Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Apa Kau Setuju?


__ADS_3

Kalau ada seseorang yang harus dilenyapkan dari kamar ini demi Ayana mendapatkan kebebasan, maka orang itu adalah Juan.


 


Setelah Ayana bersama Carlos beberapa saat, gadis itu sudah mulai memahami tingkah pola Carlos saat dia terlalu mabuk untuk sadarkan di pagi hari.


 


Pria itu tidak akan terbangun hingga matahari telah berada di atas kepala dan kecuali suara gaduh yang teramat sangat maka Carlos akan tetap tertidur seperti itu.


 


Oleh sebab itu, ancaman yang sesungguhnya datang dari Juan.


 


Kalau Ayana dapat menyingkirkan pria ini, maka kemungkinannya untuk melarikan diri dari tempat ini ataupun dari organisasi hitam miliknya, akan terbuka lebih luas.


 


Itu dengan asumsi kalau Ayana dapat keluar dan menjauh dari kota ini hidup- hidup setelah membunuh Juan. Tapi, bisakah Ayana melakukannya? Sanggupkah dia menarik pelatuk pistol tersebut dan mengakhiri hidup pria dihadapannya ini?


 


Di sisi lain, Juan terlihat semakin tertarik pada Ayana saat dia melihat bagaimana gadis itu, dengan tangan yang gemetar, menodongkan pistol ke arahnya.


 


Walaupun Juan dapat melihat ketakutan yang terpancar dari dirinya, tapi juga dia dapat melihat tekad untuk bertahan hidup di dalam kedua matanya.


 


“Hm?” Juan tampak tenang. “Jadi kau berpikir untuk mengakhiri hidupku alih- alih Carlos?” dia menaikkan sebelah alisnya dan dengan melakukan itu, pria ini tampak lebih berbahaya. Dia sama sekali tidak terintimidasi dengan Ayana.


 


“Kau bilang ini adalah kesempatanku untuk melarikan diri,” Ayana berkata dengan suara yang gemetar, tapi matanya menatap lurus ke arah Juan.


 


“Menarik,” Juan bergumam dan mendekat, dia lalu menempelkan moncong pistol tersebut ke dadanya. “Lalu, apa yang kau tunggu?” tanyanya.


 


Ayana terkesiap mendengar apa yang Juan katakan.


 


Dia menantangnya untuk menembaknya? Apakah dia sama sekali tidak takut mati?


 


“Sudah kukatakan bukan? Jangan ragu- ragu.” Juan berkata dengan suaranya yang dingin. “Kau pikir kau bisa keluar dari ruangan ini hidup- hidup setelah kau menodongkan pistol ke arahku?”


 


Dan dengan itu, Ayana memejamkan matanya dan menarik pelatuk dari pistol tersebut. Entah apa yang dia pikirkan atau apa yang melintas di benaknya, tapi Ayana hanya ingin mengakhiri semua ini segera.


 

__ADS_1


Namun, kengerian yang terbayang di benaknya tidak benar- benar terjadi dan Juan tidak terkapar di lantai bersimbah darah. Pria itu masih berdiri di hadapannya sambil menatapnya dengan sorot mata yang sulit untuk Ayana jabarkan.


 


Apakah itu amarah?


 


Ketertarikan?


 


Kekesalan?


 


Entahlah… tapi, satu hal yang pasti yang Ayana ketahui saat ini; pistol yang diberikan Juan ternyata tidak berpeluru. Itu merupakan satu- satunya alasan kenapa dia masih terlihat begitu sempurna bahkan setelah Ayana menarik pelatuk pistol tersebut.


 


“Kau benar- benar memiliki nyali,” gumam Juan yang lalu mengambil pistol miliknya dari tangan Ayana yang masih gemetar. “Kau sungguh berpikir kalau aku akan memberikan pistol berpeluru padamu?”


 


Tentu saja Juan tidak akan pernah melakukan itu. Dia tidak akan pernah membahayakan dirinya sendiri dengan mempertaruhkan nyawanya seperti tadi.


 


“Kau memang memiliki nyali, tapi terlalu impulsive dan bodoh untuk mempercayai kata- kataku.” Juan meletakkan pistol hitam itu ke atas meja dan mendekati Ayana. Wajah gadis itu pucat, seolah darah telah berhenti mengalir di dalam pembuluh darahnya.


 


“Kau akan membunuhku?” tanya Ayana dengan suara yang gemetar.


