Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Skandal


__ADS_3

Ayana terbangun ketika Dalia mengguncangkan tubuhnya saat matahari masih bersembunyi di balik tirai langit mendung.


 


“Aku ada beberapa urusan yang harus dikerjakan, jadi aku harus pergi untuk beberapa saat.” Dalia memberitahukan Ayana, dia lalu duduk di samping tempat tidur gadis itu sambil menatapnya.


 


Ayana mengusap wajahnya dan menggosok matanya yang masih mengantuk. Satu, dua kuapan lolos dari bibirnya ketika dia menatap Dalia sudah berpakaian terlalu rapih untuk hari yang masih terlalu pagi. “Kapan kau akan kembali?” Ayana bertanya dengan khawatir. Dia tidak ingin berada di rumah ini sendirian.


 


Sebenarnya, sendirian bukanlah masalah bagi Ayana, yang dirinya takutkan adalah kalau akhirnya Carlos kembali pulang dan dia harus berada di rumah berdua saja dengannya.


 


“Kemungkinan malam ini atau besok pagi,” Dalia berkata, dia mengulurkan tangannya dan merapihkan helaian rambut Ayana yang jatuh ke wajahnya.


 


“Bisakah aku pergi denganmu?” Ayana bertanya, berharap Dalia memberikan jawaban selain yang sudah dia ketahui.


 


“Kau tahu kalau aku tidak bisa melakukan itu…” Dalia berkata dengan menyesal karena harus menolak keinginan Ayana. Dia tahu betapa bosannya Ayana terkurung di dalam rumah ini dan ini sudah hampir satu bulan Ayana tidak bisa menikmati kehidupan di luar sana.


 


“Aku tahu.” Ayana menunduk. Dia sudah menduga jawabannya akan seperti ini, tapi tetap saja dia tidak bisa untuk tidak kecewa saat benar- benar mendengarnya.


 


Dalia membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Hal yang ingin wanita paruh baya itu katakan adalah; Ayana dapat menggunakan ide yang telah puluhan kali Dalia dengungkan, tapi tampaknya gadis itu bahkan sama sekali tidak mau mempertimbangkannya.


 


Maka dari itu, Ayana tidak seharusnya mengeluh dengan jalan yang dia ambil.


 


“Kalau begitu aku akan pergi sekarang.” Dalia berdiri dan melambaikan tangannya pada Ayana sebelum dia menutup pintu kamarnya.


 


Ayana terduduk, matanya menatap jam dinding yang baru menunjukkan pukul lima pagi.


 


Karena kepergian Dalia, Ayana menjadi tidak tenang dan ini membuat rasa kantuknya hilang begitu saja. Dia tidak bisa kembali tidur, oleh karena itu, Ayana memutuskan untuk turun dari ranjang dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri.


 


Mengikat rambutnya, Ayana berjalan menuju dapur, berniat membuat sarapan untuk dirinya sendiri sambil bergumam pelan sebuah lagu yang dia ketahui.

__ADS_1


 


Dalia selalu menyimpan makanan sisa semalam di dalam sebuah box yang dia letakkan di dalam kulkas agar dapat di hangatkan kembali untuk sarapan.


 


Tentu saja Carlos tidak akan makan makanan seperti itu, dia akan selalu mendapatkan makanan baru. Makanan dingin yang dihangatkan itu hanya untuk Dalia atau dirinya dan Ayana sama sekali tidak mengeluh. Baginya, makanan ini lebih baik daripada makanan yang pernah dia dapatkan di rumah orang tua asuhnya dulu.


 


Semalam Dalia membuat sphagetti dengan saus carbonara. Masih ada satu box untuk Ayana jadikan sarapan.


 


Dengan bersenandung pelan, Ayana mengambilnya dan meletakkan box itu ke dalam microwave, mengatur timer untuk dua menit dan Ayana menunggu sambil membuat segelas susu untuk dirinya sendiri.


 


Setelah mengenal Dalia, Ayana mulai berani melangkah keluar dari kamarnya, lagipula kini Ayana sadar, kamarnya bukanlah tempat yang aman baginya, karena kapanpun Carlos mau, dia dapat menemukan Ayana di sana dan mendapatkan apa yang dia inginkan, terlepas dari penolakan Ayana.


