Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Malam Pesta (4)


__ADS_3

“Carlos!” seru pejabat tersebut dengan nada marah dan segera berdiri untuk pergi. “Aku tidak ingin kau membawa dia dalam pertemuan kita selanjutnya!” pria itu menunjuk Carlos dengan jarinya yang gemuk sebelum dia berjalan, dengan menghentakkan kakinya, keluar dari ruangan, diikuti dengan beberapa bodyguard dan dua orang pria lainnya.


 


Setelah itu suasana kembali menjadi lebih tenang dan minuman kembali dituangkan, tapi kesenangan yang tadinya mereka rasakan tidak lagi terasa sama.


 


Sehingga, setelah menghabiskan satu botol dan kedua pria lainnya sudah merasa sedikit mabuk, mereka memilih untuk mengundurkan diri dan kembali ke kamar hotel masing- masing, tentu saja dengan membawa wanita- wanita mereka.


 


Sepeninggal kedua orang tadi, di dalam ruangan hanya ada Carlos, Juan dan Ayana dan tiga orang bodyguard milik Juan, yang salah satunya adalah Nick. Dia telah memperhatikan gerak- gerik Carlos sejak dari awal dan tampaknya tidak terlalu senang dengan apa yang dia lakukan.


 


Terutama ketika Carlos merusak suasana pesta dan membuat hubungan bisnis Juan dengan koleganya menjadi canggung.


 


“Jadi, kau akan menyimpan gadis ini?” Juan mengangguk ke arah Ayana. Dia memperhatikan gadis, yang duduk di samping Carlos dengan seksama. “Kau sedang berada dalam suatu hubungan dengannya?” selidik Juan.


 


“Tidak.” Carlos menuangkan minuman di dalam botol ke dalam dua gelas dan memberikan salah satunya pada Ayana. “Aku hanya akan menyimpannya kalau aku masih tertarik padanya. Setelah itu, tergantung suasana hatiku nantinya.” Carlos mengangkat bahu dengan tidak peduli.


 


Mengenai bagaimana nasib Ayana nantinya, hal itu masih Carlos belum tentukan, karena selama Ayana masih bermanfaat dalam rencananya untuk menjatuhkan Juan, maka Carlos akan terus menyimpan Ayana di sisinya.


 


“Sepertinya dia gadis yang istimewa? Apa kelebihan yang dia miliki?” tanya Juan lagi, merasa tertarik.


 


Juan telah meminta Nick untuk mencari tahu mengenai masa lalu Ayana, tapi sangat sulit untuk mendapatkannya.


 


Selain dirinya yang merupakan anomic, fakta bahwa Ayana telah berpindah- pindah keluarga asuh lebih hingga lima kali, menyulitkan pengumpulan informasi ini. Terlebih lagi karena Ayana adalah seorang minoritas, maka tidak banyak orang yang peduli padanya.


 


Kebanyakan keluarga asuh, tempat Ayana pernah bernaung, tidak mengizinkan gadis itu bersosialisasi dengan dunia luar, bahkan tidak mengizinkannya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.


 


Jadi, kini dengan melihat bagaimana Carlos bereaksi saat ada orang lain yang ingin mendapatkan Ayana, bahkan sampai mengambil resiko dengan bisnis yang mereka jalani, membuat Juan menjadi semakin penasaran dengan sosok Ayana.


 


Siapa gadis ini sebenarnya? Apa yang Carlos lihat darinya?

__ADS_1


 


“Dia menarik,” ucap Carlos. Dia menatap Ayana yang hanya memegang gelas yang tadi dia berikan, tapi tidak meminumnya. “Minumlah, aku tidak memberikan racun padamu,” kata Carlos pada Ayana.


 


“Aku tidak minum alcohol,” jawab Ayana dengan suara yang pelan. Di tengah suara keras music yang berdentum, suaranya hampir tidak terdengar dan Juan hanya bisa membaca gerakan bibirnya saja.


 


“Kau harus mencobanya,” ucap Carlos lagi, dia bahkan sedikit memaksa Ayana untuk menenggaknya. “Coba minum, maka kau akan tahu rasanya seperti apa, setelah itu kau bisa memutuskan, kalau minuman ini enak atau tidak.”


