
"Itu tidak perlu, karena Carlos akan merasakan hal yang sama," balas Sam. Dia lalu menatap Hailee dengan tatapan yang menyiratkan permusuhan.
"Kau akan mencelakaiku?" tanya Ayana, yang kemudian sedikit menjaga jarak dari Sam. Dia melirik dua orang pria, yang mengikuti di belakang mereka dan merasa sedikit lebih aman.
"Tidak perlu menatapku seperti itu," jawab Sam dengan suara yang hampir seperti geraman. "Aku tidak akan melakukan apapun untuk menyakitimu. Namun, orang lain yang akan melakukannya. Kau pikir, dengan memiliki Carlos dan menjadi wanitanya akan membuatmu terhindar dari bahaya yang terus menerus mengintainya? Hidupmu tidak akan semudah kelihatannya Ayana."
Ayana mengerutkan keningnya dan melemparkan tatapan penuh pertanyaan pada Sam. "Apa maksudmu?"
"Ketika musuh Carlos tidak bisa mendapatkan dia, tentu saja mereka akan mengincar target yang lebih mudah, dirimu," ucap Sam. "Karena kau wanitanya."
Sam mengerti kalau Ayana sama terkejutnya dengan apa yang Carlos lakukan semalam, tapi ini tidak membuatnya dapat melupakan apa yang telah dirinya saksikan saat kematian menghampiri Abby dengan cara seperti itu.
Mendengar jawaban Sam, Ayana terdiam. Tentu saja itu benar dan Ayana cukup menyadarinya, tapi pilihan apa yang dia punya ketika segalanya terasa begitu sulit? Dalam hidup Ayana, tidak pernah ada pilihan yang mudah.
Mereka lalu diam sampai Sam dan kedua pria tadi mengantarkan Ayana sampai ke kamarnya. Namun, sebelum itu, Sam masuk lebih dulu ke dalam ruangan dengan diikuti oleh Ayana sementara dua orang pria lainnya menunggu di depan pintu.
"Aku akan memeriksa kamar ini dulu," ucap Sam dalam sebuah gumaman ketika Ayana masuk ke dalam kamar dan ingin segera berbaring karena kepalanya yang terasa pusing dan sedikit mual. Mungkin ini mabuk laut? Ayana tidak yakin.
Sam masuk ke dalam kamar tersebut dan memeriksa sementara Ayana berjalan ke arah ranjang, tapi sebelum dirinya sampai, seseorang telah menarik tubuhnya dan membekap mulutnya sebelum dia sempat menjerit.
Punggungnya dipaksa menempel ke dinding.
Dan Ayana terbelalak ketika dia melihat siapa penyerangnya ini. Juan! Bagaimana bisa pria ini berada di dalam kamar?
Dengan panik, Ayana mengalihkan pandangannya ke sekitar ruangan, Sam pasti masih ada di sana, kan? Dia harus melihat ini dan menolongnya.
Tapi, darah Ayana berdesir dengan dingin ketika dia melihat Sam berdiri di belakang Juan, tanpa melakukan apapun.
Apa- apaan ini?! Apa Sam telah berkhianat? Dia mengkhianati Carlos? Itu bukannya tidak mungkin, setelah apa yang Carlos lakukan pada Abby, tampaknya Sam tidak bisa menerimanya dengan baik. Ini bukan pertama kalinya Carlos mengambil keputusan yang buruk.
__ADS_1
"Kau bisa pergi," ucap Juan pada Sam. Aku akan menghubungimu nanti.
Mendengar itu, tanpa memandang Ayana, Sam mengangguk dan melangkah pergi, meninggalkan Juan berdua dengan Ayana.
Mata Ayana terbelalak ketika tangan Juan mulai menjelajahi tubuhnya dan mengangkat kaos biru yang dia kenakan.
Dengan tubuhnya yang terhimpit antara dinding dan tubuh Juan, Ayana tidak bisa melarikan diri, dan lagi kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengan pria ini.
Ayana berusaha menjerit tapi suaranya teredam tangan Juan yang besar, sementara tangannya yang satu lagi mengangkat kaos Ayana sebatas dada dan gerakannya berhenti ketika Juan melihat bekas luka itu.