 


Setelah Ayana selesai membuat segelas susu, dia mengambil box berisi spaghetti dari dalam microwave dan mulai makan dalam diam di atas barstool.


 


Aroma dari spaghetti itu begitu menggugah selera dan membuat Ayana sedikit tersenyum senang. Hanya sedikit hal yang dapat membuatnya senang akhir- akhir ini. Namun, Ayana mulai menyadari kalau dirinya mulai mensyukuri hal- hal kecil dan sederhana yang masih bisa dia nikmati.


 


 


Tubuh Ayana seketika itu juga menegang dan dia segera menghabiskan susunya. Namun, niatnya untuk melarikan diri terhenti ketika dia mendengar namanya dipanggil. Ayana mengenali suara itu.


 


Abby.


 


Dari suaranya, sepertinya dia tidak sendiri, ada orang lain yang bersamanya dan itu bukan Sam ataupun Carlos. Suara pria lain.


 


Ayana menggigit bibirnya pelan, bimbang. Antara memilih untuk menghampiri Abby dan melihat apa yang terjadi, karena sepertinya ada yang aneh dari cara Abby berbicara, tapi di sisi lain, Ayana tidak mau terlibat apapun, yang nantinya dapat membuat dirinya mendapatkan masalah.


 


Kemudian Ayana mendengar suara Abby menjerit dengan suara tertahan, di susul dengan suara sesuatu yang jatuh dan pecah. Sepertinya Abby menabrak sebuah pajangan dan memecahkannya.


 


Secara naluri, Ayana segera turun dari barstool dan menuju pintu depan, ingin mengetahui apa yang terjadi pada Abby sebenarnya.

__ADS_1


 


Biar bagaimanapun juga, selama Ayana berada di rumah ini, Abby selalu baik kepadanya dan dia tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi pada satu- satunya temannya ini.


 


“Abby?” panggil Ayana dengan hati- hati. Dia berjalan menyusuri koridor.


 


Semakin dekat Ayana dengan sumber suara, maka semakin jelas suara Abby dan pria itu terdengar. Sepertinya mereka tengah membisikkan sesuatu, berbicara dengan suara rendah.


 


“Abby?” panggil Ayana lagi ketika dia berbelok dan mendapati sosok Abby yang tengah berada dalam pelukan seorang pria. Tapi, itu bukan Sam.


 


Ayana mengerutkan dahinya. Bukankah Abby adalah kekasih Sam? Tapi, kenapa dia justru mencium pria lain?


 


Ayana merasa tidak nyaman dengan apa yang tengah dia lihat dan sepertinya Abby baik- baik saja, maka dari itu dia memutuskan untuk menjauh dan tidak mengganggu mereka.


 


Namun, sebelum Ayana dapat menghilang dari ruangan tersebut, sang pria yang tengah mencium Abby dengan begitu bersemangat, menyadari kehadiran Ayana dan mendorong Abby menjauh.


 


Abby yang terkejut hendak protes, tapi kemudian dia mendapati sosok Ayana, tengah memandang mereka dengan tatapan canggung.


 


“Ayana, ada apa?” Abby juga tidak kalah canggungnya. Dia tahu kalau Dalia hari ini tidak ada di rumah, tapi dia benar- benar lupa kalau Ayana ada di sana. Alcohol sepertinya mempengaruhi kinjerja kerja otaknya.


 


“Oh, tidak. Tidak apa- apa.” Ayana mengangkat tangannya dan menggelengkan kepalanya kuat- kuat. “Aku tadi mendengar suara sesuatu jatuh dan suara jeritanmu…” Ayana menggigit bibirnya dengan rikuh, menatap kemanapun kecuali pada pasangan di hadapannya. “Jadi aku ke sini untuk memeriksa… kupikir kau terluka.”


 


Abby mengertakkan giginya. Ayana pasti melihatnya tengah bermesraan dengan pria lain. Dia mengutuk dirinya sendiri karena telah lupa akan keberadaan Ayana.


 


Sial!


 


“Tidak, aku baik- baik saja.” Abby menatap tajam pada Ayana, nada suaranya tidak lagi bersahabat. “Kenapa kau tidak kembali ke kamarmu saja?”


 

__ADS_1


__ADS_2