Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Keputusan


__ADS_3

“Kenapa kau melakukan ini pada sahabatmu sendiri?” Ayana bertanya pada Juan sambil memicingkan matanya tidak mengerti. Apa yang sebenarnya pria ini inginkan. Semakin lama mereka berbicara, semakin Ayana tidak mengerti jalan pemikiran Juan.


 


Dia adalah sosok yang rumit dan sulit ditebak. Dan juga berbahaya. Hal terakhir adalah hal yang telah diketahui banyak orang.


 


“Apa dia pernah melakukan kesalahan padamu hingga kau memperlakukannya seperti musuh?” Ayana kembali bertanya. Dunia seperti apa sebenarnya yang mereka jalani hingga tidak ada satu orang pun yang dapat mereka percayai?


 


“Tidak,” Juan berkata dengan jujur. “Sebenarnya aku yang melakukan kesalahan padanya.”


 


Ayana semakin tidak mengerti. “Aku tidak mengerti.”


 


“Kau tidak perlu mengerti, little flower,” Juan tertawa kecil sambil mengusap kepala Ayana dan tindakan ini membuat gadis itu terkejut. Bukan karena panggilan yang Juan ucapkan, tapi karena dia tidak menyangka kalau Juan bisa begitu lembut terhadapnya.


 


“Bagaimana kalau aku tidak mau melakukannya?” Ayana bertanya dengan lebih berani sekarang. Mungkin karena sisi lembut yang Juan tunjukkan padanya baru saja atau karena memang Ayana sudah lelah menjadi pihak yang terintimidasi.


 


“Maka aku akan meminta Carlos untuk menyerahkanmu padaku,” jawab Juan dengan senyum yang merekah di wajahnya yang tampan. “Biar bagaimanapun juga, perbincangan ini merupakan rahasia kecil diantara kita berdua, jadi tidak seharusnya orang lain mengetahui hal ini, kan?”


 


 


“Aku tidak ingin memiliki rahasia denganmu.” Ayana menepis tangan Juan dari kepalanya dan menatapnya dengan galak.


 


“Kalau begitu aku akan berasumsi kalau kau ingin berada di sisiku,” Juan mengambil kesimpulan seenaknya. “Kalau kau pikir aku terlihat jauh lebih baik daripada Carlos, pikirkan kembali. Karena biar bagaimanapun juga, orang- orang busuk di luar sana akan lebih takut pada namaku daripada namanya.”


 


Setelah mengatakan hal tersebut Juan mengambil kembali pistol yang tadi dia letakkan di atas meja dan berjalan menjauh.


 


“Pikirkan kembali tawaranku,” ucap Juan sebelum akhirnya dia berbalik dan sosoknya menghilang di balik pintu yang tertutup, meninggalkan Ayana yang masih terpaku dengan wajah bingung dan tidak mengerti akan keputusan apa yang seharusnya dia ambil.


 


***  


 


Ketika dering ponsel di dekat telinga Carlos berteriak tanpa henti hingga puluhan kali, barulah kesadaran menyapa dirinya dan ini membuat pria itu segera tergagap dan bangkit dari tempat tidur dengan kepala sakit dan pandangan yang kabur. Dia terlalu banyak minum semalam.


 

__ADS_1


“Ya?” sapa Carlos pada penelepon di ujung sana dengan suara serak yang masih mengantuk. “Hm?” lalu matanya beralih ke pergelangan tangannya, dimana sebuah arloji dari keluaran brand terbaru melingkar di sana. “Aku akan ke sana nanti malam,” jawabnya.


 


Setelah itu, Carlos melanjutkan percakapan tersebut hingga beberapa saat sebelum akhirnya dia menutup sambungan telepon dan mengusap wajahnya dengan kasar.


 


Tapi, hal pertama yang dia sadari adalah; tidak ada seorangpun di samping tempat tidurnya. Ayana tidak ada di sana.


 


Menyadari akan hal tersebut dan mengingat kalau dia tidak mengunci pintu sama sekali, Carlos segera melompat dari tempat tidurnya dan bergegas mencari sosok gadis tersebut.


 


“AYANA! AYANA!” Teriak Carlos dengan panik, seribu satu kemungkinan berkejaran di dalam kepalanya dan rasa kesal mulai membuncah di dadanya. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu, karena dia merupakan kunci baginya untuk membalas Juan.


