
"Ayana?" Sam memanggil nama Ayana perlahan ketika dia memasuki kamar Carlos yang tidak berpenerangan. "Ayana kau di dalam?" panggil Sam kembali.
kamar ini begitu gelap, maka dari itu, Sam mencari saklar lampu terlebih dahulu sebelum mencari gadis itu.
Dan, setelah Sam berhasil menyalakan lampu, dia dapat melihat tubuh Ayana yang tengah tersembunyi di balik selimut tebal.
Begitu lampu dinyalakan tubuhnya bergerak- gerak dengan gelisah dan dia mengeluarkan suara pelan yang hampir tidak terdengar.
Dengan begitu, Sam berjalan menghampiri dan duduk di pinggir kasur. Namun, sosok Ayana yang berada di dalam selimut, justru bergerak menjauh. "Hei," Sam menahan tubuh Ayana agar dia tidak kemana- mana. "Aku tidak di sini untuk menyakitimu," ucapnya yang merasa kasihan pada gadis ini. "Kemarilah, aku membawa makanan untukmu."
Pada mulanya, Sam benar- benar ingin pergi dari tempat ini dengan segera setelah meletakkan piring makanan di atas meja, tapi kemudian saat melihat Ayana yang seperti ini dan begitu ketakutan, dia jadi tidak tega dan berusaha membujuk gadis itu.
"Carlos sedang tidak ada di rumah," ucap Sam dengan suara pelan. Dia kemudian meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja dan berusaha menarik selimut yang menutupi Ayana.
"Buka, kalau kau tidak membukanya, lalu bagaimana kau akan makan?" ucap Sam sambil berusaha menarik selimut tersebut dengan lebih kuat.
Tentu saja, pada akhirnya Ayana tidak berhasil untuk mempertahankan selimut tersebut untuk menutupi tubuhnya.
Dan setelah selimut tersebut terbuka, Sam dapat melihat sosok Ayana yang bertubuh sangat kurus, tengah memeluk dirinya sendiri dengan mengenakan kaos putih milik Carlos, yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya.
Sam memperhatikan dengan seksama pada kaki Ayana yang telanjang, tapi selain memar di pipinya, Sam tidak menemukan luka lain di tubuh Ayana.
Sepertinya suara teriakan yang Sam dengar adalah suara Ayana saat Carlos menamparnya dengan keras. Namun selebih itu, Carlos tidak melakukan apapun.
Ayana yang diperhatikan dengan seksama seperti itu, merasa malu dan menjadi sadar diri, kalau sebagian kulitnya begitu terekspos, maka dari itu, dia dengan sigap duduk dan menarik kembali selimut yang tadi di ambil oleh Sam, untuk menutupi kakinya.
Melihat bagaimana Ayana menjadi tidak nyaman, Sam pun merasa canggung.
Namun, kemudian dari sudut matanya, dia melihat sup yang telah Dalia buat dan teringat tujuannya datang ke kamar ini.
"Ini, Dalia membuatkan ini untukmu," ucapnya dengan suara pelan. "Makanlah."
Ayana menatap sup di tangan Sam dengan mata yang sedikit berbinar. Carlos tidak memberikannya makan atau minum sama sekali sejak dari kemarin.
Entah apa tujuan Carlos melakukan semua ini padanya, dan selain bagian wajah Ayana, pria itu tidak menyakitinya dibagian manapun, bahkan Carlos tidak menyentuhnya semalam.
__ADS_1
Ayana pikir, malam tadi akan menjadi malam paling buruk baginya, setelah pertengkaran antara Carlos dan Juan, serta setelah melihat betapa tidak stabilnya emosi Carlos setelah pertikaian itu.
Ternyata tidak. Carlos memilih tidur di sofa dan membiarkan Ayana tidur di atas ranjang, sambil merintih menahan sakit di wajahnya.
Luka di wajahnya pasti akan sangat mengerikan, dan Carlos seolah ingin menunjukkan luka ini pada semua orang, terutama fakta bahwa mereka akan pergi besok untuk menghadiri pertemuan di kapal pesiar, Carlos pasti merencanakan sesuatu.