 


Ayana tidak yakin kalau dia akan suka dengan apa yang dia minum, tapi Carlos memaksanya, jadi dia memutuskan untuk mencoba. Lagipula, tidak ada salahnya, kan?


 


Setelah apa yang Carlos terima karena membelanya di hadapan para pria hidung belang itu, Ayana merasa kalau dirinya tidak seharusnya membuat pria ini kesal. Melihat mood Carlos yang berubah menjadi gelap, membuat Ayana sedikit takut dan cemas.


 


Carlos yang berada dalam kondisi mood seperti ini, bisa sangat mengerikan dan Ayana sudah dapat mempelajari sifat Carlos yang satu ini.


 


“Minum,” ucap Carlos kembali, tapi dengan nada yang sedikit lebih dingin.


 


 


“Habiskan,” ucap Carlos saat Ayana akan meletakkan gelasnya setelah satu tegukkan. Gadis itu tidak berani melawan dan sambil mengencangkan cengkeraman tangannya di sisi gaunnya, Ayana melakukan apa yang Carlos minta.


 


Dia menghabiskan satu gelas minuman tersebut dan gelas- gelas berikutnya yang Carlos berikan padanya.


 


Ayana bahkan setelah kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai kabur serta kesadarannya yang perlahan mulai menghilang.


 


“Aku akan membawanya ke kamar,” ucap Carlos ketika melihat Ayana sudah tidak sanggup membuka matanya lagi. Biar bagaimanapun juga, ini adalah kali pertama bagi Ayana untuk meminum, minuman seperti ini, terlebih lagi, dalam jumlah yang cukup banyak.


 


Dia menggendong Ayana dengan hati- hati dan menutupi bagian tubuhnya yang tersingkap dengan jas yang dikenakannya.


 


Melihat bagaimana Carlos memperlakukan Ayana, Juan hanya memandang mereka berdua dan tidak mengatakan apa- apa.

__ADS_1


 


Namun, satu pertanyaan masih mengganjal di hatinya dan berkeliaran di pikirannya. Maka dari itu, dia akan menemukan jawabannya, cepat atau lambat. Dengan atau tanpa persetujuan dari Carlos.


 


Karena tidak peduli betapa besar rasa bersalahnya pada hubungan Carlos dan Bianca, Juan tidak akan pernah mentolerir seseorang dengan motif tersembunyi.


 


Dan dia merasa Carlos memiliki sebuah rencana yang tidak dia ketahui.


 


*** 


 


Ayana terbangun dengan seluruh tubuh yang terasa sakit dan kepala yang luar biasa pusing. Dia merasa seperti sesorang yang baru saja sadar dari hantaman benda keras.


 


Dengan susah payah, Ayana turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Tapi, setiap langkah yang dia ambil terasa sangat menyakitkan dan membuat gadis itu meringis.


 


Kini, Ayana menyadari kalau bukan hanya kepalanya saja yang sakit, tapi sekujur tubuhnya terasa seperti memiliki luka lebam. Terutama bagian bawah tubuhnya.


 


Dengan mengertakkan giginya, Ayana berjalan menuju pintu bathroom.


 


Di sanalah, saat Ayana melihat penampilan dirinya yang terpantul di depan kaca besar di atas bidet, Ayana dapat melihat betapa mengerikannya refleksi dirinya yang terpantul di sana.


 


Hampir seluruh tubuhnya memiliki luka lebam, hal ini dapat dengan jelas terlihat karena Ayana tidak mengenakan apapun. Tidak ada sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya dan dia bisa melihat darah kering di sudut bibirnya yang terluka.


 


Tapi, satu hal yang jauh lebih menyakitkan daripada luka di tubuhnya, yaitu; kesadaran bahwa dirinya diperlakukan seperti seonggok sampah dan merasa seperti bukan manusia, adalah hal paling menyakitkan yang Ayana rasakan.


 


Kali ini, Ayana tidak menangis. Dia menggigit bibirnya yang memang sudah terluka dan menatap cerminan dirinya sendiri dengan sorot mata yang dingin.


 


Dari sudut matanya, Ayana dapat melihat sebuah gunting tergeletak begitu saja, ujungnya yang runcing mengilat tertimpa cahaya lampu dan dari suara gerakan pelan di tempat tidur, dia mengetahui kalau Carlos masih berada di dalam kamar.


 

__ADS_1


__ADS_2