 


Tapi, semua kepanikan tersebut seketika itu juga lenyap ketika Carlos mendengar suara lembut Ayana yang memanggil namanya dari balik pintu bathroom.


 


“Ada apa?” tanya Ayana dengan suara pelan.


 


Gadis itu tengah berdiri dengan mengenakan bathrobe putih dan rambut hitam panjangnya yang tergelung di atas kepala. Dia terlihat manis kalau saja memar- memar di sekitar leher, tangan dan wajahnya tidak terlihat.


 


 


“Apa ini aku yang melakukannya?” Carlos berjalan mendekati Ayana dan menyentuh sisi wajahnya yang terlihat membiru.


 


Ayana meringis ketika tangan Carlos yang kasar dan dingin menyentuh memar di wajahnya. “Iya,” jawab Ayana tanpa menyembunyikan ekspresi kesakitannnya.


 


Mendengar itu, Carlos mengeraskan rahangnya. Kebiasaan minumnya memang selalu menjadikannya seperti ini dan kali ini, Carlos tidak benar- benar menginginkannya berakhir dengan dirinya menyakiti Ayana.


 


“Ganti bajumu, kita akan ke rumah sakit,” ucap Carlos sambil menahan emosinya.


 


“Ke rumah sakit?” Ayana terkesiap tidak percaya. Kenapa Carlos terlihat peduli padanya? Apakah dia masuk berada di bawah pengaruh alcohol dan tidak sepenuhnya sadar apa yang dia katakan atau akan lakukan sekarang?


 


“Ya, ganti bajumu,” ucap Carlos lagi dengan nada agak kesal karena Ayana mempertanyakannya. Dia kemudian berjalan untuk masuk ke dalam bathroom untuk mencuci wajahnya agar dia merasa lebih sadar dari mabuknya semalam.


 

__ADS_1


Namun, setelah Carlos selesai dan keluar dari sana, dia masih mendapati Ayana berdiri di posisi yang sama.


 


“Apa yang kau lakukan?” tanya Carlos, heran melihat Ayana yang tidak bergerak sama sekali. “Bukankah ku katakan padamu untuk berganti baju dan kita akan kerumah sakit? Kenapa kau masih berdiri diam di sana?”


 


Ayana mengangkat kepalanya dan menatap Carlos dengan wajah tanpa ekspresi sambil berkata, “kau merusak gaun yang ku kenakan semalam hingga tidak bisa ku kenakan lagi dan aku juga tidak membawa pakaian ganti,” jawab Ayana. Dia melirik pada gaun malang yang Carlos telah rusak semalam, gaun itu tercampakkan begitu saja di atas lantai.


 


Sementara itu, Carlos mengikuti arah pandang Ayana dan melihat gaun tersebut. Dengan kesal pria itu mendecakkan lidahnya dan segera mencari ponselnya.


 


Carlos berbicara cepat di telepon, memerintahkan sesuatu.


 


“Seseorang akan datang ke sini untuk mengantarkan pakaian untukmu,” ucap Carlos dengan cepat setelah dia menutup sambungan teleponnya. “Aku akan menemui Juan sebentar dan aku ingin saat aku kembali, kau sudah siap.”


 


Ayana menatap Carlos yang berjalan ke arah pintu dengan terburu- buru. Tapi, sebelum dia benar- benar pergi, pria itu berbalik dan menatap tajam pada Ayana.


 


“Aku tidak mendengar jawabanmu. Apa kau mengerti?” Carlos mengulangi pertannyaannya, kali ini dia menggunakan nada yang lebih kasar pada Ayana.


 


“Aku mengerti,” jawab Ayana segera yang kemudian mendapatkan anggukan persetujuan dari Carlos.


 


“Aku akan segera kembali,” gumam Carlos sebelum menutup pintu.


 


Dari dalam, Ayana dapat mendengar suara pintu yang terkunci. Carlos menguncinya di dalam kamar hotel ini dan itu bukan suatu kejutan bagi Ayana.


 


Hal yang mengejutkan bagi gadis itu adalah; mendapati dirinya sendiri memikirkan rencana apa yang harus dia lakukan agar terbebas dari Carlos.


 


Apakah dengan menyetujui permintaan Juan dan bekerja sama dengannya merupakan keputusan yang tepat?


***


Author note: per tanggal 1 desember akan upadate setiap hari di jam 17.00 wib.


Cek instagramku ya ((^0^))


@jikan_yo_tomare

__ADS_1


__ADS_2