Pertemuan telah berjalan selama lebih dari lima belas menit untuk membahas beberapa bisnis di beberapa tempat, hanya saja ada beberapa hal yang mengganggu jalannya meeting ini, salah satunya adalah ketidakhadiran Juan yang diwakili oleh pengacaranya.
Hal ini cukup mengganggu para investor lain, tapi sangat mengganggu bagi Carlos. Hanya ada satu tempat yang dia itu dapat pikirkan akan Juan kunjungi kalau sampai dia mangkir dalam pertemuan penting ini dan tempat itu adalah dimanapun Ayana berada sekarang.
Namun, bukankah dia sudah mengirim dua orang bersama Ayana dan juga ada Sam. Mereka akan segera menghubunginya kalau ada sesuatu yang terjadi, bukan?
Juan menatap luka bakar di pinggang kiri Ayana dan seketika itu juga raut wajahnya mengeras. Dia menatapnya lama hingga Ayana berhenti meronta dan menjadi bingung dengan reaksi yang Juan berikan setelah melihat luka bakarnya.
Mungkinkah luka ini membuat Juan tidak berselera dan merasa jijik padanya? Hal ini tentu saja membuat Ayana lega seandainya Juan tidak melakukan apapun padanya, tapi di tatap secara intens seperti ini sungguh membuat Ayana tidak nyaman.
"Apa kau pernah tinggal di kota R dan kau mendapatkan luka bakar ini dari sebuah kebakaran yang terjadi di sana?" tanya Juan dengan suara yang seperti berbisik.
Ayana menatap Juan dan untuk pertama kalinya dia melihat kecemasan dalam sorot matanya yang dingin.
"Aku akan melepaskanmu, tapi jangan berteriak, kalau tidak, aku tidak akan memiliki pilihan lain selain membunuh siapapun orang yang masuk ke dalam ruangan ini," ucap Juan dengan nada mengancam, tapi juga dia berharap Ayana berhenti untuk melawannya. Dia butuh bicara dengan gadis ini.
Ayana mengerutkan keningnya, tapi kemudian mengangguk.
Dengan perlahan, Juan menurunkan tangannya dan membiarkan Ayana menarik nafas. Gadis ini berjengit ketika Juan mengusap sisi wajahnya dan menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Juan juga menurunkan pakaiannya dan merapihkannya.
__ADS_1
Gerakan ini tentu saja membuat Ayana bingung. Apa sebenarnya yang pria ini inginkan?
"Sekarang jawab aku," ucap Juan. Menunggu jawaban dari pertanyaan yang belum Ayana jawab. "Apa kau mendapatkan luka ini dari kebakaran sepuluh tahun lalu? Dan seorang remaja yang menolongmu?" tanyanya secara beruntun.
Ayana mengerutkan keningnya, tapi kemudian mengangguk perlahan. "Darimana kau tahu semua itu?" Terutama di bagian dirinya yang telah diselamatkan oleh seorang remaja.
Bagian itu adalah bagian yang Ayana ingat baru- baru ini saja, ketika menemani Carlos berjalan di taman pada malam hari dan pria itu kembali menanyakan masa lalunya.
Dan tanpa di duga, Juan memeluknya dengan lembut sambil memejamkan matanya. Hal ini membuat tubuh Ayana menegang, tapi yang membuatnya cukup terkejut, Ayana tidak merasa takut pada Juan yang seperti ini. Dia merasa… terlindungi…
Entah kenapa Ayana merasakan perasaan tidak masuk akal seperti itu, seolah dirinya telah mengenal Juan sebelum ini.
"Akhirnya aku menemukanmu…" ucap Juan seperti sebuah desahan hangat di telinga Ayana, tapi hal ini membuat perutnya terasa tidak nyaman. "Ayana, akulah remaja itu," kata Juan lagi.
Keningnya menempel di kening Ayana sementara gadis itu menatapnya dengan bingung, sebelum akhirnya sebuah pemahaman melintas di matanya.
***
season 1: Tamat
season 2: February
Terima kasih sudah baca cerita ini, tunggu season 2 nya ya...
Untuk baca ceritaku yang lain, bisa cek instagramku
@jikan_yo_tomare
Selamat Tahun Baru!
__ADS_1