
Ayana mendapatkan kiriman sebuah sweater berwarna putih dan sebuah celana jeans berwarna biru tua, lalu sebuah tas tangan berwarna senada dengan sweater nya.
Walaupun pakaian yang Carlos kirimkan padanya terlihat sederhana, tapi tentu saja harga selangit yang tertera pada brand ternama itu akan membuat siapa saja mendecakkan lidahnya dengan setuju.
Seorang anomic yang mendapatkan barang mewah seharga dengan ratusan anomic lainnya, bukanlah merupakan hal yang wajar dan pantas.
Tapi, pada kenyataannya, Carlos menghadiahkan semua ini untuk Ayana dan yang paling membuat gadis itu senang adalah; kenyataan bahwa dia tidak harus mengenakan pakaian Bianca yang sangat terbuka dan membuat dirinya menjadi tidak nyaman.
Yang Ayana kenakan saat ini adalah sebuah pakaian yang sesuai dengan seleranya dan tidak mengekspos dirinya terlalu berlebihan.
Ayana tengah menatap sweaternya dan merasakan betapa halus material yang digunakan untuk baju tersebut, ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya.
Tentu saja hal ini membuat Ayana tersentak dan, secara naluri, segera menatap ke arah pintu, dimana Carlos tengah berdiri di sana. Menjulang, hingga puncak kepalanya hampir menyentuh frame pintu.
Dia terlihat rapih dan jauh lebih santai dengan kemeja hitam dan celana hitam yang dia kenakan. Tapi, warna hitam yang Carlos pakai membuat perasaan Ayana sedikit tidak enak, karena warna ini mengingatkannya pada suasana berkabung.
"Kau suka?" tanya Carlos sambil melangkah masuk ke dalam kamar, matanya tidak lepas menatap Ayana dan wajah terkejutnya. "Ada apa dengan wajahmu?" tanya Carlos ketika dia sudah cukup dekat untuk melihat tamparan yang ditinggalkan oleh Abby di pipi Ayana.
Carlos ingat terakhir kali dia melihatnya, Ayana tidak memiliki luka ini.
"Ini…" Ayana tampak ragu, tapi kemudian dia menjawabnya dengan jujur. "Ada salah paham antara aku dan Abby, dan dia menamparku…" akunya.
"Apa?" Carlos memicingkan matanya dengan berbahya ketika dia mendengar jawaban Ayana.
"Tapi, tidak apa… Sam bilang dia akan menegurnya," lalu Ayana menambahkan. "Abby mabuk tadi… jadi, mungkin dia tidak sadar akan apa yang dia lakukan."
Carlos tidak mengatakan apa- apa lagi. Namun, sorot matanya mengatakan kalau Abby tidak akan dia biarkan begitu saja.
"Kupikir kau akan datang nanti malam…" ucap Ayana pelan.
Sebelumnya Carlos mengatakan kalau dia akan datang untuk menjemputnya, yang berarti dia hanya perlu menunggu di dalam mobil sementara Sam mengantarkannya.
__ADS_1
Tapi, pakaian yang Ayana harus kenakan baru saja sampai dan Carlos terlalu cepat datang karena matahari masih tampak di ujung cakrawala.
"Kau suka?" tanya Carlos lagi, menanyakan pertanyaan yang sama ketika Ayana tidak kunjung menjawabnya. Dia berhenti tepat di depan gadis itu dan menatap Ayana dengan sangat intense hingga dia dapat melihat semu merah di pipinya ketika dia mengangguk dan menatapnya kembali dengan mata yang berbinar.
Tanpa Carlos sadari, dia ikut tersenyum dengannya.
Melihat sebuah senyuman tulus di wajah Carlos, Ayana sedikit terkesiap. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak yakin dengan apa yang dia lihat.
Seingat Ayana, Carlos tidak pernah tersenyum seperti ini. Dia akan selalu memiliki senyuman sinis atau sindiran. Dan walaupun dia tengah tersenyum lebar, tapi matanya akan mengatakan hal yang berbeda.
Namun, kali ini Carlos benar- benar tersenyum, dan itu sangat indah untuk dilihat.