 


 


Ayana sedikit berterimakasih dengan gesture tersebut, tapi itu sama sekali tidak bisa menghentikan gemetar di tubuhnya.


 


“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Ayana dengan suara yang rendah. Dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Juan, seolah pria itu akan membunuhnya seketika itu juga kalau dia sampai lengah sedikit saja.


 


Juan menoleh dan menatap Carlos yang masih tertidur dengan pulas lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada Ayana.


 


“Sepertinya dia benar- benar menyukaimu,” ucap Juan dan hal ini Ayana membelalakkan matanya, terkesiap atas apa yang dia dengar.


 


“Menyukaiku?” Ayana mengulangi kata- kata itu, bahkan dia sendiri tidak percaya akan apa yang di dengarnya.


 


Mengapa Juan dan Dalia mengatakan kalau Carlos menyukainya dan Ayana sama sekali tidak merasakan itu? Bagaimana mungkin seseorang menyiksa orang yang disukainya? Apa mereka berdua sudah kehilangan definisi dari kata ‘suka’?

__ADS_1


 


Namun, seolah menjawab pertanyaan yang tidak terlontarkan di dalam benak Ayana, Juan kembali berkata.


 


“Ya, dia menyukaimu.” Kali ini dia berkata dengan lebih tegas.


 


“Dia menyiksaku,” Ayana berkata dengan miris. Dia tidak mengerti mengapa mereka bisa mengambil kesimpulan seperti itu? “Dia tidak akan menyiksaku kalau dia menyukaiku.”


 


“Aku menyiksa sesuatu yang aku sukai.” Juan mengangkat bahunya dengan sikap tidak peduli dan tertawa kecil melihat ketika melihat ekspresi tidak percaya yang melintas di wajah Ayana. “Kenapa?” tanyanya.


 


“Bagaimana mungkin kau menyiksa sesuatu yang kau sukai?” tanya Ayana dengan nada tidak percaya.


 


“Karena ‘suka’ tidak sama dengan ‘cinta’.” Juan tertawa kali ini. “Apa kau pernah mendengar seseorang yang mengatakan; kalau kau menyukai bunga, maka kau akan memetiknya, tapi kalau kau mencintai bunga tersebut, maka kau akan merawatnya.”


 


Ayana tercengang. Tentu saja dia pernah mendengar istilah itu, tapi entah kenapa saat Juan yang mengatakannya, interpretasi dari kalimat indah tersebut terdengar lebih menyeramkan?


 


“Kalau kau menyukai sesuatu, maka kau akan merusaknya.” Juan menarik kesimpulan dari kalimat yang baru saja dia ucapkan. “Hal yang sama berlaku pada orang- orang seperti kami.”


 


Ayana menggigit bibirnya untuk menahan air mata yang akan mengalir jatuh di pipinya. “Apa yang kau ingin aku lakukan?” tanya Ayana melalui giginya yang terkatup rapat.


 


“Jadi, kau sudah tidak berniat untuk membunuhnya?” Juan bertanya dengan nada menggoda dan mencemooh.


 


“Aku akan membunuhnya saat aku sudah memiliki rencana apa yang akan aku lakukan setelahnya.” Ayana mengertakkan gerahamnya. Entah darimana datangnya rasa amarah yang tidak terbendung ini, tapi saat ini, alih- alih rasa takut, kebencian menyeruak di dalam dirinya seperti parasit. “Dan juga kau.”


 


“Menarik,” Juan tersenyum. Dia menyukai amarah yang terlihat di kedua mata gadis ini daripada ekspresi ketakutan dan putus asa yang terpancar darinya beberapa saat lalu. “Aku ingin kau melaporkan apa yang dia lakukan atau siapa yang dia temui.”


 


“Apa?” Ayana mengerutkan dahinya dengan bingung. Bukankah Carlos adalah teman baik Juan? Apakah Juan mencurigai sesuatu dari Carlos? “Kau ingin aku mematai- matai Carlos?”


 


“Tidak juga,” Juan berkata dengan ringan sambil mengusap pipi Ayana dengan lembut. “Aku hanya ingin kau melaporkan padaku apa yang kau lihat dan dengar. Apa kau setuju?”


***


Author note: per tanggal 1 desember akan upadate setiap hari di jam 17.00 wib.

__ADS_1


Cek instagramku ya ((^0^))


@jikan_yo_tomare


__ADS_2