlos dengan suara yang riang.


Ini merupakan pertama kalinya bagi Ayana menaiki kapal pesiar, pada awalnya dia berpikir kalau dirinya akan merasakan mabuk laut karena terombang- ambing di lautan, tapi ternyata kapal ini begitu stabil, bahkan Ayana tidak merasakan gerakan yang memabukkan sama sekali.


Walaupun kapasitas kapal pesiar ini dapat menampung hingga dua ratus orang, tapi sepertinya hanya separuh dari kapasitas kapal yang terisi, sehingga banyak tempat yang terlihat kosong.


"Bangunlah dan temani aku makan siang…" bujuk Carlos sambil mengecup pundak Ayana.


Seperti malam sebelumnya, mereka berdua tidak melakukan apapun kecuali tidur bersama. Hal ini sebenarnya cukup mengejutkan bagi Carlos, karena ternyata dirinya bisa hanya benar- benar tidur tanpa melakukan apapun dengan lawan jenisnya dan kejadian ini telah terjadi bukan hanya sekali.


Ayana lalu menggeliat di bawah pelukan Carlos sebelum dia membuka mata dan menguap.


"Siang?" tanyanya dengan suara yang serak.

__ADS_1


"Bangun dan temani aku makan," Carlos mengulangi kata- katanya lagi dan Ayana sempat melihat pria itu telah bersiap dan begitu rapih, tampaknya dia telah bangun pagi sekali.


Namun, entah kenapa Ayana merasa sangat lelah dan hanya ingin tidur.


Lalu dengan malas, dirinya menggulung tubuhnya ke balik selimut dan kembali memejamkan matanya.


"Ayana, tidak, kau harus bangun," gerutu Carlos sambil berusaha menarik selimut dari tubuh Ayana dan mengabaikan protes gadis itu.


"Hoam…" Ayana kembali menguap dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dia mengaduk- aduk makanan di hadapannya dengan tidak berselera.


"Kau sudah tidur sepanjang malam dan pagi, tapi kenapa kau tampak seperti seseorang yang belum tidur selama seminggu penuh?" Carlos menatap Ayana dengan sorot mata ingin tahu, khawatir kalau gadis ini sakit.


"Aku tidak tahu, rasanya mengantuk sekali," ucap Ayana, sepertinya tidak sanggup membiarkan matanya terbuka lebih lama.


Pada akhirnya, Carlos berhasil membawa Ayana makan siang di restaurant di deck kapal, tapi gadis ini tampaknya tidak begitu menikmatinya. Ini bukanlah kuapan pertamanya dan wajahnya terlihat sedikit pucat.


Awalnya, Carlos menyangka kalau Ayana hanya tengah mengantuk saja dan setelah selesai mandi, dia akan merasa lebih segar, tapi ternyata rasa kantuknya tidak hilang sama sekali.


Carlos kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada tegas. "Kau bisa kembali ke kamarmu setelah kau menyelesaikan makananmu." Dia tidak ingin Ayana sakit dan mengingatkan dirinya untuk memanggil seorang dokter untuk memeriksanya kalau kondisi gadis ini tidak membaik juga.


"Tapi, aku tidak selera…" Ayana merasa mual memakan daging asap yang tersaji di hadapannya itu, padahal dirinya bukanlah pemilih dalam urusan makanan. Namun, kenapa hari ini dia merasa dirinya tidak ingin memakan apapun.


Segala makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa seperti pasir.


"Kau ingin makan sesuatu yang lain?" tanya Carlos.


"Boleh aku makan nanti saja?" tanya Ayana, menatap Carlos dengan tatapan memelas. "Aku benar- benar merasa tidak enak…" ucapnya lemah.


Carlos terdiam sesaat dan menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia hanya memiliki waktu sepuluh menit sebelum pertemuan selanjutnya dimulai, pada awalnya Carlos akan membawa Ayana bersamanya, hanya saja melihat kondisi Ayana saat ini, sepertinya hal tersebut tidak mungkin untuk terjadi.

__ADS_1


"Kau ingin kembali ke kamar saja?" tanya Carlos memastikan dan melihat Ayana yang mengangguk kepadanya. "Baiklah, Sam akan mengantarmu ke kamar karena aku ada pertemuan selanjutnya, jadi aku tidak bisa menemani."


"Tidak apa- apa, aku bisa sendiri." Ayana buru- buru mengibaskan tangannya, menolak ide Carlos. Dia tidak ingin berdua saja dengan Sam setelah apa yang telah menimpa Abby.


Walaupun, tampaknya Sam sudah kembali seperti biasa dan bersikap seolah- olah tidak ada yang terjadi, tapi begitu banyak orang- orang yang mengenakan topeng seperti itu untuk menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya. Termasuk Ayana.


Maka dari itu, Ayana tidak bisa memastikan, apakah Sam benar- benar tidak mempedulikan Abby, atau dirinya hanya berpura- pura saja.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu kembali sendiri," ucap Carlos, bersikeras Ayana untuk pergi dengan salah satu orang kepercayaannya.


"Ayo, Ayana… aku akan mengantarmu ke kamar," ajak Sam sambil melangkah mendekati Ayana dan menunggu gadis itu untuk berdiri.


Melihat situasinya tidak terelakkan lagi seperti ini, Ayana akhirnya mengalah dan bangkit dari tempat duduknya.


"Kalau kau memerlukan apapun akan ada orang yang berjaga di luar kamarmu," Carlos pun ikut berdiri dan menunjukkan dua orang pria lain yang akan mengikuti Ayana untuk kembali ke kamar.


Tentu saja fakta ini membuat Ayana merasa sedikit lega. Setidaknya dia tidak akan hanya berdua saja dengan Sam.


"Baiklah," jawab Ayana, dia lalu berjinjit dan mencium bibir Carlos untuk sesaat dan membuat senyum pria itu tampak lebih menawan daripada langit biru di atas mereka. "Aku akan pergi sekarang dan tidak perlu memanggil dokter, aku rasa aku hanya perlu istirahat saja."


"Aku tidak janji," jawab Carlos. Dia lalu melepaskan Ayana untuk pergi dengan Sam dan dua pria lainnya, kembali ke kamar mereka.


Sepanjang lorong yang mereka lewati, Sam berjalan di samping Ayana tanpa mengatakan apapun. Maka dari itu, Ayana mengambil inisiatif untuk angkat suara.


"Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada Abby," ucap Ayana, memulai percakapan.


"Itu tidak perlu, karena Carlos akan merasakan hal yang sama," balas Sam.


 ***

__ADS_1


Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.


@jikan_yo_tomare


__ADS_2