"Ada apa?" Senyum Carlos memudar ketika dia melihat Ayana sedang menatapnya dengan keheranan. "Ada sesuatu di wajahku?"
Ayana mengerjapkan matanya lagi dan seulas senyum yang lebih menawan menghiasi wajahnya kembali. "Iya," jawabnya singkat.
Melihat Ayana mengangguk, secara naluri, Carlos menyentuh wajahnya, memastikan kalau ada sesuatu di sana. Namun, tidak ada apa- apa dan dia kembali menatap Ayana dengan sorot mata bertanya.
Kata- kata Ayana terdengar begitu klise, tapi entah kenapa kalimat itu justru membuat Carlos tersenyum. "Kau ternyata pandai merangkai kata," ucapnya.
"Aku suka pakaian yang kau kirimkan untukku." Ayana lalu berjinjit dan mencium pipi Carlos. "Sangat suka."
Carlos bisa merasakan nafas Ayana yang hangat berhembus di lehernya, ketika gadis itu berbicara dan ada desiran kuat yang mengontrol tubuhnya ketika Ayana begitu dekat dengannya.
pria itu lalu menangkap pinggang Ayana yang ramping, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah saat dirinya melakukan itu, Ayana justru mengalungkan lengannya di sekitar lehernya, sambil tersenyum dengan hangat.
"Apa yang kau lakukan?" Carlos memicingkan matanya ketika dia melihat Ayana yang berusaha menghindari tatapan matanya.
Sebenarnya, Ayana pun tidak mengerti mengapa dia melakukan ini. Hanya saja, ini merupakan satu dari beberapa hal yang Dalia tekankan untuk Ayana lakukan dalam salah satu sarannya untuk merayu Carlos.
Dalia menekankan hal ini berkali- kali.
__ADS_1
Dan Ayana merasa kalau wanita paruh baya itu merupakan seorang expert dalam hal seperti ini. Sehingga dia tahu apa yang para pria itu akan lakukan dan bagaimana merayu mereka.
Ayana bergumam sesuatu tidak jelas dan Carlos meletakkan jarinya di bawah dagu Ayana, agar gadis itu kembali menatapnya.
"Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" tanya Ayana, sambil menurunkan tangannya, tapi dengan cepat Carlos meletakkan tangannya kembali di lehernya dan mendorong Ayana ke dinding, hingga tubuhnya terhimpit antara tembok dan tubuh Carlos.
"Tentu saja tidak, aku menyukainya," bisik Carlos di telinga Ayana sambil menekan tubuhnya. "Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu?" suara Ayana begitu rendah ketika dia menyadari kalau Carlos memberikan reaksi yang jauh di luar dugaannya ketika dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di antara kedua kaki pria itu.
Ayana terkesiap, tapi tidak terlalu terkejut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa kau mencoba untuk merayuku?" tanya Carlos.
"Tidak, tentu saja aku tidak…" Namun, kata- kata penyangkalan Ayana hilang begitu saja ketika Carlos mencium lehernya dan mengecup daerah sensitif di bawah telinganya. "Carlos…"
"Tapi, kenapa aku merasa kalau kau tengah merayuku?" tanya Carlos dengan sebuah seringai di bibirnya ketika dia mendapatkan reaksi yang diinginkannya dari Ayana.
Ayana merasa beruntung karena sweater yang dirinya kenakan dapat menutupi 'tanda- tanda' yang ditinggalkan oleh Carlos di permukaan kulitnya, tapi tidak dapat menutupi semu merah yang merona di wajahnya.
Walaupun mereka berdua tidak melakukan lebih dari itu, karena Ayana dianjurkan untuk tidak melakukannya setelah apa yang terakhir kali terjadi di antara mereka, tapi mereka berdua terlihat cukup puas dengan satu sama lain.
Perjalanan menuju darmaga pun terasa jauh lebih menyenangkan dan tidak menegangkan seperti pikiran Ayana semula.
Semua ini dikarenakan mood Carlos yang tampak jauh lebih baik dari sebelum- sebelumnya dan Ayana menikmati hal ini.
***
Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.
@jikan_yo_tomare
__ADS_1