"Dimana Carlos?" tanya Ayana dengan suara yang lemah, dia lalu menerima mangkok sup dari tangan Sam. Merasakan hangatnya sup tersebut dan merasa jauh lebih baik.
"Dia pergi untuk mengurus sesuatu, untuk keperluan keberangkatan kalian besok," jawab Sam. "Pelan- pelan…" tegurnya ketika melihat Ayana makan dengan lahap, sambil meringis karena wajahnya terasa sangat sakit ketika digerakkan.
Ayana menuruti kata- kata Sam dan makan dengan lebih lambat.
"Aku akan pergi sebentar ke dapur dan mengambilkanmu minum," ucap Sam yang kemudian langsung beranjak dari kasur.
Tapi, sebelum dia dapat melangkah pergi lebih jauh lagi, Ayana memanggilnya dengan suara yang teramat pelan dan serak.
"Boleh aku minta tolong?" tanya Ayana.
Sam berbalik dan menatapnya dengan kerutan di antara alisnya.
Walaupun Sam merasa kasihan pada Ayana, tapi tidak mungkin dia akan menjerumuskan dirinya sendiri dan rela mendapatkan kesulitan demi gadis ini.
"Tidak," Ayana menggeleng pelan. "Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Dalia…" jawabnya.
"Oh," Sam mengangguk, berpikir sesaat dan menyetujuinya. "Oke, Dalia akan ke sini dengan minumanmu kalau begitu."
Setelah mengatakan itu, Sam berbalik dan hendak melangkah pergi ke arah pintu, saat Ayana kembali memanggilnya.
"Sam…"
"Apa lagi?" tanya Sam dengan tidak sabar. Kenapa gadis ini jadi terlalu banyak bicara?
Sam pikir Ayana akan meminta sesuatu yang tidak- tidak, tapi ternyata, dugaannya salah.
"Terimakasih," ucap Ayana dengan sebuah senyum lembut di bibirnya. Dia tampak begitu cantik dan polos saat ini, hingga Sam tidak habis pikir, bagaimana Carlos bisa memperlakukan gadis ini begitu buruk.
__ADS_1
"Oh, bukan masalah," jawab Sam ringan, sambil mengibaskan tangannya dan segera keluar dari kamar tersebut sebelum Ayana mulai mengatakan hal yang tidak- tidak lagi.
Dalam dunianya yang keras, Sam sangat jarang mendengar ucapan terimakasih yang diucapkan begitu tulus, tanpa memiliki motif apapun, maka dari itu, dia menjadi sedikit canggung.
Namun, tanpa Sam ketahui, senyum polos di wajah Ayana memudar begitu saja ketika pintu kamar telah tertutup, tergantikan oleh ekspresi dingin yang tidak tampak seperti dirinya.
Kemudian, Ayana melanjutkan makannya dengan lebih perlahan.
***
Carlos sama sekali tidak senang dengan ancaman yang Juan berikan padanya, terutama ketika pengkhianatan Nick terbongkar dan kini pria itu harus merasakan siksaan dari Juan atas perbuatannya.
Memang, Juan tidak melakukan apapun padanya, tapi Carlos sudah muak mendapatkan perlakuan seperti ini.
Sepertinya, ini adalah saat yang tepat dimana dia harus menghubungi orang 'itu'.
Namun, sebelum Carlos dapat menghubungi orang yang dirinya tuju, sebuah panggilan telepon membuat dahinya berkerut. Abby.
Untuk apa gadis ini menghubunginya?
Pada awalnya, Carlos akan mengabaikan panggilan tersebut, tapi kemdudian dia teringat kalau Abby berada di apartment. Mungkin sesuatu terjadi di sana?
"Ya?" ucap Carlos dengan suara yang sangat formal.
Tidak lama kemudian, suara Abby yang seolah berbisik terdengar ketika dia memberitahukan apa yang terjadi di apartment.
Dan semakin Carlos mendengarkan laporan itu, semakin mengerikan ekspresi wajahnya.
***
"Aku ingin semua hal yang melibatkan Carlos di dalamnya, untuk di hentikan, dan mulai untuk memusnahkan bukti- bukti penting yang mungkin dia miliki," ucap Juan pada seseorang di telepon. "Ya, aku ingin menyingkirkannya."
***
Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.
__ADS_1
@jikan_yo_tomare